
Di dalam mobil, Erlita jelas melihat wajah sedih Pendy. Wajar saja, karena meninggalkan dunia yang selama ini dia jalani pastinya akan membuatnya berat. Tapi ini adalah yang terbaik, pada awalnya, Erlita sudah memberikan pilihan antara bertahan dengan hubungannya dengan Erlita atau geng nya.
"Maaf ya, kalau memang kamu merasa berat meninggalkan semua ini. Aku tidak akan memaksa kamu. Tapi, aku tidak mau hidup dalam kekhawatiran nantinya, ketika suamiku berpergian"
Pendy menoleh dan tersenyum pada Erlita. Dia mengelus kepala gadis itu. "Aku hanya sedikit sedih saja. Jadi kamu jangan salah faham ya, aku tidak menyesal kok meninggalkan dunia ini. Karena semua ini juga demi kebaikan aku"
Erlita tersenyum, dia menyandarkan kepalanya dibahu Pendy. Rasanya dia sangat tenang, ketika Pendy telah benar-benar meninggalkan dunianya yang memang sangat membahayakan untuknya.
"Terima kasih ya karena kamu sudah memilihku dan rela meninggalkan dunia kamu ini"
"Semuanya akan aku lakukan demi Bunda"
Erlita tersenyum, dia mulai terbiasa dengan panggilan Pendy padanya. "Terima kasih Ayah, karena sudah memilihku"
"Aaa Bunda..." Pendy langsung merengek dengan wajah senang ketika untuk pertama kalinya dia mendengar Erlita memanggilnya seperti itu. "...Pokoknya kita harus segera punya anak"
Plak..
Erlita langsung memukul lengan Pendy yang sedang mengemudi itu. "Nikah dulu baru punya anak. Kamu ini gimana si"
"Iya maksudnya itu, kan karena lagi senang jadi aku asal ceplos aja"
"Alasan"
Pendy tertawa mendengarnya, merasa lucu melihat ekspresi terkejut Erlita. Calon istriku ini benar-benar sangat menggemaskan. Gumamnya.
"Ayah, aku belum makan siang nih. Makan dulu ya"
"Tuh, kebiasaan deh kamu ini. Kenapa juga gak bilang dari tadi. Ini sudah sore, kamu baru bilang kalau kamu belum makan siang"
"Iya, aku lupa. Tadi dirumah belum lapar, tapi sekarang lapar"
"Yaudah kita makan siang dulu"
Pendy menghentikan mobilnya di depan sebuah Restaurant. Lalu mereka langsung turun dan berjalan masuk ke dalam Restaurant itu. Duduk di meja ujung ruangan yang berdekatan dengan jendela.
"Pesan makan berat juga, kenapa hanya pesan salad buah saja"
__ADS_1
"Aku gak berselera makan makanan berat, udah itu aja cukup"
"Bunda!" Pendy menatap tajam pada Erlita, membuat gadis itu sangat merinding melihat tatapannya. "...Kamu gak lagi coba diet 'kan?"
Erlita menggeleng pelan, namun wajahnya menunduk. Seolah tidak berani menatap pada Pendy. Dan Pendy menyadari jika Erlita memang sedang berbohong padanya.
"Untuk apa diet? Bunda sudah cantik, kenapa harus melakukan hal yang menyiksa diri sendiri?"
Erlita mendongak, dia menatap Pendy dengan lekat. "Aku harus diet, karena pekerjaan aku menuntut aku harus tetap tampil menarik. Apalagi sekarang berat badanku benar-benar naik drastis semenjak bercerai"
"Berhenti dari pekerjaanmu, aku masih mampu membiayai semua kebutuhan hidupmu"
"Tidak bisa Sayang, aku sudah terikat kontak sampai satu tahun ini. Kalau aku tiba-tiba berhenti, maka akan kena finalti"
"Berapa finaltinya? Akan aku bayar, buat apa aku bekerja di perusahaan Daddy meski sebenarnya aku tidak suka bekerja disana. Kalau calon istriku saja masih harus bekerja dengan aturan yang rumit ini"
Erlita tersenyum, dia begitu bahagia melihat Pendy yang begitu perhatian dengannya. "Tidak perlu, aku tetap ingin bekerja. Lagian finaltinya terlalu besar juga"
"Tidak peduli seberapa besar, aku tetap ingin kamu berhenti bekerja mulai sekarang!"
"Tapi..."
Erlita menghela nafas pelan, dia tidak berani menolak karena Pendy saja sudah rela melepaskan dunianya hanya demi menikah dan hidup tentram bersama Erlita. Jadi sekarang Erlita juga akan menuruti perintah Pendy itu, yang terpenting mereka berdua bisa hidup dengan tenang dan tentram nantinya.
"Baiklah, aku akan berhenti jadi model majalah muslimah"
...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...
"Beneran Kak? Jadi sekarang Kak Pendy sudah tidak bergabung dengan geng motor lagi?"
Erlita mengangguk. "Ya, dia benar-benar keluar dari geng motor itu dan meninggalkan dunia itu"
Adriana menatap Erlita dengan gelengan kepala tidak percaya. "Kak Lita benar-benar hebat, bisa membuat seorang ketua geng bertekuk lutut dengan Kakak sampai tidak berani membantah ucapan Kakak"
"Eh. Kamu lebih hebat karena bisa menaklukan singa galak seperti Erland"
Adriana mengangguk kecil dengan wajah polosnya itu. "Benar juga ya Kak, pokoknya kita berdua memang hebat deh"
__ADS_1
Erlita hanya tertawa dan menggeleng heran dengan kelakuan Adriana yang selalu saja membuat orang disekitarnya merasa lucu. Gadis cantik yang selalu apa adanya itu. Pantas saja Erland sampai jatuh cinta padanya. Gumam Erlita.
"Yaudah Kak, aku ke kamar dulu ya. Takutnya singa galak ngamuk karena aku terlalu lama meninggalkannya"
"Iya, iya sana kamu pergi"
Adriana segera berlalu ke kamarnya, dia bilang ingin mengambil air minum sebentar. Tapi karena ada Erlita yang mengajaknya bercerita tentang Pendy yang keluar dari geng nya. Malah membuat Adriana melupakan suaminya yang pastinya sangat kesal karena ditinggal cukup lama.
Ketika Adriana membuka pintu, dia langsung disambut dengan tatapan mengerikan suaminya.
"Darimana saja?"
"Hehe. Sayang.."
Adriana memanggil suaminya dengan manja, dia berjalan mendekat ke arah Erland yang sedang duduk diatas tempat tidur. Menyimpan gelas di atas nakas, lalu naik ke atas tempat tidur dan langsung menghambur ke pelukan suaminya.
"Tadi aku ketemu Kak Lita, terus dia ajakin aku ngobrol sebentar. Aku 'kan jadi tidak enak meninggalkannya di saat dia masih mengajak aku bicara"
Erland memutar bola mata malas, karena dia tahu apa yang dibicarakan Istrinya ini hanyalah sebuah alasan karena dia tidak mau Erland marah. "Kamu yang tidak enak meninggalkan Erlita, atau memang kamu juga betah bergosip dengan dia?"
Adriana langsung cengngesan mendengar ucapan Erland yang benar-benar kenyataan dan fakta. "Ya maaf, kan kamu tahu sendiri bagaimana perempuan kalau sudah saling bertemu. Apalagi aku dan Kak Erlita satu server"
Erland menggeleng pelan, istrinya ini memang benar-benar selalu membuat dirinya tidak bisa kesal atau marah terlalu lama. "Yaudah sekarang ayo tidur"
Adriana membantu suaminya untuk merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Padahal dengan kondisi Erland saat ini, sebenarnya dia sudah bisa melakukannya sendiri. Tapi memang Adriana yang selalu memiliki kekhawatiran yang berlebihan pada suaminya ini.
"Honey, aku bisa sendiri kok"
"Yaudah si, dibantuin istri sendiri saja tidak mau"
Tuhkan, jadi Erland selalu tidak ingin menolak bantuan dari istrinya. Karena Adriana akan langsung marah jika dia menolak bantuannya.
"Sini peluk"
Adriana mencebikan bibirnya, lalu dia segera menghambur ke pelukan Erland. Menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada suaminya. Dan keduanya pun mulai terlelap malam ini.
Berpelukan bersama, selalu membuat tidur Adriana lelap. Karena hanya pelukan suaminya yang paling ternyaman baginya.
__ADS_1
Bersambung