
Hubungan jarak jauh Adriana dan Erland baru terjalin 5 hari, dan baru selama itu saja sudah membuat keduanya rindu berat. Apalagi saat Erland mengatakan jika pulang dari pekerjaannya disana, maka dia akan langsung menikahi Adriana.
Malam ini Adriana membuka ponselnya, dan tidak biasanya seharian ini tidak ada pesan atau kabar apapun dari Erland. Bahkan pesan yang dia kirim saja belum dibaca sampai sekarang. Adriana tidur terlentang di atas tempat tidur, memegang ponselnya dan mencoba menghubungi Erland. Namun, tidak ada jawaban dari pria itu.
"Kemana Kak Erland ya? Kok gak ada kabar"
Adriana malah merasa tidak enak perasaan ketika mengingat Erland yang jauh disana. "Tadi siang juga tidak ada Kak Erlita. Dia tidak masuk kampus, kira-kira kemana ya dia? Semoga saja tidak ada sesuatu yang terjadi pada Kak Erland"
Pagi menjelang Adriana bangun dan langsung mengecek ponselnya. Berharap ada pesan dari Erland. Atau setidaknya dia membalas pesan darinya. Dan benar, ada satu pesan yang masuk dari nomor ponsel Erland.
Dan ketika Adriana membuka pesan itu, adalah satu kalimat yang membuat kakinya terasa lemas. Bahkan Adriana merasa jika dunianya mulai runtuh saat ini juga. Satu kalimat yang tidak pernah dia sangka akan dia dapatkan dari Erland.
Maaf Ri, sepertinya kita benar-benar harus putus. Aku rasa memang sebaiknya kita tidak menjalin hubungan ini. Jangan pernah hubungi aku lagi.
Benar-benar merasa lemas, sampai Adriana tidak dapat menahan berat tubuhnya. Duduk memeluk lututnya di atas lantai dengan bersandar pada ranjang tempat tidurnya.
Semuanya terasa lebih sakit ketika dia sudah benar-benar memberikan segalanya pada Erland, namun tiba-tiba pria itu mengatakan jika dia ingin mengakhiri semuanya. Lalu, yang dia lakukan kemarin-kemarin apa? Sampai membawa kedua orang tuanya datang ke rumah, hanya untuk meyakinkan Papa. Dan sekarang, disaat Papa sudah memberinya restu. Dia malah benar-benar mengakhiri semuanya.
Sepertinya dia memang hanya ingin balas dendam padaku, karena aku yang pernah memutuskan dia.
Sesaat Adriana merasa jika ini hanya sebuah mimpi. Namun nyatanya ini adalah kenyataan. Dia berdiri dengan berpegangan pada pinggiran tempat tidur. Megambil ponselnya dan menghubungi Erland. Dan ternyata, nomor ponselnya benar-benar sudah tidak aktif. Mungkin Erland langsung memblokir nomor ponsel Adriana setelah mengirimkan pesan menyakitkan itu.
Adriana tertawa sambil melihat layar ponselnya. Dia tertawa, namun air mata menetes di pipinya. "Ternyata memang benar apa yang Papa ucapkan. Tidak akan ada cinta yang tulus ketika melihat seseorang dari masa lalunya"
"Oh Tuhan, aku tahu kenapa dia pergi. Karena ingin membuat aku hancur. Dia hanya ingin balas dendam padaku. Lihatlah karma ini, masih berlaku. Ketika hidup kita di masa lalu tidak baik, maka kedepannya pun akan selalu di pandang dari masa lalu itu sendiri"
Adriana ingin menjerit sekencang-kencangnya saat ini. Ketika semuanya telah hancur. Ketika dirinya telah benar-benar mencintai, sekarang harus terhempas dengan mimpi yang dia bangun selama ini. Tentang ingin hidup bersama Erland, menikah dan menjadi keluarga yang bahagia dengan anak-anak mereka nantinya.
Nyatanya semua itu hanya akan menjadi sebuah mimpi yang tidak akan terwujud.
__ADS_1
...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...
"Ada apa Nak?"
Papa terkejut ketika Adriana yang tiba-tiba memeluknya dengan tangisan yang pecah begitu saja. "Adriana, ada apa ini?"
"Hiks..Hiks.. Pa, Kak Erland pergi meninggalkan aku"
Papa tersenyum mendengarnya, merasa jika Adriana sedang membuat drama ala anak remaja yang sedang dimabuk cinta. "Riana Sayang, kan pacarmu itu hanya pergi sebentar. Hanya dua minggu 'kan? Kenapa sampai harus menangis begini"
Tangisan Adriana semakin kencang, bahkan dia tidak melepaskan pelukannya pada Papa. Semakin erat saja dia memeluk Ayahnya ini. "Kak Erland..Hiks.. Dia memutuskan aku lewat pesan. Dia bilang jika memang sudah seharusnya kita tidak pernah bersama"
Deg..
Kedua tangan Papa mengepal erat di kedua sisi tubuhnya. Rasanya tidak percaya dengan apa yang baru saja putrinya ucapkan. Namun, melihat tangisan hebat Adriana membuat Papa benar-benar yakin jika yang dibicarakan Adriana memang benar adanya.
Adriana hanya terdiam dalam pelukan Papa dengan isak tangis yang masih terus berlangsung.
Dan sejak saat itu, keceriaan dalam hidup Adriana benar-benar lenyap. Gadis manis yang ceria ini, telah berubah menjadi sosok pendiam yang terkesan dingin.
Ketika besok harinya, Adriana datang ke rumah Kakak iparnya. Ingin menanyakan tentang Erland. Sampai hari ini, Adriana masih penasaran dengan alasan Erland melakukan ini padanya.
"Tidak mungkin Dek" Tyas saja sampai tidak percaya melihat pesan yang di kirimkan Erland pada adiknya ini.
"Semuanya jelas Kak, setelah pesan ini dikirim. Nomor ponsel Riana langsung di block sampai aku benar-benar tidak bisa lagi menghubunginya"
Tyas memeluk adik semata wayangnya ini, dia benar-benar sangat prihatin dengan nasib Adriana saat ini. "Sayang, Kakak dan Kakak Ipar kamu juga benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Suami Kakak sudah mencoba menghubungi Om Erwin dan Tante Syifa, tapi benar-benar tidak bisa"
"Mereka bagaikan hilang di telan bumi. Aku benar-benar minta maaf Ri, aku tidak menyangka jika Erland akan melakukan ini padamu. Nanti jika aku mendapatkan informasi tentang dia, aku akan langsung memberi tahu kamu"
__ADS_1
Adriana menatap Kakak iparnya itu, menganggukan kepalanya. Dia masih ingin tahu alasan Erland yang tiba-tiba melakukan ini padanya.
"Iya Kak"
Tyas terus mengelus punggung Adriana, mengecup kepala adiknya. Dia sayang pada adiknya dan merasa tidak rela ketika adiknya di perlakuan seperti ini oleh seorang pria. Meski pria itu adalah saudara sepupu suaminya.
"Sudah ya, kamu harus kuat Dek. Kakak yakin kamu pasti bisa melewati semua ini"
Adriana mengangguk dalam pelukan Kakaknya. Meski sebenarnya dia sedang sekuat tenaga untuk tidak lagi menangis. Rasanya pasokan air matanya sudah kering, karena terus menangisi Erland.
"Kak..." Adriana melerai pelukannya, menatap Kakaknya dengan lekat. "...Sepertinya kota ini tidak cocok untuk Adriana dan Papa. Kami ingin pindah dan memulai hidup baru di tempat yang berbeda"
Tyas tentu terkejut mendengarnya, dia meraih tangan Adriana. Menggenggamnya. "Dek, kamu yakin? Kakak rasa tidak perlu sampai pindah"
"Aku yakin Kak, Papa juga sudah menyetujuinya. Papa juga ingin meninggalkan semua masa lalu kelam dalam hidupnya di kota ini. Izinkan Adriana dan Papa pergi ya Kak. Dan tolong jaga diri Kakak baik-baik, aku yakin Kak Ganesh pasti bisa membuat Kakak dan Gweny bahagia"
Kali ini Tyas maupun Adriana sudah tidak bisa menahan lagi air mata yang menetes di pipinya. "Dek, apa kamu benar-benar yakin?"
Adriana kembali mengangguk yakin, semua ini adalah pelariannya dari semua rasa sakit yang dia rasakan.
"Kemana kamu akan pindah? Kakak ingin bisa berkunjung kesana sesekali jika Kakak sudah sangat merindukan kalian"
Adriana tersenyum, dia menyebutkan salah satu kota. Lalu memeluk Kakaknya kembali dengan tangisan yang pecah. Sepertinya memang ini akhir dari perjuangan Adriana mengejar cinta Erland.
Ganesh yang melihat itu, mengepalkan kedua tangannya. Dia tidak bisa melakukan apapun saat ini.
Tenangkan saja dirimu Ri, maafkan Kakak iparmu ini.
Bersambung
__ADS_1