Mengejar Cinta Si Kembar

Mengejar Cinta Si Kembar
Aku Sakit Saat Melihatmu Bersama Pria Lain


__ADS_3

Adriana tidak terlalu menikmati pesta ini. Apalagi saat Erland selalu menatap ke arahnya dengan tatapan dingin yang sulit di artikan. Saat ini saja, Erland sedang mengobrol dengan rekan bisnis perusahaan Ayahnya, namun tatapannya tetap tertuju pada Adriana yang sedang duduk seorang diri sambil menikmati sebuah cake. 


"Maaf saya permisi sebentar"


Erland berpamitan pada rekan bisnis perusahaan Ayahnya itu, dia berjalan menuju tempat Adriana duduk. Namun, belum sempat dia sampai disana, Pendy sudah lebih dulu menghampiri Adriana dan duduk di dekat gadis itu. Hal itu membuat Erland mengepalkan tangannya dengan kesal.


"Gak makan Ri?"


Adriana menunjukan cake di depannya "Ini sedang makan Kak"


"Cuma cake doang, kapan gemuknya kalau gitu"


Adriana tertawa kecil mendengar ucapan Pendy yang jelas sedang mengejek dirinya yang kurus. "Emangnya kalau aku gemuk, Kakak mau sama aku? Haha"


"Loh, kenapa tidak. Cinta itu bukan karena gemuk atau kurus, tapi tulus dari hati. Lagian setiap perempuan punya aura kecantikannya masing-masing. Mau tubuh mereka kurus atau gemuk, tinggi atau pendek. Semuanya punya kecantikan tersendiri"


"Dih Kakak sok puitis deh, aku tidak akan tergoda ya dengan rayuan Kakak itu"


Pendy ikut tertawa mendengar ucapan Adriana. Gadis itu memang selalu bisa mencairkan suasana. "Lagian siapa yang mau menggodamu, kamu itu udah kayak adik aku loh"


"Dih, sekarang mainnya adek Kakak nih.. Haha"


Tawa keduanya pecah dengan obrolan mereka sendiri. Melihat itu Erland semakin tidak bisa menahan perasaannya. Dia berjalan cepat ke arah Adriana dan menarik tangan gadis itu membuat Adriana benar-benar terkejut.


"Aww.. Kak ada apasi? Lepasin kenapa tarik tangan aku" Adriana mencoba melepaskan cengkraman tangan Erland di lengannya.


"Diam! Kau harus ikut aku sekarang"  Erland menatap dingin pada Pendy, sebelum dia menarik Adriana untuk keluar dari gedung tempat acara. Adriana tidak bisa melakukan apapun, dia hanya mengikuti langkah kaki Erland dengan kaki yang sedikit terseok-seok.


Erland membuka pintu mobilnya. "Masuk!"


"Kak, mau kemana si? Kenapa harus masuk ke dalam mobil? Sebenarnya Kakak mau bawa aku kemana?"


Erland menatap dingin Adriana, tidak menjawab satupun pertanyaan Adriana. Tatapannya berhasil membuat Adriana merinding, dia akhirnya menurut dan masuk ke dalam mobil Erland. Meski dia bingung dengan apa yang di lakukan Erland barusan.


"Kak, kita ini mau kemana?"

__ADS_1


Ada rasa takut dalam diri Adriana saat melihat wajah dingin Erland yang sedang mengemudi itu. Bahkan sampai perjalanan sejauh ini, Erland masih tidak bicara apapun pada Adriana. Tidak peduli seberapa banyak Adriana bertanya padanya, Erland tetap diam.


"Kak..." kesal juga membuat Adriana teriak pada Erland dengan begitu berani. Dia tidak bisa hanya diam saja saat dia juga tidak tahu Erland akan membawanya kemana.


"Aku mencintaimu"


Deg..


Adriana yang dari tadi terus menanyakan tentang Erland yang akan membawanya kemana. Seketika langsung terdiam mendengar kalimat yang tidak pernah dia kira akan keluar dari mulut Erland padanya.


Mobil berhenti di pinggir jalan, Erland melepaskan sabuk pengaman di tubuhnya. Dia melirik gadis yang berubah menjadi pendiam sejak dia mengatakan satu kalimat yang ingin dia katakan sejak lama.


"Kak..." Adriana menoleh dan menatap Erland yang menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. "...Kakak gak lagi salah minum obat 'kan? Atau mungkin Kakak sakit?"


Saking tidak percayanya dengan apa yang dia dengar. Adriana sampai mengira jika Erland sedang sakit. Dia mengecek suhu tubuh pria itu dengan punggung tangannya yang dia taruh di kening Eland.


"Tidak panas, Kak sebenarnya Kakak kenapa? Apa yang sakit kepala? Kita ke rumah sakit saja ya?"


Apa mungkin kepalanya kejedot pintu ya. Sampai dia mengatakan hal itu.


Adriana terdiam mendengarnya, ternyata Erland sedang serius saat mengatakan itu. Tapi apa benar? Apa bisa seorang Erland mencintai Adrina, yang sejak awal sudah merasa terganggu dengan kehadirannya.


"Adriana..." Erland meraih kedua tangan Adriana dan menggenggamnya. Mencium punggung tangan gadis itu dengan lembut. "...Entah sejak kapan perasaan itu ada, namun aku baru menyadari saat kau pergi dan tidak lagi memperdulikan ku. Aku sakit dengan itu, hatiku lebih sakit saat melihat kau lebih dekat dengan pria lain daripada denganku. Saat kau bisa tertawa lepas dengannya"


Ini gila.. Aku masih tidak percaya jika benar-benar dia mencintaiku.


"Yang aku rasakan adalah nyata. Jadilah pacarku Adriana"


Adriana terdiam, dia menatap lekat mata Erland. Mata setajam elang itu terlihat rapuh, dan tidak ada kebohongan di balik tatapan mata itu. Adriana merasakan ketulusan Erland saat ini.


"Kenapa Kak? Kenapa Kakak tidak bicara sejak awal? Kenapa Kakak membiarkan aku terluka karena menganggap cintaku yang tidak terbalas"


"Maaf, aku butuh untuk mengumpulkan keberanian saat ingin mengatakan perasaanku padamu"


Mendengar itu Adriana benar-benar ingin tertawa, dia mencoba menahan tawanya karena tidak mau menghancurkan harga diri pria di depannya. Seorang Erland butuh keberanian juga hanya untuk mengatakan cinta. Gumamnya.

__ADS_1


"Terus sekarang gimana?"


Erland malah mengerutkan keningnya, bingung dengan pertanyaan Adriana. "Bagaimana apanya?"


"Ya, hubungan kita?"


"Ya ampun, ya kau jadi pacarku mulai sekarang. Jadi, tidak ada lagi untuk dekat-dekat dengan pria lain"


Dih. Belum juga mulai berpacaran sudah memberikan ultimatum pertama.


"Tapi aku belum bilang ya, untuk pernyataan cintamu itu"


"Aku tidak ada pilihan lain selain kata ya, jadi kau sudah menjadi pacarku mulai saat ini"


Adriana tertawa mendengar ucapan Erland yang terdengar memaksa. "Jadi, aku pacar kamu nih sekarang? Boleh di publish di kampus gak? Haha.. Pasti semua orang pada pingsan"


Mengingat bagaimana banyaknya para gadis yang mengincar Erland, semetara sekarang pria itu telah menjadi miliknya. Tidak bisa, Adriana benar-benar harus pamer sekarang.


Erland menggeleng pelan, melihat tingkah gadisnya itu. Dia mengelus kepala Adriana. "Terserah kamu saja, aku tidak akan menyembunyikan hubungan kita dari siapa pun"


"Yaudah, sekarang kita kemana nih? Udah jauh banget dari gedung"


"Jalan-jalan, aku bosan berada disana. Lagian hanya membuatku kesal karena kau selalu bersama pria itu"


"Kak Pendy maksudnya? Apaan si kamu ini, lagian aku sama dia tidak ada perasaan apapun. Aku dan Kak Pendy hanya teman biasa saja"


"Pokoknya aku tetap tidak suka"


Kenapa aku senang ya melihat dia posesif kayak gini.


"Yaudah deh terserah kamu saja"


Entah mimpi apa semalam sampai hari ini Adriana benar-benar mendapat kejutan yang sangat besar. Ungkapan cinta dari pria yang bahkan menganggap kehadirannya sangat mengganggu dalam hidupnya.


Bersambung

__ADS_1


Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5


__ADS_2