
Erland menatap air kolam yang tenang, pagi ini matahari bersinar cukup cerah. Dia berjemur dengan di temani perawatnya. Meski pagi yang cerah, tapi dirinya tetap tidak merasakan hidupnya cerah. Hidupnya akan selalu gelap sejak kecelakaan yang terjadi satu tahun lalu. Tentang dirinya yang harus menjalani kehidupan di atas kursi roda. Sampai dia harus merelakan kekasih hatinya.
"Tuan, mari sarapan dulu"
Perawat pria itu membawa sarapan untuk Erland yang di berikan pelayan barusan. Namun Erland sama sekali tidak menjawab apapun. Bahkan dia tidak merespon ucapan perawatnya.
"Tuan makan ya sarapannya, biar bisa cepat sehat"
Perawat Erland masih berusah keras untuk memberikan sarapan padanya. Namun saat dia baru saja ingin menyuapkan makanan pada Erland, langsung di tepis kasar olehnya. Membuat piring dan sendok yang ada di tangan perawat terlempar jauh dan terjatuh di atas lantai sampai pecah dan berhamburan.
"Aku tidak mau makan, kenapa kau memaksa Hah. Biarkan saja aku mati, sudah tidak ada gunanya lagi aku hidup seperti ini"
"Kak Erland.."
Deg..Deg..
Jantung Erland seketika berdebar dengan kencang. Suara itu masih jelas dia ingat milik siapa. Suara wanita yang dia rindukan selama ini. Seorang gadis yang sejak tadi melihat kejadian itu, dia hanya berdiri mematung dengan perasaan yang sesak. Dan sekarang dia berlari menghampiri lelaki yang dia rindukan selama ini. Jatuh terduduk di depan kursi roda Erland, dan bersimpuh pada pria itu.
"A-adriana" Erland benar-benar tidak menyangka akan bertemu kembali dengan gadisnya lagi. Namun, ketika dia melihat kakinya dan keadaannya sekarang membuat Erland menepis tangan Adriana yang menggenggam tangannya.
"Kak, kenapa Kakak menyembunyikan semua ini? Kak, lihat aku Kak"
Adriana tidak menyerah begitu saja, dia tidak ingin membuang kesempatan ini untuk bisa mendapatkan penjelasan dari Erland secara langsung. Meski sebenarnya dia sudah tahu apa alasan sebenarnya pria itu sampai melakukan semua ini.
"Pergi! Pergi dari sini. PERGI!!"
Erland berteriak dengan kencang, dia mencoba memutar kursi rodanya untuk bisa pergi dari Adriana. Namun, gadis itu tidak menyerah, dia berdiri dan memeluk tubuh Erland yang terduduk di kursi roda. Tidak peduli saat pria itu mencoba untuk melepaskan diri dari pelukannya.
__ADS_1
"Sayang, jangan kayak gini. Aku tidak akan pergi meski kamu mengusir aku seperti apapun. Aku datang untuk kamu, dan aku tidak akan pergi lagi dari kamu"
Erland mulai berhenti berontak, dia terdiam mendengar ucapan Adriana yang terdengar begitu tulus. Akhirnya Erland membalas pelukan Adriana dengan erat, dia memeluk punggung gadis itu dan pertahanannya mulai runtuh. Erland tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak menangis saat ini. Begitupun dengan Adriana.
"Kenapa kau datang kesini, kau tahu aku sudah susah payah melupakanmu. Tapi tetap tidak bisa"
Adriana melerai pelukannya, dia menangkup wajah Erland dan menatap matanya dengan lekat. "Dengar! Aku pun tidak pernah bisa melupakanmu. Sampai sekarang, aku tetap mencintaimu. Apa kamu masih membiarkan aku untuk mengejar cintamu sekarang? Hmm?"
Sungguh Erland tidak bisa berkata-kata lagi, kerinduannya selama satu tahun ini akhirnya bisa terobati juga. Melihat sosok Adriana yang baik-baik saja, sudah lebih dari cukup untuk mengobati rasa rindu Erland padanya.
Di ujung sana, ada Mami, Papi, Erlita, Tyas dan Ganesh yang melihat adegan itu. Semuanya merasa terharu dan sangat tersentuh dengan cinta kedua insan yang harus melewati banyak rintangan karena takdir Tuhan. Namun, pada nyatanya takdir Tuhan juga yang tetap mempertemukan mereka kembali.
...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...
Adriana berada di kamar Erland, menyuapi pria itu makan dengan lembut. Erland sedang duduk di atas tempat tidur. Dia menatap Adriana dengan tatapan tidak percaya jika gadis yang dia rindukan selama satu tahun ini, sekarang berada di depannya. Bahkan sedang menyuapi dirinya.
Adriana terkekeh dengan ucapannya sendiri, namun di balik itu semua ada rasa sakit yang mendalam ketika dia melihat tubuh kurus Erland. Bahkan dia memang nyaris tidak terawat lagi. Bulu-bulu halus yang mulai memenuhi pipi dan dagunya, rambut yang sedikit gondrong. Benar-benar jauh dari Erland yang Adriana kenal satu tahun lalu.
"Kenapa kamu bisa tahu aku disini?"
Adriana mendongak, lalu dia kembali menyuapi Erland. "Kak Tyas dan Kak Ganesh yang memberi tahuku. Asal kamu tahu ya, aku sudah memikirkan yang tidak-tidak tentang kamu. Saat kamu memutuskan aku dan menghilang bak di telan bumi. Yang aku fikirkan adalah kamu yang menyesal menjalin hubungan dengan gadis seperti aku. Yang masa lalunya jelas tidak baik dan latar belakang keluarga yang juga tidak baik"
"Dasar Bodoh! Sejak kapan aku memandang seseorang dari masa lalu dan latar keluarganya? Aku hanya melihat orang itu yang sekarang, kepribadiannya yang sekarang. Bukan dimasa lalu"
Adriana tersenyum mendengarnya, dia kembali menyuapi Erland untuk suapan terakhir. "Terus kenapa kamu tidak memberi tahu aku tentang keadaan kamu? Apa kamu sedang menyamakan aku dengan Mama aku? Yang pergi meninggalkan Papa, ketika Papa susah? Kalau begitu, sama saja dengan kamu melihat aku karena latar belakang keluargaku"
Erland menghela nafas, jelas dia masih mendengar nada sedih ketika Adriana membahas tentang Ibunya yang pergi karena Ayahnya yang jatuh bangkrut.
__ADS_1
"Sini naik" Erland menepuk ruang kosong di sampingnya. Membuat Adriana menatapnya dengan bingung.
"Cepat naik"
Akhirnya Adriana menurut saja, dia naik ke atas tempat tidur dan duduk di samping Erland. Namun tiba-tiba pria itu meraih kepala Adriana dan menyandarkan di dadanya. Terasa kecupan hangat di puncak kepala Adriana. Kecupan yang mungkin sudah lama Adriana rindukan.
"Aku tidak memberi tahumu tentang keadaan ini. Karena aku malu, aku tidak mau menyusahkan kamu dengan keadaan aku yang seperti ini. Karena Dokter pun tidak dapat memastikan kapan aku akan benar-benar sembuh. Aku tidak mau kau akan kerepotan mengurusku"
Mendengar itu membuat Adriana langsung menjauhkan tubuhnya dari Erland. Dia membenarkan posisi duduknya, dan menatap Erland dengan lekat.
"Aku mencintaimu dengan tulus, apa kamu tidak merasakan itu? Bahkan aku siap mengurus kamu dalam keadaan apapun. Aku siap Kak, kenapa Kakak tidak percaya padaku? Apa karena aku wanita lemah? Apa karena aku hanya seorang gadis jahat dimasa lalu, membuat Kakak tidak lagi percaya padaku? Aku mencintaimu, Kak. Sangat mencintaimu. Aku terima keadaan kamu, apapun itu"
Erland langsung meraih kembali kepala Adriana dan memeluknya. Melihat air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata gadis itu, membuat Erland benar-benar tidak bisa menahan diri untuk tidak memeluknya.
"Hiks.. Kenapa tega sekali padaku? Kenapa malah memutuskan aku disaat keadaan Kakak seperti ini? Apa aku wanita sejahat itu, sampai meninggalkan Kakak karena keadaan Kakak yang seperti ini? Hiks.. Ingat Kak, aku bukan Mama!"
Erland semakin memeluknya erat, mengecup puncak kepala gadisnya. "Enggak Honey, maaf kalau aku salah karena berfikir terlalu sempit seperti itu. Maafkan aku"
Adriana tidak menjawab, untuk beberapa saat dia hanya ingin menumpahkan tangisannya dalam pelukan Erland. Pria yang menjadi pemilik hatinya sampai saat ini. Keduanya hanya saling berpelukan, mengobati kerinduan di hati masing-masing.
Adriana melerai pelukannya ketika dia sudah mulai bisa meredakan tangisannya. Menatap Erland dengan lekat.
"Kak ayo menikah? Nikahi aku Kak"
Deg..
Bersambung
__ADS_1