
Entah apa yang terjadi pada Adriana, Erland di buat bingung dengan sikapnya akhir-akhir ini. Bahkan Adriana sudah tidak seceria dulu, setiap bersama Erland selalu saja dia terlihat murung. Meski dia mencoba menutupi dengan senyuman ketika Erland bertanya kenapa.
Seperti malam ini, Erland sudah menyiapkan makan malam romantis dengan Adriana. Saat tidak sengaja Erland melihat tatapan sendu di mata Adriana.
"Honey, kamu kenapa?"
Lagi-lagi Adriana mencoba untuk tersenyum, agar Erland percaya pada setiap ucapannya. "Tidak papa, memangnya aku kenapa? Aku baik-baik saja"
Adriana melihat ke sekelilingnya, ruangan VVIP Restaurant berbintang yang di hiasi oleh beberapa lilin aroma terapi dan beberapa bunga. Membuat suasana terasz tenang, harum dari lilin aroma terapi dan beberapa kelopak mawar yang sangat menguar ke indra penciuman. Benar-benar menenangkan. Namun, hati Adriana tetap merasa gundah, dia tetap memikirkan ucapan Papa dan masa depan hubungan mereka ke depannya.
"Emm. Tempatnya bagus, Kakak yang desain ini?"
"Ya enggaklah Sayang, aku cuma suruh orang saja"
Adriana mengangguk sambil tertawa kecil. Lagian mana mungkin seorang Erland Aditama punya waktu untuk mendesain semua ini. "Bagus ya, aku suka"
"Syukurlah kalau kamu suka"
Mereka melanjutkan makan malam dengan tenang. Selesai dengan makan, Erland menggenggam tangan Adriana di atas meja. Menatap gadisnya dengan penuh cinta. Namun Adriana mulai merasa aneh dengan sikap Erland. Tatapannya dan senyumannya mengandung penuh arti.
"Ada apa si Kak? Kok lihatnya gitu banget"
"Gak papa, kamu cantik"
"Emang, kemana aja Kakak ini. Apa baru sadar kalau aku ini cantik" Adriana tertawa dengan ucapannya sendiri. Dia tidak bisa semudah itu tersipu malu dengan pujian receh seperti itu. Ingatlah, ini adalah Adriana bukan Kakaknya, Ayuningtyas yang memang dasarnya begitu lembut.
Tawa Adriana langsung terhenti ketika melihat Erland meraih sebuah kotak kecil dari saku jasnya. Dan ketika Erland membuka kotak itu, terlihat sebuah cincin bermata berlian yang sangat indah. Seketika Adriana langsung menarik lengannya dari genggaman Erland.
"Kak.."
"Adriana, maukah kau menikah denganku?"
Aku mau..
__ADS_1
Adriana hanya bisa berteriak dalam hati, karena dirinya tidak bisa menajawab itu pada Erland. Adriana masih terlalu bingung saat ini. Tentang dirinya dan kedepannya akan seperti apa dengan hubungan mereka.
Kita sudah tidak setara dengan keluarga Aditama.
Lagi-lagi ucapan Papa waktu itu memenuhi fikiran Adriana. Dia sadar dan tahu tentang itu. Jika dirinya dan Erland sangatlah berbeda. Namun, apa cinta tidak cukup untuk menguatkan hubungan mereka. Apa status sosial dan masa lalu seseorang tetap menjadi ketetapan utama dalam sebuah hubungan?
"Honey.. Hey, kok malah bengong"
Adriana mengerjap kaget ketika tangan Erlnad melambai di depan wajahnya. "Kak aku, mau jadi istrimu"
Akhirnya Adriana hanya bisa meyakinkan hatinya jika cinta saja sudah cukup untuk memperkuat hubungan mereka. Adriana tidak mau menyesal nantinya.
Erland tersenyum mendengarnya, dia langsung memasangkan cincin itu di jari manis Adriana. Lalu mengecup punggung tangan gadis itu dengan lembut.
"Terima kasih karena sudah menerimaku. Kita akan menikah dua bulan lagi, setelah aku lulus"
Mendengar itu Adriana langsung terbelalak kaget. Dua bulan bukan waktu yang lama, terasa terlalu cepat bagi Adriana jika dia dan Erland harus menikah secepat itu. Karena sampai saat ini, dia masih belum bisa meyakikan Papa tentang hubungan ini yang bisa saja berjalan tanapa memikirkan status sosial dan latar belakang keluarganya.
"Tidak, malah itu terlalu lama bagiku. Seharusnya sih 2 minggu lagi. Tapi, karena Papi dan Mami meminta aku harus menyelesaikan dulu kuliah S2 ini, jadi aku harus lulus dulu sebelum menikah"
"Apa tidak tahun depan saja?"
"Sayang, ini baru awal tahun. Jika kita menikah tahun depan, masih satu tahun lagi. Terlalu lama. Memangnya kenapa dengan waktu dua bulan lagi?"
"Tidak apa-apa, tapi apa kamu benar-benar yakin untuk menikah denganku?"
Erland menggenggam kedua tangan Adriana di atas meja. Menatap mata gadis itu dengan lekat dan penuh keyakinan. "Aku yakin, sangat yakin untuk menjadikan kamu istriku dan ibu dari anak-anakku nanti"
Tentu Adriana melihat ketulusan itu, Adriana juga melihat jika Erland memang benar-benar yakin atas apa yang di ucapkannya. Tapi, yang Adriana tidak yakin adalah restu dari Ayahnya.
"Honey, sebenarnya apa yang kamu ragukan dari aku?"
Adriana menunduk, dia tidak meragukan Erland dan perasaannya. Tapi dia ragu dengan restu yang akan dia dapat atau mungkin tidak akan dia dapatkan.
__ADS_1
"Aku tidak ragu, aku hanya takut tiba-tiba kamu berubah fikiran dan menyesal dengan keputusan yang kamu ambil saat ini"
"Honey, aku tidak akan pernah menyesal dengan keputusanku ini. Aku benar-benar mencintaimu dan yakin dengan keputusan ku ini"
Dan malam ini, Adriana mencoba meyakinkan dirinya untuk menjalani kisah ini bersama Erland. Adrina tidak mau dirinya menyerah begitu saja, meski restu Ayahnya belum dia dapatkan. Tapi, Adriana akan mencoba untuk meyakinkan Ayahnya dan mendapatkan restu yang sepenuhnya darinya.
...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...
"Cincin dari mana itu, Ri?"
Pertanyaan Papa membuat gerak tangan Adriana yang sedang mengambilkan makanan untuk Ayahnya langsung terhenti. Dia lupa untuk melepas cincin pemberian Erland tadi malam.
"Emm, ini..." Adriana menatap cincin yang melingkar di jari manisnya dengan bingung. Harus bagaimana dia menjelaskan pada Papa saat ini.
"Apa itu dari Erland? Dia melamarmu?"
Tebakan Papa sangat tepat sasaran, Adriana langsung menunduk ketika dia sadar jika apa yang di ucapkan Papa adalah benar adanya. Meski begitu, dia tetap tidak bisa menjelaskan apapun. Adriana tahu, Papa pasti akan kecewa dengan keputusannya ini. Padahal sudah jelas-jelas Papa menyuruh Adriana untuk menyudahi hubungannya dengan Erland.
"Maaf Pa"
Akhirnya hanya itu yang mampu Adriana ucapkan saat ini. Dia tidak bisa melakukan apapun, karena memang benar tebakan Papa.
"Papa sudah tidak bisa melakukan apapun lagi. Papa sudah memberi tahu kamu, tapi kamu tidak mendengarkan Papa. Jadi, saat ini Papa serahkan saja padamu. Papa tidak akan ikut campur lagi tentang urusanmu dengan Erland" Papa berdiri dan pergi dari meja makan, bahkan dia tidak jadi menyantap sarapannya.
"Pa, bukan seperti itu Pa. Dengarkan Riana dulu..."
Suara teriakan Adriana benar-benar tidak lagi di hiraukan oleh Papa. Sebenarnya dia bukan tidak mengerti jika anaknya dan Erland saling mencintai. Tapi, Papa tidak bisa membiarkan status mereka akan menjadi penghalang nantinya dan hal itu akan membuat Adriana terluka. Anak gadisnya sudah terlalu banyak terluka, bahkan oleh dirinya dan Ibunya sendiri. Adriana telah menjadi korban keegoisan dirinya dan Ibunya. Papa sadar akan itu.
Di meja makan Adriana menyantap sarapannya seorang diri dengan air mata yang mengalir di pipinya. Meski sudah dia hapus, tapi air matanya seolah tidak mau berhenti sampai terus mengalir.
"Maafkan aku Pa, tapi saat ini aku hanya sedang memperjuangkan cintaku"
Bersambung
__ADS_1