
"Jadi pagi ini beneran mau bekerja?"
Erland mengangguk, dia sudah siap untuk mulai masuk ke kantor lagi. "Iya Honey, tolong kamu siapkan pakaiannya"
Adriana yang sedang berdiri di depan lemari yang terbuka langsung memilihkan pakaian kantor untuk suaminya. "Tapi Sayang, apa aku harus ikut denganmu?"
"Tidak perlu, aku bisa kok. Hanya sampai sore saja. Aku tidak akan pulang terlalu malam"
Adriana berbalik dan menatap suaminya, dengan pakaian Erland yang berada di tangannya. "Yakin? Aku takut kamu kenapa-napa di kantor nantinya"
"Sayang, aku ini seorang bos. Pekerjaanku hanya mengecek beberapa laporan dan hasil kerja karyawan. Lagian ada Beno dan Riki juga yang akan membantuku. Memangnya aku mau melakukan apa di kantor?"
Adriana mencebikkan bibirnya, dia berjalan menghampiri suaminya. "Tapi kalau aku kangen gimana?"
Erland terkekeh, selalu merasa senang ketika melihat wajah cemberut istrinya itu. Erland menarik tangan Adriana, hingga istrinya terduduk di atas pangkuannya. Memeluknya dengan erat dan mencium bahunya.
"Kalau kamu kangen sama aku, kamu datang saja ke kantor sama supir"
"Emm. Yaudah kalau gitu, nanti siang aku akan menyusul kamu ke kantor. Sekalian bawakan makan siang untuk kamu"
"Iya Honey, gemes ihh sama istri aku ini" Erland mencium gemas pipi Adriana.
"Yaudah, sekarang ayo kita mandi dulu"
Adriana berdiri dari pangkuan Erland, dia menyimpan pakaian ganti Erland di atas sofa. Lalu membawa suaminya ke kamar mandi. Mulai memandikan Erland dengan telaten. Adriana benar-benar sudah terbiasa dengan semua ini. Jika pada awalnya dia sempat merasa ragu dan malu saat melihat tubuh polos Erland. Tapi, dia kembali ingat tujuan utamanya hidup bersama Erland adalah untuk merawat pria itu agar segera sembuh.
Selesai memandikan Erland, Adriana lanjut memakai pakaian kantor pada suaminya. Memasangkan dasi di leher suaminya, lalu yang terakhir adalah memasangkan jasnya. Adriana berdiri di depan Erland dengan berkacak pinggang.
"Wahh, suamiku memang sangat tampan"
Erland hanya tersenyum mendengar itu, selalu ada pujian itu setiap pagi untuknya dari Adriana. Dan hal itu selalu merasa senang dengan itu. Merasa sangat bahagia ketika istrinya tidak pernah malu-malu lagi untuk menunjukkan perasaannya.
"Aku mau mandi dulu ya, kamu mau keluar dulu atau tunggu saja disini?"
"Honey, aku bisa keluar kamar sendri" Beberapa kali Erland mengingatkan itu pada istrinya. Adriana terlalu meng-khawatirkannya sampai dia pikir Erland tidak bisa keluar kamar seorang diri menggunakan kursi roda ini.
"Yaudah, hati-hati ya. Aku mau mandi dulu" Adriana mendekati Erland, memberi kecupan di dua pipi suaminya. Muah..muah.. "Aku mencintaimu Sayang"
__ADS_1
"Iya Sayang, aku juga"
Setelah Adriana berlalu ke kamar mandi, Erland keluar dari kamar. Melajukan kursi rodanya menuju ruang makan karena keluarganya sudah pasti akan berkumpul disana ketika pagi seperti ini.
"Land, kamu mau kemana?" Tanya Papi yang bingung melihat penampilan Erland. Mungkin bukan hanya dia saja, tapi juga dengan Mami dan Erlita yang sedang menyiapkan sarapan.
"Aku akan mulai masuk kantor lagi Pi"
Mendengar itu, mereka semua langsung terkejut. Tapi beberapa saat kemudian mereka tersenyum. Ikut senang karena semangat dalam diri Erland telah benar-benar kembali. Dulu, saja saat Papi memintanya untuk kembali masuk ke perusahaan keluarga mereka. Erland tidak mau, dia menolak dengan keras. Tapi sekarang bahkan dengan keinginan sendirinya, dia ingin kembali ke perusahaan tanpa paksaan dari siapa pun.
"Syukurlah Land, Papi senang mendengarnya. Papi sudah ingin beristirahat di rumah saja. Kalau kamu sudah bisa memegang perusahaan keluarga kita"
"Iya Pi, aku akan mulai beraktivitas kembali. Ternyata selama setahun hanya berdiam diri di rumah membuat aku bosan"
"Jelas sekarang lebih semangat, ada Adriana si. Udah di bilangin dari dulu untuk tidak memutuskan hubungan dengan Adriana. Gak nurut si sama aku, jadi nyesel sekarang deh karena baru kali ini kalian bisa menikah dan hidup bersama"
Erland hanya menghela nafas pelan mendengar ucapan Erlita yang benar adanya. Dulu, dia memutuskan Adriana karena dia merasa tidak pantas bersama gadis itu di saat kakinya yang dinyatakan lumpuh.
...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...
Siang ini, Adriana benar-benar mendatangi perusahaan Erland dengan membawa makan siang yang dia buat khusus untuk suaminya tercinta. Dia turun dari dalam mobil, melangkah masuk ke dalam lobby perusahaan dengan paper bag di tangannya.
"Maaf Nona, mencari siapa?"
Adriana menghentikan langkahnya, ketika seorang petugas keamanan perusahaan mencegahnya. "Emm. Saya mau ketemu suami saya Pak"
"Siapa suami anda?"
"Erland Pak, Erland Aditama"
"Hah?! Jangan ngaco deh" seorang wanita yang tidak sengaja lewat dan mendengar ucapan Adriana langsung menimpali.
Adriana menoleh pada wanita cantik yang menatapnya dengan rendah itu. Namun Adriana tidak merass terusik dengan tatapannya itu.
"Maaf Nona, anda tidak bisa masuk jika tidak ada keperluan apapun"
"Pak, saya mau mengantar makan siang untuk suami saya" Adriana mengangkat paper bag di tangannya, di dalamnya da tiga kotak makanan untuk suaminya.
__ADS_1
"Maaf Nona tetap tidak bisa, lebih baik Nona keluar saja"
"Ngaku-ngaku istrinya Tuan Erland. Hei kamu itu seharusnya sadar dong, yang lumpuh itu kakinta, bukan matanya yang jadi buta. Mana mungkin dia menikahi perempuan seperti kamu"
Adriana mulai tidak bisa sabar lagi ketika wanita itu mulai ikut campur urusannya. Dia menghembuskan nafas pelan. "Tunggu sebentar Pak, saya mau menelepon suami saya dulu"
"Telepon suaminya, ya telepon saja. Suaminya pasti bisa Tuan Erland. Ya, kali istrinya modelan kayak gini"
Di lobby perusahaan mulai banyak orang, karena jam makan siang pasti semua karyawan keluar kantor untuk makan siang. Perdebatan Adriana dan petugas keamanan juga menjadi pusat perhatian beberapa orang.
Adriana menelepon suaminya, namun tidak di angkat oleh Erland. Membuat dia mulai panik karena banyak yang memperhatikan dirinya saat ini.
"Duh, kenapa gak di angkat si"
"Tuhkan, dia itu cuma membual saja. Mana mungkin dia adalah istrinya"
Adriana menundukan wajahnya, dia mulai merasa malu karena banyak orang yang menatap ke arahnya dengan tatapan merendahkan. Menganggap jika Adriana hanya seorang perempuan yang hanya ingin mengaku-ngaku menjadi istrinya Erland untuk mendapatkan pekerjaan saja.
"Udah deh kalau cuma mau ngemis minta pekerjaan, gak usah ngaku-ngaku jadi istri bos juga"
"Ada-ada aja ya perempuan jaman sekarang"
Adriana semakin menundukkan wajahnya ketika mendengar semua cacian itu padanya.
"Nona mari ikut saya keluar"
Ketika petugas keamanan akan membawa Adriana keluar tiba-tiba ada yang memanggil namanya.
"Loh Adriana?"
Adriana mendongak dan menatap gadis yang berdiri tidak jauh darinya. Berada diantara kerumunan orang-orang yang sedang menatapnya.
"Kau kenal dia?"
Gadis itu mengangguk, tersenyum merendahkan pada Adriana. "Dia pernah satu sekolah denganku, dia adalah anak pengusaha bernama Eriawan yang bangkrut karena Ibunya yang menggelapkan uang perusahaan suaminya sendiri. Sekarang Ibunya jadi penjual diri kepada pengusaha-pengusaha kaya"
"Ohh, ya ampuan dia adalah anak pengsuaha yang bangkrut itu. Pantas saja aku merasa tidak asing"
__ADS_1
Tubuh Adriana bergetar mendengar itu.
Bersambung