
"Sebenarnya kau darimana?"
Adriana yang baru keluar dari ruang ganti, berjalan menghampiri suaminya yang berada di atas tempat tidur. Dia naik ke atas tempat tidur, dan mulai memijat kaki suaminya.
"Aku tidak pergi kemana-mana, hanya ada urusan dengan temanku"
"Tapi kenapa kau meminta Pak Supir menurunkan kamu di perempatan jalan"
"Emm. u..." Duh kenapa Pak Supir pake bilang soal itu segala. Aku 'kan jadi bingung harus menjawab apa. "...Aku di jemput temanku disana, jadi aku turun disana"
Erland tidak menjawab, dia melihat apa yang di lakukan oleh istrinya pada kakinya. Dia memijat kakinya dengan lembut, lalu dia memutar-mutar pergelangan kakinya.
"Sebentar"
Adriana turun dari atas tempat tidur dan berlalu ke ruang ganti. Erland hanya diam menatap pintu ruang ganti yang terbuka, hingga beberapa saat kemudian Adriana kembali dengan membawa wadah berisi air hangat, cenderung lebih panas.
Menyimpan wadah itu di atas lentai deksy tempat tidur, lalu dengan perlahan dia menurunkan kaki Erland dan merendamnya dalam air di dalam wadah. Memijat perlahan kaki Erland.
"Honey, sebenarnya apa yang kamu lakukan?"
"Tidak ada, aku hanya mencoba untuk membuat kamu tidur lebih nyaman saja"
Erland tersenyum, dia cukup menikmagi apa yang di lakukan istrinya. Sampai Adriana selesai dengan kegiatannya itu. Menyimpan kembali wadah ke ruang ganti, lalu dia kembali ke kamar dan naik ke atas tempat tidur. Memeluk suaminya dengan nyaman.
"Besok aku izin pergi lagi, urusan aku belum selesai"
Erland tidak menjawab, tapi dia juga tidak menolaknya. Dia hanya tidak ingin mengekang istrinya. Takut jika Adriana akan merasa bosan dan akhirnya akan pergi meninggalkannya.
Dan setelah hari itu, Adriana terus melalukan pijat pada kaki Erland dengan caranya sendiri. Hingga hari ini, sudah lima hari Adriana selalu pergi dengan alasan ada urusan dengan temannya. Sebenarnya Erland tidak terlalu percaya dengan alasannya itu. Tapi tetap tidak bisa melarangnya juga. Erland tidak bisa untuk terlalu mengekang Adriana.
Malam harinya, Adriana kembali melakukan pijat di kaki Erland dan merendamnya kembali dengan air hangat. Hingga entah kenapa, Erland merasakan suhu air yang terlalu panas untuk kakinya.
"Honey, airnya terlalu panas"
Adriana mendongak, dia tersenyum senang. Ini adalah perkembangan yang baik. "Beneran terasa Sayang?"
"Iya, ini terlalu panas"
__ADS_1
Meski kakinya belum bisa bergerak, tapi setidaknya Erland telah menunjukan kemajuan. Saraf kakinya sudah mulai merasakan kembali.
"Sayang, ini kemajuan yang baik. Kaki kamu sudah mulai bisa kembali merasa"
Erland terdiam, dia juga baru sadar ketika kakinya yang biasanya tidak terasa apapun. Bahkan saat istrinya memijatnya kencang pun tidak terasa apa-apa oleh Erland. Kakinya sudah mati rasa sejak lama, namun kali ini entah kenapa dia kembali bisa merasakan rasa di kakinya.
Adriana semakin semangat untuk memijat kaki Erland setiap malamnya. Semoga saja dengan ini, Kak Erland bisa cepat berjalan lagi. Gumamnya.
...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...
Sore ini Erland menunggu Adriana pulang, tapi kali ini dia tidak menghubunginya untuk meminta supir segera menjemput. Erland jadi bingung sendiri, hingga dia memanggil supir keluarganya ke kamarnya.
"Ada apa Tuan?"
"Kamu tahu kemana istri saya pergi setiap harinya?"
"Tidak Tuan, Nona Adriana tetap meminta saya untuk berhenti di perempatan jalan. Saya juga tidak bisa menolaknya, setelah itu saya selalu melihat Nona menemui seorang pria memakai motor. Dia pergi bersamanya"
Mendengar itu, kedua tangan Erland benar-benar mengepal erat. Dia tidak tahu apa alasan Adriana berbohong padanya. Tapi, dia tetap saja kesal ketika mendengar doa bersama pria lain.
"Baik Tuan"
Selama hampir seminggu ini, Adriana benar-benar pergi setiap siang dan pulang sore hari. Dia menggunakan berbagai alasan agar bisa pergi. Sore ini dia pulang agak telat, masuk ke dalam kamarnya, dia sedikit mengusap tengkuk lehernya ketika melihat tatapan tajam suaminya.
Duh, kayaknya dia sudah benar-benar kesal karena aku pergi terus setiap hari.
Adriana tersenyum kaku pada suaminya, berjalan perlahan menuju ruang ganti. Seolah tidak melihat Erland dan tidak mau menyapanya lebih dulu.
"Begitu ya kalau sudah pergi dengan pria lain, bahkan pulang pun tidak menyapa suaminya"
Deg..
Adriana mematung di tempatnya, mendengar dari ucapan suaminya. Berarti memang Erland sudah mengetahui jika dia selama ini pergi bersama Pendy. Adriana berbalik, menatap Erland dengan takut-takut. Melihat tatapan suaminya yang begitu tajam menusuk.
"Sayang, aku...."
"Apa? Pergi dengan pria lain dengan sembunyi-sembunyi. Berbohong pada suamimu sendiri"
__ADS_1
Aduh, gawat ini. Singa jantan sedang benar-benar marah. Gumamnya. Adriana berjalan perlahan mendekati suaminya, menunduk dengan tangan saling bertaut.
"Sayang, aku hanya sedang belajar pijat refleksi untuk saraf kelumpuhan kaki kamu. Tapi orangnya, hanya datang minggu ini saja. Dia sengaja datang kesini untuk memberikan ilmunya pada setiap orang yang ingin belajar. Aku juga tahu ini dari Kak Pendy, jadi ya aku berangkatnya bareng dia"
Erland menghela nafas pelan, dia menarik tangan Adriana hingga gadis itu jatuh di atas pangkuannya. Membuat Adriana begitu terkejut.
"Kenapa tidak bilang dari awal, aku jadi tidak salah faham. Dan kenapa harus dengan Pendy, kan bisa diantar oleh supir"
"Ya kan aku takut kamu marah kalau tahu aku perginya sama Pendy"
Erland memeluk tubuh Adriana dari belakang, mengecup bahunya dengan lembut. "Tentu saja aku akan marah, kau tahu aku paling tidak suka di bohongi dan aku juga tidak suka kau bersama pria lain, apalagi dengan Pendy"
"Sayang kenapa si kamu gak suka banget sama Kak Pendy, padahal dia baik loh"
"Iya baik sama kamu karena ada maunya, dia pasti ingin mendekatimu lagi"
Adriana menoleh, dia mengecup pipi suaminya dengan lembut. "Apa kamu tidak tahu, kalau Kak Pendy menyukai Kak Erlita sejak dulu"
Erland terdiam, dia tahu soal ini tapi dia melihat sendiri bagaimana Erlita bersikap dingin pada Pendy. Erland pikir jika semuanya telah berakhir, apalagi ketika Erlita yang memutuskan untuk menikah, meski Erland merasa ada yang tidak beres dengan pernikahan Erlita dan Linux. Tapi dia tidak menemukan jawabannya, karena Erlita yang juga tidak menceritakan apa-apa.
"Tapi tetap saja aku tidak suka melihatmu dengan pria itu"
"Iya sayang, kan hari ini terakhir kali aku pergi. Jadi kamu gak usah marah-marah terus dong"
"Cium dulu"
Adriana tersenyum, bukan hal yang aneh jika Erland memintanya seperti itu. Sejak menikah memang dia sering sekali memintanya untuk mencium dirinya untuk beberapa hal.
Cup..cup..cup..
Adriana mencium kedua pipi dan mengecup bibir suaminya. Setelah itu dia turun dari atas pangkuan Erlanda dan segera berlalu ke ruang ganti. "Aku mandi dulu Sayang"
"Jangan lama-lama"
Adriana tersenyum, suaminya ini memang sudah seperti anak kecil yang ketakutan Ibunya pergi. "Iya Sayang, gak lama kok"
Bersambung
__ADS_1