
Erland bangun dengan wajah yang segar pagi ini. Dia merasa moodnya sedang benar-benar baik. Selesai mandi dan bersiap, dia segera mengambil kunci mobil untuk berangkat kuliah dan menjemput Adriana. Namun saat dia sedang memakai sepatunya, suara bell berbunyi membuat dia segera menuju pintu apartemen. Mengira jika yang datang adalah petugas kebersihan yang selalu datang dua hari sekali.
Namun ketika Erland membuka pintu apartemennya, wajah cerianya langsung berubah menjadi dingin dan datar. "Untuk apa kau datang kesini? Dan tahu darimana kau apartemen ku?"
"Aku kesini ingin memberikan kamu ini..." Yola memberikan sebuah map berwarna coklat pada Erland. "...Bukalah, agar kamu tahu bagaimana latar belakang gadis yang kamu pacari itu"
Mendengar itu membuat Erland segera membuka map berwarna coklat itu. Di dalamnya ada dua lembar kertas yang berisi tentang biodata Adriana dan beberapa foto kegiatan Adriana setiap harinya. Bahkan sebuah foto ketika perusahaan Ayahnya bangkrut.
"Kau tidak pantas bersamanya Land, dia hanya seorang anak dari keluarga yang kacau. Perusahaan Papanya bangkrut dan Ibunya juga pergi bersama pria lain. Adriana benar-benar tidak pantas untukmu"
Hahaha..
Erland malah tertawa mengerikan mendengar ucapan Yola barusan. "Lalu siapa yang pantas bersamaku? Kau? Wanita yang pergi demi sebuah karier tanpa memberi tahuku. Apa itu pantas untukku?"
Yola hanya terdiam, dia menundukkan wajahnya dengan tangan yang meremas dress yang dia pakai. "Tapi Land, aku jelas lebih baik darinya"
"Lebih baik kau bilang? Setidaknya Adriana bisa bersabar dan beradaptasi dengan kehidupannya sekarang. Dia sudah berubah menjadi gadis baik dan mandiri. Bahkan sangat pekerja keras, tidak mau menerima rasa kasihan dari orang lain. Tidak sepertimu, yang berubah menjadi wanita pengadu domba hanya karena ingin hubungan aku dan Adriana berakhir. Kau pikir aku tidak tahu soal ini? Aku sudah tahu semuanya tentang Adriana. Dan aku menerimanya!"
Erland melempar map itu ke tubuh Yola yang menunduk malu. Lalu dia berlalu begitu saja darisana. Meninggalkan Yola yang meneteskan air mata karena penyesalan dalam dirinya dan juga malu atas perkataan Erland barusan. Dia kira Erland akan langsung memutuskan Adriana dan kembali padanya.
Tapi nyatanya tidak, hal itu membuat Yola menyesali perbuatannya 1 tahun lalu. Seandainya dia tidak membuat keputusan tanpa memberi tahu Erland terlebih dahulu. Mungkin dia tidak akan kehilangan kepercayaan dan cinta dari pria itu. Namun, penyesalan hanyalah tinggal penyesalan. Tidak ada yang bisa dia lakukan lagi sekarang, karena Erland sudah benar-benar kecewa padanya.
...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...
Adrina menatap bingung pada kekasihnya yang terlihat kesal. Bahkan sepanjang perjalanan menuju kampus, Erland hanya diam dengan tangan yang mengcengkram kemudinya dengan erat.
"Masuk sana, belajar yang benar" Erland mengelus kepala Adriana dan memberika kecupan di kening gadisnya itu. Meski dia tahu di sekitar mereka sudah banyak mahasiswa yang datang. Namun sepertinya Erland benar-benar tidak peduli.
__ADS_1
"Kamu kenapa si? Dari tadi kayaknya dingin banget sama aku? Apa aku punya salah sama kamu?"
Erland menggeleng pelan, dia tidak mungkin marah pada Adriana meskipun gadis itu melakukan kesalahan. Selama kesalahannya tidak fatal, maka Erland akan selalu memaafkannya. Dan memang seperti itu dirinya sejak dulu.
Namun, kebaikannya ini membuat Yola merasa percaya diri jika dirinya akan tetap dimaafkan meski pergi meninggalkan Erland tanpa memberi tahu pria itu lebih dulu. Nyatanya Erland paling tidak suka di bohongi, apalagi ketika orang yang dia sayangi tidak menganggap izinnya adalah penting.
"Tidak papa, aku hanya sedang banyak pikiran saja. Sebentar lagi menyelesaikan skripsi. Jadi pikiranku sedang terbagi kemana-mana. Antara pekerjaan yang di berikan Papi juga skripsi ku"
Adriana mengangguk mengerti, dia memegang lengan Erland dan menatapnya. "Kamu pasti bisa kok, kan kamu pintar dan juga hebat. Aku yakin kamu bisa menyelesaikan keduanya dengan baik. Semangat"
Erland tersenyum mendengarnya, dia mengelus pipi Adriana dengan lembut. "Terima kasih Honey, yaudah sekarang aku ke kelasku dulu"
"Iya, apa nanti kita akan makan siang bersama?"
"Tentu saja"
Di tempat yang berbeda, Erlita baru saja sampai di kampus. Dia terlambat kesini karena ban mobilnya bocor. Membuat dia harus menunggu beberapa saat sampai ban mobilnya selesai di ganti. Jadi hari ini dia harus terlambat masuk kelas.
Saat dia sedang berlari menyusuri koridor kampus, seseorang menepuk bahunya. Membuat Erlita berhenti sejenak dan menatap ke arah orang itu. "Lah, kamu terlambat juga?"
"Iya, aku kesiangan bangun" kata Pendy
"Ban mobilku bocor, jadi telat deh. Yaudah, aku ke kelas dulu ya" Erlita melambaikan tangannya ketika dia sudah berada di depan kelasnya. Masuk ke dalam kelas dengan menghembuskan nafas lega karena ternyata dosen jam pertama belum masuk ke kelas. Jadi Erlita bisa lebih tenang. Dia duduk di bangkunya dengan nafas yang naik turun karena berlari dari parkiran sampai ke kelas.
"Kamu kemana aja Lit? Jam segini baru datang, untuk Dosennya juga telat datang"
"Iya Fen, duh aku juga udah kayak di kejar-kejar setan kesini. Ban mobil bocor tadi"
__ADS_1
"Ohh pantas saja"
Saat Dosen masuk ke dalam kelas, di belakangnya ada Pendy yang juga ikut masuk. Dosen itu berbicara pada Pendy.
"Yaudah, kamu duduk"
"Baik Pak"
Pendy berjalan mendekati tempat duduk Erlita. Tepat di belakang gadis itu ada bangku kosong, dan Pendy duduk disana.
Teman di samping Erlita menoel-noel bahunya, dia melirik ke arah Pendy yang duduk di belakang. Erlita memutar bola mata jengah, temannya ini memang paling tidak bisa ketika dia melihat pria tampan.
"Apasi Feni?"
"Dia siapa Lit? Ganteng banget"
"Kebiasaan deh, gak bisa lihat pria tampan dikit aja"
Feni hanya terkekeh.
Pelajaran di mulai, semuanya terlihat fokus pada setiap penjelasan Dosen. Tapi tidak untuk Pendy. Dia terus menatap punggung gadis yang duduk di depannya. Tersenyum sendiri saat siasatnya berhasil. Pendy sengaja minta pindah kelas, dia yang biasanya masuk siang. Sekarang menjadi masuk pagi, karena tahu jika Erlita ikut kelas pagi setiap hari. Entahlah, Pendy sedang meyakikan perasaannya jika dia memang benar-benar tertarik pada Erlita.
Perasaan yang baru pertama kali dia rasakan. Meski Pendy pernah menjalin hubungan dengan beberapa wanita. Tapi, dia hanya sekedar senang-senang saja. Karena terkadang dia menerima pernyataan cinta dari wanita itu tanpa punya perasaan apapun dalam hatinya.
Sepertinya aku benar-benar tertarik padanya.
Semua yang dia rasakan pada Erlita, Pendy artikan dalam kata tertarik. Bukan cinta. Karena selama ini dia hanya merasa tertarik saja pada wanita yang pernah dia pacari.
__ADS_1
Bersambung