Mengejar Cinta Si Kembar

Mengejar Cinta Si Kembar
Tidak Akan Berpaling Darimu


__ADS_3

"Udah pakai kursi roda aja, jangan memakai tongkat. Kakimu sakit lagi nanti" Adriana sudah mengeluarkan kekesalanya kepada suaminya. Ketika Erland terus memaksakan diri untuk memakai tongkat.


"Tidak papa Honey, aku bisa kok. Lagian sekarang kaki 'ku sudah tidak terlalu sakit"


Adriana mendengus kesal pada suaminya. "Terserah kamu ah, pokoknya jangan ngeluh lagi kalau nanti tiba-tiba kaki kamu sakit lagi. Aku gak mau dengar keluhan kamu lagi"


Erland tersenyum, melihat istrinya yang marah seperti itu malah membuatnya gemas sendiri. Erland memeluk tubuh Adriana. Menyandarkan dagunya di bahu Istrinya. "Iya Honey, aku tidak akan mengeluh apapun deh sama kamu. Lagian kamu tidak perlu terlalu khawatir seperti itu. Aku akan baik-baik saja"


Adriana menghembuskan nafas pelan, suaminya memang sedang sangat bersemangat untuk sembuh dan bisa berjalan normal kembali. Tapi Adriana tidak mau sampai Erland yang terlalu memaksakan diri.


"Yaudah, sekarang ayo kita keluar. Kita sudah di tunggu sama Mami dan Papi"


"Iya"


Adriana membantu Erland yang berjalan keluar kamar dengan menggunakan dua tongkat di kedua sisi tubuhnya. Sampai di ruang makan, Adriana terkejut ketika dia melihat Pendy yang berada di ruang makan.


"Loh Kak Pendy ada disini"


"Iya Ri"


Adriana menarik kursi untuk suaminya, membantu suaminya untuk duduk disana. Lalu dia menarik kursi di sebelah Erland dan ikut duduk disana.


"Kau sudah sembuh ya?"


Erland menatap Pendy, dia mengangkat bahunys acuh tak acuh. Membuat Adriana saling pandang dengan Erlita ketika mereka merasakan suasana dingin di ruang makan ini.


"Ya ampun, kalian ini mau sampai kapan saling tatap dingin kayak gini? Ayolah, sebenarnya apasi yang membuat kalian bermusuhan?" Adriana benar-benar merasa kesal dengan kedua pria yang saling membenci ini, tapi mereka juga sepertinya tidak tahu apa alasan mereka sampai saling membenci.


"Iya, kalian tidak pernah ada masalah apapun. Tapi kenapa tidak pernah bisa akur" Erlita ikut menimpali kebingungan dan kekesalan Adriana.


Pendy berdecak pelan, dia menatap Erland dengan tatapan dingin. "Ya, karena aku juga tidak pernah merasa membuat masalah dengan saudara kembarmu itu. Tapi dianya saja yang tiba-tiba mengibarkan bendera peperangan padaku"


Erland langsung menatap tajam pada Pendy, dia merasa tidak melakukan hal itu. Dia tidak terima dengan ucapan Pendy barusan. "Kau yang lebih dulu mengibarkan bendera perang padaku. Kau yang seolah sengaja mendekati Adriana, di saat aku sudah menyukainya"

__ADS_1


Pendy mengangguk pelan, seolah dia mengerti ucapan Erland barusan. "Oh, jadi karena itu ya. Kau tidak tahu saja jika aku sengaja melakukan itu. Karena aku ingin kau yang bodoh itu segera mengakui perasaanmu"


Adriana terkekeh melihat perdebatan kedua pria itu. Perdebatan yang sebenarnya tidak penting dan tidak perlu di debatkan. "Sudah, sudah. Kalian ini kenapa si? Padahal semua hal itu sudah lama berlalu, kenapa masih saja di perdebatkan. Sayang, aku juga sudah menikah denganmu. Lagian aku dan Kak Pendy hanya menjadi sahabat saja. Tidak ada perasaan yang lebih dari itu diantara kita"


"Yaudah, sekarang lebih baik kalian saling memaafkan. Masa mau terus-terusan bermusuhan, padahal sebentar lagi mungkin akan menjadi saudara ipar" kata Erlita


Dengan memalingkan wajahnya, Pendy mengulurkan tangannya pada Erland. Dia lebih baik mengalah lebih dulu, karena tidak mungkin bagi Erland yang mau meminta maaf duluan pada Pendy.


"Maaf"


Erland melengos, dia tidak menerima uluran tangan Pendy. Masih mempertahankan gengsinya. Hal itu membuat Adriana menghela nafas pelan, dengan sedikit paksaan Adriana mengangkat tangan kanan Erland dan menjabatkan tangan itu dengan uluran tangan Pendy.


"Sudah, mulai sekarang kalian adalah saudara. Jangan lagi bertengkar. Lagian apa juga yang akan kalian rebutkan saat ini"


Erlita sedikit terkekeh melihat wajah Erland dan Pendy yang terpaksa tersenyum saat keduanya mengucapkan kata maaf.


Sarapan pagi ini menjadi saksi berbaikannya dia musuh yang sudah bertahun-tahun tidak pernah akur. Selesai sarapan, Pendy segera pergi, mengantar Erlita ke butik Gezia.


Erlang tersenyum, dia merasa senang ketika istrinya begitu memberikan perhatian yang lebih padanya. "Sayang, kamu hanya perlu percaya padaku dan tenang. Aku pasti bisa, harusnya kamu senang karena aku sudah berusaha sebisa mungkin untuk sembuh"


"Iya, aku senang karena kamu begitu bersemangat untuk sembuh. Tapi tidak terlalu memaksakan juga"


"Yaudah, kalau kamu sangat khawatir padaku, lebih baik kamu ikut saja ke kantor"


Adriana menggeleng pelan. "Nanti siang saja, aku akan menyusul kamu ke kantor sambil membawa makan siang untukmu"


"Yaudah, kalau gitu aku pergi dulu ya. Baik-baik di rumah"


Adriana mencium tangan suaminya, lalu dia juga memberikan kecupan di kedua pipi Erland. "Hati-hati di jalannya, Pak supir jangan ngebut-ngebut ya bawa mobilnya"


"Siap Nona"


Adriana keluar dari dalam mobil, berdiri di teras rumah. Menatap mobil yang di tumpangi oleh suaminya keluar dari gerbang rumah.

__ADS_1


Lalu, Adriana kembali masuk ke dalam rumah.


...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...


Siang ini Adriana kembali ke perusahaan suaminya dengan membawa makan siang untuk Erland. Ketika dia sampai di depan ruangan suaminya, pintu ruangan yang sedikit terbuka membuat Adriana bisa melihat ke dalam ruangan suaminya sebelum dia sempat membuka pintu.


Terlihat seorang wanita yang berdiri di depan meja kerja Erland. Adriana menyipitkan matanya, takut jika wanita itu sedang mencoba untuk menggoda suaminya.


Erland sedikit terkejut saat tiba-tiba pintu ruangannya terbuka dengan lebar. Erland tersenyum saat mengetahui siapa yang datang.


"Honey, sudah datang ya. Ayo sini" Erland mengulurkan tangannya, meminta Adriana untuk mendekat padanya.


Sementara wanita yang berdiri di depan meja kerja Erland hanya diam saja. Mengangguk hormat saat Adriana berjalan melewatinya.


Adriana menyimpan paper bag yang dia bawa di atas meja depan sofa. Lalu mendekat pada suaminya, tanpa rasa malu Adriana langsung duduk di atas pangkuan suaminya. Mengecup bibir suaminya. Seolah dia sedang menunjukan pada wanita di depannya bahwa Erland adalah miliknya.


Apaan pake baju kurang bahan kayak gitu. Mau menggoda suamiku, jangan mimpi!


Erland memberikan berkas yang sudah dia tanda tangan dan menyerahkannya pada wanita yang berdiri di depan meja kerjanya itu. "Kau langsung serahkan semuanya pada Riki atau Beno"


"Baik Tuan"


Setelah wanita itu keluar ruangan dan menutup pintu. Adriana langsung berdiri dari pangkuan Erland. Membuat suaminya bingung saja.


"Honey kenapa?"


Adriana tidak menjawab, dia berjalan ke arah sofa dan duduk disana. "Siapa tadi? Kok aku baru lihat ada wanita cantik disini. Sudah bajunya kurang bahan lagi. Benar-benar tidak ingin membuatmu tergoda ya"


Erland tersenyum mendengar cerocosan istrinya yang sedang cemburu itu. Jujur Erland merasa senang ketika melihat istrinya yang cemburu. Karena selama ini selalu dia yang mencemburui istrinya. Erland memakai tongkatnya dan berjalan menghampiri istrinya. Duduk di samping Adriana.


"Dia sekretaris ku, bukan siapa-siapa. Lagian aku tidak akan pernah berpaling darimu"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2