Mengejar Cinta Si Kembar

Mengejar Cinta Si Kembar
Kita Akhiri Saja?!


__ADS_3

Erlita benar-benar tidak habis fikir dengan Pendy yang selalu asal bicara. Dia seperti tidak pernah berfikir apa yang baru saja dia ucapkan. Menikah? Satu kata yang memiliki arti sangat penting.


"Jangan bercanda kamu, apaan pake mau menikah. Memang siapa juga yang mau menikah?"


Pendy tersenyum mendengarnya, melihat wajah memerah malu dan kesal Erlita. "Memangnya kau mau berpacaran? Bukannya kau ingin langsung menikah ya? Yasudah, biar aku nikahi saja kamu"


Deg..


Sepertinya kali ini Pendy benar-benar tidak sedang bermain-main. Terlihat dari tatapannya yang serius saat mengatakan itu. Tapi, Erlita masih terlalu terkejut mendengar ucapan Pendy barusan. Memang Erlita tidak ingin berpacaran, karena menurutnya pacaran itu terlalu menyusahkan. Lebih baik langsung menikah saja. Tapi, dia juga tidak menyangka jika akan ada seorang pria yang mengajaknya menikah secepat ini.


"Haha. Udah ahh, apaan si kamu ini. Sana duduk, itu Dosen sudah masuk"


Erlita merasa terselamatkan oleh seorang Dosen yang masuk ke ruang kelas. Dan mau tidak mau Pendy berhenti menggoda Erlita, padahal dia sangat senang melihat wajah terkejut dan kesal dari gadis itu.


Selama kelas terakhir ini di mulai, Erlita benar-benar tidak bisa fokus pada apa yang di jelaskan Dosen. Dia terus kepikiran dengan ucapan Pendy barusan.


Menikah? Gila saja dia, kenapa tiba-tiba mengajakku menikah coba?


Jelasnya, Erlita tidak percaya dengan ucapan Pendy barusan. Tentang pernikahan yang Erlita anggap sangat sakral, dan dia tidak mau menjadikan pernikahan hanya main-main apalagi sebuah bercandaan. Semua wanita hanya mendambakan satu kali pernikahan dalam hidupnya. Jadi, Erlita sedang benar-benar menunggu jodoh yang sebenarnya. Jodoh yang di takdirkan Tuhan untuknya.


Hingga kelas selesai, Erlita benar-benar tidak bisa fokus pada penjelasan Dosen kali ini. Dia membereskan barang-barangnya, lalu berdiri dengan menyelempangkan tas di bahunya dan membawa dua buku tebal dalam dekapannya.


"Hai Lit, mau pergi jalan denganku?"


Erlita menatap Pendy, lalu dia menggeleng pelan. "Tidak bisa, aku ada urusan dengan Mami. Mau antar Mami pergi"


Pendy mengangguk mengerti "Ohh, baiklah. Kapan-kapan jangan menolak lagi ya kalau aku mengajakmu jalan"


Erlita hanya tersenyum, dia pergi dari kelas itu. Meninggalkan Pendy yang menatapnya dengan senyuman penuh arti.


Tunggu saja, akan ada saatnya tiba.


...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...


"Loh Kak, tumben datang pagi-pagi kesini?"

__ADS_1


Adriana sedikit terkejut saat Kakak perempuannya datang di pagi hari ke rumahnya. "Ayo masuk Kak, Papa di dalam sedang siap-siap"


"Tidak usah Dek, Kakak mau ke rumah Mama mertua Kakak. Jadi agak buru-huru, Kakak kesini cuma mau kasih ini. Terima ya, ini titipan dari Erland. Katanya dia takut kamu gak terima kalau dia yang kasih, makanya nyuruh Kakak"


Adriana menerima paper bag yang di berikan Kakaknya. "Iya Kak, makasih ya sudah mau di repotkan sama Erland hanya untuk mengantarkan ini padaku"


"Iya Dek, gak papa. Kalau gitu Kakak pergi dulu ya..." Tyas sedikit melongokan kepalanya ke arah rumah Adriana. "...Salam saja sama Papa, Kakak benar-benar buru-buru. Nanti Kapan-kapan Kakak akan datang lagi kesini"


"Iya Kak, makasih ya"


"Iya Dek, sama-sama"


Setelah mobil Kakaknya pergi, Adriana segera kembali ke rumahnya. Dia melihat Papa yang baru saja keluar dari kamar, sudah rapi dengan pakaian kerjanya.


"Apa itu Ri?"


Adriana mengangkat paper bag di tangannya. "Dari Kak Tyas Pa, barusan Kak Tyas datang kesini tapi dia tidak sempat mampir karena mau ke rumah Mertuanya. Dan ini dari Kak Erland, dia nitip pada Kakak untuk memberikannya padaku"


"Ohh, kenapa gak Erland langsung saja yang memberikan itu?"


Adriana masuk ke dalam kamarnya, duduk di atas tempat tidur dan membuka paper bag yang di berikan Kakaknya barusan. Sebuah dress berwarna biru lengkap dengan tas dan flat shoesnya. Adriana terdiam, melihat baju ini mengingatkan dia pada kejadian kemarin. Dimana Erland yang berniat membelikan baju untuknya, untuk menghadiri acara wisudanya.


"Jadi, dia tetap membelikan aku baju untuk acara wisudanya. Mungkin memang aku yang tidak tahu diri, jelas Erland akan merasa malu dengan penampilan 'ku nanti. Jadi aku harus, menuruti kemauannya agar aku tidak membuatnya malu"


Setelah selesai bersiap, Adriana berangkat ke kampus seorang diri karena entah kenapa pagi ini Erland kembali tidak datang menjemputnya. Sampai di kampus, Adriana segera ke gedung tempat kelas Erland berada, dia ingin menemui pria itu. Bertemu dengan Riki dan Beno, namun tanpa Erland bersama mereka. Biasanya mereka sudah seperti lem, yang selalu bersama Erland kemana pun pergi.


"Kak, dimana Kak Erland?"


"Ada di rufftop kampus, lagi ngerokok biasa" jawab Beno


"Ish kok gak di larang si Kak, gak baik terus merokok"


"Ya ampun Ri, emangnya kita berani apa larang dia. Tahu sendiri dinginnya kayak apa" kata Riki


Adriana hanya menghela nafas, lalu dia pergi menuju rufftop kampus. Disana dia melihat Erland yang duduk di bangku yang ada di rufftop sambil merokok. Adriana berjalan mendekati Erland, dia duduk di samping pria itu.

__ADS_1


"Merokok tidak baik untuk kesehatan"


Erland tersenyum, dia membuang putung rokoknya yang baru setengahnya. Dia injak dengan kaki, apinya padam namun asapnya masih terlihat. "Susah Honey, aku sudah candu merokok"


"Setidaknya di kurangi"


"Iya, akan aku kurangi"


Adriana mengayunkan kakinya dengan sedikit menendang kerikil di bawah kakinya. "Makasih ya, untuk baju, sepatu dan juga tasnya"


"Iya sama-sama, terserah mau kamu pakai baju itu kapan. Aku hanya ingin membelikan kamu saja"


Adriana tersenyum, dia menyandarkan kepalanya di bahu Erland. Menatap langit pagi yang terlihat cerah. "Aku akan memakainya saat acara wisuda kamu. Makasih ya"


Erland mengecup puncak kepala Adriana yang bersandar di bahunya. "Iya Honey, sama-sama"


"Oh ya, maaf tadi pagi aku gak sempat jemput kamu. Aku berangakat bareng Erlita, mobilnya sedang di bengkel. Tahu sendirilah, dia suka lama kalau dandan"


Adriana tersenyum dan mengangguk mengerti. "Iya, tidak papa. Aku bisa naik angkutan umum kok"


"Kak, apa pernikahan kita benar-benar akan terlaksana?"


Erland sedikit tersentak mendengar ucapan Adriana. Dia menoleh dan menatap gadis itu dengan lekat. "Apa maksudmu? Jelas akan terlaksana. Apa kamu masih ragu dengan aku?"


Adriana menggeleng, bibirnya tersenyum namun matanya berkaca-kaca. "Aku hanya ragu dengan diriku sendiri. Apa aku bisa memantaskan diri untuk jadi pendampingmu. Aku merasa tidak cocok dan tidak pantas untuk kamu, tidak peduli seberapa besar aku mencoba untuk tetap percaya diri dan mengabaikan ucapan orang lain. Tapi...."


Adriana menunduk, dia usap kasar air mata yang menetes di pipinya. "Tapi, aku tetap tidak merasa pantas untuk kamu. Mungkin jika orang lain saja yang menyadarkan aku tentang keadaan dan perbedaan kita, aku akan mencoba untuk menerimanya. Tapi, jika Ayahku sendiri yang mengatakan jika aku harus sadar tentang keadaan dan perbedaan di antara kita yang terlalu jauh. Aku tidak bisa Kak.. Hiks"


"Apa maksudmu? Tolong jelaskan padaku? Apa maksudmu Adriana?"


Erland mulai mengerti kemana arah tujuan pembicaraan Adriana kali ini. Dia pegang bahu Adriana dan mengguncang tubuh gadis itu. "Apa maksudmu Adriana? Tolong jelaskan padaku?"


Adriana melepaskan tangan Erland di lengannya, lalu dia berdiri. "Maaf Kak, kita akhiri saja semuanya sampai disini. Kita terlalu berbeda untuk bersatu"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2