Mengejar Cinta Si Kembar

Mengejar Cinta Si Kembar
Berada Diantara Dua Jurang Menyakitkan


__ADS_3

"Land tenang Land..." Riki menahan tangan Erland yang terus memukul samsak tinju di depannya. "...Kau harus tenang, pikirkan semuanya dengan tenang. Jangan dengan emosi seperti ini"


"Iya Land, kita cari solusinya sama-sama dan lihat apa yang sebenarnya membuat Adriana seperti ini" Beno juga membantu menahan Erland yang benar-benar seperti orang kesetanan.


"Diam kau!" Erland menatap nyalang pada Beno. "...Jangan sekali-kali kau menyebut namanya. Dia sudah sangat menyakitiku. Kalian berdua tahu bagaimana aku sudah merencanakan pernikahan kita setelah kelulusanku. Namun, apa yang dia lakukan? Dia memutuskan hubungan kita bahkan sebelum aku wisuda"


"Iya, kita tahu tapi kalau kau tidak tenang. Mana bisa kau memikirkan semuanya, kau harus tenang untuk bisa memikirkan semuanya" Beno menarik lengan Erland agar terduduk di atas lantai.


Wajah yang dingin dengan keringat yang menetes di wajah dan tubuhnya. Erland duduk diantara Riki dan Beno. Kedua sahabat yang setia bersamanya dalam keadaan apapun.


"Land, sebenarnya aku hanya ingin tahu apa yang di katakan dia saat di rufftop tadi?" Beno tidak lagi berani menyebut nama Adriana, karena takut terkena sentak Erland lagi.


"Kita harus tahu bagaimana keadaannya Land, kalau hanya melihatmu marah-marah begini, mana bisa kita membantu memikirkan tentang solusinya"


Erland menatap kedua sahabatnya dengan helaan nafas yang panjang. "Dia berkata jika harus mengakhiri semuanya denganku karena merasa tidak pantas berada di sampingku. Lalu dia juga mengatakan jika Ayahnya yang menyadarkan dia tentang perubahan kita yang terlalu jauh"


Beno dan Riki saling pandang, mereka sedang mencoba menyimpulkan permasalahan sahabatnya ini. Sedang mencoba meluruskan apa yang sedang terjadi dengan fikiran dingin, karena disini situasinya hanya mereka yang waras. Karena Erland sedang kehilangan kewarasannya karena di putuskan oleh Adriana.


"Mendengar dari apa yang kamu ucapkan, sepertinya Adriana tertekan deh. Mungkin saja memang Ayahnya tidak merestui hubungan kalian. Intinya, Adriana merasa tidak pantas untuk kamu karena Ayahnya sendiri juga berkata seperti itu" jelas Riki, mengatakan apa yang ada di pikirannya saat ini.


"Jadi, sepertinya Adriana memutuskan kamu karena dia tidak mendapatkan restu dari Ayahnya atau mungkin dilarang untuk tidak berhubungan lagi denganmu" Beno ikut menimpali ucapan sahabatnya itu.


"Rasanya tidak mungkin, kalau memang dia memang tidak mendapatkan restu dari Ayahnya. Tapi, setiap aku datang menjemputnya Ayahnya selalu bersikap ramah dan baik padaku. Tidak. Itu tidak mungkin"


"Tapi Land, bukannya Adriana berkata jika Ayahnya yang menyadarkan dia tentang perbedaan kamu dan dia?" Tanya Riki


"Iya, tapi aku merasa itu hanya alasan dia saja untuk meninggalkan aku. Karena aku tahu bagaimana Ayahnya, setiap aku menjemputnya dia selalu biasa saja denganku. Tidak terlihat tidak menyukaiku sama sekali..." Erland berdiri dan mengambil botol minum di samping Beno duduk. "...Sekarang aku harus pergi, harus menenangkan diri. Ternyata semua wanita sama saja. Gak Yola, gak Adriana. Sama-sama memberikan harapan yang tidak bisa di pertanggung jawabkan"

__ADS_1


Beno dan Riki saling tatap ketika Erland keluar dari tempat olah raga ini. Mereka tahu sekecewa apa dan sehancur apa Erland ketika Yola pergi tanpa berpamitan padanya, hanya untuk mengejar sebuah cita-cita. Dan sekarang, Erland sedang kembali terluka.


...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...


"Ri, kamu kenapa si? Kok dari tadi tidak fokus. Sakit ya? Kalau sakit pulang saja, jangan di paksa"


Adriana tersenyum masam pada Ibu pemilik kedai ayam goreng tempatnya bekerja ini. "Apa boleh Riana izin hari ini Bu?"


"Iya, pulanglah. Bekerja juga harus dalam keadaan hati yang baik"


"Terima kasih Bu, kalau begitu Riana izin hari ini ya Bu"


"Iya, pergilah"


Akhirnya malam ini Adriana tidak jadi bekerja di kedai ayam goreng. Dia memilih berjalan di malam hari yang masih padat dengan kendaraan, karena hari yang belum terlalu larut. Berjalan jauh adalah cara Adrian menenangkan hatinya yang sedang terluka.


Percakapan saat di rufftop kembali terlintas dalam ingatan Adriana. Bagaimana pada akhirnya dia bisa mengatakan akhir dalam hubungannya dengan Erland. Kata yang begitu menyakitkan dan Adriana pun merasa sangat terluka saat mengatakannya.


Namun apa yang bisa dia lakukan, ketika situasi dan kondisinya seolah mendorongnya untuk melakukan ini. Mengakhiri semuanya. Kebahagiaan yang baru saja di mulai, harus berakhir secepat ini karena keadaan yang tidak mendukung.


Tak bisa lagi terus berpura-pura tegar dan baik-baik saja. Adriana duduk di atas tanah dengan tang yang memeluk lututnya. Menyembunyikan wajahnya di antara lutut dan tangannya. Adriana menumpahkan tangisannya di tengah kebisingan kendaraan penghuni jalanan.


Tuhan, aku tidak bisa hidup tanpanya. Tapi keadaan tidak mau aku hidup bersamanya.


Adriana berada dalam posisi yang serba salah. Seolah di depan dan belakang dirinya adalah sebuah jurang yang dalam. Memilih melangkah maju, Adriaan akan terluka karena tidak pernah mendapatkan restu dari Ayahnya sendiri. Harus menyadarkan diri sendiri jika memang dirinya tidak pantas untuk Erland.


Dunia dan kehidupan kedepannya akan sangat sulit bagi Adriana. Dan jika dia melangkah mundur, maka dia akan sangat terluka karena harus melepaskan sumber kebahagiaannya. Harus merelakan pria yang dicintainya akan membencinya dan mungkin suatu saat akan bertemu dengan pengganti dirinya.

__ADS_1


Adriana benar-benar berada dalam dua jurang menyakitkan dalam hidupnya.


Seseorang di dalam mobil sedang mencoba menahan diri untuk tidak turun dan memeluk gadis yang sedang menangis di atas trotoar jalan itu. Hatinya sedang kecewa dan tidak baik-baik saja. Erland takut tidak bisa meredam emosinya saat dia menemui Adriana saat ini.


Melihat sebuah motor yang berhenti di samping Adriana, sebenarnya membuat Erland ingin segera turun. Namun saat ini egonya sedang sedikit tinggi. Akhirnya dia hanya mencengkram erat kemudi, lalu kembali melajukan mobilnya. Melewati dua insan di pinggir jalan itu.


Adriana mendongak ketika mendengar suara orang yang memanggil namanya. Dia usap sisa air mata di pipinya. "Kak Pendy, sedang apa Kakak disini?"


Pendy membantu Adriana berdiri, dia mengusap ujung mata gadis itu yang masih berair. "Ada apa? Kenapa menangis di pinggir jalan?"


Adriana tidak menjawab, dia hanya menunduk dengan tangan yang saling meremas. Air mata kembali menetes, mengenai tangannya sendiri. "Tidak papa Kak"


"Apa ada masalah dengan Erland?"


Mendengar Pendy menyebutkan nama pria itu, membuat pertahanan Adriana benar-benar runtuh. Dia menangis terisak, dia tidak bisa berkata-kata lagi bagaimana perasaannya saat ini.


Melihat itu, Pendy langsung membawa Adriana ke dalam pelukannya. Dia biarkan tangisan gadis itu pecah dalam dekapannya. Membiarkan Adriana mengeluarkan semua kegundahan dalam hatinya dengan tangisan.


"Sudah lebih tenang sekarang? Apa mau cerita dengaku? Atau jika kamu tidak mau bercerita, tidak papa. Sekarang aku akan mengantarkan kamu pulang"


Tangisan Adriana mulai mereda, dia melepaskan pelukan Pendy padanya. Menghapus sisa air matanya. "Kak, antarkan saja aku pulang"


"Baiklah, ayo aku antar pulang. Tapi jika besok atau lusa sudah tidak kuat memendamnya sendiri, hubungi aku dan ceritakan semuanya padaku"


Adriana mengangguk, rasanya dia merasa sangat beruntung karena bisa mempunyai teman yang sudah dia anggap seperti Kakaknya sendiri. Bagaimana Pendy begitu dewasa dan mengerti keadaannya. Pendy yang tidak pernah memaksa seseorang untuk bercerita jika orang itu enggan untuk bercerita padanya.


Pendy mengantarkan Adriana pulang dengan motornya. Dan selama perjalanan menuju rumah Adriana, hanya ada keheningan diantara keduanya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2