
Cinta hanyalah kata-kata sampai seseorang yang istimewa datang membawa maknanya.Cinta sejati adalah ketika kita merasa bahwa kebahagiaan orang tersebut lebih penting daripada kebahagiaanmu sendiri.
Begitulah yang Adriana rasakan saat ini. Bagaimana rintangan yang begitu menyiksa, namun pada akhirnya cinta sejati akan tetap kembali pada tempatnya. Jarak tidak akan menjadi halangan, jika kedua hati saling setia.
Adriana menatap tidak percaya pada pantulan dirinya sendiri di cermin. Ketika dia melihat bagaimana gaun pengantin melekat pas di tubuhnya. Riasan natural membuat kesan cantik untuknya.
Ketika Tyas dan Erlita masuk dan menjemputnya menuju tempat acara. Pernikahan yang cukup mewah di gelar di sebuah gedung terkenal. Berjalan menuju tempat ijab qabul di laksanakan. Erland sudah duduk disana, tetap di atas kursi roda. Namun, semua itu tidak menghilangkan ketampanan pria itu. Dengan jas yang melekat di tubuhnya.
Rambut yang udah tertata rapi, dan bulu halus di sekitar wajahnya juga telah di cukur. Hingga sekarang Erland benar-benar terlihat sangat tampan.
Duduk di samping pria yang dia cintai. Pria yang sebentar lagi akan mengucapkan ikatan suci pernikahan. Hingga ucapan 'sah' menggema di ruangan. Terdengar dari beberapa orang yang ikut menyaksikan.
Adriana menghela nafas lega, akhirnya dia telah sah menjadi istri dari pria yang sangat dia cintai. Akhirnya dia bisa melewati semua rintangan, sampai ke posisi ini. Dimana cinta dirinya dan Erland benar-benar menyatukan dalam ikatan pernikahan.
Adriana mencium punggung tangan Erland dengan lembut, dibalas dengan kecupan di keningnya.
...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...
Acara berlanjut pada resepsi pernikahan, para tamu undangan mulai berdatangan. Adriana terus menebar senyum bahagia ketika para tamu undangan memberikan selamat padanya. Namun Erland hanya banyak diam, dia merasa dirinya tidak pantas berada disamping Adriana yang hari ini terlihat sangat cantik.
Adriana duduk dan meraih tangan Erland, menggenggamnya. Erland menoleh padanya, Adriana tersenyum pada suaminya. "Kenapa si? Kok kayak gak bahagia gitu"
"Aku malu dan merasa gak pantas bersa...."
"Apa? Yang gak pantas sama kamu dari awal itu aku. Kalau masalah keadaan kamu, menurut aku gak masalah. Karena cinta tidak akan pernah memandang keadaan. Karena cinta harus berasal dari hati. Jika tidak berasal dari hati, jangan berucap bahwa kamu mencintai seseorang"
Erland tersenyum, dia bersyukur sekali karena dirinya bisa mendapatkan istri seperti Adriana. Yang mampu menerima segala keadaannya. Mencintainya dengan tulus.
Erland mengecup punggung tangan Adriana. "Terima kasih Honey, karena kamu sudah begitu tulus mencintaiku dan menerima segala keadaan aku"
"Cinta.. Alasannya hanya satu Kak, karena aku mencintaimu tulus dari hati"
__ADS_1
Kebahagiaan mereka juga di rasakan oleh orang-orang yang hadir. Banyak yang memuji ketulusan Adriana pada Erland. Ketika dia mau menerima pria lumpuh seperti Erland. Namun, tidak sedikit juga yang berfikir jika Adriana mau menikahi Erland karena kekayaan keluarganya. Namun Adriana tidak mau memikirkan tentang semua itu. Dia hanya ingin fokus pada pernikahannya dan kesembuhan suaminya.
"Kenapa Sayang?"
Erland meraih tangan Adriana dan menggenggamnya. Dia melihat Adriana yang sejak tadi menatap ke arah pintu masuk, seolah menunggu seseorang.
Adriana menghembuskan nafas pelan, dia menoleh dan tersenyum pada suaminya. "Tidak ada, aku hanya menunggu hal yang sudah jelas jawabannya"
Erland mengerutkan keningnya, merasa bingung dengan ucapan istrinya barusan. "Memangnya kamu menunggu siapa?"
Adriana menunduk, dia memegang tangan Erland dengan erat. Menarik nafa dalam untuk mencoba menahan agar tangisnya tidak pecah. "Aku.. Aku menunggu Mama datang, tapi pasti dia tidak akan datang"
Erland menghela nafas pelan, dia meraih kepala Adrana dan memeluknya. Menyandarkan kepalanya di dada Erland. Menciumnya beberapa kali.
"Jangan dipikirkan lagi, yang penting sekarang kamu punya aku dan Mami"
Adriana mengangguk, memang sudah seharusnya dia tidak lagi memikirkan tentang Ibunya. Dia hanya perlu memikirkan hidupnya dan kebahagiaannya. Biarkan saja apapun yang akan Ibunya lakukan, Adriana sudah tidak perlu memikirkannya lagi. Karena dengan terus memikirkan itu, maka hatinya akan semakin terluka.
Pendy menghela nafas pelan, jika bukan Adriana sendiri yang memberikan undangan pernikahan padanya. Mungkin dia tidak akan datang. Namun, dia hanya menghargai Adtiana sebagai adiknya.
Sial. Kenapa harus bertemu dengannya.
Pendy terdiam ketika sepasang suami istri berada tepat di depannya. Dia menatap wanita yang menunduk, seolah dia tidak berani menatapnya. Jelas, karena kini dia telah menjadi istri orang lain.
"Hai Arga, datang juga ternyata. Apa kabar?" Linux memeluk Pendy seolah mereka benar-benar akrab.
Pendy tidak menjawab apapun apalagi membalas pelukan Linux. Dia menatap Erlita yang berada dibelakang Linux. Gadisnya terlihat lebih kurus, bahkan terlihat dari wajahnya jika dia tidak bahagia dengan pernikahannya.
Linux melepaskan pelukannya, dia tersenyum pada Pendy dengan senyuman mengejek. Lalu dia menatap pada istrinya, mengulurkan tangannya pada Erlita. "Sayang sini, kenapa diam saja disitu. Bukannya kamu berteman dengan Arga"
Erlita menatap Pendy, lalu beralih pada tangan Linux yang terulur padanya. Dengan menghela nafas berat, Erlita meraih tangan Linux. Sebenarnya Erlita tahu jika Linux hanya sedang ingin pamer pada Pendy, jika dirinya telah mendapatkan apa yang tidak Pendy miliki.
__ADS_1
"Hai Pen, apa kabar?"
Pendy tersenyum miris, wanita yang dia cintai kini berada di depannya. Namun, tidak bisa memiliki. Karena wanita itu sudah menjadi milik orang lain, yang sialnya pemiliknya adalah pria yang menjadi musuhnya.
"Kau jelas tahu keadaanku, aku baik-baik saja. Tapi tidak dengan hatiku"
Pendy berlalu setelah mengatakan itu. Membuat Erlita terdiam dan menatapnya nanar. Sungguh dadanya terasa sesak ketika melihat bagaiamana tatapan penuh luka dari Pendy padanya.
Maafkan aku Pendy.
Pendy naik ke atas pelaminan, menyalami kedua pengantin. "Selamat ya, akhirnya kalian nikah juga. Sebenarnya kalau Adriana tidak terlalu mencintaimu, mungkin dia sudah aku nikahi"
"Kak, ihhh" Adriana menggeleng pelan melihat Pendy yang masih saja jahil. Suka sekali menggoda Erland dengan segala kejahilannya itu.
"Dia tidak akan mau denganmu, karena aku adalah takdirnya"
Pendy hanya tertawa mendengar itu, dia beralih menyalami Adriana. "Selamat ya, semoga tidak ada lagi rintangan dalam perjalanan cinta kalian"
"Iya Kak, makasih ya sudah menjadi Kakak yang baik buat aku"
"Sini dong peluk Kakaknya"
"Hei, kau jangan macam-macam!"
Pendy tertawa dan berlari turun dari atas pelaminan. Dia memang sengaja mengatakan itu hanya untuk menggoda Erland saja.
Adriana kembali duduk, dengan kepala menggeleng heran atas kelakuan Pendy. Meski begitu, Adriana tentu tahu bagaimana perasaan Pendy sebenarnya. Dia yang sebenarnya terluka karena cintanya yang tidak terbalas.
"Sayang, sudah dong cemberutnya. Lagian Kak Pendy itu hanya bercanda, tahu sendiri kalau dia itu suka bercanda"
Erland hanya mendengus kesal, dia juga tahu tentang itu. Tapi tetap saja dia merasa kesal jika ada yang berani meggoda istrinya.
__ADS_1
Bersambung