Mengejar Cinta Si Kembar

Mengejar Cinta Si Kembar
Menjadi Pelayan Dihari Wisuda


__ADS_3

Adriana menghentikan langkah kakinya ketika di ujung koridor kampus dia melihat pria yang memenuhi pikirannya selama dua hari ini. Acara wisuda di selenggarakan besok siang, aula kampus sudah di hias sedemikian rupa untuk wisuda kelulusan tahun ajaran ini. Adriana menundukan wajahnya ketika Erland melewati dirinya begitu saja.


Dadanya terasa sesak ketika melihat sikap Erland yang sangat dingin, seolah dia tidak mengenal Adriana. Tapi bukannya memang ini yang Adriana harapkan, dia ingin Erland tidak lagi peduli padanya. Namun, kenapa saat pria itu benar-benar tidak peduli lagi padanya, hati Adriana sangat sakit dan terluka.


Dia benar-benar sudah membenciku. Gumamnya. Adriana melanjutkan langkah kakinya menuju kelas.


Dan pada saat itu, Erland menghentikan langkahnya menoleh ke arah panggung gadis yang berjalan menjauh darinya. Sebenarnya berpura-pura tidak lagi peduli pada gadis yang dia cintai sangatlah melikai hatinya. Erland tidak bisa menahan rasa sakit di hatinya ini.


Erland menghela nafas berat, dia melanjutkan langkahnya kembali. Setidaknya dia sudah melihat keadaan Adriana yang baik-baik saja. Erland sengaja datang ke gedung ini hanya untuk melihat keadaan Adriana yang baik-baik saja.


Masuk ke dalam kelas, Adriana langsung duduk di bankunya. Menyandarkan kepalanya di atas meja dengan mata yang terpejam. Adriana hanya ingin menenangkan fikirannya. Hati dan fikirannya sudah sangat tidak tenang. Hatinya terluka dengan keputusannya sendiri.


Sampai kelas hari ini selesai, Adriana benar-benar tidak menemukan semangat baru dalam dirinya. Karena semua semangat yang dia punya telah lenyap dengan berakhirnya hubungannya dengan Erland.


Adriana keluar dari kelasnya dengan lesu, dia benar-benar kehilangan semangatnya. Terperanjat kaget saat ada yang mencekal lengannya. Adriana menoleh. "Kak Pendy, ada apa Kaka?"


"Ikut aku sebentar, aku ingin bicara denganmu"


Adriana mengikuti langkah Pendy yang menarik tangannya dengan sedikit terseok-seok. Pendy membawanya ke taman belakang kampus. Berdiri di bawah pohon rindang.


"Jadi kalian putus?"


Adriana mengangguk, pada akhirnya dia tidak bisa hanya memendam semuanya sendirian. Adriana tidak sekuat itu untuk memendam masalah ini sendirian.


"Tapi Ri, kenapa? Apa hanya karena perbeadaan status sosial kalian yang membuat kamu mengakhiri semuanya dengan Erland?"


Adriana menghela nafas, pandangannya lurus ke depan dengan tatapan menerawang. "Kak tahu gak si rasanya tidak di setujui semua orang?"

__ADS_1


Pendy menoleh, dia menatap bingung pada Adriana yang berdiri di sampingnya. "Maksudnya?"


"Aku mencintainya, sangat mencintainya. Tapi seolah dunia dan semua orang di sekitar kita ini tidak merestui hubungan kita"


"Apa Om Eriawan tidak merestui hubungan kalian?"


Adriana tidak menjawab, dia hanya menundukan wajahnya. Dan sikap Adriana ini sudah cukup menjadi jawaban untuk Pendy atas pertanyaannya barusan. Pria itu menghela nafas kasar. "Sepertinya kamu harus bercerita tentang ini pada Erland. Jangan membua pria itu terus bersangka buruk padamu"


Adriana menggeleng pelan, dia sudah tidak bisa menahan air matanya yang entah untuk ke berapa kalinya dia menangis setelah putus dengan Erland. "Biarkan saja seperti ini Kak, aku tidak mau dia tahu. Jika dia tahu tentang semua ini, mungkin dia tidak akan segampang ini menyerah dan menjauhiku. Dia aka terus berusaha, dan akan semakin menyakitkan untukku dan dia"


Pendy menghela nafas, dia memeluk Adriana dan membiarkan gadis itu menangis dalam pelukannya. Dan ada seseorang yang menatap ke arah mereka tanpa Pendy dan Adriana sadari.


Tangannya mengepal erat dengan tatapan mata yang nyalang. "Jadi ini alasannya memutuskan aku. Sial, dia sama saja dengan gadis lainnya. Pengkhianat"


...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...


Hari wisuda tiba, Erland sudah terlihat tampan dengan jasnya. Di dampingi oleh orang tuanya dan saudara kembarnya. Acara sangat meriah dan berjalan lancar, Erland dan Pendy benar-benar telah menyelesaikan sesi belajarnya. Mereka telah mendapatkan gelar masing-masing. Namun, tidak ada sedikit pun binar kebahagiaan di wajah Erland. Meski dia mendapatkan predikat terbaik.


Hari itu saat di taman belakang kampus, setelah tangisan Adriana reda. Dia meminta bantuan pada Pendy agar dirinya bisa hadir di acara wisuda, tapi tidak di ketahui oleh Erland. Akhirnya Pendy menghubungi pihak Restaurant yang menjadi pengisi makanan di acara itu untuk menambah pekerja tambahan pada hari itu. Dan sekarang disini Adriana berada.


"Hei, antar ini ke meja disana"


Adriana menoleh dan mengangguk, dia memasukkan kembali ponselnya ke dalam kantong apron. Mendorong roda berisi hidangan hari ini pada meja tamu.


Erland mengerutkan keningnya ketika melihat pelayan yang lewat di depan panggung. Bentuk tubuhnya merasa tidak asing baginya. Erland ingin turun dan memanggilnya, namun suara MC membuat dirinya mengurungkan niatnya. Dia tidak boleh mengacau dalam acara ini.


Selesai dengan semua acara, kini tinggal saling menikmati pesta kali ini. Erland turun dari panggung dan langsung di sambut pelukan hangat Ibunya yang merasa bangga pada putra satu-satunya ini.

__ADS_1


Banyak yang mengucapkan selamat pada Erland dan do'a-do'a terbaik untuknya. Apalagi para gadis yang selalu ingin cari perhatian pada bintang kampus ini.


...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...


Erlita sedang menjelajahi makanan di acara ini. Dia tersenyum senang melihat banyak kue yang berjajar di stand makanan, Erlita memang selalu suka dengan ngemi. Apalagi makanan manis seperti ini.


"Wahh, enak-enak banget nih" Erlita baru saja akan menyuapkan satu kue rasa cokelat ke dalam mulutnya, langsung terhenti saat seseorang datang menghampirinya.


"Apa tidak mau mengucapkan selamat padaku? Aku wisuda bareng dengan saudaramu yang genius itu loh"


Erlita menatap Pendy yang terlihat lebih tampan dengan penampilan rapi seperti ini. Dia menggelengkan kepalanya saat pikirannya mulai merambat kemana-mana.


Erlita tersenyum, sedikit di paksakan sebenarnya. "Oh iya, selamat ya Pendy. Kamu hebat banget bisa ambil lulus cepat"


"Hadiahnya mana?"


Erlita menatap Pendy dengan keniny berkerut. "Hadiah? Aku tidak menyiapkan hadiah. Jangankan untuk kamu, untuk Erland saja aku tidak menyiapkan hadiah apa-apa"


Pendy terkekeh melihat wajah polos Erlita yang selalu jujur dalam apapun. Refleks tangannya mengelus kepala Erlita yang tertutup hijab. "Dasar kamu ini, terus kalau nanti kamu wisuda apa kamu tidak akan meminta hadiah pada Erland?"


Erlita terdiam, bukan karena pertanyaan Pendy barusan. Tapi karena tangan Pendy yang mengelus kepalanya. Jantungnya langsung berdebar kencang. Erlita merasa wajahnya memanas tiba-tiba.


"Kenapa wajahmu merah?" Tawa kecil Pendy terdengar saat melihat wajah merah Erlita yang terlihat menggemaskan.


"Apasi, udah ahh aku mau makan kue" Erlita memasukan satu kue ke dalam mulutnya secara langsung. Membuat dia sedikit susah untuk mengunyah karena mulutnya yang penuh dengan kue.


Pendy semakin tertawa melihat pipi Erlita yang mengembung karena mulutnya yang penuh oleh kue. "Lucu banget si"

__ADS_1


Erlita terbelalak saat lagi-lagi tangan Pendy mengelus kepalanya. Ada apa dengan jantungku?


Bersambung


__ADS_2