
Erland terdiam saat istrinya kembali dari luar kamar setelah makan malam. Duduk menyandar di atas tempat tidur tanpa bisa melakukan apapun. Malam ini seharusnya adalah malam pertama mereka, namun dengan keadaan yang seperti ini, jelas Erland tidak bisa melakukan apapun. Mengingat hal itu membuat Erland merasa bersalah pada Adriana.
"Mami mau apa panggil kamu, Sayang?"
Adriana naik ke atas tempat tidur, duduk di samping Erland. "Tidak ada, Mamj hanya bilang kalau kamu harus minum dulu obat sebelum tidur"
Erland menghela nafas pelan, sudah satu tahun lebih dia terus bergantung pada obat-obatan yang sangat membuatnya muak.
Adriana mengelus lengan Erland ketika melihat wajah suaminya yang seolah lelah dengan rutinitasnya setiap hari. "Sayang, berjuang untuk sembuh ya. Kita berjuang sama-sama, aku akan menemani kamu sampai kamu benar-benar sembuh"
Erland tersenyum, disaat seperti ini maka dia selalu merasa jadi pria paling beruntung. Bisa memiliki Adriana dalam hidupnya yang hampir tidak memiliki tujuan apapun lagi. Tapi setelah Adriana kembali padanya, Erland mulai memiliki semangat hidup baru. Dia mulai mempunyai tujuan hidupnya kembali.
Adriana mengambil obat di atas nakas dan segelas air. Memberikannya pada Erland. "Ayo minum dulu obatnya"
Erland menurut, dia meminum obatnya tanpa banyak drama seperti biasanya. Memang Erland sudah mulai lelah untuk meminum obat setiap hari, namun dia tetap tidak akan bisa menolak ketika Adriana yang memintanya.
"Sekarang kita tidur ya, aku cape banget. Kamu tahu gak, aku kira tamu undangannya gak sebanyak itu" Adriana menyandarkan kepalanya di sandaran tempat tidur. Menghembuskan nafas pelan.
Erland terkekeh melihat istrinya itu, dia selalu merasa gemas dengan Adriana. Erland mengelus kepala Adriana. "Karena aku yang meminta, selama ini aku terus bersembunyi dari banyak orang tentang keadaanku yang seperti ini. Tapi sekarang aku sudah siap menunjukan keadaan aku pada semua orang, di hari pernikahan aku dan kamu"
Adriana tersenyum mendengar itu, dia memeluk Erland. Menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada suaminya. "Terima kasih ya, karena sudah mau menikahi aku"
Erland mengelus kepala Adriana dan mengecupnya beberapa kali. "Aku yang seharusnya berterima kasih karena kamu sudah mau menikahi dengan aku dalam keadaan yang seperti ini"
Adriana mendongak, dengan keberaniannya dia mengecup bibir Erland. Ini adalah hal pertama bagi keduanya, karena selama berpacaran pun mereka tidak pernah berciuman. Namun yang Adriana lakukan barusan juga bukan termasuk ciuman, tapi hanya sebuah kecupan.
"Karena kamu mencintaiku tanpa melihat latar belakang keluargaku dan masa laluku. Maka aku juga tidak melihat tentang keadaan kamu saat ini. Karena aku yakin, suatu saat nanti kamu pasti akan sembuh"
Erland menatap Adriana dengan lekat, dengan gerakan cepat dia menahan tengkuk leher Adriana dan mencium bibirnya. Memberikan luma*tan halus. Adriana hanya diam karena dia tidak tahu harus melakukan apa. Ini adalah yang pertama baginya.
"Buka mulutnya, Honey"
__ADS_1
Mendengar itu, Adriana segera membuka mulutnya dan membiarkan Erland memasukan lidahnya ke dalam rongga mulutnya. Mengecap rasa manis dari mulut Adriana.
Cukup lama hanya ada suara kecapan dari dua bibir yang beradu. Sampai Adriana hampir kehabisan nafas, barulah Erland melepaskan tautan bibir mereka. Saling menatap dengan hembusan nafas yang memburu.
"Sayang maaf, aku tidak bisa memberikan hakmu"
Adriana meraih wajah Erland, menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. Menatap mata Erland dengan lekat. "Sayang, aku tidak meminta apapun dari kamu asalkan kamu bersamaku dan mau berusaha sembuh"
Erland menatap mata Adriana yang memancarkan ketulusan. Entah bagaimana lagi caranya dia mengucap rasa syukur karena telah di pertemukan dengan Adriana.
"Sekarang ayo kita tidur"
Adriana membantu Erland untuk berbaring, lalu dia menyelimuti tubuh suaminya. Setelah itu Adrina ikut berbaring di samping Erland, memeluk semuanya dengan menyandarkan kepalanya di dada Erland.
Cup..
Adriana mengecup pipi suaminya dengan lembut. "Selamat tidur Kak"
Erland memeluk tubuh Adriana, mengecup keningnya sebelum terlelap.
Jika hari sebelumnya, Erland selalu di bantu orang perawat untuk mandi dan berganti pakaian. Tapi sekarang dia benar-benar dirawat oleh istrinya.
Adriana mengscup pipi Erland agar pria itu bangun. "Sayang ayo bangun sudah pagi"
Erland mengerjap sebelum membuka matanya. Dia tersenyum ketika melihat wajah cantik Adriana yang menyambutnya pagi ini.
"Ayo mandi dulu"
Erland berusaha bangun meski sedikit kesusahan karena kakinya yang terasa berat. Namun dengan bertumpu pada kedua tangannya dia bisa bangun terduduk di atas tempat tidur.
"Honey, mana Werdi?"
__ADS_1
"Kenapa? Sekarang kamu sudah punya istri, jadi aku yang akan merawatmu"
"Honey, tapi..."
"Sudah, Mas Werdi hanya akan membantu aku mengangkat kamu saja. Selebihnya aku yang kerjakan"
Dan benar saja, perawat bernama Werdi itu hanya membantu ketika Adriana kesusahan untuk mengangkat tubuh Erland. Selebihnya Adriana lakukan sendiri, seperti memandikan Erland dan memakaikannya baju.
Adriana melakukan itu benar-benar tanpa rasa ragu atau apapun. Padahal untuk pertama kalinya dia melihat tubuh seorang pria tanpa busana. Namun, Adriana tidak memikirkan apapun selain ingin merawat suaminya dengan tulus.
Erland sudah terlihat lebih segar setelah mandi dan berganti pakaian.
"Kamu tunggu dulu disini ya, aku mandi dulu"
Erland hanya mengangguk, menurut saja seperti seorang anak pada Ibunya. Menunggu Adriana selesai mandi, Erland menekan tombol di kursi rodanya. Kursi roda itu berjalan sendiri menuju nakas samping tempat tidur.
Erland menekan kembali tombol di pegangan kursi roda untuk menghentikan laju kursi rodanya. Lalu mengambil ipad di laci nakas. Membuka beberapa email dari perusahaan.
Sepertinya sudah saatnya aku kembali ke perusahaan. Sekarang aku mempunyai istri yang harus aku penuhi segala kebutuhan dan keinginannya. Jangan sampai istriku terlantar.
Erland menyimpan kembali ipad itu dan beralih mengambil ponselnya di atas nakas. Menekan nomor ponsel seseorang disana.
"Hallo Ki, minggu depan aku kembali ke perusahaan"
Satu kalimat yang tidak Erland butuhkan jawaban apapun. Dia langsung mematikan sambungan teleponnya setelah mengatakan itu. Membuat orang di sebrang sana mematung mendengarnya.
"Tunggu dulu, Land.. Land.. hallo. Sial, dia langsung mematikan teleponnya"
Riki menggerutu kesal dengan kelakuan sahabatnya ini. Jika bukan karena Erland yang sudah banyak membantu kehidupannya, mungkin Riki tidak segan untuk menggeplak kepala pria itu. Tapi jelas dia juga tidak akan seberani itu, meski keadaan Erland sekarang jelas tidak bisa apa-apa. Tapi tatapan dingin dan tajam pria itu, masih menjadi sumber ketakutan Riki yang pertama sampai saat ini.
Kembali pada Erland yang masih menunggu istrinya selesai mandi. Hingga beberapa saat kemudian, Adriana keluar dari ruang ganti. Duduk di depan meja rias dan mulai menyisir rambutnya yang basah.
__ADS_1
Erland kembali menggerakkan kursi rodanya ke arah Adriana. Mengambil alih sisir di tangan istrinya. "Biar aku saja yang bantu menyisir rambut kamu"
Bersmabung