Mengejar Cinta Si Kembar

Mengejar Cinta Si Kembar
Cinta Tulus Adriana


__ADS_3

Adriana benar-benar mengurus semua hal untuk keindahannya kembali ke Ibu Kota. Tentunya dengan di bantu oleh Ganesh, Kakak iparnya membuat semuanya menjadi lancar. Adriana sudah bisa pindah ke ibu kota kurang dari satu minggu. Sekarang dia tinggal di rumah Kakaknya, sampai hari pernikahannya terlaksana.


"Riana pergi dulu ya Kak"


"Iya Dek, hati-hati"


Adriana mencium punggung tangan Tyas dan menoel pipi gembil Gweny sebelum dia pergi. Izin pada Kakaknya untuk pergi ke rumah Erland karena Mami yang memintanya. Tapi, sebelum itu Adriana malah pergi ke sebuah rumah yang baru beberapa bulan lalu dia ketahui tentang rumah ini.


Menekan bell di samping pintu dan menunggu beberapa saat sampai pintu terbuka. Adriana mencoba tersenyum, meski sebenarnya hatinya sangat sesak melihat sosok yang sangat dia rindukan selama ini. Sudah hampir dua tahun, Adriana tidak pernah bertegur sapa lagi dengan sosok wanita di depannya ini.


"Untuk apa kau datang kesini? Tahu darimana rumah ini?"


Adriana tersenyum mendengar pertanyaan yang tidak seharusnya di pertanyaan seorang Ibu pada anaknya, ketika anaknya datang berkunjung ke rumahnya ini. Adriana merogoh tasnya dan memberikan kartu undangan pada Ibunya ini.


"Riana akan menikah lusa, tolong Mama datang ya. Karena sudah tidak ada Papa, jadi Riana harap Mama bisa datang sebagai orang tua Riana"


Sekuat tenaga Adriana menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Hatinya benar-benar terluka, melihat Ibunya yang seolah tidak lagi mengenalinya. Tapi tidak bisa membohongi, jika Adriana juga sangat merindukan sosok seorang Ibu dalam hidupnya.


"Hmm"


Bahkan hanya ada jawaban itu yang keluar dari mulut Ibunya. Lalu apa yang sebenarnya Adriana harapkan saat ini? Pelukan hangat? Ucapan selamat dan do'a terbaik dari Ibunya? Semua itu benar-benar tidak akan pernah terjadi.


Adriana menghela nafas, lalu dia berbalik dengan mengusap air mata yang berhasil lolos. "Datang sendiri Ma, jangan bersama pacar-pacar Mama itu"


Adriana melangkah cepat meninggalkan Mama yang terdiam di tempatnya. Menatap punggung putrinya dengan tatapan yang sulit di artikan.


Selesai memberikan undangan pernikahannya pada Ibunya, Adriana langsung pergi ke rumah Erland.


"Lama sekali Nak, kemana dulu?" Tanya Mami yang sudah menunggu Adriana bersama Erland.


Adriana tersenyum, dia mencium punggung tangan Mami. "Habis kasih undangan untuk Mama"


Deg..

__ADS_1


Mami menatap luka yang begitu dalam di balik senyum yang Adriana pacarkan di wajahnya. Mami langsung memeluknya, entah kenapa sudah sangat sayang itu pada Adriana. Seperti dirinya menyayangi Erlita.


Erland menghela nafas, di tahu jika Kekasihnya itu tersakiti dengan keadaan ini. Tentang orang tuanya yang berpisah dan sekarang tinggal Ibunya yang masih hidup, namun tetap tidak memperdulikan Adriana.


"Sayang, kamu yang sabar ya. Mami yakin jika suatu saat nanti, Mama kamu pasti akan berubah"


Adriana tersenyum, dia merasa sangat beruntung bisa memiliki calon mertua seperti Mami Syifa. Yang begitu tulus menerimanya tanpa melihat latar belakang dan masa lalu Adriana.


"Iya Mi, tidak papa kok. Riana sadar, mungkin semua ini adalah balasan atas perlakuan jahat Riana pada Kak Tyas, dulu"


"Sayang..." Erland langsung meraih tangan Adriana dan mengecupnya. "...Tidak ada balasan untuk orang yang benar-benar berubah untuk lebih baik"


Adriana tersenyum, dia berjongkok di samping kursi roda Erland. Tangannya tertumpu pada pegangan kursi roda. "Iya Sayang, aku tahu. Emm. Bagaimana keadaanmu, setelah aku tinggal beberapa hari?"


"Tidak baik-baik saja Ri, dia bahkan tidak mau minum obat dan terapi" Mami yang menjawabnya.


Adrina langsung cemberut, menatap Erland dengan kesal. "Kok gitu si, gimana mau cepat sembuh kalau kamu malas terapi dan minum obat"


Adriana menghela nafas, dia genggam tangan Erland dan menciumnya. "Sayang, gak ada usaha yang sia-sia. Kamu harus yakin jika semuanya akan ada waktunya. Asal kamu semangat untuk sembuh dan terus jalani apa yang disarankan dokter"


"Tuh dengerin Land, kamu fikir Adriana mau terus-terusan sama kamu kalau keadaan kamu masih kayak gini. Dia cantik loh, pasti banyak pria yang akan mengincarnya nanti"


"Mam.." Erland langsung mendelik tajam pada Mami yang malah tertawa dan berlalu begitu saja dari sana.


"Enggak kok Sayang..." Adriana mengelus pipi Erland dengan lembut. Ada bekas jahitan di kening pria itu. Adriana mengelusnya dengan lembut. " ...Asal kamu nurut sama semua perkataan Dokter, aku jamin kamu pasti bisa sembuh total. Dan aku juga tidak akan berpaling pada siapa pun. Kamu tahu sendiri jika aku sangat mencintaimu"


Mata Erland berkaca-kaca mendengarnya, jelas dia sangat terharu mendengar itu. Betapa beruntungnya dia bisa mendapatkan cinta tulus Adriana.


"Terima kasih Honey, terima kasih karena sudah mau menerima aku dan keadaan aku yang seperti ini"


Cup..


Adriana mengecup pipi Erland dengan lembut. "Karena aku mencintaimu, jadi apapun yang terjadi padamu aku akan tetap menerimanya. Kecuali jika kamu sudah berpaling ke lain hati dan wanita lain, maka aku tidak akan bisa bertahan lagi"

__ADS_1


Erland menggeleng pelan, dia raih belakang kepala Adriana dan mendekatkan padanya. Mengecup kening Adriana dengan lembut. "Tidak akan pernah aku sia-siakan cinta tulus darimu, Sayang. Aku sudah sangat bersykur bisa memilikimu dan mendapatkan cinta darimu"


Adriana tersenyum, dia berdiri di belakang kursi roda Erland. Mendorongnya menuju kamarnya. "Sekarang kamu makan ya terus minum obat"


Dan ketika pawangnya yang bicara, Erland benar-benar menurut. Adriana menyuapi makan dengan telaten, lalu memberinya obat. Hingga sekarang Erland terlelap. Adriana tersenyum, dia mengelus kepala Erland lalu memberikan kecupan hangat di keningnya.


"Selamat tidur Sayang"


...⭐⭐⭐⭐⭐⭐ ...


Ternyata Adriana diminta datang kesini adalah untuk mencoba gaun pengantin yang sudah Mami siapkan. Di dalam kamar tamu, Mami membantu Adriana memakai gaun pengantin itu.


"Maaf ya kalau kamu tidak suka, karena waktunya mepet jadi Mami mengambil desain yang sudah jadi aja. Apa kamu suka dengan modelnya?"


Adriana menatap pantulan dirinya di cermin. "Suka Mi, sangat bagus dan pas di tubuh Riana. Terima kasih Mi"


"Iya Sayang, syukur kalau kamu suka dengan gaunnya"


"Suka, ini sangat bagus"


Setelah selesai mencoba gaun pengantin, Adriana berpamitan pulang pada Mami dan Erland. Meski pria itu terlihat sedikit tidak rela saat Adriana berpamitan pulang.


"Aku pulang ya, nanti 'kan kita akan tinggal bersama. Jadi bisa lebih lama punya waktu bersama"


"Yaudah, hati-hati di jalan. Kamu diantar supir 'kan?"


Adriana mengangguk "Iya aku diantar supir"


Adriana memberikan kecupan di kening Erland sebagai tanda perpisahan mereka hari ini. Adriana tidak pernah menyangka jika sebentar lagi dirinya akan benar-benar menikah dengan Erland. Setelah banyaknya rintangan yang mereka lewati selama ini. Tapi Adriana benar-benar bersyukur karena akhirnya takdir tetap mempertemukan kembali mereka berdua dan menyatukan cinta keduanya.


Nyatanya tidak ada yang bisa melawan takdir Tuhan. Restu, keadaan dan kenyataan. Semuanya tetap terkalahkan oleh takdir Tuhan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2