
Mami menatap punggung putrinya yang sedang berdiri di depan jendela kamarnya. Bahkan Erlita tidak menyadari Mami yang masuk ke dalam kamarnya. Memi menatap nanar punggung gadisnya itu. Sungguh hati Ibu mana pun tidak akan rela melihaf putri kecilnya yang sekarang malah lukai oleh seorang pria yang menjadi suaminya.
"Lita, ayo sarapan Nak"
Erlita menoleh dan tersenyum tipis pada Mami. Sebelah pipinya masih terlihat bengkak. Mami berjalan menghampiri Erlita, memeluk putranya dengan penuh kelembutan.
"Sabar Nak, maafkan Mami yang tidak bisa menjaga kamu dengan baik. Mami bahkan mengizinkan kamu untuk menikah dengan pria yang baru kita kenal. Maafkan Mami Nak"
Erlita menggeleng, dia memeluk Ibunya dengan erat. "Ini semua sudah keputusan Erlita Mi, jadi jangan menyalahkan diri Mami sendiri. Karena Mami tidak bersalah apapun. Semuanya butuh pengorbanan, begitu pun untuk kesembuhan Erland. Tidak apa jika Lita harus berkorban sampai seperti ini, asalkan saudara Lita bisa sembuh dan masih bersama kita"
Sosok Erlita yang cerewet, kadang suka seenaknya kalau bicara. Tapi, hatinya benar-benar luar biasa. Dia begitu peduli dengan saudara kembarnya. Hingga dia berfikir jika hidupnya akan terasa hampa tanpa kehadiran Erland dalam hidupnya. Meski saudara kembarnya itu sering kali bersikap sangat dingin, tapi Erlita tahu jika dia juga begitu peduli padanya.
"Yaudah ayo kita sarapan sekarang"
Erlita mengangguk, dia berjalan keluar kamar bersama Mami. Menuju ruang makan, anggota keluarga yang lain sudah berada disana. Sepasang suami istri bucin, juga sudah duduk berdampingan.
"Kak, itu pipinya masih kayak gitu" Adriana merinding sendiri, dia melihat pipi Erlita yang bengkak dan membiru.
Erlita tersenyum, menyentuh pipinya dengan pelan. "Nanti juga hilang Ri"
"Di kompres Kak"
"Iya pasti di kompres lagi nanti"
"Sialan memang suami kamu itu, beraninya mukul perempuan. Kalau aku sudah sembuh, pastikan dia tidak akan lepas dariku" Terkadang Erland kesal juga dengan keadaannya saat ini. Dia hanya bisa melihat saudaranya terluka seperti itu tanpa bisa melakukan apapun.
"Sudahlah, Papi sudah membuat laporan barusan"
Semuanya langsung menoleh pada Papi yang baru saja datang dengan sebuah berkas di tangannya. Papa menarik kursi dan duduk disana.
"Erlita, nanti siang ikut Papa ke dokter untuk melakukan visum. Bengkak di pipi kamu benar-benar bisa menjadi bukti yang kuat untuk menuntut Linux"
"Iya Pi, Lita nurut saja sama Papi"
"Kalau perlu tuntut dia hukuman mati saja Pi"
"Ya ampun Sayang, kamu pendendam sekali ya"
__ADS_1
"Aku juga ingin melaporkan orang yang telah menamparmu di toilet mall"
Seketika yang ada di meja makan menatap ke arah Adriana. "Loh, Ri kapan kejadian itu terjadi?" Tanya Mami
"Saat pergi jalan-jalan, dia ada yang menampar di toilet mall. Sampai pipinya memerah" Erland masih saja kesal mengingat kejadian itu. Apalagi saat Adriana tidak memberi tahu siapa yang telah melakukan itu padanya.
"Apasi Sayang, gak perlu di bahas lagi. Aku tidak papa, lagian semua itu juga kesalahanku"
"Memangnya kamu melakukan apa Ri?" Tanya Erlita yang ikut penasaran dengan cerita Erland barusan.
Adriana tersenyum masam, sebenarnya dia malas menceritkan masa lalunya yang memang sebenarnya tidak baik. "Mereka teman SMA aku Kak, dulu mereka yang jadi korban bully aku, lah sekarang datang lagi jadi kebalikannya. Aku yang di bully mereka"
Hampir saja Erlita tertawa, namun dia menahannya karena sadar ada tatapam tajam yang mengarah padanya. "Lagian kamu si, kenapa jadi pembully dulu? Nah sekarang kenapa gak berani melawan?"
Adriana menghela nefas pelan. "Bukannya gak berani, tapi aku udah mau tobat Kak. Jadi biarkan saja mereka puas membalas aku. Lagian waktu itu aku juga kalah jumlah, gak mungkin bisa melawan"
"Begini nih, kalau pembully tobat"
Mami dan Papi tersenyum sambil menggelengkan kepala. Erlita dan Adriana memang hampir memiliki sifat yang sama. Ceria dan terkadang suka asal ceplos jika berbicara.
...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...
Siang ini Pendy datang ke rumah Linux, dia menatap tajam pria yang sedang duduk bersandar di sofa. Bekas luka masih memenuhi wajah tampannya. Pendy berjalan ke arahnya dengan wajah dingin.
"Ma-mau apa kau datang kesini?"
Pendy menjatuhkan tubuhnya di samping Linux, melipat kedua tangannya di dada. "Tidak menyangka kau masih hidup, aku kira kau sudah mati"
"Kau!"
"Aku datang kesini untuk membawa semua barang milik Erlita. Perceraian kalian sedang di urus, jadi jangan lagi mengganggu calon istriku! Kau faham?!"
"Dia masih istriku, sialan!"
Bugh..
Pendy menendang kaki Linux dengan keras, membuat pria itu mengaduh kesakitan. "Sebentar lagi dia akan menjadi mantan istrimu. Jadi, jangan pernah berani mengganggunya lagi jika kau tidak ingin mati dengan cepat!"
__ADS_1
Pendy berjalan ke arah tangga, menuju kamar Erlita. Tidak memperdulikan si pemilik rumah yang menatapnya dengan jengkel.
Pendy masuk ke dalam kamar, menatap semua barang di kamar ini. Sial.. Dia malah membayangkan tentang malam pertama Erlita dan Linux, atau mungkin setiap malam keduanya tidur dengan saling berpelukan.
Arghh.. Kenapa aku tidak rela mengingat itu. Sial, pria itu memang benar-benar harus dimusnahkan. Berani mengambil wanitaku!
Pendy segera membereskan barang-barang Erlita ke dalam sebuah koper dan tas berukuran sedang. Dia akan membawa semua barang milik Erlita dari rumah ini. Selesai semuanya dia bereskan, Pendy langsung membawanya ke lantai bawah. Melirik tajam Linux yang masih berada di tempatnya.
Tanpa berkata apapun lagi, Pendy segera pergi dari rumah itu. Dia tidak ingin terlalu lama berada di sana. Berada di rumah itu, membuatnya tidak bisa menahan emosi. Apalagi tentang Linux yang mungkin sering bersama Erlita dan bercumbu dengannya. Hal itu membuat Pendy kesal sendiri.
Pendy melajukan mobilnya menuju rumah orang tua Erlita. Kali ini dia sengaja membawa mobil, meski sebenarnya dia lebih suka menggunakan motor sport miliknya.
Sampai di parkiran rumah, Pendy turun dari mobil dan mengeluarkan semua barang-barang milik Erlita yang dia bawa dari rumah Linux. Mami dan Adriana benar-benar terkejut dengan kedatangan Pendy yang membawa satu koper besar dan tas juga.
"Semua ini barang-barang Erlita yang aku bawa dari rumah pria sialan itu"
"Ya ampun Kak, kamu sengaja datang sendiri kesana hanya untuk ini?" Adriana sampai menggeleng tidak percaya dengan apa yang di lakukan Pendy.
"Ya, aku tidak mau Erlita mempunyai kesempatan lagi untuk datang ke rumah itu. Semuanya sudah berakhir, antara Erlita dan Linux"
"Ya ampun Nak, terima kasih ya atas semuanya. Tadinya memang Mami dan Papi yang akan datang sendiri kesana untuk mengambil semua barang Erlita. Bersyukur karena kamu sudah melakukannya"
"Iya Mi, tidak masalah. Oh ya, dimana Lita?"
"Dia pergi ke rumah sakit bersama Papi, untuk melakukan visum luka di pipinya itu. Papinya Lita, ingin melaporkan Linux atas kejadian ini"
Pendy mengangguk mengerti. "Yaudah Mi, Ri, kalau gitu aku pamit dulu. Masih ada urusan"
"Iya Kak, hati-hati"
"Iya Nak, terima kasih ya atas semua bantuan kamu"
"Iya Mi, tidak masalah"
Pendy kembali ke mobilnya dan melajukannya meninggalkan rumah orang tua Erlita.
Bersambung
__ADS_1