
Erlita duduk sendirian di taman samping gedung. Dia ingin mencari udara segar, Erlita tidak terlalu suka kebisingan pesta. Gadis cantik itu membawa sepiring buah yang sudah di potong untuk menemani kesendiriannya ini. Menatap beberapa bunga yang sengaja di rawat hingga tumbuh dengan indah.
"Bosen banget"
"Kenapa bosan?"
Erlita terkejut saat tiba-tiba ada suara orang di belakangnya. Dia segera menoleh dan melihat Pendy yang berdiri tepat di belakang bangku yang dia duduki dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku celananya. Jas yang tadi dia pakai sudah tersampir begitu saja di bahunya. Sunggu penampian Pendy saat ini benar-benar terlihat sangat cool. Erlita segera menggelengkan kepalanya, mengusir pikirannya tentang pria itu.
Pendy berajalan mendekati Erlita yang sedang duduk di bangku taman. Duduk di samping Erlita, memandang lurus ke depan. "Kemana kembaranmu itu?"
Erlita menoleh, dia heran sendiri kenapa Pendy tiba-tiba menanyakan tentang Erland. "Aku tidak tahu, mungkin dia sedang menenangkan hatinya yang panas"
Pendy menatap wajah Erlita yang sedang terkekeh, entah kenapa dia matanya Erlita sangat cantik dengan tersenyum lebar seperti itu.
"Cantik"
Hah?..
Erlita langsung menoleh dengan wajah yang bingung saat tidak sengaja mendengar gumaman Erland barusan.
"Apa?" Erlita bertanya hanya untuk memastikan saja jika dirinya tidak salah dengar.
"Tidak, bukan apa-apa"
Ada perasaan senang dalam diri Pendy saat dia bersama Erlita. Perasaan senang yang berbeda saat dia bersama Adriana. Entah bagaimana Pendy harus menjelaskan tentang perasaannya saat ini.
"Mau jalan-jalan? Kita cari udara segara"
Erlita mengangguk pelan. "Boleh"
Keduanya berjalan dengan berdampingan mengelilingi jalan yang cukup sepi di dekat hotel tempat acara di laksanakan. Suasana cukup canggung di antara mereka berdua. Entah kenapa Erlita seolah berubah menjadi wanita pendiam. Padahal biasanya dia selalu pandai mencairkan suasana dan menjadi sosok wanita yang ceria.
"Emm. Sejak kapan kamu mengenal Adriana?"
__ADS_1
Pendy menoleh, dia mengayunkan kakinya menendang beberapa kerikil di jalan yang pijaknya. "Aku bertemu dengannya di mini market tempat dia bekerja paruh waktu. Saat itu dia sedang menangis begitu memilukan. Dan sebelum itu aku melihat Erland keluar dari sana. Sejak saat itu aku tahu jika di antara keduanya memang saling mencintai, namun salah satunya belum menyadari"
Erlita tersenyum, dia menatap Pendy sebentar sebelum kembali menatap lurus ke depan. "Jadi selama ini kamu sengaja mendekati Adriana?"
Pendy mengangguk sambil terkekeh "Ya, aku sengaja agar saudara kembarmu itu sadar akan perasaanya sendiri"
Erlita tersenyum mendengarnya, tidak menyangka jika Pendy sangat peka terhadap hati seseorang. "Dan kamu berhasil, sekarang Erland sering marah-marah tidak jelas. Apalagi ketika melihat kalian berdua"
Pendy tersenyum, memang itu yang dia harapkan. Meski tidak tahu apa alasannya, yang jelas Pendy hanya ingin melihat Adriana bahagia bersama pria yang dicintainya. Menurut Pendy, Adriana adalah gadis yang baik terlepas apa yang terjadi di masa lalunya.
"Aku tahu jika Adriana adalah gadis yang baik, hanya saja dia terjerat dalam orang tua yang salah mendidiknya. Hingga dia pernah menjadi sosok yang jahat pada Kakaknya sendiri. Dia hanya menjadi korban keegoisan Ibunya saja"
Entah kenapa Erlita merasa nyaman bercerita dengan Pendy. Padahal mereka tidak sedekat itu. Keduanya pun baru benar-benar saling mengenal hari ini.
Pendy mengangguk, menyetujui ulama Erlita barusan. "Ya, memang kasihan dia. Adriana terlalu polos hingga dia tidak sadar telah di manfaatkan oleh Ibunya sendiri"
...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...
"Duh, gimana ini?"
"Gimana apanya? Ayo cepat turun"
Adriana menoleh dan menatap Erland dengan mata menyipit. "Gimana aku mau turun, disana banyak orang. Bahkan ada keluargamu juga. Apa yang akan di pikirkan mereka jika kita masuk secara bersamaan"
"Ck yaudah gak papa juga, lagian kita memang sudah jalan berdua. Memangnya kenapa? Kita 'kan sepasang kekasih sekarang"
Mendengar itu Adriana malah merasa heran pada Erland yang tidak terlihat canggung atau malu sedikit pun saat status mereka kini telah berubah. "Apa kamu gak mau atau merasa aneh gitu saat tiba-tiba kita mengumumkan pada keluarga kalau kita telah menjadi sepasang kekasih. Rasanya terlalu malu"
"Jadi kau malu berpacaran denganku?!" Pertanyaan yang mengandung kemarahan itu membuat Adriana merinding. Apalagi ketika melihat tatapan dingin Erland padanya.
"Apasi, bukan begitu. Tapi 'kan mengingat selama ini hubungan kita hanya sebatas majikan dan pembantu. Tapi tiba-tiba sekarang jadi sepasang kekasih, apa itu tidak aneh"
Erland menggeleng tegas. "Tidak. Semua itu tidak aneh, bagiku semuanya wajar saja. Sekarang cepat kau turun!"
__ADS_1
Adriana mendengus kesal, tapi dirinya tidak bisa melakukan apapun. Karena dia tidak mungkin berdiam diri di dalam mobil Erland selamanya. Dia tetap harus turun.
"Cepat turun Honey" Erland sudah turun dari mobil, namun pintu mobil belum dia tutup. Erland membungkukan tubuhnya agar bisa masuk ke dalam mobil, menatap kekasihnya dengan mata jenakanya itu.
Apa dia bilang? Honey? Dih, kenapa aku malu-malu kucing gini si. Udah kayak remaja SMA aja deh.
Meski mendengus kesal, namun bibirnya tersenyum. Adriana segera turun dari mobil. Erland tersenyum ketika melihat wajah memerah Adriana, enatahlah saat ini dia merasa sangat bahagia saat bisa bersama dengan Adriana. Menggodanya seperti ini menjadi kesenangan tersendiri untuknya.
"Apasi, lepasin ihh" Adriana menepis tangan Erland yang hendak menggandeng tangannya. Dia malu, apalagi saat melihat keluarga Aditama masih berada di sana dengan porsi yang komplit.
"Kenapa memangnya?" Erland mendekatkan wajahnya ke telinga Adriana membuat gadis itu merinding sendiri dengan hembusan nafas Erland yang mengenai kulitnya.
"Ishh. Apaan si, udah sana jauh-jauh kamu"
Adriana segera berjalan cepat menghampiri Kakak dan Ayahnya yang juga sedang bergabung dengan keluarga besar Aditama. Rasanya Adriana ingin menghilang saja ketika Erland malah mengejarnya dengan memanggilnya.
"Honey tunggu aku.."
Adriana memejamkan matanya ketika semua anggota keluarga menatap ke arahnya. Rasanya terlalu malu sampai Adriana memilih untuk memejamkan matanya saja.
Tuhan kenapa dia ini.
Dengan tanpa rasa bersalah, Erland merangkul bahu Adriana dan membawanya menghampiri semua anggota keluarga. Adriana mencoba melepaskan rangkulan tangan Erland di bahunya, namun pria itu tidak peduli. Dia tetap merangkul lagi bahu Adriana.
"Kak, malu ihh"
Erland tidak menjawab, berpura-pura tidak mendengar bisikan dari kekasihnya itu. Saat ini Erland sedang ingin pamer pada semua orang jika dirinya sudah memiliki gadis ini. Apalagi saat dia melihat ada Pendy disana.
Sementara pria yang ingin Erland panas-panasi, malah ingin tertawa melihat kelakuannya itu.
Dasar pria gengsian, bucin gitu masih aja sok-sok'an nolak.
Bersambung
__ADS_1
Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5