
Adriana berjalan di antara rak di mini market tempat bekerja paruh waktu. Meski suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja, tapi dia tetap harus berusaha profesional dalam bekerja. Adriana hanya ingin melupakan kejadian tadi pagi, saat di kampus. Dia tidak ingin mengingatnya lagi, tentang perlakuan Erland dan segala ucapan yang menyakitkan hati.
Suara pintu mini market yang di dorong, membuat Adriana segera kembali ke meja kasir. Dia ingin menyambut pengunjung yang datang, namun baru saja dia sampai di dekat meja kasir. Adriana langsung tersenyum saat melihat siapa yang datang ke tempatnya bekerja.
"Hai Ri, aku bersama teman-temanku ingin membeli sesuatu disini"
Adriana mengangguk, dia menatap ke belakang Pendy, disana ada sekitar 5 orang pria dengan jaket yang sama dengan Pendy. Dia menatap lambang jaket itu. Seperti pernah melihat lambang itu, tapi entah dimana. Adriana sedang mencoba mengingat-ngingat.
Sampai dia mengingat sebuah berita di televisi dan di sosial media. Sebuah geng motor terkenal dari luar negara sudah memiliki ratusan anggota di tanah air. Yang di pimpin oleh seorang anak pengusaha yang terkenal. Sebuah geng motor yang membasmi setiap kejahatan.
Melawan siapa saja yang menindas yang lemah. Karena visi mereka adalah merubah citra geng motor yang buruk menjadi pahlawan untuk setiap orang lemah yang di tindas. Dan lambang di jaket Pendy dan teman-temannya adalah lambang yang juga di tunjukan di televisi dan yang tersebar di sosial media.
Saat kelima teman Pendy berjalan menuju lorong mini market untuk memilih apa yang ingin mereka beli. Adriana justru menarik lengan Pendy ke sudut ruangan. Dia ingin menanyakan tentang apa yang ada di pikirannya sekarang.
"Ada apa Ri? Kamu sedang ingin mengajak aku mojok ya? Jangan di mini market juga dong Ri, kalau ada pengunjung yang masuk bagaimana? Lagian disini juga di penuhi oleh cctv"
Adriana memukul lengan Pendy dengan kesal. Pria ini memang selalu seperti ini. Menggodanya dengan caranya yang pecicilan.
"Mereka siapa?" Adriana menggerakkan dagunya sebagai isyarat untuk menunjuk pada teman-teman Pendy.
__ADS_1
Pendy melirik ke arah teman-temannya yang sedang memilih beberapa cemilan di lorong mini market ini. "Temanku, kan aku sudah bilang jika mereka adalah teman-temanku"
"Aku tahu, tapi jaket yang kalian pakai...." Adriana sedikit ragu untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan tentang jaket yang di pakai Pendy dan teman-temannya jelas memiliki lambang sebuah geng motor yang sekarang sedang booming di kalangan anak muda dan orang tua. Sebuah geng motor yang terkenal di liar negara, kini telah memiliki banyak anggota di tanah air.
Pendy tersenyum melihat wajah ragu Adriana saat menatap sebuah logo di lengan jaket yang di pakainya. Dia mengusap tepat di atas bordir logo itu. "Ya, ini memang logo geng motor Aodra. Kau pasti sudah tahu dan mendengar tentang berita itu. Tenang saja, kami bukan geng motor yang memicu kerusuhan. Justru kami ingin meredakan kerusuhan dan menyatukan semua geng motor dalam hal baik. Tidak ada lagi kata geng motor yang menindas orang lemah, apalagi memalak para pedagang kaki lima"
Adriana tersenyum tipis, dia memang sudah mendengar tentang hal itu. Dan semoga saja hal itu benar-benar terjadi. Adriana hanya ingin berteman dengan tulus bersama Pendy dan segala kehidupan pria itu. Semenjak ada Pendy dalam hidupnya, Adriana merasa jika dirinya tidak sendirian lagi. Dia sudah memiliki teman untuk sekedar bercerita, yaitu Pendy.
"Jadi mulai sekarang aku tidak perlu takut lagi dong. Kan kalau misalkan ada yang mem-bully aku lagi, aku tinggal meminta bantuan kamu"
Pendy terkekeh, dia mengelus puncak kepala Adriana dengan gemas. Rasanya dia seperti mempunyai adik perempuan yang menggemaskan yang selalu ingin dia lindungi. "Pokoknya mulai sekarang, jika ada seseorang yang berani membully kamu, tinggal bicara saja padaku atau pada teman-temanku yang tadi. Aku pastikan kita akan selalu melindungimu"
Adriana mengangguk dengan wajah yang ceria. Akhirnya mulai saat ini dia mempunyai seseorang yang mau melindunginya. Masa lalunya selalu menjadi bahan bullyan dari teman-temannya. Dan Adriana tidak mempunyai siapapun untuk di mintai tolong ketika dirinya sudah menjadi bahan bullyan seperti itu. Adriana tidak punya siapa-siapa untuk di minta perlindungan.
Jadi dalam hal ini, Adriana tidak sepenuhnya salah. Karena apa yang dia lakukan di masa lalu pada Kakak perempuannya, atas hasutan dari Ibunya. Anak kecil polos yang percaya begitu saja pada apa yang di katakan Ibunya. Hingga dia sudah beranjak dewasa dan kehancuran keluarganya, telah membuat Adriana sadar jika apa yang di katakan Ibunya tentang Kakak perempuannya adalah salah. Adriana sadar jika dirinya hanya di jadikan alat oleh Ibunya untuk membuat hubungan Ayah dan Kakaknya rusak dan kacau. Membuat Ayah membenci anaknya sendiri.
"Makasih ya, udah mau jadi teman dan pelindungku"
Pendy mengangguk dengan tersenyum, dia merangkul bahu Adriana. Dia senang melakukan ini. Karena baginya, Adriana sudah seperti adiknya sendiri.
__ADS_1
...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...
Di parkiran mini market, sebuah mobil mewah terparkir disana. Kaca jendela mobil setengah terbuka. Dari dalam sana Erland menatap tidak suka pada apa yang dia lihat dari balik kaca jendela mini market. Apa yang di lakukan Pendy pada Adriana terlihat jelas di penglihatannya.
Kedua tangannya memegang kemudi dengan kencang. Hingga urat-urat tangannya terlihat jelas menonjol. Erland tidak suka dan merasa sangat marah ketika melihat Adriana bersama pria lain, apalagi dengan perlakuan Pendy pada Adriana. Rasanya Erland ingin mematahkan tangan Pendy yang dengan lancang merangkul bahu Adriana.
Beberapa saat kemudian Adriana keluar mengantar Pendy dan teman-temannya setelah mereka selesai membeli apa yang ingin mereka beli. Namun saat dia akan kembali masuk ke dalam mini market, tiba-tiba saja sebuah tangan mencekal pergelangan tangannya. Adriana menoleh dan dia cukup terkejut saat tahu siapa yang mencekal lengannya.
"Kak Erland...."
"Apa yang kau lakukan dengan pria itu? Kau bahkan melupakan tugasmu sebagai pembantuku"
Adriana menghela nafas kasar, dia benar-benar tidak habis fikir dengan sikap Erland yang sangat sulit untuk di tebak. Siang tadi Adriana sudah menjalankan tugasnya dengan baik. Dia bahkan membelikan Erland makan siang. Tapi pria itu saja yang menolaknya. Lalu sekarang, kenapa dia berbicara seperti itu. Padahal jelas sekali jika dirinya yang menolak pemberian Adriana. Bukan salah Adriana yang tidak menjalankan tugasnya sebagai pembantunya.
"Kan Kakak sendiri yang menyuruhku untuk tidak menganggumu"
"Tapi setidaknya kau menjalankan tugasmu, bukan malah bercengkrama dengan pria tadi" Ada sebuah penekanan dan nada tidak suka pada kata 'pria' yang terucap dari bibir Erland.
"Memangnya apalagi tugasku, selain menyiapkan makan siang untukmu dan menuruti setiap perintahmu. Kan, tadi jelas jika Kakak melarang aku untuk menemui Kakak. Jadi, aku sedang menuruti perintah Kakak"
__ADS_1
Erland diam, dia benar-benar tidak bisa berkata apapun. Memang benar apa yang di bicarakan Adriana. Tugas gadis itu memang hanya menuruti perintah darinya. Dan bodohnya, tadi siang dia malah mengatakan hal itu. Menyuruh Adriana untuk tidak mengganggunya. Karena nyatanya dia mulai terbiasa dengan kehadiran gadis itu.
Bersambung