
Erland dan Adriana baru saja selesai makan, mereka masih memakan makanan penutup yang Erland pesan untuk mereka berdua.
"Sayang, tadi Kak Pendy ke rumah. Dia....."
"Untuk apa kau menceritakan dia? Jangan macam-macam ya Adriana!"
Apaan si dia ini? Masih saja cemburu pada Kak Pendy.
"Enggak Sayang, tadi dia datang ke rumah karena dia sedang bertengkar dengan Kak Lita. Mereka kayak perang dingin kayak gitu. Untung saja aku kasih solusinya, jadi sekarang mereka udah baikan. Ishh. Adriana memang pakar solusi terbaik"
Erland tertawa melihat istrinya yang begitu percaya diri. "Masa pakar solusi, kok kamu gak punya solusi untuk masalah kita"
Adriana menatap suaminya dengan alis berkerut bingung. "Masalah apa? Emangnya kita punya masalah apa?"
Erland menatap Adriana dengan lekat. "Yakin kamu tidak tahu masalah kita? Kamu gak sadar kalau selama ini kita punya masalah yang besar"
"Sayang, masalah apasi? Aku gak merasa mempunyai masalah apapun diantara kita"
"Jelas sekali masalahnya Honey. Aku ingin membuat kamu hamil, tapi aku belum diizinkan olehmu. Padahal aku sudah bisa melakukannya"
Hah?!
Adriana memegang kedua pipinya yang tiba-tiba terasa sangat panas. Ucapan Erland benar-benar di luar dugaan. Membuatnya hamil? Itu artinya mereka harus melakukan itu. Duh. Kenapa aku jadi malu sendiri ya. Gumamnya.
"Sayang, ihh... Aku 'kan jadi malu, kenapa kamu malah membahas soal itu si?"
"Loh kenapa? Aku mencintaimu dan kau adalah istriku. Apa gak boleh jika aku meminta hak aku dan memberikan hak kamu"
Adriana tersenyum masam, dia menggaruk keningnya yang tidak gatal. "Hehe. Nanti saja ya, kalau kaki kamu sudah benar-benar sembuh"
Adriana tahu jika memang sudah seharusnya mereka melakukan itu sejak awal menikah. Namun keadaan Erland yang membuat semua itu tidak mungkin. Tapi untuk saat ini juga Adriana tidak ingin dulu melakukannya, karena dia takut kaki Erland akan kembali sakit. Dia ingin suaminya benar-benar sembuh dulu.
"Honey aku sudah bisa melakukannya. Aku juga sudah sembuh"
Adriana tersenyum, dia merasa lucu melihat wajah memelas Erland yang seolah menahan sesuatu. Adriana meraih tangan suaminya yang berada di atas meja. "Sayang, aku tidak akan berpaling pada siapa pun meski sekarang aku masih gadis dan belum kamu sentuh. Tapi aku tidak akan berpaling pada siapa pun. Aku akan tetap bersamamu dan menunggu kamu sembuh hingga bisa memberikan hak aku"
__ADS_1
Erland tersenyum mendengarnya, entahlah dia selalu merasa bahagia ketika Adriana menunjukan perasaannya padanya. Erland sangat bahagia melihat Adriana yang begitu tulus mencintainya.
"Honey, aku mencintaimu"
"Iya, aku juga"
Setelah selesai makan, keduanya memilih untuk segera pergi dari Restaurant itu. Di dalam mobil, seperti biass keduanya akan berpelukan dengan nyaman.
"Langsung pulang, Tuan?" Tanya Pak Supir
Erland menatap istrinya yang berada di dalam pelukannya. Tersenyum saat melihat Adriana yang malah terelelap. Mungkin memang perlukan Erland selalu membuat Adriana nyaman hingga dia mudah sekali tertidur saat berada dalam pelukanku.
"Iya Pak, langsung pulang saja"
Adriana tidur dengan nyenyak, merasa sangat nyaman saat dia berada dalam pelukan suaminya. Sampai dia tersadar saat mobil berhenti di depan rumah. Adriana menggeliat pelan, tidur sebentar tapi sangat lelap membuat dirinya merasa lebih segar sekarang.
"Sayang, udah sampai ya"
Erland tersenyum lucu melihat wajah Adriana yang baru bangun tidur. Dia merapikan rambut istrinya yang sedikit berantakan itu. "Iya Sayang, ini baru sampai. Ayo turun, kamu lanjutin di kamar tidurnya"
Adriana langsung membawa Erland ke kamar mereka. "Sayang, mau mandi dulu atau bagaimana?"
"Iya aku mau mandi, aku bisa mandi sendiri kok"
"Yaudah kalau gitu, biar aku siapkan airnya dulu"
Adriana berlalu ke kamar mandi, menyiapkan segala perlengkapan mandi dan juga baju ganti untuk suaminya. Setelah semuanya selesai, Adriana kembali ke kamarnya. Melihat Erland yang sedang duduk di atas sofa dengan ipad di tangannya.
"Sayang, katanya sudah tidak ada pekerjaan. Kok masih saja kerja pas sampai rumah"
"Iya Honey, ini ada email masuk dari Riki. Aku harus memeriksanya dulu"
Adriana duduk di samping suaminya, mengintip pada layar ipad yang menyala. Membaca email yang Riki kirimkan pada suaminya. Seberapa lama pun Adriana membacanya, dia tetap tidak mengerti inti dari apa yang dia baca itu.
"Aku sudah siapkan airnya, nanti keburu dingin. Mandi dulu saja, nanti baru periksa lagi emailnya"
__ADS_1
"Iya Honey, sebentar kok ini"
Erland tidak mendengarkan ucapan Adriana, dia bahkan tidak sedikit pun menoleh pada istrinya. Masih tetap fokus pada layar ipad di tangannya. Hal itu membuat Adriana kesal. Tanpa berbicara lagi dia berjalan ke arah tempat tidur dan bermain ponsel disana. Mengabaikan suaminya yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
Tau gitu, kenapa harus pulang cepat. Mendingan kerja di kantor saja. Gumamnya kesal.
Erland selesai dengan pekerjaannya. Dia menyimpan ipad di atas meja, lalu berjalan ke arah ruang ganti menggunakan tongkatnya. Adriana hanya melirik sekilas, dia masih kesal pada suaminya. Hingga beberapa saat kemudian Adriana mendengar teriakan suaminya.
"Honey, kok airnya dingin"
Adriana memutar bola mata malas, dia sudah mengisi bak mandi dengan air hangat untuk suaminya. Tapi karena dia yang terus memeriksa pekerjaannya dengan cukup lama, tentu saja airnya sudah dingin.
"Ya pasti dingin"
Beberapa saat kemudian Erland keluar dari ruang ganti dengan sedikit menggigil karena berendam di air dingin. Dia terlanjur sudah masuk ke dalam bak mandi yang ternyata airnya sudah dingin.
"Honey, airnya dingin ihh"
Adriana hanya melirik sekilas pada Erland, tanpa berniat menjawab apapun. Dia turun dari atas tempat tidur, lalu berjalan melewati Erland menuju ruang ganti.
"Makanya kalau istri ngomong itu di dengerin!"
Erland menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Baru menyadari jika istrinya kesal padanya. "Honey, bukan...."
Erland menghela nafas pelan saat Adriana sudah masuk ke dalam ruang ganti tanpa menghiraukan Erland. "Perempuan kalau sudah kesal pasti berubah menjadi pendiam"
Erland berjalan ke arah tempat tidur, naik ke atas tempat tidur dan langsung merebahkan tubuhnya dengan bergelung di bawa selimut. Dia merasa tubuhnya sangat dingin. Apalagi dengan cuaca seperti, yang mendung dan terus gerimis. Tentu saja mandi dengan air dingin adalah musuh semua orang.
Beberapa saat kemudian, Adriana keluar dari ruang ganti setelah dia selesai mandi. Berjalan menghampiri suaminya yang tertidur di atas tempat tidur dengan terbalut selimut tebal, sudah seperti kepompong saja.
Adriana duduk di pinggir tempat tidur, membuka selimut yang menutupi wajah suaminya. Mengelus kepala Erland yang ternyata sedang terlelap itu. Lalu mencium keningnya dengan lembut.
"Aku mencintaimu"
Bersambung
__ADS_1