Mengejar Cinta Si Kembar

Mengejar Cinta Si Kembar
Harus Kenal Dengan Teman-temanku


__ADS_3

Adriana menatap Erland dengan wajah kesal, saat pria itu mulai mengeluh kakinya terasa sakit. Pulang dari kantor, dia mengeluh jika kakinya terasa sakit.


Adriana mengangkat kaki suaminya, menaruhnya di atas pangkuan dan mulai memijatnya dengan lembut. "Sudah aku bilang jangan terlalu di paksa. Kalau sampai kaki kamu sakit lagi gimana? Besok pakai kursi roda lagi"


"Tidak Sayang, aku pasti bisa melakukan itu. Aku akan sembuh, ini hanya karena aku belum terbiasa aja"


"Jangan mulai deh, aku tidak mau kalau sampai kamu sakit lagi"


Erland tersenyum, dia menatap lembut istrinya yang selalu menperhatikan dirinya. "Honey, terima kasih ya karena kamu selalu memperhatikan aku dan memberikan kasih sayang untukmu"


Adriana menoleh dan menatap suaminya. "Apasi, kok tiba-tiba kamu ngomong kayak gitu?"


Erland tertawa kecil, istrinya ini memang berbeda dari wanita lain. Bagaimana dia tidak merasa tersentuh dengan ucapannya. Tidak seperti wanita lain yang selalu merasa senang saat di beri kata gombalan dari seorang pria.


"Masih sakit gak?"


Erland mengangguk pelan, kakinya memang masih terasa sakit. Namun, tidak terlalu sakit seperti saat dia datang ke rumah tadi. Setelah di pijat oleh istrinya, keadaan kakinya sudah mulai membaik.


"Makanya nurut sama istri"


Erland hanya tersenyum, dia sedikit menggerser duduknya dan memeluk istrinya dengan erat. Memeluk Adriana dengan mencium pipi istrinya dengan gemas.


"Sayang, kamu tiduran. Istirahat, aku mau bantu Mami siapkan makan malam"


"Disini saja, temani aku"


Adriana menghela nafas pelan, suaminya ini memang suka manja seperti ini. Adriana mengelus kepala suaminya yang berada di bahunya.


"Sebentar saja, aku hanya membantu Mami. Malu kalau aku hanya diam saja, datang cuma pas makan doang"


"Ya, gak papa. Kamu 'kan istri aku. Bukan pembantu"


Adriana, mengelus kepala suaminya. Terkadang dia tidak pernah menyangka dengan sikap manja suaminya ini. Erland yang dia kenal sangat dingin, tapi saat bersamanya di bahkan bisa manja melebihi anak kecil.


"Sayang, udah ahh. Atau kamu ikut saja keluar yuk"


"Tidak mau"


Adriana menghela nafas pelan, dia mulai kesal dengan suaminya ini. "Sayang ihh, aku cuma sebentar"

__ADS_1


"Lagian kamu tega banget si, suami kamu lagi sakit. Tapi malah mau di tinggalin"


"Ck. Yaudah iya, aku temani kamu saja"


Adriana naik ke atas tempat tidur, memeluk suaminya dengan lembut. "Kamu mau gimana? Tidur? Tapi aku gak mau tidur"


Erland menggeser tubuhnya hingga menyandar di sandaran tempat tidur. Lalu melambaikan tangannya, meminta Adriana untuk memeluknya. "Sini, kita pelukan saja"


Adriana beringsut mendekati Erland dan memeluknya. Menyandarkan kepalanya di dada suaminya. "Sayang, kira-kira kapan ya Kak Erlita dan Kak Pendy menikah? Aku sudah tidak sabar deh, melihat mereka bersatu"


"Kapan pun mereka menikah, memangnya apa urusannya denganmu? Lagian meski mereka telah menikah, tentu mereka tidak akan tinggal disini. Kalau memang Erlita ingin tinggal disini, aku yang akan pindah"


Kenapa dia jadi emosi seperti itu?


Adriana mendongak dan menatap wajah suaminya. "Sayang, memangnya kenapa kalau kita tinggal bersama saja? Lagian Papi dan Mami juga tidak akan merasa keberatan"


"Karena aku gak mau kamu semakin dekat dengan Pendy. Apaan, ingin tinggal serumah segala"


Adriana menggelengkan kepalanya heran, melihat tingkah suaminya ini. Aku yang tidak punya perasaan apa-apa pada Kak Pendy saja tetap dia cemburui. Apalagi kalau suatu saat aku mempunyai perasaan ke pria lain. Eh, tapi tidak mungkin juga.


"Sudahlah, jangan membahas pria itu"


"Iya, iya"


Sore ini Erlita keluar dari butiknya Gezia, dia baru saja selesai melakukan pemotretan untuk desain terbaru dari butik Gezia. Tersenyum ketika dia melihat pria yang menunggunya. Pendy berdiri dengan bersandar di depan mobilnya. Erlita segera menghampirinya.


"Sudah nunggu lama ya?"


Pendy menggeleng pelan, dia melihat wajah Erlita yang semakin terlihat cantik ketika bekas make up yang belum dia hapus selesai dia pemotretan.


"Cantik banget si"


Erlita tersenyum, dia memukul bahu pria itu. "Apaan si, tebel banget ini make upnya"


"Tetap cantik kok, apapun yang kamu pakai"


Erlita menggeleng pelan sambil tersenyum melihat tingkah Pendy ini. Bagaimana dia tidak berkedip menatapnya, dan terus tersenyum pada Erlita.


"Udah ahh, ayo kita pulang"

__ADS_1


Pendy mengangguk, dia membukakan pintu mobil untuk Erlita. "Silahkan calon istriku"


Erlita tersenyum, dia masuk ke dalam mobil Pendy dan mengucap terima kasih pada pria itu. Erlita selalu merasa sangat tersentuh dengan semua perlakuan Pendy padanya. Hal yang tidak pernah dia rasakan dari siapa pun.


Mobil melaju meninggalkan butik, Erlita mulai menghapus make upnya di dalam mobil. Dia tidak nyaman dengan make up yang terlalu tebal.


"Kenapa di hapus? Sudah cantik kok"


Erlita melirik pada Pendy, tersenyum sekilas pada pria itu. "Karena aku tidak biasa memakai make up yang terlalu tebal seperti ini"


"Padahal sangat cantik"


"Udah deh, jangan terus gombalin aku. Karena aku tidak akan pernah mempan dengan gombalan kamu itu"


Pendy hanya tertawa kecil, dia tahu bagaimana Erlita yang selalu bersikap cuek padanya. Mungkin pada setiap lelaki. Itulah kenapa saat ini Pendy begitu beruntung. Karena dirinya bisa mendapatkan hati Erlita, meski hanyak rintangan yang harus mereka lalui.


Pendy mengelus kepala Erlita, rasanya dia sudah tidak sabar untuk menikahi gadis itu. Pendy tidak ingin sampai nanti Erlita kembali di rebut orang lain.


Sampai di pekarangan rumah Erlita, Pendy menghentikan mobilnya. Hari sudah mulai gelap. Erlita turun dari mobil Pendy. "Mau masuk dulu? Kita makan malam bersama?"


Pendy menggeleng pelan. "Kapan-kapan saja, aku harus segera pulang. Ada urusan sama anak-anak"


Mata Erlita seketika langsung menyipit, menatap Pendy dengan tatapan tajamnya. "Mau kemana kamu? Jangan aneh-aneh ya. Sama geng motor lagi? Pokoknya aku tidak suka kamu terus bersama geng motor kamu itu"


"Bunda, kamu mengatakan itu karena kamu belum mengenal teman-temanku. Mereka sangat baik dan asyik, kamu harus kenal dengan mereka"


"Yaudah kalau gitu..." Erlita kembali masuk ke dalam mobil Pendy. Menutup pintu mobil dan segera memakai sabuk pengaman di tubuhnya. "...Aku ikut sekarang"


Hah?!


Pendy tercengang mendengar ucapan Erlita barusan. Ikut bersamanya? Ya, dia memang mengatakan jika Erlita perlu kenal dengan teman-temannya. Ya, tapi tidak sekarang juga. Kan aku ada rapat penting dengan mereka hari ini. Gumamnya.


"Kenapa?" Erlita menatap Pendy dengan tatapan penuh tanda tanya. "...Ayo jalan, katanya aku harus kenal dengan teman-teman kamu. Kenapa sekarang malah seperti kaget gitu?"


"Bunda, maksudnya tidak sekarang juga. Nanti kapan-kapan aku ajak kamu bertemu mereka. Tapi, tidak sekarang"


Erlita menggeleng tegas. "Tidak! Aku ingin ikut sekarang!"


Duh, bagaimana ini?

__ADS_1


Dan akhrinya Pendy tidak bisa melakukan apapun. Dia benar-benar membawa Erlita ke tempat perkumpuan anak buahnya, yang biasa mereka sebut dengan markas.


Bersambung


__ADS_2