Mengejar Cinta Si Kembar

Mengejar Cinta Si Kembar
Perasaan Yang Kacau


__ADS_3

Adriana mengikuti langkah cepat Pendy dengan sedikit terseok-seok. Dia tidak tahu, Pendy mau membawanya kemana. Tapi dia hanya mengikuti saja. Adriana masih merasa linglung dengan apa yang baru saja terjadi.


Kemarahan Erland benar-benar membuatnya terkejut sampai tidak bisa berfikir jernih. Adriana tidak pernah mendapatkan bentakan seperti itu. Dia adalah anak manja saat dulu, dan meski sekarang sudah menjadi anak yang mandiri. Adriana tetap tidak pernah mendapatkan bentakkan dari siapapun. Termasuk orang tuanya.


Jadi saat ini dia sedang mencoba menyadarkan dirinya dari keterkejutan atas apa yang terjadi di kantin tadi.


Adriana menatap sekelilingnya, ternyata Pendy membawanya ke atap kampus. Sebuah rufftop terbuka disana. Ada dua bangku disana, Pendy membawa Adriana untuk duduk berdampingan di salah satu bangku disana.


"Dia siapa? Apa dia pacarmu?"


Adriana menggeleng dengan wajah menunduk, tak terasa air mata menetes begitu saja di pipinya yang dia usap dengan kasar. "Dia hanya pria yang aku cintai, tapi tidak mencintaiku"


Pendy langsung menatap iba pada gadis itu. Dia tidak habis fikir, kenapa Adriana masih bilang jika pria seperti Erland adalah pria yang dia cintai. Padahal sudah terlihat sendiri bagaimana dia tidak menghargai Adriana sebagai seorang perempuan. Bahkan dia tega mempermalukannya di depan banyak orang. Apa laki-laki seperti itu pantas untuk di cintai?


"Kenapa kau masih bertahan untuk mencintainya? Padahal apa yang dia lakukan sudah sangat keterlaluan"


Adriana menunduk semakin dalam, kedua tangannya saling bertaut di atas pangkuannya. "Aku juga tidak tahu, tapi aku benar-benar mencintainya. Sepenuh hatiku, aku mencintainya dan hanya dia yang ada di hatiku saat ini"


Pendy mengepalkan tangannya di kedua sisi tibuhnya. Rasanya dia tidak suka pada pria yang menyakiti wanita. Meski dia adalah seorang ketua geng motor, yang sering tawuran dan hal-hal buruk lainnya. Tapi dia tidak pernah menyakiti perempuan. Baginya perempuan adalah makhluk Tuhan yang harus di lindungi. Seperti Ibunya, yang akan selalu dia lindungi sampai kapanpun.


"Kenapa kau sebodoh itu Riana? Kau cantik dan baik, kenapa harus mengharapkan pria seperti dia. Yang bahkan tidak mengharapkan kehadiranmu dalam hidupnya"


Adriana menunduk dalam, dengan isakan lirih yang terdengar. Ya, dia memang bodoh karena mencintai pria seperti Erland. Pria yang tidak pernah akan membalas cintanya dan menganggap dirinya ada dalam hidupnya. Tapi, entah kenapa hatinya tidak bisa di paksa. Hatinya tetap memilih Erland sebagai pemiliknya.


Pendy merangkul bahu Adriana dengan memberikan elusan lembut di bahunya. "Sudahlah, kau punya aku sekarang. Jadikan aku sebagai pelindungmu. Jangan ragu untuk meminta bantuan padaku"

__ADS_1


Adriana menoleh dan menatap Pendy dengan tatapan sendu. Di saat seperti ini, bersyukur karena masih ada yang peduli padanya dan berniat melindunginya.


"Makasih ya, karena sudah mau menjadi temanku"


Pendy tersenyum tipis, dia senang melihat senyuman itu lagi di wajah Adriana. Rasanya begitu menenangkan dan menyejukkan hati.


...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...


Setelah kejadian di kantin, Erland hanya berdiam diri di ruang musik. Perasaannya benar-benar kacau. Melihat tatapan kecewa dari Adriana, membuat hati Erland sedikit nyeri. Erland tidak bisa mengendalikan kemarahannya saat itu. Melihat Adriana bersama pria lain, membuatnya marah.


Entah apa yang sebenarnya terjadi pada diri Erland saat ini. Bahkan karena perasaannya yang benar-benar kacau, Erland sampai tidak mengikuti kelas hari ini. Hal itu membuat kedua temannya datang. Mereka sudah tahu dimana Erland berada jika dia sedang dalam perasaan yang tidak baik-baik saja.


"Land, kau ini kenapa? Apa benar tentang gosip yang beredar, kau tega sekali memperlakukan Riana seperti itu" Beno langsung duduk di samping Erland. Menepuk bahu sahabatnya dengan cerocosannya.


Erland tidak menjawab, dia mengusap wajah kasar. Rasanya dia tidak bisa menjelaskan bagaimana perasaannya saat ini. Beno dan Riki yang melihat sahabatnya sekacau ini. Merasa sedikit heran, tidak pernah mereka melihat Erland sekacau ini. Ada apa dengan sahabatnya ini?


Erland mendongak, dia menatap sahabatnya dengan tatapan tajam. Bagaikan sebuah pedang yang menusuk siapa saja yang di tatapnya. Hal itu membuat Riki dan Beno langsung terdiam. Mereka tidak akan berani saat Erland dalam mode bad mood seperti ini.


"Aku ingin sendiri, kalian pergilah! Jangan biarkan orang lain masuk ke dalam ruangan ini"


Tidak bisa menolak, Beno dan Riki langsung pergi dari ruang musik. Erland menyukai tempat ini karena sepi, peminat musik sangat sedikit di kampus tempatnya kuliah. Bahkan jika dia sedang dalam keadaan seperti ini. Ingin berdiam seorang diri dan mencari ketenangan, maka Erland selalu berdiam diri disini. Maka tidak akan ada yang berani masuk ke dalam ruangan ini. Karena mereka tahu jika Erland berada di ruang musik seorang diri, tanpa kedua sahabatnya. Maka suasana hati pria itu sedang benar-benar tidak baik.


Di luar ruangan, Adriana sedang bersama Riki dan Beno. Dia menanyakan dimana keberadaan Erland. Mau bagaimana pun yang telah terjadi tadi. Dia tetap melakukan tugasnya sebagai pembantu Erland. Dia sudah membelikan makan siang untuk pria itu.


"Dimana Kak Erland? Aku ingin memberikannya makan siang"

__ADS_1


Beno dan Riki saling tatap, lalu keduanya menghela nafas secara bersamaan. Tidak yakin untuk memberi tahu Adriana tentang keberadaan Erland. Karena suasana hati pria itu sedang benar-benar tidak baik. Mereka takut jika Adriana akan menjadi pelampiasan Erland saat ini.


"Kak, dimana Kak Erland? Apa dia berada di ruang musik?"


Keduanya tetap diam, dan diamnya Riki dan Beno cukup menjadi jawaban untuk Adriana. Dia berjalan menuju ruang musik dengan kotak makanan di tangannya. Dengan perlahan Adriana membuka pintu ruangan musik. Benar dugaannya, Erland berada disana.


Suara pintu yang terbuka membuat Erland mendengus kesal. Dia sudah menyuruh kedua sahabatnya untuk melarang orang-orang untuk masuk ke dalam ruangan ini. Dia sedang ingin sendiri dan menenangkan pikirannya.


"Sudah aku bilang, jangan ada yang masuk ke dalam ruangan ini. Aku ingin sendiri, dan tidak mau di ganggu oleh siapapun!" Tekan Erland tanpa mendongakkan wajahnya, dia tidak tahu siapa yang masuk ke dalam ruangan ini.


Adriana tidak berbicara apapun, dia berjalan perlahan mendekat pada Erland. Dia menaruh kotak makanan yang dia beli di meja depan sofa yang di duduki oleh Erland.


Melihat kotak makanan ayam goreng favoritnya di atas meja, Erland langsung mendongak dan menatap Adriana yang berdiri dengan sebotol minuman yang berada di dekapan kedua tangannya.


"Kau! Untuk apa kau kesini?" Bodohnya, Erland masih meninggikan egonya. Padahal hatinya sudah sekacau itu sejak kejadian di kantin tadi.


"Aku hanya melakukan tugasku sebagai pembantumu. Ini makan siang, tolong dimakan. Tidak papa jika Kakak marah padaku, tapi setidaknya makanlah makanan yang aku belikan. Jangan lagi membuat diri Kakak sakit karena kemarahan dalam diri Kakak"


Setelah berkata seperti itu, Adriana langsung pergi setelah dia menyimpan sebotol air mineral di atas meja.


Erland ingin menahannya, tapi apa yang bisa dia lakukan saat egonya masih berada di atas segalanya. Termasuk perasaannya.


Bersambung


Ada cerita temanku nih.. yuk mampir. Ceritanya sangat bagus..

__ADS_1



__ADS_2