Mengejar Cinta Si Kembar

Mengejar Cinta Si Kembar
Erlita Marah?!


__ADS_3

Ketika sudah pernah menghadapi kekesalan istrinya, Erland jadi tidak berani lagi untuk melawan perkataan istrinya. Erland tidak mau melihat istrinya menangis lagi. Merasa sangat kecewa dengan dirinya sendiri saat melihat Adriana yang menangis karena kesal dan juga khawatir dengan keadaannya.


"Sayang, sekarang janji mau pakai kursi roda 'kan?"


Erland hanya mengangguk ketika Adriana bertanya seperti itu. Erland tidak mau membuat istrinya sedih lagi karena dia tidak menuruti keinginannya.


"Iya Honey, aku menurut apa katamu"


Adriana tersenyum mendengar itu, dia mengelus kepala suaminya dan memberi kecupan di keningnya. "Begitu dong, baru suami aku. Kalau sampai kamu sakit lagi, aku benar-benar akan marah!"


"Iya Sayang, aku tidak akan memaksakan diri lagi"


Akhirnya hari ini Erland kembali menggunakan kursi roda saat dia pergi ke perusahaan. Dia masih haru menstabilkan kekuatan kakinya jika ingin berjalan tanpa kursi roda.


Sampai di ruangannya, Erland langsung mengerjakan pekerjaannya. Ketika Riki yang masuk ke dalam ruangannya, dia sedikit heran melihat kursi roda Erland yang sudah cukup lama tidak pernah di pakainya lagi. Kini ada di ruangan pria itu.


"Loh, kok ada kursi roda Land? Kakimu baik-baik saja 'kan?"


Erland menoleh pada Riki, di menghela nafasa panjang sambil menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya. "Istriku meminta aku untuk memakai kursi roda lagi karena semalam kakiku sakit. Aku tidak ingin membantahnya lagi, semalam saja dia benar-benar kesal sampai menangis.


Riki berjalan ke dekat meja kerja Erland, menarik kursi di depan meja dan duduk disana. "Yaudah turuti saja apa kata istrimu. Dia seperti itu karena memang dia sangat mencintaimu Land. Kamu harus bersykur mempunyai istri seperti Adriana"


Erland mengangguk, dia memang begitu beruntung bisa mendapatkan Adriana yang begitu tulus mencintainya.


Di tempat yang berbeda, Erlita benar-benar datang seorang diri ke bangunan menyeramkan yang pernah dia datangi. Karena beberapa hari ini, Pendy tidak dapat di hubungi, jadi Erlita memutuskan untuk mengecek keberadaan Pendy di tempat ini yang Pendy sebut dengan markas itu.


Namun sebelum Erlita sempat masuk ke dalam bangunan lama yang seperti bekas gudang ini. Pasukan geng motor langsung datang membuat Erlita ketakutan. Erlita berdiri di balik dinding, menyembunyikan dirinya. Melihat segerombolan orang yang turun dari motor masing-masing.


"Ya ampun, bagaimana ini? Semoga saja aku tidak ketahuan"


Segerombolan orang itu langsung menggedor-gedor pintu bangunan yang di sebut markas itu. Sambil berteriak memanggil nama Pendy. Hal itu malah semakin membuat Erlita takut. Tubuhny bergetar.

__ADS_1


"Woy.. Keluar lo Arga.. Keluar sialan!"


Dan beberapa saat kemudian beberapa orang dari dalam markas keluar. Dan saat ini perkelahian yang benar-benar tidak bisa dihindari lagi. Saling pukul dan tendang, bahkan ada juga yang membawa kayu balok dan sejata tajam juga. Erlita benar-benar baru melihat kejadian seperti ini dalam hidupnya.


"Woy.. Berhenti!!"


Teriakan dingin dari orang yang baru saja datang membuat perkelahian berhenti. Semuanya menatap ke arah seseorang yang turun dari motor sportnya. Membua helem fullface yang dipakainya.


"Pendy"


Erlita melihat dengan jelas jika itu adalah kekasihnya. Pendy berjalan dengan membawa sebuah map di tangannya. Melemparnya ke tanah, tepat di tengah-tengah orang yang sedang menatap ke arahnya.


"Ini semua adalah bukti jika bukan anggota geng gue yang udah merusak markas geng kalian. Sebelum menuduh, carilah bukti yang lebih akurat"


Si ketua geng langsung mengambil map itu dan membukanya. Di dalamnya ada beberapa foto yang membakar markas mereka. Lalu ada sebuah flesdisk juga.


"Itu adalah video cctv yang gue dapatkan di toko depan markas lo pada. Makanya cari ketua itu yang pinteran dikit, jangan cuma modal sangar doang. Punya ketua kok bego, mau aja di adu domba"


Pendy sekilas melihat bayangan di dinding samping markas. Dia berjalan ke arah itu dan terkejut saat menemukan Erlita yang berjongkok di atas tanah dengan tangan memeluk lututnya.


"Ya ampun, Bunda ngapain disini?"


Erlita mendongak, di menatap Pendy dengan mata berkaca-kaca. Sungguh dia sangat ketakutan dengan kejadia yang barusan dia lihat. Melihat calon istrinya yang begitu ketakutan, membuat Pendy langsung memeluknya dengan erat.


"Kamu ngapain disini? Kamu gak papa 'kan? Gak ada yang lukai kamu?" Pendy begitu terkejut, dia langsung memeriksa lengan dan wajah Erlita, takutnya ada yang berani melukai calon istrinya ini. Maka dia tidak akan membiarkan siapapun yang telah melukai Erlita, hidup begitu saja.


Erlita menggeleng pelan, dia memeluk Pendy dengan erat. "Aku takut, kenapa duniamu begitu menakutkan"


Pendy menghela nafas, dia mengecup puncak kepala Erlita. "Kamu kesini sama siapa? Dan mau apa datang kesini?"


"Aku mencarimu, kamu kemana  saja menghilang beberapa hari ini?"

__ADS_1


"Maaf ya, aku ada urusan sebentar jadi tidak sempat menghubungimu. Aku benar-benar sedang sibuk akhir-akhir ini"


"Kamu bawa mobil kesini?"


Erlita mengangguk dengan mata yang basah. Dia benar-benar ketakutan melihat perkelahian itu.


"Mana kuncinya?" Pendy menengadahkan tangannya, meminta Erlita memberikan kunci mobil padanya.


Setelah Erlita memberikan kunci mobil padanya, Pendy segera menggendong Erlita dan membawanya ke arah mobil Erlita yang terparkir disebrang jalan.


Pendy mendudukan Erlita di kursi penumpang, lalu dia mengitari mobil dan masuk ke kursi kemudi. Pendy menatap Erlita dengan khawatir. Dia mengelus kening gadis itu yang berkeringat dingin.


"Kita pulang ya. Lain kali kamu jangan pernah datang sendiri kesini. Karena tempat ini memang tidak aman untuk kamu"


"Aku mau kamu berhenti dan keluar dari geng motor itu!"


Pendy menghela nafas mendengar ucapan Erlita. Dia melihat gadisnya yang menatap ke arahnya dengan tatapan penuh permohonan. "Aku antar pulang ya, atau kamu mau kemana dulu?"


"Yaudah kalau kamu tidak mau keluar dari geng motor itu. Maka hubungan ini kita akhiri saja"


"Bunda..." Pendy mulai merengek seperti anak kecil saat dia mendengar ucapan Erlita barusan. Sungguh Pendy paling tidak mau berpisah lagi dengan Erlita. Tapi, untuk berhenti dari dunia yang dia tekuni selama bertahun-tahun ini, juga cukup berat bagi Pendy. "...Kita pulang dulu dan tenangkan diri kamu. Aku akan memikirkannya"


Erlita tidak menjawab lagi, dia memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil. Melihat pemandangan di luar jendela dengan mata yang berkaca-kaca. Erlita hanya takut jika Pendy akan terluka jika dia terus berada di dalam dunianya itu. Erlita tidak mau terus di landa khawatir setiap kali Pendy pergi, apalagi saat dia mengatakan pergi bersama teman-temannya.


"Bunda, udah dong jangan marah. Aku akan memikirkan semuanya"


Erlita benar-benar marah pada Pendy saat ini. Dia sama sekali tidak merespon ucapan Pendy. Hal itu membuat Pendy cukul frustasi dengan calon istrinya ini.


Sampai di rumah pun, Erlita langsung turun dan masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan keberadaan Pendy. Membuat pria itu hanya menghela nafas pelan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2