
Adriana terdiam setelah semua orang pergi dari rumahnya. Menatap Papa yang terdiam di depannya. Adriana tidak tahu harus melakukan apa saat ini. Ketika Papa mungkin akan memberikan restunya untuk hubungan Adriana dan Erland. Tapi, Adriana tidak yakin dengan hatinya. Mungkin Papa hanya tertekan saja oleh kedatangan keluarga Erland.
"Maafkan Papa, Ri"
Deg..
Adriana mendongak dan menatap Papa dengan bingung. Pria paruh baya itu terlihat merasa bersalah pada Adriana.
"Papa tidak mengerti perasaan kamu, Papa hanya memikirkan tentang keluarga Erland yang mungkin saja tidak akan menerima masa lalu kamu dan latar keluarga kita. Papa sama sekali tidak memikirkan tentang kamu yang pastinya akan terluka karena Papa. Maafkan Papa Nak"
Adriana berdiri dari duduknya, dia berjalan ke arah Papa dan duduk di hadapan pria itu. Menyandarkan kepalanya di pangkuan sang Ayah. "Adriana tidak papa, asalkan Riana tetap dengan Papa. Maka semuanya akan tetap baik-baik saja, saat ini Riana hanya punya Papa dan Kak Tyas. Jadi, Riana akan menuruti semua ucapan Papa, selama Papa masih bersama aku"
Tangan Papa mengelus kepala putrinya dengan lembut. "Papa merestui hubungan kamu dengan Erland. Berbahagialah Nak"
Adriana mendongak, dia tersenyum pada Papa. "Terima kasih Pa, terima kasih banyak"
Dan hari ini Adriana benar-benar tidak perlu memikirkan tentang restu Papa lagi. Dia sudah bisa dengan lepas menerima cinta Erland lagi.
"Jika suatu saat nanti kalian menikah, maka kamu harus jadi istri yang baik dan menurut pada suami kamu. Jangan menyayanginya hanya disaat dia berlimpah kekayaan saja. Tapi tetap bersamanya di saat tersulit dalam hidupnya"
Adriana mengangguk sambil menatap Papa dengan tatapan mata yang berkaca-kaca. Adriana tahu jika Ayahnya sedang membahas tentang Ibunya yang pergi karena perusahaan Papa yang bangkrut.
Meski terlihat baik-baik saja, jelas ada luka yang tak terlihat dalam diri Papa. Tentang istrinya yang meninggalkan dia karena dirinya yang jatuh bangkrut. Setelah dia begitu menuruti apa yang istrinya mau. Menjadikan anak-anaknya korban dari segala keegoisannya.
"Yaudah, Adriana masuk ke kamar dulu ya, Papa segera istirahat"
"Iya Nak"
Adriana masuk ke dalam kamarnya dan dia langsung terkejut dengan dering ponselnya sendiri. Segera menghampiri tempat tidur dan mengambil ponselnya yang berdering. Sudah ada beberapa panggilan tak terjawab sepertinya. Segera Adriana mengakat telepon itu.
"Hallo"
"Kemana aja si? Dari tadi di telepon gak di angkat-angkat"
Adriana memejamkan matanya ketika mendengar suara keras Erland di sebrang sana. Sudah pasti sekesal apa wajahnya itu saat ini. "Ponsel aku di kamar, jadi gak kedengeran"
__ADS_1
"Ck. Sekarang gimana?"
Rasanya Adriana ingin meneriaki Erland, ketika semua pertanyaannya selalu tidak jelas seperti ini. Bagaimana apanya? Adriana benar-benar tidak mengerti.
"Ck. Bagaimana dengan rencana pernikahan kita ini?"
Adriana mengehembuskan nafas pelan, dia baru mengerti apa maksud Erland. "Ya, karena Papa sudah merestuinya. Aku siap menikah denganmu kapan saja"
"Kalau besok bagaimana?"
Adriana tertawa mendengarnya, dia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Menatap langit-langit kamar dengan ponsel yang masih menempel di telinga kanannya. "Gak bisa besok dong Kak, kan besok kuliah. Nanti saja kalau hari libur"
Terdengar suara tawa yang renyah dari sebrang sana. Sudah lama Adriana tidak mendengar tawa ini lagi.
Aku bahagia bisa bersama denganmu lagi.
...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...
Pagi ini Adriana sudah siap untuk pergi kuliah. Dia keluar dari rumah dan mengunci pintu rumah sebelum berangkat.
Suara klakson mobil membuat Adriana menoleh ke halaman rumah. Sebuah mobil yang berhenti di depan rumahnya dengan kaca jendela mobil yang terbuka. Erland berada di dalam mobil itu dan tersenyum padanya.
"Ayo berangkat Honey"
Adriana tersenyum, dia berjalan menghampiri mobil Erland. Berdiri sejenak di bagian kaca jendela mobil yang terbuka. Kedua tangannya tertumpu diatas jendela yang terbuka. Menatap Erland yang terlihat lebih segar dan tampan pagi ini.
"Gak bilang kalau mau jemput?"
Erland tersenyum, tangannya mengelus kepala Adriana dengan lembut. Erland bahagia bisa melihat kekasihnya kembali ceria seperti ini.
"Ayo masuk, sebelum kita terlambat"
Adriana mengangguk, dia berjalan mengitari mobil dan masuk ke dalam mobil Erland. Mobil mulai melaju meninggalkan rumah Adriana.
Pagi ini Adriana benar-benar merasa hidupnya telah kembali. Setelah beberapa hari ini dia hanya menangis dan menyesali setiap hal yang terjadi dalam hidupnya. Namun, hari ini Adriana benar-benar bisa kembali ceria. Karena Erland yang telah kembali padanya dan restu Papa yang telah dia dapatkan.
__ADS_1
...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...
"Jadi Adriana memang sengaja datang di acara wisuda Kak Erland, meski dia harus menjadi seorang pelayan cattering?"
"Iya, dia bisa juga menyebalkan muka hanya karena ingin hadir di acara wisuda Kak Erland"
"Ya 'kan emang dasarnya dia tidak punya malu. Kau ingat masa lalunya, dia pernah menyiksa Kakaknya sendiri. Tapi sekarang dia juga menerima uang dari Kakaknya itu"
Adriana menghela nafas ketika semua pembicaraan itu jelas terdengar di telinganya. Namun apa yang bisa Adriana lakukan ketika apa yang dibicarakan adalah kebenaran. Akhirnya dia hanya duduk diam di bangku taman dengan sebuah buku di tamannya. Lebih baik memfokuskan diri pada kuliahnya dari pada memikirkan apa yang orang-orang bicarakan tentang dirinya.
Adriana terlonjak kaget ketika sepasang tangan yang melingkar didadanya. Di susul dengan kecupan di pipi kirinya. "Aku mencintaimu"
Adriana tersenyum mendengarnya, dia memegang tangan Erland yang berada di dadanya. "Aku juga mencintaimu"
Erland beralih duduk disamping Adriana. Mengintip pada buku yang berada di tangan kekasihnya itu. "Apa yang sedang kau baca?"
Adriana menatap buku di tangannya lalu beralih menatap Erland. "Hanya buku biasa. Kamu kenapa ada disini?"
"Hanya bertemu dengan Dosen, kenapa memangnya? Apa mahasiswa yang sudah lulus tidak boleh datang ke kampus lagi?"
Adrina tersenyum, kembali fokus pada buku bacaannya. "Tidak papa si, hanya saja suasana kampus jadi heboh kalau lihat kamu datang. Apalagi saat kamu menemuiku"
Erland melihat sekelilingnya, memang benar apa yang dikatakan Adriana. Beberapa orang menatap ke arahnya dengan saling berbisik-bisik. Dan ketika mata tajam Erland menatap ke arah mereka, maka semuanya langsung terdiam dan pergi dari sana.
"Apa mereka mengusik kamu?"
Adriana mengalihkan tatapannya pada buku, dan menoleh pada Erland yang duduk disampingnya. "Apa? Mereka siapa?"
"Semua orang disini, apa mereka membicarakanmu?"
Adriana tersenyum, dia mengelus tangan Erland dengan lembut. "Tidak, untuk apa mereka membicarakan aku? Memangnya aku punya salah apa pada mereka?"
Erland tahu kekasihnya berbohong, tapi dia mencoba mengiyakan keinginannya. Mungkin memang Adriana tidak mau mencari masalah dengan siapa pun. Jadi memilih untuk mengalah saja.
"Selama mereka hanya mengganggumu dengan kata-kata, aku masih bisa tolerin. Tapi kalau sudah berani bermain fisik denganmu, maka jangan harap aku akan diam saja"
__ADS_1
Bersambung