
Deg
Detak jantungnya benar-benar sudah berdetak begitu cepat, sampai Adriana sendiri tidak bisa mengendalikan lagi detak jantungnya itu. Apalagi saat kedua tangan Erland melingkar di perutnya, bibir pria itu mengecup bahu Adriana. Membuatnya benar-benar merasa merinding dengan sentuhan bibir Erland di bahunya.
"Kak, ak-aku kesini cuma mau mengantar makan siang untuk Kakak"
"Diamlah...." Erland menyembunyikan wajahnya di belakang leher Adrina. "...Aku sedang ingin istirahat sekarang, aku butuh ketenangan saat ini"
Adriana benar-benar tidak nyaman dengan posisi ini. Dia duduk di atas pangkuan Erland, semetara tangan kanannya memegang kotak makanan. "Kak, aku simpan dulu kotak makanan ini dulu ya. Aku kesini hanya ingin mengantarkan makan siang untuk Kakak"
"Aku bilang diamlah!"
Adriana langsung bungkam ketika mendengar nada suara Erland yang penuh penekanan. Beberapa menit Erland hanya diam dalam posisi seperti ini, dia merasakan kenyamanan saat bersama Adriana. Namun, dia tetap belum berani untuk meyakinkan dirinya sendiri jika dia memang telah benar-benar jatuh cinta pada Adriana. Seperti yang di ucapkan kedua sahabatnya tadi.
Erland mendorong tubuh Adriana agar berdiri dari atas pangkuannya. "Kau berat juga ya, apa kau selalu makan banyak sampai tidak memikirkan berat badanmu"
Adriana cemberut mendengarnya. Dasar pria menyebalkan. Gumamnya. "Lagian siapa suruh pake memangku aku segala"
"Kau sendiri yang tidak bisa menahan berat tubuhmu sampai aku pegang segitu saja sudah jatuh. Apa karena memang kau menginginkan aku memangkumu? Iya?"
Dasar gila, jelas dia menarik tanganku. Aku tidak sebodoh itu sampai tidak bisa membedakan mana memegang dan mana yang menarik.
Adriana menaruh kotak makanan di atas meja, dia kesal juga dengan Erland yang pandai sekali menjungkir-balikan perasaannya saat ini. Setelah dia menciptakan ketegangan, kini dia ciptakan kekesalan pada Adriana.
"Ini makanan untukmu, tugasku sudah selesai sebagai pembantumu. Sekarang aku mau pulang, mau kerja"
"Tunggu!"
Saat Adriana hampir melangkah menuju pintu keluar, kakinya langsung terhenti saat mendengar teriakan tertahan Erland yang tentunya penuh dengan penekanan. Adriana terdiam, tanpa berniat berbalik badan. Berdiri membelakangi Erland dan menunggu pria itu berbicara.
"Berbalik!" Titahnya dengan suara tegas.
Apalagi si? Nih orang maunya apasi?
Meski kesal, tapi Adriana tetap berbalik badan dan menatap Erland yang menyodorkan dua lembar uang berwarna merah pada Adriana. "Ini untuk mengganti makan siang dan sarapan yang kau beli. Ambilah, kau 'kan sedang menabung untuk memberikan hadiah untuk keponakanmu"
__ADS_1
Tanpa basa basi, Adriana langsung mengambil uang itu dan memasukannya ke dalam saku bajunya. "Oke, makasih ya"
Erland terkekeh melihat kelakuan Adriana, setelah mendapatkan uang darinya dia segera keluar dari ruang musik itu. Adriana benar-benar bukan wanita yang ja'im. Pura-pura menolak, padahal menginginkan lebih dari yang di berikan.
Dasar gadis itu.
Erland membuka kotak makanan yang di bawa oleh Adriana tadi. Mengerutkan keningnya saat melihat secarik kertas yang menempel di balik tutup kotak makanan itu. Erland mencopotnya dan membaca tulisan yang tertera di kertas kecil itu.
Selamat makan Kak, jangan marah-marah lagi, nanti cepat tua loh.
Erland terkekeh sambil menggelengkan kepala heran dengan kelakuan Adriana. Menulis sebuah surat kecil tapi hanya satu kalimat saja. Erland memasukan kertas kecil itu ke dalam saku jaketnya. Lalu dia mulai mengambil paha ayam goreng di dalam kotak makanan dan memulai makan siangnya.
...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...
Gila. Kak Erland itu sebenarnya kenapa ya? Kok dia sampai melakukan itu padaku. Apa dia memang sudah jatuh cinta padaku ya. Hehe.
Adriana berjalan menyusuri koridor kampus dengan berseri-seri senang. Mengingat kejadian tadi, benar-benar membuat hatinya membuncah. Sangat senang, meski tadi dia memang merasa gugup. Tapi sekarang dia justru merasa sangat senang.
Saking senangnya, Adriana sampai tidak sadar jika dia tersenyum-senyum sendiri. Bahkan beberapa orang yang berpapasan dengannya sampai merasa heran dengan kelakuan Adriana. Tapi gadis itu tidak memperdulikan beberapa tatapan aneh yang tertuju padanya. Yang terpenting saat ini dia sedang sangat bahagia.
Adriana tersadar dan menghentikan hayalan tidak nyatanya itu. Menoleh ke arah sumber suara orang yang memanggilnya barusan. Dia melihat Pendy yang berjalan mendekat padanya.
"Ada apa Kak?"
"Mau kemana?"
"Pulang, jam pelajaran sudah habis. Dosennya ada yang gak bisa hadir, jadi bisa pulang lebih cepat deh"
"Kalau gitu sama dong, ayo biar aku antar kamu pulang" Pendy merangkul bahu Adriana. Lalu mereka berjalan dengan Pendy yang merangkul bahunya. Banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka, namun Pendy maupun Adriana terlihat biasa saja. Karena mereka berdua tidak merasa mempunyai hubungan apa-apa.
"Siapa pria itu?"
Erlita yang tidak sengaja melihat adegan itu, juga ikut merasa bingung. Setahu dirinya jika Adriana sangat cinta mati pada saudara kembar nya, lalu kenapa sekarang Adriana terlihat akrab dan dekat dengan pria lain yang Erlita saja tidak tahu. Dia baru melihat wajah pria yang merangkul bahu Adriana barusan.
"Dia Arga Pendynan. Anak baru di kampus ini, seorang ketua geng motor terkenal dan anak pengusaha terkenal juga di negara asalnya" jelas teman Erlita yang berdiri di sampingnya.
__ADS_1
"Ohh, dia bukan asli tanah air ya. Pantas saja wajahnya agak beda"
"Katanya si blasteran gitu"
"Ada hubungan apa ya dia sama Adriana?"
Teman Erlita mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh. "Enggak tahu, tapi memang sejak kejadian di kantin waktu itu memang mereka terlihat akrab"
Erlita menoleh dan menatap temannya itu. "Kejadian di kantin? Maksudnya pas Erland ngamuk disana?"
"Yap, benar sekali. Erland marah besar sama Adriana karena dia sedang bersama pria yang tadi"
Erlita terdiam mendengar penjelasan temannya itu. Untuk pertama kalinya dia mendengar saudara kembarnya itu marah besar hanya karena seorang gadis yang jelas bukan siapa-siapa baginya, sedang mengobrol dengan pria lain. Ini benar-benar sebuah kemajuan yang signifikan.
Aku harus membuat pria itu tidak lagi mendekati Adriana. Aku juga harus meyakinkan Erland jika dia memang sudah jatuh cinta pada Adriana.
Erlita benar-benar harus menjadikan Erland untuk bisa menyatakan cinta pada Adriana, karena Erlita sadar jika saudara kembarnya itu sudah mulai memiliki perasaan lebih pada Adriana.
Sementara Adriana di bawa oleh Pendy berjalan-jalan sebentar sebelum dia masuk bekerja di mini market.
"Yuk aku antar kamu ke mini market sekarang"
Adriana yang sedang asyik bermain air dengan tangannya di sebuah kolam terapi ikan. Kedua kakinya dia masukan ke dalam kolam, tertawa geli saat beberapa ikan mengerubungi kedua kakinya.
"Iya Kak" Adriana mengngkat kedua kakinya dan memakai kembali sepatunya.
Mereka pun keluar dari tempat terapi ikan itu dan menuju parkiran. Naik ke atas motor dan mulai meninggalkan tempat itu. Adriana sedikit memegang ujung jaket Pendy saat kecepatan motor terasa sangat cepat. Semakin cepat di iringi dengan suara-suara motor lainnya yang entah darimana datangnya. Beberapa motor tiba-tiba saja mengerubungi mereka di sisi kanan dan kiri.
Adriana mengeratkan pelukannya di pinggang Pendy. "Kak, ini ada apa?"
"Aku gak tahu Ri, kamu pegangan saja yang erat"
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5
__ADS_1