
Adriana masuk ke dalam kelas, duduk di bangkunya dengan kepala yang di letakan di atas meja. Pipinya menempel dengan meja, menaghembuskan nafas kasar. Adriana sudah kesal dan bingung. Entah bagaimana hubungannya dengan Erland selanjutnya setelah ini.
"Ayo bicara"
Adriana menatap Erland yang berdiri di samping mejanya. Tidak berniat untuk menjawabnya, Adriana hanya diam masih dengan posisi yang sama.
"Kau harus tahu apa yang terjadi, jadi kita perlu bicara"
Adriana mengangkat wajahnya dari atas meja, dia menyandar di sandaran kursi. Menatap Erland dengan lekat. "Tidak perlu, sebentar lagi aku masuk kelas. Sebaiknya kamu keluar, dosen akan segera datang"
Benar saja, saat itu seorang dosen sudah masuk ke kelas Adriana. Erland menghela nafas, mau tidak mau dia harus segera pergi dari sana. "Aku akan menunggumu saat pulang nanti"
Adriana tidak menjawab, dia hanya menatap punggung tegap Erland yang keluar dari kelasnya.
Dan untuk kelas kedua ini, Adriana benar-benar tidak bisa fokus pada penjelasan Dosen. Fikirannya hanya tertuju pada Erland dan wanita yang tadi menemui kekasihnya itu.
Ck. Dia cantik sekali, kalaupun Kak Erland berpaling dariku untuknya. Sangat wajar.
Dengan fokus yang sangat kacau, akhirnya Adriana bisa melewati kelas hari ini. Dia keluar dari kelasnya. Dan baru saja melangkah menjauh dari kelas, tangannya sudah di cekal oleh seseorang. Adriana menoleh dan langsung menghela nafas ketika tahu siapa yang mencekal tangannya.
"Mau apa lagi?"
"Ikut aku"
Erland menarik tangan Adriana, membawanya ke parkiran kampus. Membuka pintu mobil dan menyuruh Adriana masuk. Tidak bisa menolak, Adriana hanya menurut saja. Dia sedang malas berdebat dengan Erland. Fikirannya sedang kacau sekarang.
"Mau bicara apa? Aku buru-buru mau kerja"
__ADS_1
Erland menatap Adriana, jelas kekasihnya sedang marah dan kesal padanya. Pasti karena kedatangan Yola yang tidak di undang itu. "Kamu kenapa si? Aku gak tahu dia akan datang. Lagian, hubungan aku dengannya sudah berakhir sejak lama. Aku hanya milikmu sekarang"
Adriana tersenyum masam mendengarnya. Dia jelas mengingat ucapan Erland saat di rufftop kampus. "Bukannya Kakak bingung dengan perasaan Kakak sendiri. Kakak saja tidak yakin dengan perasaan Kakak sendiri. Jadi, aku tidak bisa untuk terus menjalani dengan orang yang tidak yakin dengan perasaannya sendiri. Aku tidak mau hanya jadi pelampiasan saja"
Erland terdiam mendengarnya, dia mengerutkan keningnya bingung. Dia tidak mengerti apa maksud Adriana. Jelas Erland telah sangat yakin dengan perasaannya pada Adriana. Tapi, kenapa Adriana malah berkata seperti itu. Sampai Erland mengingat percakapannya dengan Riki tadi siang.
Entahlah, aku juga bingung dengan perasaanku. Itulah kenapa aku merasa ragu saat untuk menyatakan cinta pada Adriana. Karena aku masih meyakikan perasaan ini, apa benar aku mencintainya atau hanya sebuah pelampiasan saja setelah dia pergi.
"Kau mendengar ucapanku saat di rufftop?"
Adriana hanya diam, dia memalingkan wajahnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Namun, dia tetap menahan air matanya agar tidak menetes.
Dia tertekan dengan semua ini, tentang Papa yang melarangnya untuk melanjutkan hubungan dengan Erland. Belum lagi tentang masa lalunya yang sampai kapan pun akan tetap menjadi latar belakang cerita dalam hidupnya dan atas pandangan orang-orang. Dan sekarang, wanita di masa lalu pria itu datang. Dan perkataan Erland saat di rufftop kampus benar-benar membuat Adriana sedikit ingin menyerah saja dengan semua perjuangannya selama ini.
"Jika kau memang mendengar ucapan ku di rufftop, berarti kau tidak mendengarnya sampai selesai. Honey..." Erland memegang kedua lengan Adriana, menatap mata gadis itu dengan lekat. "...Aku memang sempat tidak yakin dengan perasaanku. Tapi, setelah aku melihatmu begitu dekat dengan pria lain. Hatiku sangat tidak suka melihatnya. Dan aku sekarang sudah sadar dan benar-benar yakin, jika perasaanku padamu adalah cinta. Aku sudah benar-benar yakin dengan perasaanku saat ini"
Adriana terdiam, dia menatap mata Erland dan memang tidak terlihat kebohongan di balik tatapan pria itu. "Lalu, bagaimana dengan wanita cantik tadi?"
Perasaan dan hati Adriana mulai tenang saat mendengar penjelasan Erland barusan. Meski kejadian ini mungkin bukan masalah yang terakhir pada hubungan mereka. Tapi, setidaknya Erland telah mengatakan apa yang sebenarnya. Saat ini dia hanya ingin bersama Adriana. Wanita yang dia cintai.
Erland menarik Adriana ke dalam pelukannya, mencium puncak kepala gadis itu dengan lembut. "Maafkan aku karena belum bercerita tentang wanita di masa laluku. Dia memang cinta pertamaku, tapi dia juga yang menciptakan luka pertama di hatiku. Jadi, aku berharap saat ini kamu yang akan menyembuhkan luka itu"
Adriana mengangguk, lalu dia mendongak untuk menatap wajah kekasihnya dengan lekat. "Semoga aku bisa menyembuhkannya"
"Tentu kau pasti bisa, karena hatiku telah menjadi milikmu seutuhnya"
Adriana tersenyum mendengarnya. "Tapi, aku ingin mendengar ceritamu dengan mantan kekasihmu itu. Aku ingin tahu apa yang membuat kamu terluka karena dia, agar suatu saat nanti aku tidak akan melakukan hal yang sama"
__ADS_1
Erland tersenyum, dia kembali mencium puncak kepala kekasihnya. "Sekarang kau tidak usah bekerja saja, kita ke apartemen dan aku akan menceritakan semuanya padamu. Apa yang kau tanyakan akan aku jawab sebisa aku"
Adriana melerai pelukannya, dia menghela nafas berat. "Tidak bisa, aku tetap harus kerja. Kalau aku kebanyakan bolos bekerja, takutnya malah di pecat lagi. Aku masih membutuhkan pekerjaan ini. Nanti saja kalau aku libur"
"Memangnya kapan kau libur?"
"Emm. Sudah tiga minggu ini aku tidak ambil libur. Jadi, sepertinya minggu ini aku bisa ambil libur satu hari"
Erland menatap kekasihnya dengan prihatin. Gadis manja itu telah berubah menjadi sosok mandiri dan pekerja keras. Bahkan dia seolah tidak lagi mengenal rasa lelah.
Erland mengelus kepala Adriana dengan penuh kasih sayang. "Apa kau tidak lelah, kenapa tidak ambil libur setiap minggu saja?"
Adriana tersenyum, sebenarnya senyuman yang menyembunyikan banyak luka dan kesedihan. Namun, Adriana yang manja kini telah berubah menjadi Adriana yang bekerja kelas. Dia tidak punya waktu, bahkan hanya untuk mengeluh atas rasa lelahnya.
"Aku harus bekerja keras agar tidak terus merepotkan Kak Tyas dan Papa. Aku tidak mau menjadi beban hidup mereka"
Ada nada getir dari ucapan Adriana barusan. Erland tahu jika gadis ini hanya seorang anak yang menjadi korban keegoisan Ibunya. Jadi dia tidak bersalah. Apalagi dengan Adriana yang sekarang, dia sudah benar-benar berubah menjadi sosok gadis yang mandiri. Bukan lagi gadis manja seperti dulu.
"Kau bukan beban untuk siapa pun. Dan mulai sekarang, jika kau butuh bantuan bicaralah padaku. Jangan hanya memendamnya sendiri"
Adriana tersenyum dan mengangguk, meski sebenarnya dia akan berusaha untuk tidak menyusahkan Erland atau membagi kesulitannya pada pria itu. Dicintai seperti ini oleh Erland saja sudah sangat beruntung bagi Adriana. Jadi, dia tidak akan memberikan Erland beban berat karena kehidupannya yang rumit.
"Yaudah, kalau begitu biar aku antar ke tempat kerjamu ya"
Adriana mengangguk "Terima kasih ya"
"Ini sudah tugasku sebagai kekasihmu"
__ADS_1
Mobil melaju meninggalkan pekarangan kampus. Menuju tempat kerja Adriana.
Bersambung