
Erland menatap istrinya yang terlelap di atas sofa. Dia melajukan kursi rodanya mendekat ke arah sofa. Menatap wajah manis istrinya yang terlelap. Tangannya terangkat, mengelus kepala istrinya dengan lembut.
"Honey, ayo kita pulang Sayang"
Adriana mengerjap pelan, sedikit mengucek matanya yang terasa perih. "Sayang, sudah mau pulang ya"
"Iya, ayo kita pulang sudah terlalu sore juga"
Adriana mengangguk, dia menyelempangkan tasnya di bahu. Lalu mendorong kursi roda Erland keluar dari ruangan ini. Pak supir sudah menunggu mereka saat mereka keluar dari lobby perusahaan. Pak supir membantu Erland untuk masuk ke dalam mobil, lalu memasukan kursi roda Erland ke dalam bagasi mobilnya.
Adriana masih memeluk tubuh Erland di dalam mobil itu. Menyandarkan kepalanya di dada suaminya. Dia masih cukup mengantuk karena tidurnya yang terganggu tadi.
Erland mengelus kepala istrinya, mengecup puncak kepala istrinya dengan lembut. "Masih ngantuk ya, tidur lagi saja nanti di rumah"
"Aku mau peluk kamu saja" lirih Adriana
Erland tersenyum mendengar itu, istrinya ini memang paling selalu apa adanya. Dan Erland bahagia dengan itu, karena istrinya ini selalu mengatakan cinta pada Erland tanpa malu-malu atau ragu lagi.
...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...
Kabar berita pagi ini adalah tentang anak seorang pengusaha yang perusahaannya cukup terkenal di luar negara. Linux yang di tangkap polisi atas penganiayaan terhadap istrinya dan melakukan ancaman juga.
Sekarang hampir semua berita di televisi menayangkan tentang itu. Wajah Linux terpampang jelas di beberapa layar televisi yang menayangkan tentang beritanya.
Adriana yang sedang duduk berdua dengan Erlita sedikit jengah ketika melihat berita yang terus menayangkan tentang kasus yang menimpa Linux.
"Dia memang pantas mendapatkan itu. Kenapa harus terus di tayangan beritanya? Aku kesal juga"
Erlita terkekeh mendengarnya, dia menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. "Mungkin karena memang tidak ada berita lain lagi"
"Mungkin iya"
Adriana mematikan layar televisi, dia menyimpan remot di atas meja dan ikut menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Menatap langit-langit disana.
"Oh ya, apa Kak Erlita sudah menerima Kak Pendy?"
__ADS_1
Erlita menoleh pada Adriana, dia tersenyum pada adik iparnya itu. "Ya, kau tahu bagaimana Pendy memaksa aku untuk menerimanya sebagai calon suamiku. Padahal proses perecaraian aku saja masih belum selesai"
"Haha. Kak Pendy memang seperti itu, asal Kakak tahu. Sejak Kakak menikah dia menjadi sad boy banget. Sering cerita sama aku dengan penuh dramatis, jika dirinya terluka dan sangat tidak bisa melupakan Kakak"
Erlita tersenyum mendengarnya, dia merasakan bagaimana ketulusan Pendy padanya. Bahkan pria itu rela menunggunya sampai beberapa tahun sejak dia mengatakan cinta padanya di kampus dulu. Pendy benar-benar begitu tulus padanya.
"Iya Ri, aku juga merasa sangat bahagia bisa mendapatkan cinta tulus dari Pendy. Dia bahkan mau menerima status aku yang sekarang"
"Tenang saja Kak, selama ini aku belum pernah mendengar Kak Pendy jatuh cinta lagi pada orang lain selain Kak Erlita. Jadi, jangan menolaknya lagi Kak"
"Iya Ri, aku tidak akan pernah menyia-nyiakan lagi cinta dari Pendy"
Adriana senang mendengar itu, kisah cinta Pendy dengan Erlita memang cukup banyak rintangan. Mungkin sama saja dengan kisah cinta dirinya dan Erland. Namun cinta sejati pada akhirnya akan tetap bersatu kembali.
...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...
Pendy datang di akhir pekan kerumah Erland, dia ingin menemui Erlita. Begitu dia datang langsung di sambut ramah oleh keluarga Erlita. Ya, kecuali Erland yang masih gengsi untuk mengakui jika dia setuju dengan hubungan Erlita dan Pendy.
Duduk di bangku taman dengan cuaca cukup cerah pagi ini. Hangatnya matahari pagi membuat keduanya merasa nyaman berada di taman.
"Tumben pagi-pagi sekali sudah datang kesini"
Erlita terkekeh mendengarnya, Pendy memang selalu bisa membuatnya tersenyum dengan segala cara yang dia lakukan. "Dasar kamu ini, aku baru menyelesaikan urusan perceraian. Tidak mungkin bisa langsung menikah denganmu. Harus menunggu sampai masa idah ku habis"
"Iya, aku mengerti. Meski aku seperti ini, tapi aku tetap tahu aturan agama kita"
Lagi-lagi Erlita tertawa mendengar ucapan Pendy. "Dasar kamu ini, iyalah masa kamu gak mengerti tentang aturan agama sendiri"
Pendy tersenyum, dia mengelus kepala Erlita yang tertutup hijab. "Aku mencintamu Lit, sampai kapan pun akan tetap mencintaimu"
"Aku juga, semoga kali ini tidak akan ada rintangan lagi yang menghalangi kita untuk bersatu"
"Lagian kamu bikin kesal, kenapa haru meminta bantuan pada pria sialan itu. Aku bisa membatumu, hanya sekedar mendonorkan ginjal untuk Erland. Aku juga bisa"
"Ya, karena waktu itu hanya dia yang memiliki golongan darah yang sama dengan Erland dan kecocokan ginjalnya juga dengan Erland. Kau tahu sendiri jika golongan darah Erland sangat langka"
__ADS_1
Pendy langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Iya juga ya, lagian kenapa si saudara kembarmu itu ribet amat. Golongan darah saja harus langka, tapi memang Erland itu langka saking langkanya hampir punah di dunia ini"
Plak..
Erlita memukul paha Pendy. "Gitu-gitu dia calon saudara iparmu"
"Iya, iya. Lagian aku sebenarnya heran, kenapa kalian bisa kembar si"
"Apaan si kamu ini, ya bisalah. Memangnya siapa yang mengatur, Tuhan yang mengatur semuanya. Bukan kamu"
Pendy tertawa, dia memang terkadang merasa heran ketika melihat Erland dan Erlita yang memilih sifat yang sangat jauh berbeda. Kalau saja wajah mereka tidak mirip, mungkin tidak akan ada yang menyangka jika mereka berdua adalah kembar identik.
"Oh ya Pen, aku belum pernah bertemu dengan orang tuamu lagi. Bagaimana kabar mereka?"
"Rasanya kita harus membuat panggilan baru untuk kita berdua. Aku tidak suka mendengar kamu memanggil nama seperti itu"
Erlita menoleh, menatap Pendy dengan bingung. Pria itu malah membahas soal panggilan untuk mereka berdua, bukannya menjawab pertanyaan Erlita yang menanyakan tentang kabar kedua orang tuanya.
"Panggilan gimana maksudnya?"
"Ya, panggilan Sayang. Seperti Erland dan Adriana"
"Terus apa panggilan yang cocok untuk kita berdua?"
"Emm.." Pendy sedikit berfikir, harus benar-benar memikirkan tentang panggilan yang tepat untuk mereka kedua. "...Bagaimana kalau Ayah, Bunda"
Hahahaha...
Kali ini Erlita benar-benar tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa mendengar ucapan Pendy. "Ohh ayolah, kita bahkan belum menikah. Apalagi mempunyai anak, kenapa panggilannya sudah Ayah Bunda"
"Ya tidak papa, aku ingin istriku memanggilku seperti itu nanti. Jadi, aku merasa sangat di hormati dan kalau nanti kita punya anak, kita akan terbiasa dengan itu"
Erlita menatap Pendy dengan tidak percaya, dia masih menahan tawanya karena ucapan Pendy barusan. "Kamu yakin mau panggilan itu?"
Pendy mengangguk dengan yakin. "Kenapa tidak? Aku suka panggilan itu untuk kita"
__ADS_1
Erlita hanya mengangguk saja menyetujui keinginan Pendy itu. Mau heran tapi ini Pendy.
Bersambung