
Drett..Drett..
Ponselnya yang bergetar juga berdering membuat Adriana segera melihat layar ponsel. Melihat siapa yang meneleponnya, tapi ya siapa lagi jika bukan suami posesif yang pasti kelimpungan karena melihat istrinya yang tidak ada di dalam ruangannya.
"Hallo Sayang, aku di bawah. Sebentar lagi akan kembali ke ruanganmu" Adriana langsung menjelaskan posisinya sebelum suaminya benar-benar kesal.
"Cepat!"
Benar 'kan, bagaiaman Erland mengatakan itu dengan penuh penekanan. Bahkan dia langsung menutup sambungan telepon. Adriana segera berlari menuju lift. Dia harus segera sampai di ruangan suaminya, sebelum singa galak itu benar-benar-benar kesal dan mengamuk.
Ting..
Adriana keluar dari dalam lift, berlari menuju ruangan suaminya. Membuka pintu dengan sedikit kasar, karena terburu-buru. Adriana langsung disambut dengan tatapan tajam suaminya. Dia berjalan perlahan dan menghampiri Erland.
"Sayang.."
"Darimana?"
Adriana mengelus tengkuknya, merasa udara di sekelilingnya berubah dingin dan mencengkam. "Emm. Ak-aku dari bawah Sayang, hanya lihat-lihat saja sebentar. Aku bosen menunggu kamu sendirian disini"
Ayolah, tidak perlu semarah itu. Aku tidak selingkuh, sampai kau harus menatapku seperti itu.
Adriana benar-benar merinding melihat tatapan Erland kali ini. Adriana berjalan pelan mengelilingi meja kerja Erland, dengan tidak tahu malunya dia duduk di pangkuan Erland. Menangkup wajah pria itu lalu menberikan ciuman di bibir suaminya.
Erland yang mendapatkan serangan dadakan dari istrinya tentu tidak akan membuang kesempatan yang ada. Dia menahan tengkuk Adriana dan semakin memperdalam ciumannya.
Apa ini?
Adriana mulai merasa tidak nyaman saat merasakan ada sesuatu yang mengganjal di bawah pantatnya. Namun ketika dia ingin menyudahi ciuman ini, Erland malah semakin menahan tengkuknya membuat Adriana tidak bisa melakukan apapun. Salah dia sendiri karena telah memulai, maka dia juga yang harus siap menerima konsekuensinya.
"Ya ampun!" Pintu ruangan tiba-tiba saja terbuka, dan Beno yang kali ini sedang sial. Dia menutup wajahnya dengan berkas yang di bawa.
"Kenapa kalian malah bermesraan di kantor si? Dan kalau memang tidak tahan, coba untuk mengunci pintunya. Jadi aku tidak perlu masuk dan mata suci ini menjadi ternodai"
Adriana segera berdiri dari pangkuan Erland dengan mengusap bibirnya yang basah. Dia menundukan wajahnya malu.
"Salah kau sendiri tidak mengetuk pintu sebelum masuk"
__ADS_1
Beno menghela nafas, dia menurunkan kembali berkas yang menutupi matanya. Berjalan menghampiri meja kerja Erland, menaruh berkas yang di bawanya diatas meja.
"Kau tanda tangani cepat, setelah itu kalian bisa melanjutkan yang tadi"
Adriana semakin menundukan wajahnya dengan tangan meremas baju yang di pakainya. Malu sekali. Apalagi saat Adriana mengingat ketika dia merasakan ada sesuatu yang mengganjal di bawah pantatnya saat dia duduk di atas pangkuan suaminya.
Erland mengambil berkas itu, membacanya sebentar lalu segera membubuhi tanda tangannya. "Cepat keluar dan jangan lupa menutup pintu. Menganggu saja!"
"Lain kali pintunya di kuci Tuan Erland yang terhormat. Untungnya aku yang masuk, kalau pegawai lain, sudah pasti dia akan pingsan melihat adegan hot barusan"
"Cepat keluar!"
"Baik, baik"
Beno berlalu ke luar ruangan Erland, menutup pintu ruangan dengan pelan. Dia menggeleng pelan, merasa heran dengan kelakuan sahabatnya yang sedang di dilanda bucin itu.
Di dalam ruangan, Adriana masih berdiri diam dengan menundukan wajahnya yang memerah. Dia sangat malu ketika ketahuan tengah berciuman dengan Erland. Meski memang dia berciuman dengan suaminya, tapi tetap saja Adriana merasa sangat malu.
"Sini..." Erland mengulurkan tangannya pada Adriana. "...Kenapa kau terus menunduk begitu? Beno sudah pergi"
Adriana menghembuskan nafas pelan, dia mendongak dan menatap suaminya. Masih dengan wajah yang memerah malu.
Hah?!
...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...
Erlita menatap buket bunga besar yang menutupi wajah seseorang. Jelas dia tahu siapa di balik buket bunga itu.
"Udah deh, gak usah sok misterius"
Pendy menurunkan buket bunga yang menutupi wajahnya itu. "Selamat siang, Bunda"
Erlita merasa sangat geli mendengar Pendy memanggilnya seperti itu. Dia tersenyum kaku, dia mengambil buket bunga besar di tangan Pendy. Mencium aroma bunga itu.
"Terima kasih, aku suka"
"Bunda mau kemana? Kok udah rapi?"
__ADS_1
Lagi-lagi Erlita merasa geli sendiri mendengar panggilan itu dari Pendy padanya. "Aku mau ke pengadilan, mengambil surat ceraiku yang baru saja keluar"
"Yaudah, biar aku antar"
Erlita mengangguk, dia masuk ke dalam untuk menyimpan buket bunga yang diberikan Pendy barusan. Mengambil tas dan ponselnya, lalu dia kembali menemui Pendy yang sudah berada di dalam mobil.
Erlita masuk ke dalam mobil Pendy, memasang sabuk pengaman di tubuhnya. "Tumben bawa mobil, biasanya selalu bawa motor"
"Karena aku tahu kalau Bunda takut naik motor"
Ya ampun, kenapa aku merasa geli ya mendengar Pendy memanggilku seperti itu. Tapi hatiku juga senang mendengarnya.
"Memang tadinya aku mau ajak kamu jalan, jadi sengaja bawa mobil"
Nah, lebih baik begini saja bicaranya. Gumam Erlita. Jelas dia tidak akan berani benar-benar bicara seperti itu secara langsung pada Pendy. Erlita tidak mau menyinggung perasaan pria itu, apalagi sampai dia melukai hatinya lagi.
Mobil terparkir di depan pengadilan agama, Medina segera membuka sabuk pengaman di tubuhnya. "Tunggu sebentar ya, aku tidak lama kok"
"Siap Bunda"
Erlita tersenyum, dia turun dari mobil Pendy dan segera masuk ke dalam pengadilan. Sementara Pendy, hanya tersenyum sendiri di dalam mobil. Dia merasa sangat bahagia karena bisa bersama dengan wanita yang sangat dia cintai sejak dulu. Apalagi ketika hari ini dia tahu jika Erlita telah resmi bercerai dari mantan suaminya.
Jelas Pendy sangat bahagia, karena dengan ini dia bisa lebih tenang ketika bersama Erlita. Setidaknya gadis itu sudah bukan istri orang lagi. Statusnya telah berbeda.
Beberapa saat kemudian, Erlita kembali dengan sebuah map yang dia bawa. Masuk ke dalam mobil Pendy dengan senyuman cerahnya. Dia merasa lebih lega sekarang. Mulai saat ini, Erlita tidak lagi terikat dengan pernikahan menyakitkan itu. Dia telah benar-benar terlepas dan bebas dari genggaman Linux.
"Akhirnya ya.."
Erlita menoleh pada Pendy, menatapnya dengan bingung. "Akhirnya apa?"
"Akhirnya kamu benar-benar resmi bercerai dari pria sialan itu. Jadi sekarang aku bisa lebih bebas bersamamu. Aku ingin segera menikah denganmu"
Erlita tersenyum mendengar itu, dia meraih tangan Pendy dan menggenggamnya dengan lembut. "Takdir Tuhan memang yang terbaik untuk kita. Mungkin aku pernah gagal dalam pernikahan, tapi aku janji untuk tetap bertahan denganmu, apapun yang terjadi"
Pendy tersenyum mendengar itu. "Terima kasih"
Betapa Pendy merasa bahagia saat dia benar-benar bisa bersama dengan wanita yang dia cintai sejak lama. Namun waktu seolah mempersulit mereka untuk bersatu.
__ADS_1
Bersambung