Mengejar Cinta Si Kembar

Mengejar Cinta Si Kembar
Rasa Bersalah Yang Masih Tetap Ada


__ADS_3

Memikirkan undangan pesta dari Erlita, Adriana jadi bingung sendiri. Kalau tidak datang, dia tidak enak pada keluarga Erlita terutama pada Erlita sendiri yang telah sengaja mengundangnya. Tapi, kalaupun datang, Adriana merasa tidak yakin jika dirinya bisa bersikap biasa saja ketika bertemu dengan Erland. Tentu pria itu pasti akan ada disana. Ini adalah acara kedua orang tuanya.


Adriana membuka pintu rumah, dia tersenyum saat mendapati Kakaknya dan ponakannya yang sedang duduk di sofa bersama sang Ayah. Adriana segera menghampirinya dan ikut bergabung dengan mereka.


"Kak, kapan datang? Kok gak bilang dulu, padahal Riana bisa pulang lebih awal kalau tahu Kakak akan datang"


"Tidak papa Ri, Kakak baru saja datang. Kebetulan Papa juga sudah pulang bekerja, jadi Kakak tidak menunggu sendirian deh di rumah ini"


Adriana menoel-noel pipi gembil keponakannya. "Gwen, Aunty mandi dulu ya. Nanti baru gendong Gweny"


"Yaudah, sana kamu cepetan mandi. Kakak juga tidak bisa lama-lama disini, tahu sendiri suami Kakak kayak gimana. Gak bisa pulang ke rumah kalau tidak melihat Kakak berada di rumah"


Adriana terkekeh mendengar itu, dia tahu  bagaimana posesifnya Kakak iparnya. "Yaudah aku segera mandi ya, sebentar kok. Jangan dulu pulang"


"Iya"


Tyas beralih menatap Ayahnya ketika Adriana sudah berlalu ke kamar mandi. Rasanya masih tidak menyangka jika hubungan diantara dia, adiknya dan Ayahnya akan berubah seperti ini. Mengingat masa lalu, bagaimana Tyas begitu di asingkan dalam keluarganya sendiri. Tapi, bersyukur karena sekarang Tuhan telah memberikan kebahagiaan itu padanya.


"Pa, ini ada undangan dari Tante Syifa. Ada acara anniversarry pernikahannya, dia menyuruh Tyas untuk memberikannya pada Papa dan Adriana.  Kalian datang ya" Tyas menaruh kartu undangan itu di atas meja depannya.


Papa langsung mengambilnya dan membuka kartu undangan itu. "Baiklah Papa akan datang, sampaikan terima kasih Papa pada Nyonya Syifa ya, karena sudah mengundang Papa dan Adriana. Papa merasa sangat tersanjung dengan undangannya ini"


"Iya Pa, Tyas akan sampaikan. Lagian Tante Syifa dan Om Erwin juga sangat berharap Papa dan Adriana datang. Katanya sebagai perwakilan dari keluargaku"


Papa tersenyum mendengarnya, menatap anak pertamanya itu dengan penuh haru. Kesalahannya di masa lalu tetap di maafkan oleh putrinya ini. Papa merasa bahagia saat melihat Tyas begitu di terima di keluarga besar Aditama.


Beberapa saat kemudian, Adriana telah selesai mandi dan berganti pakaian. Dia kembali ikut bergabung bersama Kakak dan Ayahnya. Mendengar penjelasan Tyas jika dia datang kesini untuk mengantarkan undangan anniversarry, Adriana langsung teringat dengan kartu undangan yang sama yang di berikan oleh Erlita tadi siang.


"Kak, aku juga udah di beri undangan itu sama Kak Erlita"

__ADS_1


"Oh ya, bagus dong jadi kalian benar-benar harus datang ya. Jangan sampai tidak datang, nanti Kakak tidak enak pada Om Erwin dan Tante Syifa"


"Iya Kak, tenang saja. Aku dan Papa akan datang demi Kakak"


Meski sebenarnya aku takut bertemu dengan dia lagi. Aku sudah berusaha keras menghindarinya saat berada di kampus tadi.


Tyas mengambil dua paper bag yang dia bawa. Menaruhnya di atas meja. Papa dan Adriana menatap bingung paper bag itu.


"Ini pakaian yang bisa kalian pakai ke acara nanti. Mama yang menyuruh Tyas untuk memberikan ini pada kalian. Katanya biar pakaian kita senada"


Mendengar itu, Papa sampai tidak bisa berkata-kata. Sangat bersyukur ketika anak yang dulu dia sia-siakan, mendapatkan mertua yang begitu baik dan menerimanya apa adanya. Putrinya memang sangat baik, jadi dia sangat pantas mendapatkan keluarga yang menyayanginya seperti keluarga suaminya saat ini.


"Terima kasih Yas, tolong sampaikan ucapan terima kasih kami pada mertuamu"


"Baik Pa"


Adriana tersenyum sambil menatap wajah cantik Kakaknya. Keberuntungan Kakaknya memang sesuai dengan kesabarannya selama ini.


Semua penyesalan Adriana tidak bisa lenyap begitu saja. Di hatinya selalu di selimuti rasa bersalah karena dirinya yang memperlakukan Tyas dengan tidak baik di masa lalu. Namun, Adriana sedang mencoba memperbaiki dirinya. Meski dia tahu jika bekas luka tidak akan pernah hilang sampai kapan pun. Mungkin karena Kakaknya yang terlalu berbesar hati, hingga dia bisa memaafkan semua kesalahannya. Meski Adriana tahu jika bekas lukanya masih ada.


"Kak, maafkan aku ya"


Tyas tersenyum, sudah sering dia mendengar kalimat itu yang keluar dari mulut adiknya. Dia genggam tangan Adriana yang sedang memangku Gweny. "Semuanya sudah berlalu Ri, lupakan saja. Kakak sudah memaafkan kamu. Sekarang sudah saatnya kita memulai hidup yang baru dengan keluarga kita"


Mendengar itu, Papa tersenyum penuh haru. Melihat kedua putrinya yang telah kembali akur layaknya saudara pada umumnya. Semuanya juga karena kesalahannya. Menganggap meninggal istri pertamanya adalah kesalahan anaknya. Dan selalu percaya dengan ucapan Ibunya Adriana. Padahal, jelas sekali Julia berniat untuk memisahkan. Tapi bodohnya, Papa tetap mempercayainya bahkan untuk membenci anaknya sendiri. Ya, Papa memang pria yang sangat bodoh di dunia ini. Dirinya menganggap seperti itu.


...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...


Pagi ini Adriana kembali kuliah, perban di kepalanya telah di lepas dan di ganti dengan plester bening untuk menutupi sedikit lukanya yang belum benar-benar kering.

__ADS_1


Adriana berjalan menelusuri koridor kampus, tidak sengaja bertemu dengan Pendy. Sejak kejadian itu, Pendy tidak terlihat lagi. Seperti menghilang dari hadapan Adriana bak di telan bumi.


"Kak.."


Pendy tidak bisa lagi untuk menghindarinya, panggilan itu jelas terdengar olehnya. Jika dia menghindar, maka akan semakin membuat Adriana bingung dengan sikapnya ini. Akhirnya Pendy memilih menghentikan langkahnya dan berbalik, menatap Adriana yang berjalan ke arahnya.


"Hai Kak, kemana aja nih? Kok aku gak pernah lihat Kakak"


Pendy tersenyum sambil mengusap tengkuk belakang lehernya. "Tidak kemana-mana Ri, aku hanya sibuk dengan tugas"


Adriana mengangguk mengerti, dia tidak mempunyai kecurigaan apapun pada Pendy. "Ohh yaudah Kak, aku kirain Kakak sakit gitu, karena gak pernah kelihatan"


Pendy tersenyum masam, sedikit merasa bersalah karena berbohong pada Adriana. "Tidak Ri, aku baik-baik saja. Kamu gimana? Apa luka di kepalamu masih sakit?"


Adriana menggeleng pelan sambil tersenyum, menyentuh pelan luka di keningnya. "Sudah tidak papa Kak, tenang saja"


"Maaf ya Ri, aku sudah membuat kamu terluka seperti itu"


"Apaan si Kak, aku gak papa kok. Lagian ini hanya sebuah kecelakaan, bukan di sengaja"


Pendy terdiam, Adriana memang gadis yang baik dan ceria. Dia pantas bersama Erland yang dingin dan hidupnya tidak cukup berwarna. Pendy sengaja sedikit menjauhi Adrina, selain karena permintaan dari Erlita. Tapi, Pendy juga ingin melihat Adriana bahagia. Dia tahu jika kebahagiaan Adriana ada pada Erland.


Aku hanya ingin kamu bahagia, Ri. Lagian si Erland sialan itu apa belum juga mengungkapkan kata cinta. Dasar bodoh! Lihat saja, akan ku buat dia terbakar api cemburu sehingga dia segera mengucapkan kata cinta pada Adriana.


Pendy melirik Erland dan kedua sahabatnya sedang berjalan ke arah mereka, dengan sengaja dia merangkul bahu Adriana.


"Yuk aku antar kamu ke kelas"


Ada yang hatinya mulai membara melihat itu.

__ADS_1


Bersambung


Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5


__ADS_2