
Saat Erland membawa Adriana keluar dari ruangan pemeriksaan, ternyata disana sudah ada Pendy yang duduk di kursi tunggu. Pria itu segera berdiri saat melihat Adriana dan Erland keluar dari ruangan.
"Ri, gimana keadaan kamu? Maaf ya, aku udah buat kamu celaka" Pendy meraih tangan Adriana dan mengecek tubuh gadis itu, Pendy sangat khawatir dengan keadaan Adriana. Semua ini salahnya, karena dirirnya Adriana sampai terluka.
"Maaf ya, ini pasti sakit sekali" Pendy mengelus pelan perban di kening Adriana. Dia menatap gadis itu dengan penuh rasa bersalah, mengabaikan seseorang yang berdiri di samping Adriana sedang menatapnya dengan tajam. Seolah siap mengoyak tubuh Pendy dengan tatapannya itu.
"Sudah Kak, jangan terus merasa bersalah. Semua ini adalah kecelakaan, aku tidak papa kok. Apa Kakak juga tidak papa?"
Mendengar nada khawatir dari pertanyaan Adriana membuat Erland langsung menoleh dan menatapnya dengan tajam. Dia tidak suka saat gadis itu mengkhawatirkan pria lain. Entahlah, hatinya selalu merasa tidak suka melihat Adriana memiliki kedekatan lebih dengan pria lain, selain dirinya. Mungkin memang sudah seharusnya Erland mengakui jika dirinya telah jatuh cinta pada Adriana. Karena mau sampai kapan pun dia berusaha berbohong, tapi tetap saja jika hatinya sudah jatuh cinta. Maka Erland tidak akan bisa menghindarinya.
"Aku tidak papa Ri, sekarang ayo biar aku antar pulang"
"Tidak!"
Bukan Adriana yang menjawab, tapi suara dingin dan penuh penekanan dari pria yang berdiri di sampingnya. Adriana menoleh dan menatap Erland dengan bingung. Sejak di dalam ruangan pemeriksaan, entah kenapa pria itu hanya marah-marah tidak jelas. Bahkan Adriana msnyebutkan nama Pendy saja, dia marah dan melarang Adriana untuk tidakl menyebutkan nama itu. Benar-benar aneh. Gumamnya.
"Kau sudah hampir membuatnya celaka, jadi sekarang jangan ulangi lagi. Biarkan aku yang mengantarnya!"
Pendy menghela nafas, tentu dia juga tidak akan memaksa untuk mengantarkan Adriana pulang. Apalagi saat Pendy melihat tatapan tidak suka Erland ketika dia mengatakan ingin mengantarkan Adriana pulang.
"Yasudah kalau gitu, Ri sekali lagi aku minta maaf ya atas kejadian tadi"
"Iya Kak, gak papa kok. Kakak hati-hati ya takutnya mereka masih mengincar Kakak"
"Iya Ri, kamu baik-baik ya. Nanti aku akan datang ke rumahmu, sekalian bertemu dengan Om"
Adriana tersenyum dan mengangguk. Pendy pun pergi dari hadapan mereka, masih ada hal yang harus dia urus. Setidaknya Pendy sudah memastikan jika Adriana dalam keadaan baik-baik saja sekarang.
Seperti ada bongkahan bara api di dalam dadanya. Erland merasa sangat kepanasan dengan ucapan Pendy barusan. Bagaimana bisa dia sudah lebih dulu mengetahui alamat rumah Adriana, bahkan mengenal Ayahnya.
__ADS_1
"Ayo kita pulang Kak" Adriana menatap Erland yang terdiam dengan wajah dinginnya. Entah kenapa melihat wajah pria itu benar-benar membuat Adriana merinding, seolah suasana di sekitarnya berubah menjadi beku.
"Kenapa dia bisa mengetahui rumahmu?"
Hah?!..
Adriana sedikit kaget mendengar pertanyaan Erland. Jadi itu yang membuatnya kesal. Gumamnya.
"Dia pernah menjemputku ke rumah dan bertemu dengan Papa tadi. Jadi dia tahu rumahku dan mengenal Papa juga"
Erland semakin kesal saja mendengar itu. Dia berjalan lebih dulu dari Adriana, membiarkan gadis itu menyusulnya. "Mulai besok aku yang akan menjemput dan mengantarmu pulang. Jangan harap bisa pergi dengan pria lain lagi!"
Adriana semakin bingung dengan sikap Erland kali ini. Dia mengikuti langkah cepat pria itu sampai dia sedikit kesusahan mengimbangi langkah kakinya.
"Kak, tunggu..." Akhirnya Adriana berhasil meraih lengan Erland dan menahan pria itu agar tidak lanjut berjalan.
"Sudah ku bilang, jangan sebut nama pria lain di depanku!"
Adriana benar-benar bingung dengan sikap Erland kali ini. Hal itu membuat Adriana memegang kedua lengan Erland dan mengunci tatapan pria itu agar menatap matanya dengan lekat. "Kak, sebenarnya Kakak ini kenapa? Kenapa Kakak seperti ini? Pliss Kak, jangan membuat aku bingung dengan segala sikap Kakak ini"
Erland menatap mata Adriana yang berkaca-kaca. Apa mungkin sikapnya ini telah membuatnya terluka? Melihat mata itu yang menatapnya penuh kesedihan. Tapi Erland masih tidak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya dia rasakan pada Adriana.
"Apa sekarang Kakak sudah mencintaiku?"
Dengan percaya dirinya Adriana bertanya seperti itu. Tapi, nyatanya Erland tidak menjawab apapun. Dia malah memalingkan wajahnya, tidak ingin lagi menatap Adriana. Sampai saat ini Erland masih terlalu bingung dengan perasaannya, Erland tidak yakin dengan perasaannya pada Adriana adalah sebuah cinta.
Tess..
Pertahanan Adriana runtuh juga, dia tidak bisa terus mengemis cinta dari pria yang bahkan tidak berniat untuk mencoba membuka hati untuknya. Adriana usap dengan kasar air mata di pipinya dengan punggung tangannya.
__ADS_1
"Baiklah, aku sudah tahu jawabannya. Maaf Kak, aku fikir aku akan bisa bertahan lama bersama Kakak. Tapi, jika pria yang aku cintai tidak mencoba membuka hatinya untukku. Lalu untuk apa aku terus mengemis cintanya. Aku berhenti menjadi pembantumu mulai hari ini Kak, selamat tinggal dan berbahagialah dengan kehidupanmu. Aku menyerah, Kak"
Erland mematung mendengar ucapan Adriana, dia menatap nanar punggung gadis itu yang semakin menjauh dari hadapannya. Erland memegang dadanya yang terasa sangat nyeri. Sesak melihat kepergian Adriana dengan ucapannya yang menyayat hati.
Apa yang telah aku lakukan, kenapa melihat air matanya membuat hatiku benar-benar terluka.
...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...
Adriana berlari menuju jalan raya, dengan air mata yang terus menetes di pipinya. Meski sudah dia hapus beberapa kali. Air matanya tetap tidak mau berhenti juga.
Bodoh kamu Ri, kenapa kamu selantang itu menanyakan tentang cinta pada dia. Padahal kau sendiri jelas tahu jika dia tidak akan pernah mencintamu. Sampai kapanpun.
Adriana menghentikan sebuah taxi dan segera masuk ke dalam taxi itu. Saat ini dia harus segera kembali ke rumah, biarlah jika semuanya benar-benar akan berakhir. Mungkin memang perjuangannya selama ini berhenti sampai disini. Adriana sudah sangat lelah, dia terus berusaha memberikan yang terbaik untuk Erland. Semuanya dia lakukan hanya untuk sekedar mengharapkan Erland bisa membuka sedikit saja hatinya untuk Adriana. Tapi, nyatanya tidak. Semuanya hanya sia-sia saja.
Sampai di rumah, Adriana segera masuk ke dalam kamar. Kebetulan Papa masih belum kembali dari bekerja. Adriana menumpahkan segala tangisnya di dalam kamar. Adriana terluka dengan kehidupannya saat ini. Di saat seperti ini, dia berpikir jika Erland tidak mencintainya karena masa lalu dan keluarganya yang kini telah hancur.
"Mungkin jika hidupku tidak hancur seperti ini, Kak Erland bisa saja membuka hatinya untukku. Tapi.. Hiks.. Semuanya sudah menjadi takdir hidupku. Apalagi yang bisa aku lakukan, ketika semuanya sudah menjadi suratan takdir dalam hidupku"
Mungkin setelah hari ini, Adriana benar-benar akan melupakan perasaannya pada Erland. Membiarkan pria itu tidak lagi merasa terganggu oleh kehadirannya.
Adriana menangis sejadi-jadinya di dalam kamar sampai dia tertidur karena kelelahan. Hidupnya telah benar-benar hancur setelah masalahnya keluarganya terungkap. Setelah Adriana tahu jika Ibu kandungnya sendiri telah memanfaatkan kehadirannya untuk melakukan kejahatan dan menanamkan kebencian pada Kakaknya sendiri. Sungguh Adriana menyesal karena pernah sangat percaya pada setiap ucapan Ibunya yang ternyata hanya memanfaatkan dirinya saja.
Kenapa hidupku harus seperti ini, Tuhan?
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5
__ADS_1