Mengejar Cinta Si Kembar

Mengejar Cinta Si Kembar
Takut Kehilangannya


__ADS_3

Segerombol geng motor itu semakin banyak saja, entah darimana datangnya mereka. Adriana semakin takut, dia memeluk erat pinggang Pendy.


"Kak ini gimana Kak? Aku takut"


"Tenang Ri, kamu pegangan saja, aku akan mencari jalan pintas agar tidak bisa terkejar oleh mereka.


Namun sehandal apapun Pendy mengendarai motor, jika di kepung seperti ini dia kewalahan juga. Akhirnya seorang pengendara di samping kirinya berhasil menendang motor Pendy hingga terjatuh ke atas jalanan. Adriana menjerit karena kaget.


Pendy berdiri dengan kaki yang sedikit terpincang-pincang, dia menghampiri Adriana yang tergeletak di jalan. Gadis itu meringis kesakitan. Pendy berlutut di sampingnya. "Ri, gak papa kan?"


Adriana menggeleng, dia menatap ke belakang Pendy. Disana ada seseorang yang siap menendang pria itu. "Kak awas.."


Dengan secepat kilat Pendy berbalik dan menendang pria yang hampir saja mencelakainya itu. Beruntung karena teriakan Adriana, dia langsung sigap. Perkelahian pun tidak bisa lagi terhindar. Adriana beringsut ke pinggir jalan, dia sangat takut melihat Pendy yang kewalahan melawan 5 orang. Tentu Pendy kalah jumlah. Dia hampir kewalahan saat seseorang menendangnya hingga terjatuh dan orang lainnya siap menendang kepalanya, namun tiba-tiba tendangan dari seseorang datang menjatuhkan pria yang siap menendang Pendy barusan.


Adriana terkejut saat melihar Erland yang hadir disana. Sebagai sosok pahlawan yang menolongnya. Dih, apasi yang aku pikirkan. Ini sedang darurat, Adriana. Gumamnya, mengusir pikiran aneh dalam kepalanya. Disaat genting seperti ini, dia malah membayangkan tokoh utama dalam drama yang dia tonton. Kedatangan Erland bagaikan sosok pahlawan di drama itu yang menolong seorang putri kerajaan.


Pendy dan Erland berhasil mengalahkan kelima orang itu. Meski mereka sempat kewalahan karena tetap kalah jumlah meski Erland sudah datang dan membantu. Hanya saja, ilmu bela diri mereka berdua tidak bisa di ragukan lagi. Mereka bisa membantai kelima orang itu hingga terkapar di jalanan.


Erland segera berlari menghampiri Adriana, menatap kening gadis itu yang sedikit mengeluarkan darah. "Kau! Dahimu berdarah, kita ke rumah sakit sekarang"


Adriana menyentuh bagian keningnya, dan benar saja ada bercak darah yang menempel di tangannya. Adriana bahkan tidak sadar jika keningnya terluka. Mungkin karena terbentur aspal jalanan saat helm yang di pakainya terlepas.


"Kak, aku tidak papa. Tidak perlu ke rumah sakit"


"Diam!" Erland tidak memberikan Adrina protes saat dia menggendongnya. Berjalan melewati Pendy yang berdiri, menatap khawatir dan cemas pada Adriana. Pendy sangat ingin meminta maaf pada Adriana, tapi saat ini situasinya tidak tepat.


"Minggir kau!"

__ADS_1


Pendy segera menggeser posisi berdirinya, tidak berkata apa-apa karena dia tahu jika Erland sedang sangat mengkhawatirkan kondisi Adriana. Lagian semua ini juga salahnya, Pendy menatap pada orang-orang yang masih terkapar di jalanan. Kedua tangannya mengepal erat. Dia berjalan ke salah satu dari mereka, menindih tubuhnya dan mencengkram baju yang di pakai pria itu.


"Kalian siapa? Siapa ketua kalian, sialan?!" Teriak Pendy dengan penuh emosi


"Rexi"


Pendy mengerutkan keningnya, dia tidak merasa punya masalah dengan yang namanya Rexi. Lagi pula selama dia di sini, dia maupun anggotanya tidak pernah mencari masalah dengan anggota geng motor lainnya. Geng motor yang di pimpin olehnya, bukanlah sebuah geng motor yang selalu mencari masalah pada geng motor lainnya dan akan berakhir dengan perkelahian dan permusuhan. Geng motor yang di pimpin olehnya, berbeda.


Sebuah geng motor yang mengutamakan kebersamaan. Membantu beberapa orang kecil yang di tindas oleh geng motor lainnya. Bahkan mereka sering membagikan makanan atau kebutuhan lainnya pada orang-orang yang bekerja di pinggir jalan dengan panas-panasan. Seperti pedagang kaki lima, pemulung bahkan pengamen lainnya.


Tapi entah kenapa banyak sekali yang membenci mereka. Banyak sekali yang tiba-tiba menyerang mereka, padahal selama ini mereka tidak pernah mencari masalah apapun dengan geng motor lain.


"Kalian dari geng motor mana? Jawab!" Pendy masih mencoba menggali informasi, cengkraman tangannya di baju pria itu masih belum mengendur sama sekali.


"Th-the Rexo"


Semuanya terdiam mendengar ucapan Pendy, mereka semua memang tidak merasa pernah di usik oleh geng motor yang di pimpin oleh Pendy. Tapi, entah kenapa ketua mereka selalu ingin mengalahkan kejayaan geng motor itu. Mungkin karena geng motor yang di pimpin oleh Pendy, adalah geng motor terkenal yang pusat kepemimpinannya ada di luar negara. Tempat asal pria itu tinggal.


"Sekali lagi kalian berani mengusik kehidupanku dan semua anggotaku, maka aku tidak akan segan untuk menghancurkan hidup kalian hingga mati adalah pilihan terbaik untuk kalian"


Mendengar kalimat penuh ancaman dari Pendy, cukup membuat mereka semua merinding. Jangan berani melawan pria yang baik seperti Pendy, karena di balik setiap sikap baiknya maka ada sebuah jiwa yang besar, jiwa yang pemarah dan jiwa yang kuat. Tidak akan pernah mengalah saat ada yang mengusik kehidupannya. Karena selama ini, dia pun tidak pernah mengusik kehidupan orang lain.


Pendy bangun dari atas tubuh pria itu, menepuk kedua tangannya seolah menghilangkan debu yang menempel di tangannya itu. "Pergilah kalian, temui ketua kalian dan bicarakan apa yang barusan aku katakan. Aku ingin melihat, sebesar apa nyali ketua kalian sampai berani mengusik seorang Arga Pendynan"


Dan mereka semua langsung terbangun dengan sedikit tertatih-tatih. Berjalan menghampiri motor masing-masing dan pergi dari sana.


...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...

__ADS_1


Sementara di sebuah rumah sakit, Erland sedang melihat Dokter memasang perban kecil di kening Adriana yang terluka. Sebenarnya lukanya tidak separah itu hingga Erland harus membawanya ke rumah sakit.


Tapi, pria itu memang begitu cemas dan khawatir dengan keadaan Adriana. Apalagi saat melihat darah segar yang mengalir di kening gadis itu. Hati Erland langsung di selimuti ketakutan. Takut jika Adriana akan kenapa-napa. Takut jika situasinya tidak sekecil yang dia fikirkan. Dan hari ini Erland sadar jika dirinya sudah tergantung pada gadis itu. Dia takut kehilangan Adriana. Mungkin dia memang sudah benar-benar jatuh cinta pada Adriana. Entahlah..


"Sudah, ini tidak terlalu parah. Tidak ada benturan yang terlalu keras, hingga menyebabkan pendarahan di dalam. Semuanya baik-baik saja" jelas Dokter setelah selesai mengobati luka Adriana.


"Terima kasih Dok" kata Adriana sambil menyentuh pelan keningnya yang di pasang perban.


Setelah Dokter keluar dari ruangan, Erland segera menghampirinya. Mengelus pelan kepala Adrina. Hal itu tentu saja membuat Adriana terkejut. Apa yang terjadi padanya hingga bisa berprilaku lembut seperti ini pada Adriana?


"Kak, ayo pulang. Gimana keadaan Kak Pendy  ya"


Mendengar nama itu di sebut, membuat hati Erland panas. Dia tidak suka Adriana menyebut nama pria itu dari mulutnya, apalagi Pendy baru saja hampir membuatnya celaka.


"Kau masih menanyakan kabar pria itu, setelah dia hampir membuatmu celaka" tekan Erland dari setiap kata yang terucap dari bibirnya.


Adriana hanya diam, kejadian ini bukan kesalahan Pendy. Adriana tahu bagaimana Pendy sangat baik padanya. Dia juga tahu jika pria itu tidak mungkin dengan sengaja membuatnya celaka.


"Kak, dia gak berniat seperti itu. Lagian Kak Pendy itu orangnya baik, jadi kejadian ini juga tidak mungkin di sengaja. Lagian tadi, dia sudah berusaha melindungiku"


Erland semakin menatapnya dengan tajam. "Hanya aku yang bisa melindungimu, Adriana!"


Hah?!..


Bersambung


Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5

__ADS_1



__ADS_2