
"Ayo Sayang, kamu pasti bisa. Jangan menyerah"
Adriana terus menyemangati Erland yang saat ini sedang belajar berjalan. Terapi yang di lakukan selama dua kali dalam seminggu. Dengan di dampingi perawat, Erland terus mencoba berjalan menggunakan tongkat walker. Menuju Adriana yang berada di depannya dengan terus menyemangatinya.
Satu langkah, terasa sangat berat bagi Erland untuk bisa melangkahkan kakinya dalam satu langkah saja. Keringat dingin sudah bercucuran di kening dan tangannya yang memegang erat tongkat walker.
Dua langkah terlewati dengan susah payah oleh Erland. Sebuah kemajuan karena dia tidak banyak mengeluh saat proses terapi berjalan. Biasanya dia akan mengomel saat dia tetap tidak bisa berjalan. Namun, kali ini terlihat sekali semangat dalam dirinya untuk segera sembuh.
"Sayang, sedikit lagi ayo..." Adriana terus berteriak dengan penuh semangat untuk suaminya. Memperhatikan langkah kaki suaminya yang terus berjalan selangkah demi selangkah, layaknya anak bayi yang sedang belajar berjalan untuk pertama kalinya. "...Iya Sayang, ayo sini cepat"
Dan akhirnya Erland benar-benar sampai pada Adriana setelah melewati usaha yang luar biasa. Adriana mendudukan kembali Erland di atas kursi roda dengan dibantu oleh Werdi. Segera memberinya minum dan mengelap keringat yang membasahi kening suaminya itu.
Cup..
Adriana mengecup kening Erland dengan lembut. "Terima kasih sudah berjuang, aku yakin kamu akan segera bisa berjalan lagi"
Erland tersenyum mendengar itu, dia menarik lengan Adriana hingga istrinya itu terjatuh di atas pangkuannya. Memeluk Adriana dengan erat.
"Aku mencintaimu" bisiknya
Adriana tersenyum mendengar itu, dia mengelus lengan Erland yang melingkar di perutnya. "Aku lebih mencintaimu"
Mas Werdi dan Mami yang melihat itu, langsung pergi dari sana. Sadar jika mereka hanya menjadi nyamuk yang menyaksikan kemesraan sepasang suami istri ini.
"Sayang, ayo pergi jalan-jalan"
Erland menatap istrinya yang menoleh padanya. "Jalan-jalan kemana?"
"Emm. Ke mall, atau kemana saja. Aku ingin pergi jalan-jalan bersama suamiku"
"Honey tapi..."
"Tapi apa?"
"Apa kau tidak malu pergi dengan suami seperti aku?"
Adriana sedikit berpikir, lalu dia tersenyum dan mengelus pipi suaminya. "Tidak. Kenapa aku harus malu? Kamu tampan, dan aku bangga menjadi istri kamu"
__ADS_1
Erland terkekeh mendengar itu, istrinya ini memang selalu bisa membuatnya tersenyum. Sikap Adriana yang selalu apa adanya. "Yaudah, sekarang kita siap-siap"
"Beneran ya, kita jadi jalan-jalan?"
"Iya Sayang, ayo kita jalan-jalan"
Adriana turun dari pangkuan Erland dan bersorak senang. Lalu dia mendorong kursi roda suaminya dan membawanya ke kamar untuk siap-siap. Memandikan Erland sudah menjadi rutinitas Adriana, dan dia sama sekali tidak merasa lelah atau terbebani dengan kegiatannya setiap hari.
"Sudah tampan deh suamiku ini. Cup.." Adriana mencium pipi suaminya setelah dia selesai menyisir rambut Erland agar lebih rapi setelah membantunya mandi.
Erland meraih tangan Adriana yang berada di bahunya. Menciumnya dengan lembut. "Terima kasih Honey, sudah merawatku"
"Iya Sayang, kan aku cinta. Kalau gak cinta, aku gak akan mau sama kamu. Hehe"
"Dasar kamu ini, yaudah sekarang kamu siap-siap"
Adriana mengangguk, dia berlalu ke ruang ganti untuk bersiap. Mandi dan berganti baju yang menurutnya cocok untuk pergi jalan dengan suaminya. Namun, saat dia keluar ruang ganti tatapan tajam suaminya langsung membuatnya terdiam.
"Ganti, apaan pakai baju seperti itu. Kalau tangan kamu di angkat ke atas maka bajunya akan terbuka. Kau ingin memperlihatkan tubuhmu pada siapa Hah?"
Adriana tersenyum masam, padahal dia hanya memakai kaos yang panjangnya di atas pinggang. Memang jika tangannya di angkat, maka bajunya akan langsung terbuka. Tapi baju model seperti ini memang sedang musim sekarang, jadi Adriana penasaran dan membelinya. Eh, ternyata suaminya tidak suka melihat dia memakai baju seperti ini.
"Ganti dengan baju yang benar"
"I-iya Sayang, iya"
Akhirnya Adriana berganti pakaian dengan celana panjang dan baju yang panjang juga. Barulah Erland menyetujuinya. Mereka pergi ke mall dengan diantar supir. Sampai di mall, Adriana mendorong kursi roda Erland. Meski banyak yang melirik ke arah mereka, namun Adriana tidak memperdulikannya.
"Lihatlah, beruntung sekali pria itu mendapatkan gadis cantik itu"
"Beruntung sekali, padahal aku juga mau sama gadis cantik itu. Jarang sekali ada wanita yang mau menerima pria apa adanya seperti dia"
Erland melirik tajam kedua pria yang sedang membicarakan wanitanya. Jelas dia mendengar apa yang mereka bicarakan. Kalau saja kaki Erland tidak seperti ini, mungkin dia sudah menendang dua pria itu hingga jatuh ke lantai bawah.
"Sudah, sudah jangan di dengarkan Sayang. Kan yang penting aku milik kamu"
"Honey, kenapa mereka terus membicarakan kamu. Kesal aku mendengarnya. Kau hanya milikku"
__ADS_1
Adriana mengelus kepala Erland, lalu mengecupnya. Sudah seperti memperlakukan anak kecil saja dia. "Iya Sayang, aku hanya milikmu. Dan akan selalu menjadi milikmu"
"Sayang aku mau membeli itu, apa boleh?"
Adriana menunjuk salah satu sepatu di pameran, yang harganya selalu turun la puluh persen dari harga aslinya. Biasanya karena barang dengan model lama yang belum juga laku. Jadi selalu dijual dengan turun harga. Adriana takut jika Erland tidak mengizinkannya. Karena dia menggunakan kartu umlimitied yang diberikan oleh Erland.
"Kenapa beli disitu, beli di toko yang sudah jelas kualitasnya"
"Tapi ini bagus kok"
"Honey, kamu bisa membeli apapun yang kamu inginkan. Tidak perlu meminta izin dulu padaku"
"Iya 'kan aku takut kamu marah karena aku beli barang menggunakan kartu kamu tapi tidak minta izin dulu"
Erland memegang lengan istrinya, menggenggamnya dengan lembut. "Belilah apa yang kamu mau. Jangan berperilaku seolah suamimu ini orang miskin"
"Dih sombong"
Adriana tertawa kecil dengan kesombongan suaminya itu. Tapi dia tetap tidak mendengarkan saran Erland, dia tetap membeli sepatu dengan diskon lima puluh persen itu. Daripada harus membeli yang harganya bisa untuk membeli satu sepeda motor.
Erland mendengus kesal ketika Adriana keluar dari toko dengan membawa paper bag tanpa merek itu. "Kenapa tetap membeli disini. Sudah aku bilang beli saja yang disana"
Adriana tersenyum, dia menunduk di depan Erland lalu mengecup pipinya dengan lembut. Tidak peduli saat banyak pasang mata yang menatap iri padanya. "Aku maunya ini, jadi gak perlu beli yang mahal. Karena aku merasa tidak cocok jika harus membeli yang mahal, tapi lebih cocok ini. Meski belinya harga diskonan"
Erland hanya menghela nafas mendengar ucapan istrinya itu. Terkadang dia merasa bangga pada sosok Adriana yang bisa berubah sangat drastis dari Adriana yang dulu. Bahkan sekarang, gadis manja itu lebih suka hal yang sederhana. Sangat berebeda sekali dengan Adriana yang dulu. Yang sangat manja dan royal. Berbeda dengan Adriana yang sekarang.
"Sayang mau makan dulu gak? Aku lapar"
"Iya, kamu punya mag jadi gak boleh telat makan"
Mereka pun mampir dulu di tempat makan yang ada di dalam mall. Setelah memesan makanan, mereka duduk di meja yang berada di dekat jendela.
"Emm. Sayang gak papa kalau aku tinggal sebentar? Aku mau ke toilet dulu sebentar"
"Iya gak papa, kamu ke toilet saja"
"Yaudah, kamu tunggu aku disini ya. Jangan kemana-mana"
__ADS_1
"Iya Honey"
Bersambung