Mengejar Cinta Si Kembar

Mengejar Cinta Si Kembar
Perkara Sendok Yang Terpisah


__ADS_3

Kestabilan kaki Erland saat dia terus memaksanya untuk berjalan, kini semakin membaik. Erland mulai bisa berjalan tanla tongkat, namun hanya bisa dalam jarak dekat saja. Kakinya akan terasa pegal dan sakit jika berjalan terlalu lama. Seperti saat ini, Erland berani mengecek pembangun proyek tanpa menggunakan tongkat. Dia berjalan cukup lama untuk melihat-lihat pembangunan proyek perusahaannya yang sedang berjalan.


Ketika Erland kembali ke rumah, dia merasakan kakinya mulai terasa sakit dan pegal. Selesai mandi, dia hanya duduk berselonjor di atas tempat tidur sambil sedikit memijat kakinya.


"Sayang, kamu kenapa?" Adriana yang baru masuk ke dalam kamar setelah dia membantu Mami menyiapkan makan malam. Menatap suaminya yang terlihat meringis sambil memijat kakinya.


"Honey..." Erland mendongak dan menatap istrinya dengan tersenyum. Dia tidak mau sampai Adriana tahu keadaannya saat ini. "...Sudah selesai menyiapkan makan malam?"


Adriana melangkah mendekati suaminya, duduk di pinggir tempat tidur. Menatap Erland dengan lekat. "Sakit lagi ya kakinya? Bagus. Paksain aja terus"


Erland tersenyum masam melihat wajah kesal istrinya. Erland selalu saja tidak bisa berkutik ketika istri kesayangannya ini marah dan kesal padanya. "Honey, aku tidak memaksakan kok. Tapi emang kakinya aja yang lagi gak bersahabat"


Adriana mendengus kesal mendengarnya. "Kamu ngerti gak si dengan penjelasan Dokter waktu itu? Kamu hanya baru bisa melepas tongkat kamu untuk di rumah saja. Kalau ke luar rumah, apalagi kalau kamu sampai berjalan terlalu lama, maka kaki kamu akan sakit kembali. Kaki kamu belum siap untuk berjalan terlalu lama. Ngerti gak si?"


Erland beringsut mendekati istrinya, memeluk Adriana dan menyandarkan dagunya di bahu Istrinya. "Iya Honey, aku mengerti. Maafkan aku ya Sayang, udah dong jangan marah terus"


"Tau ah, aku kesal padamu"


Erland mengecup pipi istrinya dengan gemas. "Maaf ya, aku janji besok akan menggunakan kursi roda dulu"


"Terserah!"


Adriana benar-benar kesal dan marah pada Erland yang selalu tidak pernah mendengarkan ucapannya. Dia mencoba melepaskan lingkaran tangan Erland di tubhnya, namun pria itu malah semakin erat memeluk tubuhnya.


"Lepas ihh, aku benar-benar kesal denganmu. Kenapa kamu tidak pernah mendengarkan ucapanku? Sebenarnya kamu anggap aku ini siapa kamu? Aku melakukan semuanya juga karena aku khawatir sama kamu, karena aku sayang sama kamu!"


Erland terhenyak mendengar suara Adriana yang terdengar parau. Saat dia melihat wajah istrinya itu, terlihat air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Erland tidak menyangka jika istrinya sampai menangis seperti itu.


"Honey maaf, sudah ya jangan menangis lagi" Erland menghapus air mata istrinya itu.


Adriana mengusap ujung matanya yang berair. Entah kenapa dia selalu saja sensitif ketika dia datang bulan seperti saat ini. "Abisnya kamu gak pernah mau mendengarkan aku"


Cup...


Erland mengecup pipi istrinya dengan lembut. "Maaf ya, aku janji tidak akan melakukannya lagi. Besok-besok aku akan menurut semua perkataanmu"

__ADS_1


Adriana menghembuskan nafas pelan, dia mencebikan bibirnya. Merubah posisinya, menjadi menghadap pada Erland. Menatap suaminya itu dengan kesal.


"Kamu itu gak pernah tahu bagaimana perasaanku. Aku sangat takut kehilanganmu, melihat kamu sakit membuat aku benar-benar cemas"


Erland tersenyum, dia begitu tersentuh dengan ucapan Adriana barusan. Tangannya terangkat untuk mengelus pipi gadis itu. "Maaf ya, aku janji mulai sekarang aku tidak akan membuat kamu khawatir lagi. Aku akan segera sembuh dan memberikan hakmu"


Mendengar itu, entah kenapa pipi Adriana terasa sangat panas. Dia tahu arti di balik kata 'hak' yang suaminya ucapkan. "Udah, sekarang kamu diam disini. Biar aku bawakan makan malamnya kesini"


"Aku bisa keluar kok Honey"


Adriana langsung menatap tajam pada suaminya. "Katanya mau nurut sama ucapan aku"


"Yaudah, iya"


Adriana berlalu keluar kamar untuk membawakan makan malam untuk suaminya. Sampai di ruang makan, anggota keluarga yang lain telah menunggunya.


"Loh Ri, mana Erland?" Tanya Mami


"Sepertinya kami akan makan malam di kamar saja Mi. Kak Erland kakinya pegal, terasa sedikit sakit lagi karena tadi dia terlalu memaksakan diri"


"Jangan aneh Ri, Erland itu memang keras kepala dan paling susah di kasih tahu"


Adriana mengangguk, dia setuju dengan ucapan Erlita barusan. Memang Erland sangat keras kepala. "Iya Kak, sampai harus aku marah-marah dulu baru dia akan mendengarkan ucapanku"


"Ya, beruntungnya dia mempunyai istri seperti kamu"


Setelah mengambil makanan, Adriana segera kembali ke kamar. Menghampiri suaminya yang duduk di atas tempat tidur sambil memijat kakinya. Adriana menyimpan nampan di atas nakas, lalu dia naik ke atas tempat tidur dan duduk disamping suaminya. Mengambil piring berisi makanan yang barusan dia simpan di atas nakas.


"Ayo makan dulu, kamu harus minum obat setelah ini"


Erland mengangguk, dia tidak banyak membantah karena takut istrinya akan marah lagi padanya. Namun, Erland sedikit bingung saat melihat ada dua sendok di atas piring yang di pegang Adriana.


"Sayang, kenapa ada dua sendok?"


"Iya, kan satu untuk aku dan satu lagi untuk kamu"

__ADS_1


Erland langsung menatap tajam pada istrinya itu. "Maksudnya apa, sendok aja sampe haru pisah pisah kayak gitu? Kamu lupa kalau kita sudah suami istri?"


Adriana sedikit terkejut saat mendengar suara suaminya yang begitu ketus dan penuh penekanan. "Aku 'kan takutnya kamu gak mau makan satu sendok dengan aku. Takutnya kamu merasa jijik"


"Cih. Kalau aku jijik sama kamu, ngapain aku nikahi kamu. Kita aja sudah sering ciuman. Masa masih ada kata jijik?"


Adriana tersenyum masam, dia menggaruk keningnya yang tidak gatal. "Yaudah, kita makan dengan sendok yang sama"


Erland tidak menjawab, dia kesal sekali dengan sikap istrinya ini. Apa Adriana memang masih menjaga jarak darinya? Karena sampai saat ini mereka belum melakukan hal yang seharusnya sudah di lakukan sejak awal mereka menikah.


"Ayo makan lagi. Aa.." Adriana kembali menyuapi Erland. Namun pria itu malah melengos kesal, tidak menerima suapan darinya. "...Sayang ayo lanjutkan makannya, kamu harus minum obat setelah ini"


"Tidak mau! Aku kesal denganmu. Memangnya apa yang membuat kamu masih menjaga jarak dariku?"


Adriana mengerutkan keningnya, bingung dengan ucapan Erland. "Menjaga jarak apa si maksud kamu? Aku tidak sama sekali merasa menjaga jarak dari kamu"


"Buktinya sendok saja harus terpisah!"


Ya ampun, perkara sendok yang terpisah saja menjadi masalah besar untuk dia.


"Yaudah aku minta maaf, lagian kita tidak jadi makan di sendok yang terpisah. Sekarang ayo kamu makan lagi, sebentar lagi kamu harus minum obat dan langsung istirahat"


Erland melirik istrinya dengan tatapan tajam. Namun dia tetap membuka mulutnya ketika Adriana menyuapinya. "Kamu juga makan!"


"Iya, iya aku juga akan makan" Adriana juga menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Tentu dengan sendok yang sama.


Pekara sendok yang terpisah saja sampai seperti ini. Dia ini memang benar-benar posesif ya. Gumamnya.


Akhirnya makan malam kali ini selesai juga, setelah perkara sendok yang terpisah sempat menjadi kendala. Adriana segera memberikan obat untuk diminum oleh suaminya.


"Sekarang tidurlah, kamu harus istirahat"


"Iya Honey"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2