
Erlita menatap sebuah bangunan yang terlihat seperti gudang kosong. Dia sedikit ragu saat harus masuk ke tempat itu. Namun, rasa penasarannya tentang kehidupan calon suaminya telah mengalahkan rasa takutnya. Dan kejutan di mulai ketika pintu di buka.
Ruangan dengan pencahayaan yang terang menderang. Belum lagi dengan sofa dan beberapa meja seperti mini bar terlihat disana. Bukan seperti markas geng motor pada umumnya yang Erlita bayangkan. Tempat ini memang terlihat menakutkan di luar sana. Tapi saat masuk ke dalamnya, maka dia langsung di sambut dengan barang-barang mewah. Semuanya bahkan terlihat seperti hotel berbintang dengan segala fasilitas.
Beberapa orang yang duduk di sofa langsung menoleh pada Pendy yang baru saja datang. Semua menatap bingung pada ketua geng yang tiba-tiba datang dengan membawa seorang wanita cantik berhijab.
"Bos, siapa yang lo bawa?"
Pendy menatap dingin pada semuanya, kesangarannya sebagai ketua geng dia tunjukan saat berada di markas. "Jangan macam-macam lo! Dia calon istri gue!"
Hah?!
Tentu semuanya terkejut dengan ucapan Alvaro barusan. Calon istri? Ketua geng mereka ternyata telah memiliki seorang wanita yang dicintainya. Padahal yang mereka tahu, jika Pendy tidak pernah membahas seorang wanita yang dia cintai. Memang pada dasarnya Pendy tidak pernah menceritakan tentang kehidupan pribadinya pada siapa pun. Hanya orang-orang tertentu yang bisa mendengar dan mengetahui tentang kisah hidup Pendy sebenarnya.
Pendy memegang tangan Erlita dan menbawanya ke arah teman-temannya yang sudah berkumpul di sana. Pendy duduk di sofa tunggal disana dengan Erlita yang berdiri di sampingnya dengan sedikit takut.
Melihat tatapan teman-teman Pendy yang begitu tajam dan dingin. Dan entah kenapa, Erlita merasa suasana disini sangat mencekam. Dia melirik Pendy, yang memiliki ekspresi yang sama dengan yang lainnya.
Ini kenapa aku jadi takut ya, kenapa semuanya dingin dan menyeramkan seperti ini.
"Bunda, sini duduk" Pendy meraih tangan Erlita dan menyuruhnya untuk duduk.
Hah?!
Semuanya benar-benar dibuat terkejut dengan panggilan Pendy pada Erlita barusan. Apalagi saat melihat tatapan lembut pria itu pada Erlita. Rasanya mereka ingin pingsan saat ini. Kemana tatapan sangar yang selalu pria itu tampilkan?
Erlita duduk di pegangan sofa yang di duduki oleh Pendy. Menatap semua orang yang disana yang menatap ke arah dirinya dengan tatapan aneh.
Pendy berbalik ke arah semua temannya. Wajahnya kembali pada mode serius dan dingin. "Jadi bagaimana? Apa kalian sudah menyelesaikan semuanya?"
"Sudah, kami telah menjadi penyusup ke perusahaan itu dan menemukan bukti jika memang ketua pimpinan keuangan disana menggelapkan dana proyek yang sedang berajalan dengan perusahaan bokap lo"
Pendy tersenyum menyeringai, dia bisa dengan mudah menyelesaikan permasalahan yang sedang melanda perusahaan Ayahnya. Karena sebuah proyek dengan salah satu perusahaan. Namun ternyata perusahaan yang di ajak bekerja sama, tidak memegang kepercayaan dengan baik.
__ADS_1
"Bagus! Apa kalian sudah mendapatkan buktinya?"
Salah seorang yang duduk di mini bar yang ada disana, langsung berjalan ke arah Pendy dengan sebuah flesdisk di tangannya dan dia serahkan pada Pendy.
"Semua buktinya ada disini. Lo bisa langsung cek dan laporkan ke polisi"
Pendy menerima flesdisk itu, dia tersenyum tipis pada pria itu. "Bagus! Aku suka kerja kalian. Dan apa ada yang minta bantuan kita untuk minggu ini?"
"Ada, seorang pemilik kios buah yang katanya pernah di amuk oleh peremab jalanan karena dia tidak memberikan apa yang diinginkan pereman jalanan itu"
"Kita temua akhir pekan ini. Kira-kira pereman mana yang beraninya pada pedagang kecil seperti itu. Apa mereka tidak tahu jika kita adalah penjaga semua pedagang pinggir jalan disini"
"Sepertinya pereman baru, bisa saja mereka memang tidak mengetahui soal itu"
"Baiklah, kita akan datangi mereka. Ingat! Jangan langsung pakai kekerasan, jika memang sudah tidak bisa dengan cara baik-baik. Baru kita bisa bertindak"
"Siap Ga"
Setelah rapat selesai, Pendy langsung membawa Erlita pulang. Gadis itu terlihat masih terkejut dengan apa yang terjadi di markas tadi. Sampai di dalam mobil pun, dia hanya diam.
Erlita menoleh dan menatap ke arah Pendy. "Aku takut denganmu, kenapa kamu terlihat menyeramkan sekali"
Seketika Pendy langsung tertawa mendengar itu. Dia tidak merasa jika dia menunjukan wajah yang membuat Erlita ketakutan. Pendy hanya menunjukan ekspresi wajah yang biasa saja.
"Kamu takut denganku? Ya ampun, aku tidak makan orang kok. Kamu tenang saja, aku masih penyuka daging sapi dan daging ayam. Tidak suka daging manusi"
Plak..
Erlita memukul lengan Pendy yang sedang memegang kemudi. "Malah bercanda, aku serius ihh. Kenapa kamu semenakutkan itu saat berada disana, bersama teman-temanmu"
Pendy mengelus kepala Erlita dengan lembut. "Memang aku biasa seperti itu di depan mereka. Supaya mereka takut saja denganku dan menuruti semua ucapanku. Lagian sekarang kamu jadi tahu 'kan, kalau geng motor aku itu tidak melakukan tindakan kriminal apapun. Kita hanya membantu orang-orang yang kesulitan. Dan akan selalu membela yang benar"
Erlita tersenyum mendengar itu, dia mulai faham dunia calon suaminya itu. Memang geng motor yang Pendy pimpin, bukan seperti geng motor yang Erlita bayangkan. Tentang geng motor yang suka melakukan keonaran.
__ADS_1
"Jadi, apa kamu masih melarang aku melakukan kebaikan?"
Erlita menggeleng pelan, dia menyandarkan kepalanya di bahu Pendy yang sedang mengemudi. "Tapi tetap saja kamu harus lebih hati-hati. Karena mungkin saja di luar sana ada orang lain yang tidak suka dengan kalian dan akan membahayakan kalian. Aku tidak mau sampai kamu kenapa-napa"
"Tidak akan Bunda, kamu tenang saja"
Erlita tersenyum geli mendengar panggilan Erland itu. Sepertinya setelah menikah aku harus segera mempunyai anak agar panggilan itu tidak lagi terasa aneh untukku.
"Kita makan malam dulu ya, kasihan kamu belum makan"
Erlita tersenyum, dia mengangguk menyetujui ucapan Pendy barusan. "Makan apa kita?"
"Terserah, kamu mau makan apa?"
Erlita sedikit berpikir sebentar, melihat ke arah luar jendela mobil. Melihat-lihat penjual makanan di pinggir jalan yang dia lewati.
"Makan nasi goreng saja, mau gak?"
Pendy mengangguk, dia menghentikan mobilnya di depan penjual nasi goreng. Erlita segera turun dan masuk ke dalam kedai di susul oleh Pendy.
"Pake pedas gak nasi gorengnya?" Tanya Erlita pada Pendy yang sudah duduk di tempat makaj yang ada di dalam kedai.
"Pedas"
Erlita mengangguk, dia memesan dua porsi nasi goreng pada si penjual. Lalu dia menghampiri Pendy dan ikut duduk di sampingnya.
Pendy menatap Erlita yang sedang memainlan ponsel dengan senyuman yang tak pernah luntur di wajahnya. Pendy merasa begitu kagum pada Erlita yang mau saja di ajak makan di kedai nasi goreng sederhana seperti ini. Bahkan dia tidak terlihat tidak nyaman atau apapun itu.
Saat Erlita selesai membalas pesan dari Ibunya, dia menoleh pada Pendy yang sedang menatapnya dengan lekat. "Kenapa menatapku seperti itu? Apa ada yang salah dengan wajahku?"
Pendy menggeleng, dia tersenyum dan mengelus kepala Erlita. "Tidak, kamu sangat cantik. Aku sangat mencintaimu"
Erlita tersenyum mendengarnya. "Aku juga"
__ADS_1
Bersambung