
Dengan gaun berwarna coklat muda, Adriana menggandeng Papa untuk masuk ke dalam aula gedung, dimana acara ini di adakan. Adriana sudah merasa gugup, ini bukan pertama kalinya dia datang ke acara seperti ini. Saat Ayahnya masih sukses dengan perusahaannya, acara seperti ini sudah sering dia datang ke acara seperti ini. Bersama Ayah dan Ibunya, rasanya sudah terlalu lama Adriana tidak merasakan suasana seperti ini lagi.
Sudah banyak para tamu undangan yang datang, kebanyakan tentunya dari orang-orang terpandang. Ya, keluarga Aditama tidak perlu di pertanyakan lagi tentang kesuksesannya dalam dunia bisnis.
Saat Papa dan Adriana masuk ke dalam aula, mereka langsung di sambut oleh Tyas. Adriana segera memeluk Kakaknya itu, rasanya dunia sedang berputar. Ayuningtyas, yang dulu menjadi anak yang tak terlihat oleh Ayahnya sendiri. Sekalipun tidak pernah dia dibawa ke acara seperti ini saat perusahaan Ayahnya masih berjalan. Namun, kini Tyas menjadi sosok istri dari pewaris utama perusahaan GE, perusahaan keluarga Aditama. Sosoknya menjadi di kenal banyak orang, apalagi dengan sikap ramahnya.
Adriana tersenyum pahit mengingat itu, semuanya bukan kesalahannya ataupun Tyas. Tapi kesalahan kedua orang tuanya yang terlalu egois. Selalu ingin benar sendiri, hingga tidak sadar mereka telah melukai kedua putrinya ini.
"Gwen, yuk sama Aunty" Adriana mengambil alih Gweny dari gendongan Tyas. Dia mencium gemas pipi gembil keponakannya itu.
"Ayo kita gabung sama yang lain Pa, Ri" Tyas membawa Ayah dan adiknya menghampiri keluarga suaminya yang sedang berkumpul.
Melihat sosok pria yang nyaris sempurna dengan balutan jas di tubuh tegapnya, membuat langkah Adriana sedikit melambat. Dia ragu untuk menghampiri mereka, karena ada Erland disana. Namun, dia tidak bisa melakukan itu. Adriana tetap mengikuti langkah kaki Tyas menuju keluarga suaminya.
"Wah, Ri kamu cantik sekali" Erlita langsung menghampiri Adriana dengan segala kehebohannya.
"Iya Kak, terima kasih. Kakak juga sangat cantik" Jelas Kakak lebih cantik daripada aku, apalah aku jika di bandingkan dengan Kak Erlita ini.
"Emm. Selamat anniversarry Tuan dan Nyonya" Adriana menunduk hormat pada kedua orang tua Erland.
Papa juga menjabat tangan Tuan Erwin dan Nyonya Syifa dengan ucapan yang sama. Rasanya mereka sangat tidak pantas untuk berada disini. Di lingkungan orang-orang terpandang, Adriana dan Papa hanyalah orang jahat di masa lalu. Hingga mengabaikan anggota keluarga mereka sendiri.
"Terima kasih Adriana, dan Tuan Eriawan. Tolong jangan terlalu sungkan pada kami, kita adalah keluarga" ucap Tante Syifa yang tersenyum ramah.
Kelebihan dari keluarga Aditama ini adalah sikap mereka semua yang terdengar ramah pada siapapun. Meski terlahir dari keluar terpandang, tapi semua anggotanya selalu menunjukkan senyum tulus pada setiap lawan bicaranya. Karena memang itu yang di ajarkan mendiang Kakek sebagai pendiri perusahaan GE.
Adriana hanya tersenyum, saat dia merasakan ada yang memperhatikannya. Dan itu adalah Erland, pria itu sedang menatap ke arahnya dengan tatapan yang tak bisa di artikan.
Kenapa menatapku seperti itu?
Adriana segera mengalihkan pandangan saat tatapannya tidak sengaja bertemu dengan tatapan dingin pria itu. Adriana tidak akan kuat terlalu lama bertatapan dengan Erland. Karena nyatanya dirinya masih memiliki perasaan yang sama.
__ADS_1
Satu keluarga datang menghampiri mereka untuk mengucapkan selamat pada keluarga bahagia ini. Namun saat menatap pria yang sudah pasti adalah anaknya, Adriana terkejut saat tahu siapa yang datang. Sepertinya bukan hanya Adriana saja yang terkejut, tapi Erland dan Erlita pun sama terkejutnya.
"Hallo semuanya, perkenalkan ini adalah anak saya. Dia baru saja pulang dari luar negara"
"Hallo semuanya, saya Arga Pendynan"
Pendy mengangguk hormat pada semua yang ada disana. Lalu dia beralih menatap gadis berhijab yang berada di samping Adriana. Dia tersenyum penuh arti padanya dengan satu alis yang terangkat. Melihat itu, Erlita langsung memalingkan wajahnya. Entah kenapa melihat senyumannya membuat dia berdebar.
"Kak Pendy.." Rasa penasaran dalam diri Adriana, karena Pendy benar-benar berpenampilan sangat berbeda malam ini. Membuat dia sulit untuk menahan diri untuk tidak menyapanya.
Pendy tersenyum, dia menghampiri Adriana dan mengelus kepalanya. Lalu menyalami tangan Papa juga. "Haii Ri, kamu datang juga. Kebetulan sekali ya. Oh ya, Om apa kabar?"
"Baik Nak, kamu kok gak ke rumah lagi?"
"Emm. Iya Om, lagi sibuk sama tugas kuliah"
Adriana tersenyum melihat Papa dan Pendy yang terlihat akrab. "Kakak keren sekali, biasanya tidak berpenampilan seperti ini. Biasanya 'kan urakan"
Erlita yang berada di samping Adriana hanya diam, dan mengalihkan pandangannya. Dia sedang menghindari pria itu, lagian Erlita benar-benar tidak tahu jika Pendy juga akan datang.
"Wahh, Ri sepertinya ada yang Kakak tidak tahu ya"
Mendengar ucapan Kakaknya membuat Adriana seketika menoleh dan menunduk malu, dia seolah tidak sadar jika saat ini sedang banyak orang yang memperhatikannya.
"Pendy senior aku di kampus Kak, dia baik sama aku. Sering bantu aku"
"Ohh, pantas saja kalian terlihat sangat akrab"
"Hallo Kak, saya Pendy. Pantas saja Adriana cantik, Kakaknya juga begitu manis"
Tyas tersenyum kaku mendengarnya, dia melirik suaminya yang sudah menatap tajam pria yang berniat menyalami Tyas dengan sopan. Tyas menerima uluran tangan Pendy, menjabatnya sebentar karena takut pria yang berdiri di sampingnya akan murka.
__ADS_1
"Yahh, yang ganteng juga pasti kalah sama yang baik dan ramah" celetuk Erlita membuat semua orang yang ada disana menatap ke arahnya dengan bingung.
Pendy sampai menggelengkan kepalanya, heran dengan sikap gadis satu ini. Dasar gadis ini, selalu ada-ada saja celetukannya.
"Apa maksudmu Lit?"
Erlita hanya tersenyum saja menjawab pertanyaan dari Ibunya itu. "Bukan apa-apa Mi, memang sekarang sedang musim-musimnya cowok gengsian. Jadinya ceweknya di ambil cowok lain deh"
Mereka semua menggelengkan kepalanya setelah tahu duduk permasalahannya adalah sebuah cinta. Meski tidak tahu cinta seperti apa yang di jalani Erlita.
"Apa kamu sudah punya pacar?"
Pertanyaan Papi benar-benar berhasil membuat Erlita terbatuk-batuk. Dia mana bisa pacaran saat dalam pikirannya hanya kuliah dan segala pelajaran dan tugas. "Gak Papi, emangnya kapan Erlita pacaran. Lagian maunya langsung nikah, gak pacaran-pacaran. Ribet"
Lagi-lagi mereka hanya menggelengkan kepalanya dengan kelakuan Erlita. Dia memang selalu apa adanya, di depan siapapun. Ya, termasuk gadis yang polos, karena terkadang tidak bisa merubah dirinya menjadi sosok wanita yang anggun di acara-acara tertentu. Erlita masih seperti ini dimana pun dia berada.
"Kalau begitu, kenapa tidak nikah saja"
Kini semua tatapan mata tertuju pada Pendy yang tiba-tiba berkata seperti itu. Erlita juga terkejut mendengar itu, dia langsung menoleh dan menatap Pendy dengan matanya yang menyipit.
"Siapa juga yang mau menikah denganmu"
"Lah, memangnya aku bilang menikah denganku? Tidak toh.."
Akhirnya perdebatan itu tidak lagi mereka hiraukan. Erland yang berdiri di dekat Papi, hanya diam dengan kedua tangan yang mengepal. Menatap gadis yang terlihat berbeda dari biasanya.
Kenapa dia menyapa pria itu dan tidak padaku.
Ada api membara di hatinya, sepertinya Erland benar-benar sudah tidak bisa menahan perasannya lagi kali ini.
Bersambung
__ADS_1
Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5