Mengejar Cinta Si Kembar

Mengejar Cinta Si Kembar
Si Tukang Ngambek?!


__ADS_3

Erland terbangun dari tidurnya, tersenyum saat merasakan ada sebuah pelukan hangat. Adriana memeluk suaminya dengan nyaman. Kepalanya berada di atas dada suaminya. Erland mencium puncak kepala istrinya.


"Si tukang ngambek"


Erland terkekeh sendiri dengan julukannya pada istrinya ini. Terkadang Erland selalu merasa lucu ketika melihat istrinya yang merajuk padanya.


Adriana menggeliat pelan, dia mengucek matanya yang terasa sedikit perih. Mendongakan wajahnya dan melihat suaminya yang tersenyum padanya. Erland mengecup kening Adriana.


"Sudah selesai ngambek nya?"


Adriana mencebikan bibirnya, lalu dia bangun terduduk di atas tempat tidur. Melirik Erland yang juga ikut bangun dan duduk bersandar di atas tempat tidur. Setelah memastikan suaminya duduk dengan nyaman, Adriana langsung menghambur kembali dalam pelukan Erland.


"Abisnya kamu ngeselin"


Erland tersenyum, dia mengelus kepala Adriana dan memberikan kecupan di puncak kepalanya. "Iya maaf Honey, abisnya aku benar-benar harus segera mengecek email yang di kirimkan oleh Riki. Semuanya harus selesai hari ini, karena besok kita akan membahasnya dengan para petinggi perusahaan"


Adriana mendongak, dia mengecup bibir suaminya. "Kamu jangan kecapen ya"


"Iya Honey, kan aku selalu ada kamu yang memberikan aku perhatian"


"Aku keluar dulu ya, mau bantuin Mami menyiapkan makan malam"


Erland mengelus kepala istrinya dengan lembut. "Sayang, kamu jangan terlalu merasa tidak enak di rumah ini. Kamu tidak perlu harus selalu membantu Mami. Disini juga ada pelayan, lagian Mami juga jarang melakukan apapun. Dia hanya menyiapkan makan malam saja, itu pun jarang dia sendiri yang memasaknya"


Adrian menatap suaminya dengan lembut, dia memang masih belum bisa menyesuaikan saat tinggal di rumah suaminya ini. Dia selalu merasa tidak enak dengan Mami jika hanya berdiam diri saja di rumah ini. Keluarga suaminya yang mau menerima kehadirannya saja sudah sangat bersyukur untuk Adriana.


"Tapi, aku tidak enak kalau hanya diam saja. Aku tidak mau di anggap sebagai istri penghabis uang suami. Kalau gitu, kamu izinkan aku kerja saja"


"Honey, jangan mulai deh. Gini aja, kalau kamu gak merasa nyaman tinggal disini. Kita beli rumah dan tinggal di rumah sendiri, bagaimana?"


Adriana menatap suaminya dengan lekat, memang itu yang dia inginkan. Tapi, Adriana tahu jika Mami dan Papi tidak akan mungkin mengizinkah putra mereka pergi dari rumah ini.

__ADS_1


"Tidak, jangan melakukan itu. Kasihan juga Mami dan Papi kalau kamu harus pergi dari rumah ini"


Erland mengelus pipi istrinya, menyelipkan rambut Adriana ke belakang telinganya. Terus maunya gimana, hmm?"


"Tidak papa, kita tinggal disini saja"


"Beneran? Kalau kamu tidak nyaman tinggal disini, kita bisa pindah dari rumah ini"


Erland hanya ingin memberikan yang terbaik untuk istrinya. Dia tidak mau membiarkan istrinya merasa tidak nyaman dan tertekan dengan tinggal bersama orang tuanya. Jadi, apapun akan dia lakukan asal istrinya bahagia dan merasa nyaman.


"Tidak Sayang, aku nyaman kok berada disini. Mami dan Papi begitu baik padaku"


Adriana hanya sering merasa tidak enak saja ketika dia hany berdiam diri di rumah ini. Tapi, bukan berarti dia tidak nyaman tinggal bersama kedua orang tua Erland.


"Yaudah, aku keluar dulu ya. Kamu disini saja istirahat"


Akhirnya Erland tetap tidak bisa menahan Adriana. Dia membiarkan istrinya itu pergi keluar kamar. Di dapur, Adriana membantu Mami yang sedang menyiapkan makan malam.


"Biar Riana bantu Mi"


"Tidak papa Mi, lagian Riana juga sedang bosan hanya berdiam di kamar"


"Erland sedang apa Ri?"


"Tiduran Mi, baru saja bangun tidur dan sekarang sedang berdiam saja di kamar"


Mami mengangguk, dia mulai meminta pelayan untuk mencuci dan memotong-motong sayuran yang sudah dia siapkan. Semnetara Adriana juga membantu mengupas bumbu-bumbu.


Mami duduk di kursi kosong samping Adriana. "Ri, kamu jangan selalu merasa tidak enak saat tinggal di rumah ini. Gak perlu kayak yang harus bantuin Mami atau apapun itu. Kamu menjaga dan mencintai putra Mami saja, sudah membuat Mami bahagia"


Adriana menatap Ibu mertuanya dengan senyuman tulus. Entah bagaimana pikiran Ibu dan anak ini bisa sama. Apa yang diucapkan Mami hampir sama dengan yang di ucapkan oleh Erland.

__ADS_1


"Iya Mi, Riana tidak merasa tidak enak kok. Lagian Riana betah tinggal disini bersama Mami. Tinggal dimana pun, akan merasa betah asalkan Riana bersama Kak Erland"


"Terima kasih Sayang, karena sudah merubah kehidupan Erland menjadi penuh cinta semenjak kamu hadir dalam kehidupannya"


Adriana tersenyum mendengar itu. Dia juga merasa bahagia ketika Erland hadir dalam kehidupannya.


...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...


Siang ini Erlita sengaja di jemput oleh Pendy ke rumahnya. Hari ini Pendy benar-benar akan meresmikan tentang dirinya yang mundur dari dunia pergengan. Erlita tentu senang mendengar itu. Sebenarnya bukan karena dia ingin mengekang hidup Pendy. Tapi saat dia melihat bagaiman perkelahian waktu itu bisa saja menghilangkan nyawa siapa saja yang terlibat, membuat Erlita takut jika Pendy akan celaka jika dia terus berada di geng motor itu.


Erlita cukup terkejut saat melihat banyaknya orang yang berkumpul di markas. Tidak menyangka jika yang di bilang Pendy akan mengumpulkan semua anggota geng, akan sebanyak ini.


Pendy berdiri dengan di kelilingi orang-orang itu. Erlita masih setia berada di sampingnya. "Selamat siang semuanya, senang banget gue bisa lihat kalian semua ada disini. Dan mungkin hari ini gue akan mengumumkan tentang sesuatu hal yang sedikit penting dan serius. Sebelumnya gue sudah bicara dengan beberapa anggota inti geng ini"


Pendy menatap semua orang yang ada disana dengan tatapan yang sulit di artikan. Dia berdiri disini dan memimpin geng ini sudah bertahun-tahun. Dan mungkin sekarang adalah saatnya untuk Pendy bisa melepaskan duanianya ini.


"Dengan sangat menyesal dan penuh dengan pertimbangan, gue memutuskan untuk berhenti dari dunia permotoran. Gue resmi keluar dari geng ini mulai hari ini. Mohon untuk semuanya menerima keputusan gue ini. Dan selalu sejahtera untuk kita semua. Karena sejak awal kita membentuk geng ini. Tidak ada paksaan harus tetap bertahan sampai kapan. Jadi gue hanya bisa bertahan sampai hari ini saja. Terima kasih"


Dan tidak ada sama sekali yang protes dengan keputusan Pendy ini. Namun, terlihat jelas wajah sedih mereka semua. Namun, memang benar jika tidak pernah ada paksaan untuk semua anggota akan bertahan sampai kapan di geng ini. Jadi tidak akan ada yang berani protes saat ada salah satu anggota yang memutuskan untuk berhenti dan keluar dari geng.


"Jangan lupakan kita ya Bang, kalau ada waktu main kesini"


"Iya Bang, gue bakal kangen banget sama lo"


Akhirnya mereka semua mengeluarkan kesedihan mereka saat harus di tinggal oleh ketua geng yang sangat pengertian seperti Pendy.


Pendy tersenyum dengan tatapan sendu. Dia juga merasa sedih saat harus meninggalkan semua temannya disini. Tapi, mungkin memang sudah saatnya Pendy benar-benar memikirkan masa depannya.


"Pasti, kalau gue ada waktu gue akan datang kesini. Gue juga tidak akan pernah melupakan kalian. Tolong tetap jaga tujuan kita membentuk geng ini. Jangan pernah berubah menjadi geng motor lain"


"Siap Bang"

__ADS_1


Pendy menggandeng tangan Erlita dan membawanya keluar dari markas.


Bersambung


__ADS_2