
Adriana menatap kekasihnya yang masih saja merajuk karena kejadian kemarin. Hal itu membuat Adriana harus mengalah dan menemui Erland yang duduk di meja pojok kantin kampus ini. Adriana berdiri di depan Erland yang berpura-pura tidak melihatnya. Suara bisik-bisik dari orang-orang begitu terdengar, mempertanyakan hubungan mereka berdua. Apa baik-baik saja, atau bahkan mungkin sudah putus?
"Yaudah kalau mau kayak gini terus, aku pergi" Adriana berbalik dan hendak melangkah pergi dari hadapan Erland, sebelum pria itu menahannya.
"Tunggu!"
Adriana tersenyum tipis, dia kembali berbalik menghadap kekasihnya itu. Menarik kursi dan duduk di sana. Riki dan Beno yang duduk di meja samping Erland, hanya menggeleng heran melihat sikap sahabatnya yang berubah menjadi kekanak-kanakan.
"Yaudah, hari ini aku izin kerja. Kamu mau kemana, biar aku temani"
Erland langsung tersenyum merekah mendengarnya. "Kita pergi ke mall, beli baju buat acara wisuda aku"
Adriana mengangguk, dia memang harus membuat Erland bahagia disaat mendekati waktu kelulusannya. "Oke, tapi aku hanya izin libur kerja di mini market. Malamnya tetap kerja"
"Yaudah iya, tapi jangan membuat aku kesal lagi. Kenapa kamu gak kerja di satu tempat saja. Apa gak cape kerja di dua tempat seperti itu? Belum lagi kamu harus kuliah"
Adriana tersenyum, dia meraih tangan Erland dan menggenggamnya di atas meja. "Mungkin ini karma buat aku Kak, kejahatan aku pada Kak Tyas menjadi balasan untuk hidupku yang sekarang. Meski waktu itu, aku benar-benar tidak tahu kebenarannya seperti apa. Aku hanya terlalu percaya dengan perkataan Mama"
Erland menatap nanar gadisnya itu, bagaimana dia melewati semua ini sendirian. "Honey, mungkin kamu di masa lalu memang bukan orang baik. Tapi kamu juga tidak sepenuhnya bersalah. Kamu hanya terpedaya dengan semua ucapan Mama kamu. Jadi, jangan terus menyalahkan diri kamu sendiri"
Hah..
Adriana menghembuskan nafas kasar. "Ya, memang semuanya tidak sepenuhnya kesalahanku. Tapi, terkadang aku suka berfikir, kenapa aku harus terlahir dari keluarga seperti ini. Kakak tahu? Bagaimana Papa membenci Kak Tyas waktu itu dan hal itu semakin membuat aku yakin jika Kak Tyas memang bukan Kakak yang baik untukku. Lalu, siapa yang salah dalam hal ini?"
"Sudahlah, kamu jangan terus mengingat-ngingat masa lalu yang mungkin akan menyakitimu. Sekarang pikirkan saja masa depan kamu dan kehidupan yang akan di jalani kamu kedepannya. Biarkan masa lalu tetap berlalu, tanpa harus kamu terus memikirkannya dan terjebak dalam penyesalan"
Mungkin memang benar apa yang di katakan oleh Erland. Tapi, rasanya tidak semudah itu bagi Adriana untuk melupakan semua kesalahan dirinya di masa lalu pada Tyas. Penyesalan yang sampai saat ini masih menggerogoti hati dan perasaannya.
"Gak bisa Kak, penyesalan itu masih ada dan entah sampai kapan akan menghilang"
Erland menghela nafas, memang tidak mudah melewati semua ini bagi Adriana. Dia mencoba mengerti dan akan selalu menemani Adriana melewati semua ini.
__ADS_1
...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...
Sepulang kuliah, Erland benar-benar mengajak Adriana untuk pergi jalan-jalan ke mall. Masuk ke sebuah butik pakaian wanita, Adriana sedikit bingung. Bukannya Erland ingin membeli pakaian untuk acara wisuda, kenapa malah masuk ke dalam butik wanita. Jika membeli untuk Erlita, rasanya tidak mungkin karena waktu kelulusan mereka berbeda.
"Ngapain kesini Kak?"
"Beli baju buat kamu"
"Aku?" Adriana menunjuk dirinya sendiri dengan wajah bingung. "...Aku gak niat beli baju, Kak. Lagian baju aku di rumah juga masih banyak. Kenapa sekarang harus kesini, udah ayo pergi aja"
Adriana menarik tangan Erland untuk keluar dari butik itu. Membuat Erland bingung dengan kelakuannya itu. "Ya ampun, kenapa kamu malah menarik aku keluar. Kita belum membeli bajunya"
"Tidak mau Kak, aku gak mau beli baju. Aku kesini 'kan mau antar Kakak beli baju untuk acara wisuda, kenapa malah jadi aku yang membeli baju"
"Honey, aku mau membelikan kamu baju untuk acara wisuda aku nanti. Kenapa tidak boleh"
Adriana terdiam, dia melepaskan genggaman tangannya di tangan Erland. "Emm. Apa kamu malu ya kalau aku datang ke acara wisuda kamu dengan baju aku yang sederhana?"
Deg..
"Honey bukan begit..."
"Gak papa kok, aku tidak hadir di acara wisuda kamu saja ya..." Adriana mendongak dan menatap Erland dengan tersenyum, meski terlihat sekali jika senyuman itu adalah senyuman yang menyimpan banyak luka. "...Aku gak papa kalau gak hadir juga, lagian memang awalnya juga aku tidak berniat hadir di acara itu, takut membuat kamu malu"
Erland jadi serba salah sendiri, dia menatap Adriana yang berjalan lebih dulu darinya. Gadis itu telah salah faham padanya, Erland jadi ingin merutuki kebodohannya sendiri. Mungkin niatnya memang baik, agar Adriana tidak di pandang rendah oleh orang lain. Tapi, ternyata hal yang dia lakukan malah menyinggung perasaan gadisnya ini.
"Honey, aku gak bermaksud seperti itu. Maafin aku ya, aku tidak akan melakukan itu lagi"
Adriana tersenyum, dia mengelus pipi Erland dengan lembut. "Tidak papa, aku mengerti kok"
Akhirnya hari ini mereka habiskan untuk jalan-jalan mengelilingi mall dan makan disana. Tidak membeli apapun, karena memang Erland tidak mau membuat Adriana tersinggung lagi dengan perbuatannya.
__ADS_1
...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...
Erlita keluar dari kedai mie goreng yang dulu pernah dia kunjungi bersama Pendy. Entah kenapa akhir-akhir ini pria itu terlihat sibuk dan bahkan jarang menyapa Erlita. Dan entah kenapa juga Erlita merasa sedih melihat sikap dingin Pendy.
Apa mungkin penolakan aku waktu itu terlalu menyakitinya ya?
Erlita masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya meninggalkan kedai mie goreng itu. "Sebenarnya dia kenapa? Kok jadi cuek dan dingin sekali padaku"
Mungkin Pendy sedang membalas sikap dingin Erlita sejak pengakuan cintanya di depan Erland waktu itu. Namun, Erlita tetap merasa tidak nyaman dengan sikap pria itu saat ini. Jujur saja Erlita sedikit merindukan sikap pecicilan Pendy padanya.
Erlita memarkirkan mobilnya di parkiran kampus, masih ada yang harus dia selesaikan di kampus. Berjalan masuk ke kelasnya, Erlita melihat Pendy yang sednag mengobrol dengan seorang Dosen disana. Wajah pria itu terlihat sangat bahagia, memegang surat di tangannya.
Erlita berjalan melewati Pendy, duduk di bangkunya. Memainkan ponselnya disana, sampai dia mendengar Dosen yang mengucapkan selamat pada Pendy lalu keluar dari ruang kelas. Erlita mendongak ketika sepasang tangan tertumpu di atas mejanya. Mengerutkan keningnya bingung melihat Pendy yang tersenyum ke arahnya.
"Ada apa?"
"Akj wisuda minggu depan, kamu datang ya"
"Hah?" Erlita hampir tidak percaya mendengar itu. Jika Erland, dia percaya bisa wisuda dalam waktu yang cukup singkat. Tapi untuk Pendy, Erlita benar-benar terkejut mendengarnya.
"Kenapa? Kamu tidak percaya kalau kemampuan otak aku ini setara dengan saudara kembarmu yang sombong itu"
"Heh, gitu-gitu dia saudaraku ya"
"Hehe. Iya, iya saudara kamu"
"Jadi kamu beneran wisuda bareng dengan Erland?"
Pendy mengangguk dengan wajah penuh percaya diri. "Ya, aku kejar skripsi agar bisa cepat lulus dan segera menikahi kamu"
Hah?!..
__ADS_1
Menikah?
Bersambung