
Adriana masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan berisi segelas air dan buah yang telah di potong-potong di dalam piring kecil. Berjalan mendekati suaminya yang sedang duduk menyandar di atas tempat tidur. Adriana menyimpan nampan yang di bawanya di atas naka, lalu dia naik ke atas tempat tidur.
"Sayang, makan buah dulu"
Erland mengelus kepala istrinya, meraih kepala istrinya untuk bersandar di dadanya. "Kamu habis apa? Kok lama"
"Ambil buah untuk kamu, terus ambil minum juga. Sebentar lagi kamu minum obat"
Erland mengecup puncak kepala istrinya itu. "Kan ada pelayan Honey, kenapa kamu mengerjakannya sendiri"
Adriana mendongak, dia menatap suaminya lalu memberikan kecupan di dagu Erland. "Kak, selama aku bisa melakukannya sendiri kenapa harus menyuruh pelayan. Aku gak mau kembali ke Adriana yang dulu"
Erland tersenyum mendengarnya, mengecup bibir istrinya. "Kamu sudah banyak berubah, jadi jangan berubah lagi"
Adriana meraih piring kecil berisi beberapa potongan buah itu. Mulai menyuapi Erland buah.
"Kamu makan juga Sayang"
Adriana mengangguk, dia juga memakannya. Saling bergantian dengan menyuapi Erland dan dia sendiri yang makan, sampai tidak terasa sepiring buah telah habis di makan oleh keduanya.
"Sekarang giliran minum obat"
"Honey..." Erland sudah menatap malas pada obat-obatan yang sudah membuatnya muak untuk mengkonsumsinya selama ini.
"Kan sudah janji untuk nurut sama aku, kalau gak nurut aku pergi loh"
"Berani sekali kau mengancam aku"
Adriana hanya tertawa mendengar suara kesal Erland padanya. "Ya, sekarang aku jelas berani karena kamu gak mungkin mukul aku"
"Aku gak akan mukul kamu, tapi aku bakalan cium kamu sampai puas" Erland mendekap tubuh Adriana dan mencium pipinya dengan sedikit menggesek-gesekan hidungnya sampai Adriana tertawa geli dengan kelakuannya itu.
"Sayang, geli ihh"
Erland menghentikan aksinya, namun dia tidak melepaskan pelukannya di perut Adriana. Masih mendekapnya dsembuhari belakang, dengan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Adriana.
Adriana mengelus kepala Erland dengan lembut. "Minum obatnya ya"
"Aku lelah Honey, semuanya sudah di lakukan, tapi tetap saja aku tidak bisa sembuh"
"Sayang, bukan tidak bisa. Tapi belum, kamu belum sembuh karena kamu yang kurang optimis jika kamu pasti sembuh"
"Honey, kalau aku tidak bisa sembuh bagaimana? Apa kamu akan meninggalkan aku?"
"Tentu saja"
__ADS_1
Erland langsung melepaskan pelukannya, menatap lekat pada Adriana. "Jadi, kamu benar-benar akan meninggalkan aku?"
"Aku tidak mau bersama pria yang tidak punya semangat hidup. Aku hanya ingin menemani suamiku yang semangat untuk sembuh dan yakin bisa sembuh"
Erland terdiam mendengar itu, dia kembali memeluk istrinya. Menyandarkan kepalanya di bahu Adriana. "Aku akan berusaha untuk bisa sembuh dan membuat kamu tetap berada disampingku"
Adriana tersenyum mendengar itu, dia mengelus kepala Erland yang berada di bahunya. "Pokoknya kalau kamu sembuh, aku akan kasih kamu hadiah"
"Hadiah apa?"
"Ada deh, nanti saja kalau kamu sudah sembuh"
Adriana mengambil obat Erland yang tidak sedikit itu di atas nakas. Memberikannya pada Erland. "Minum dulu obatnya"
Dan akhirnya Erland menurut, meski dia memang sudah sangat malas meminum obat-obatan itu. Namun, demi Adriana. Erland akan lakukan, asalkan Adriana tidak pergi darinya.
"Sekarang kamu diam ya, aku mau coba pijit kakinya"
Adriana mencoba memijat kaki Erland, tapi benar-benar tidak ada reaksi apapun dari Erland.
"Percuma Honey, meski kaki aku kamu bakar sekalipun tidak akan terasa apa-apa"
Adriana menatap Erland, dia merebahkan kepalanya di atas pangkuan Erland. Dan suaminya itu langsung mengelus kepalanya. "Sayang, besok aku izin pergi ya. Seminggu ini aku ada urusan, jadi izin ya"
"Pergi kemana dalam waktu seminggu itu?"
Erland menghela nafas, sebenarnya dia ingin melarang tapi dia tidak mau membuat Adriana merasa terkekang. Dia juga pasti akan merasa bosan terus berada di rumah, hanya menemani suami lumpuh seperti Erland.
"Pulang jam berapa?"
"Gak tau juga si, mungkin sore. Gak akan sampai malam kok"
"Yaudah boleh, tapi di antar supir ya"
Adrina menatap wajah suaminya dari bawah, Erland terlihat masih tampan meski dengan tubuhnya yang sedikit kurus dari Erland yang dulu.
"Gak usah, aku naik taksi online saja"
"Diantar supir atau tidak usah pergi"
Ultimatum yang jelas tidak Adriana bantah, akhirnya dia mengangguk. "Iya, iya diantar supir"
...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...
Dan hari ini setelah dia berpamitan pada suaminya dan mertuanya, Adriana segera pergi bersama supir keluarga Erland.
__ADS_1
"Berhenti disini saja Pak"
"Baik Nona"
"Bapak pulang saja dulu, nanti kalau urusan saya sudah selesai baru saya telepon"
"Baik"
Adriana turun dari dalam mobil, berjalan menuju perempatan jalan dan menemui seseorang yang berada di atas motor sport.
"Hai Kak, gimana?"
"Ayo naik, kita harus cepat sebelum tempatnya penuh"
Adriana segera naik ke atas belakang motor, memakai helm dengan motor yang mulai melaju. "Kak, memangnya dia benar-benar hanya satu minggu berada disini"
"Iya, makanya kamu harus memanfaatkan waktu ini. Banyak orang yang mengantri ingin belajar dan bertemu dengannya secara langsung"
"Iya Kak, aku harus memanfaatkan waktu ini. Tapi, aku juga bingung gimana cara izin setiap hari pada Kak Erland dan Mami"
"Kamu bilang aja kalau ada urusan"
"Ehh, tadi juga bilangnya gitu Kak"
Motor yang di tumpangi Adriana berhenti di depan sebuah rumah sederhana. Di halaman rumah sudah banyak orang-orang yang duduk di atas tikar yang sengaja di gelar. Adriana segera masuk dan ikut bergabung dengan mereka semua.
Seorang pria paru baya keluar dari dalam rumah dengan dua orang asistennya. Mulai memberikan materi hari ini dan beberapa praktek yang di lakukan.
Adriana benar-benar mencatat semua penjelasan dari pria itu dan segala praktek yang di lakukan. Sampai kegiatan hari ini selesai, Adriana dan orang-orang lainnya langsung bubar. Adriana menghampiri Pendy yang kembali menjemputnya hari ini.
"Sudah lama nunggunya Kak?"
Pendy menggeleng pelan, dia menyerahkam helm pada Adriana yang langsung memakainya. "Ayo cepat naik"
"Iya Kak"
Adriana naik ke atas motor Pendy, dan segera meninggalkan tempat itu. "Kak, aku berhenti di tempat yang tadi. Aku sudah hubungi Pak Supir untuk menjemputku disana"
"Oke"
Sebenarnya Adriana bukannya tidak ingin bicara jujur pada Erland. Tapi jika pria itu tahu kalau dia berangkat dengan Pendy, pasti tidak akan mengizinkan.
Tahu sendiri bagaimana suamiku yang posesifnya minta ampun.
Meski Erland memiliki sifat posesif yang berlebih, tapi Adriana tetap mencintainya. Karena mungkin memang seperti itu cara doa menunjukan cintanya pada Adriana. Jadi, Adriana memaklumi sikapnya itu. Malah dia merasa semakin dicintai ketika Erland begitu posesif padanya.
__ADS_1
Bersambung