Mengejar Cinta Si Kembar

Mengejar Cinta Si Kembar
Tidak Bisa Melawan Restu Papa?!


__ADS_3

Adriana menundukan wajahnya sambil mendorong troli makanan saat dia lewat di antara keluarga Erland yang sedang mengobrol dengan beberapa tamu yang lain. Dia sedikit membenarkan masker penutup wajahnya, takut jika dirinya akan benar-benar di kenali oleh Erland.


"Silahkan kuenya Tuan, Nyonya" Adriana menyimpan beberapa kue di atas meja yang di tempati keluarga Erland. Dia terus menundukan wajahnya, jantungnya sudah sangat berdebar saat dia menyadari Erland sedang menatap lekat ke arahnya.


Tidak mau sampai penyamarannya ini terbongkar, Adriana segera pergi dari sana. Melangkah cepat agar bisa segera menjauh dari keluarga Erland.


"Tunggu!"


Teriakan itu membuat langkah kakinya terhenti seketika. Adriana menundukan wajahnya dengan tangan yang terus membenarkan masker penutup wajah yang di pakainya.


Derap langkah terdengar semakin dekat ke arahnya. Adriana tidak mau menoleh dan entah kenapa kakinya seolah sangat berat untuk dia melanjutkan langkahnya.


Ya Tuhan, jangan sampai ketahuan.


Adriana memegang troli dorong itu dan siap pergi dari sana, namun sebuah tangan kekar sudah mencekal lengannya yang memang troli dorong itu. Adriana memejamkan matanya saat dia mengenali jam tangan yang melingkar di tangan kekar itu. Keringat sudah membasahi keningnya.


Bagaimana ini?


"Siapa kau? Buka maskermu!"


Adriana memejamkan matanya ketika Erland memiringkan wajahnya untuk melihat wajahnya. Dengan sisa kesadaran yang ada, Adriana melepaskan tangan Erland dan segera pergi dari sana. Erland terdiam melihat punggung pelayan  yang menjauh darinya. Dia tetap merasa mengenal pelayan itu.


"Land, ada apa? Siapa pelayan tadi?"


Erland menoleh pada saudara Mami yang menepuk bahunya. "Tidak Mi, bukan siapa-siapa. Erland hanya merasa mengenalnya"


...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...


Adriana berdiri di balik dinding dengan tangan memegang dadanya yang berdebar kencang. Dia berada di tempat yang sepi saat ini. Sengaja agar tidak ada yang menemukannya. Kejadian barusan hampir saja membuatnya jantungan seketika. Beruntung kesadaran Adriana segera kembali, membuat dirinya bisa menghindari Erland.


Adriana membuka maskernya, mengambil udara sebanyak-banyaknya setelah dia merasa kehabisan nafas saat kejadian barusan. "Untung saja, dia tidak mengenaliku"

__ADS_1


"Aku sudah tahu jika itu kamu"


Deg..Deg..


Adriana menoleh dan melihat pria tampan yang berdiri tegap tidak jauh darinya. Kali ini Adriana benar-benar sudah tidak bisa menghindar lagi. Erland jelas melihat wajahnya sekarang, Adriana mau menghindar bagaimana lagi sekarang. Erland berjalan mendekat padanya, mengukung tubuhnya di dinding. Menatap Adriana dengan lekat.


"Jadi kau sedang menyamar, untuk apa? Bukannya kau sendiri yang memutuskan semuanya. Kau sendiri yang ingin mengakhiri hubungan kita. Menyakitiku dan membuat hatiku terluka. Lalu, sekarang untuk apa kau melakukan ini?"


Adriana tidak menjawab, dia hanya menundukan wajahnya. Melihat tatapan dingin dari pria yang dicintainya.


Erland mencengkram dagu Adriana, mengangkat wajah gadis itu agar menatapnya. Sebenarnya dia lemah ketika melihat tatapan Adriana. Namun, Erland mencoba untuk tetap terlihat biasa saja. Dia tidak mau membuat Adriana tertawa senang karena melihat dirinya yang terpuruk setelah di putuskan olehnya.


"JAWAB! Untuk apa kau melakukan ini?"


Tes..


Melihat air mata Adriana yang menetes di ujung matanya, benar-benar membuat pertahanannya runtuh. Erland tidak bisa melihat air mata Adriana. Hatinya terluka dengan itu.


"Kenapa? Kau ingin membuat aku luluh dengan air matamu?" Meski sebenarnya aku memang sudah tidak tahan ketika melihat air matanya.


"Jadi hanya sampai ini saja cintamu padaku" Erland menghempas kasar cengkaramannya di dagu Adriana.


"Maaf" Adriana menunduk dengan suara yang hampir tidak terdengar.


Erland mengusap wajah kasar, dia tidak bisa terus seperti ini. "Maaf untuk apa? Hah? Kau hanya membuatku terluka, Adriana. Apa kau tidak faham"


"Maafkan aku Kak, karena aku tidak bisa melawan restu Papa"


Deg..


Seketika wajah Erland langsung menoleh pada Adriana. Melawan restu Papa? Apa mungkin ini alasan Adriana memutuskan Erland.

__ADS_1


Mungkin saja memang Ayahnya tidak merestui hubungan kalian.


Erland mengingat ucapan Riki saat di ruang olah raga. Bodohnya saat itu dia tidak mempercayai ucapan Riki dan Beno. Karena melihat sikap Papa yang baik-baik saja padanya. Sama sekali tidak menunjukan bahwa dia tidak merestui Erland bersama dengan putrinya.


Adriana menunduk, dia menghapus air mata yang terus mengalir. Isakan pelan terdengar begitu memilukan. "Aku tidak bisa melawan Papa yang melarang aku untuk berhubungan denganmu. Alasannya karena kita yang berbeda, status kita yang sudah tidak setara. Tentang latar belakang keluargaku dan masa lalu yang terjadi dalam hidupku. Papa tidak mau aku menjadi bahan gunjingan banyak orang karena tidak pantas bersama dengamu"


Adriana berbalik dan berniat pergi meninggalkan Erland, setelah dia menjelaskan semuanya. Setidaknya Erland tidak akan terus berprangsangka buruk padanya. Namun langkahnya seketika terhenti saat sebuah tangan yang melingkar di perutnya.


Erland mengecup puncak kepala Adriana. Dia tidak tahu jika gadisnya ini begitu tertekan dengan keadaan yang ada. Erland terlalu bodoh sampai dia tidak menyadarinya. "Maaf karena aku tidak peka dengan keadaanmu. Maafkan aku"


"Maaf Kak, aku harus pergi"


Erland menggeleng cepat, setelah dia mengetahui semuanya. Dia tidak akan pernah membiarkan Adriana pergi dari sisinya. Dia semakin mengeratkan pelukannya. "Tidak. Kamu tidak boleh pergi dariku, kamu tidak boleh menjauh lagi dariku"


Adriana memegang tangan kekar Erland di perutnya. Sungguh dia juga sangat merindukan pelukan pria ini. Beberapa hari saja tanpa bertukar kabar dan saling menyapa, membuat Adrina benar-benar tersiksa dengan rindu yang besar dalam hatinya.


"Kita tidak bisa lagi bersatu Kak, aku tidak mungkin melawan restu Papa. Karena hanya Papa orang tua yang aku miliki saat ini"


"Aku tidak peduli tentang itu, aku akan berusaha meyakinkan Papamu jika aku bisa bersamamu tanpa harus membandingkan status sosial dan apalah itu"


Adriana menghela nafas, sesuai dengan dugaannya jika Erland mengetahui semuanya, dia pasti akan melakukan hal ini. Tidak akan menyerah begitu saja.


"Tidak bisa Kak...."


Erland memutar tubuh Adriana agar menghadap ke arahnya, menatap kedua mata gadis itu dengan lekat. Erland jelas melihat tatapan penuh luka di balik mata Adriana. "Dengarkan aku, apapun yang terjadi aku akan terus berusaha untuk meyakinkan Papa kamu agar merestui kita. Lagian apa yang harus di takutkan? Tentang masa lalumu? Aku tidak peduli bagaimana kamu di masa lalu, yang aku peduli hanya kamu yang sekarang"


Adriana melihat kembali semangat yang berkobar dalam diri Erland untuk meyakinkan Papa tentang hubungan mereka ini. Erland benar-benar akan berjuang untuk bisa mendapatkan restu Papa.


"Tapi Kak, aku rasa benar apa kata Pa...."


"Apa?! Benar apa? Jelas tidak ada satupun yang benar dari alasan Papamu tidak merestui hubungan kita. Tentang masa lalu? Latar belakang keluarga? Aku benar-benar tidak peduli tentang itu. Yang aku pedulikan hanya kamu dan kita. Mengerti?"

__ADS_1


Adriana hanya menunduk tanpa menjawab apapun. Ya, dia tahu jika reaksi Erland akan seperti ini setelah dia mengetahui semuanya.


Bersambung


__ADS_2