Mengejar Cinta Si Kembar

Mengejar Cinta Si Kembar
Ibu Yang Tidak Mengenalinya?


__ADS_3

Adriana merangkul lengan Erland ketika dia keluar dari restaurant. Tersenyum menatap wajah kekasihnya itu. Tidak menyangka jika Erland akan berlaku tegas seperti itu pada Yola. Adriana kira Erland akan luluh ketika Yola menatapnya, namun ternyata hati Erland memang sudah tidak mempunyai perasaan apapun pada Yola. Dan Adriana bersyukur karena saat ini dirinyalah yang menjadi pemilik hati Erland.


"Kenapa?" Erland merasa heran sendiri ketika Adriana terus menatap wajahnya dengan lekat.


Adriana menggeleng pelan, dia tersenyum masih dengan menatap wajah Eralnd. "Aku gak nyangka aja kalo kamu bisa setegas itu sama Kak Yola"


"Aku juga bisa tegas sama kamu kalau kamu berani bermain di belakang ku bersama pria lain"


Adriana tertawa mendengar nada dingin Erland saat mengatakan itu. "Sama Kak Pendy doang, dia udah terlalu baik sama aku. Masa aku berubah jadi memusuhi dia"


Erland langsung melepaskan rangkulan tangan Adriana di lengannya. Dia sedang merajuk, dia memalingkan wajahnya karena kesal dengan kekasihnya.


Adriana beralih posisi menjadi di depan Erland yang memalingkan wajahnya. Menatap Erland dengan senyumaan menggoda. "Kenapa si? Jangan gitu dong Kak, kamu itu harus lebih dekat dengan Kak Pendy. Pasti kamu bisa lebih dekat dengannya"


"Aku tidak suka melihat kau dekat dengan pria yang sudah membuat aku kesal"


Adriana menahan tawanya, dia merasa gemas melihat wajah Erland yang kesal dan juga cemburu itu. "Apa kamu sering kepanasan pas aku sama Kak Pendy dekat ya?"


Erland tidak menjawab, tapi memalingkan wajahnya. Dia tidak mungkin mengatakan jika dia memang merasa kesal saat melihat Adriana bersama Pendy. Apalagi ketika mereka terlihat begitu dekat.


Melihat itu, Adriana semakin tidak bisa menahan tawanya. Dia memeluk Erland dan tawanya pun pecah. "Hahaha. Makanya jangan suka sok dingin sama aku. Kalau suka ya bilang suka aja"


Erland mendengus kesal mendengarnya, memang dulu dia terlalu meninggikan gengsinya sampai dia harus sering kebakaran jenggot ketika melihat Adriana bersama Pendy.


"Awas saja kalau sekarang masih berperilaku seperti itu dengan pria itu. Merangkul tangannya, bahkan memeluknya saat naik motor berdua"


Adriana mendongak, dia menatap wajah kekasihnya itu dengan senyuman yang tidak pernah lepas dari wajahnya. "Iya, tapi untuk memusuhinya aku tidak bisa. Karena Kak Pendy baik padaku. Jadi tidak mungkin aku akan menjahuinya apalagi memusuhinya"

__ADS_1


Erland tidak menjawab, dia malah mengecup kening dan hidung Adriana. "Yuk masuk mobil"


Adriana mengangguk, mereka pun berjalan berdampingan menuju mobil Erland terparkir.


...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...


Di dalam ruangan VVIP Restaurant itu, Yola masih terdiam dengan dua gelas minuman soda di depannya. Dia merasa kecewa dengan keputusan Erland. Apalagi saat pria itu mengatakannya di depan Adriana.


Gadis yang dia temui semalam untuk menekan gadis itu agar melepaskan Erland. Namun, ternyata Erland malah mempermalukan dirinya di depan Adriana. Dengan penolakan yang dia berikan padanya tepat di depan gadis itu.


"Sial, kenapa dia memilih gadis itu daripada aku. Memangnya apa lebihnya dia daripada aku"


Yola meminum minumannya dengan sedikit kasar. Dia kesal dengan apa yang di lakukan Erland barusan. Dia mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.


"Kau bisa bantu aku untuk menyelidiki gadis bernama Adriana. Aku akan mengirim fotonya padamu"


Di tempat yang berbeda, Adriana baru saja sampai di tempat kerjanya. Masuk ke dalam mini market untuk mengganti shif pekerja disana. Adriana duduk di meja kasir untuk beristirahat sejenak, sebelum dia mulai mengecek beberapa barang yang harus di rapikan setelah beberapa pelanggan yang selalu menaruh barang seenaknya dan bukan di bagian tempatnya.


Meski sebenarnya masih ada hal lain yang harus Adriana pikirkan setelah hubungannya dan Erland terjalin. Tentang restu Papa, karena ucapan Papa waktu itu masih terngiang di telinga Adriana. Membuat dia terus kepikiran tentang bagaimana hubungannya dan Erland selanjutnya. Apa mungkin tetap akan terhalang restu? Entahlah..


Berjam-jam berlalu sejak dia masuk ke mini market tempatnya bekerja. Sudah cukup banyak pengunjung yang datang. Hingga sekarang sudah waktunya Adriana selesai jam kerja. Setelah dia mengunci pintu dan laci meja kasir. Adriana langsung naik angkutan umum menuju tempat kerja keduanya. Kedai ayam goreng yang menjadi tempat kedua dirinya mencari rupiah.


Sampai disana dia segera masuk dan membantu Ibu pemilik kedai mengantar pesanan atau menggoreng. Ketika suara seorang pelanggan membuat dirinya yang sedang membungkus ayam goreng untuk pesanan pelanggan lain, langsung menoleh ketika Adriana merasa sangat familliar dengan suara itu. Dan saat dia menatap dua orang tua yang berdiri di depan stand kedai ayam goreng untuk memesan. Adriana langsung mematung, bahkan dia sampai menjatuhkan jepit makanan di tangannya.


"Ma-Mama" lirihnya hampir tak terdengar.


Sama terkejutnya, Julia juga mematung di tempatnya. Dia tidak menyangka jika akan bertemu dengan anaknya di tempat seperti ini.

__ADS_1


"Sayang, apa tidak jadi pesan?" Seorang pria tua merangkul bahu Julia saat melihat wanita itu hanya diam tanpa mengatakan apa yang ingin dia pesan.


Adriana langsung menatap ke arah pria tua yang berdiri di samping Ibunya. Tak terasa air matanya mengalir begitu saja. Dia langsung menghapus air matanya dengan kasar.


"Emm. Aku tidak jadi pesan disini, kita cari makanan di tempat lain saja"


"Baiklah"


Adriana menatap tidak percaya pada Ibunya yang bahkan tidak menyapanya sedikit pun. Apa mungkin Ibunya telah lupa ingatan, sehingga dia tidak ingat dengan wajah anaknya sendiri. Atau memang dia tidak mau lagi mengingat anak yang dia terlantarkan ini.


Adriana mendongakkan wajahnya, menahan air mata yang siap meluncur lebih banyak. Adriana tidak boleh menangis sekarang. Dia harus tetap profesional di tempat kerja.


"Ri, kamu kenapa? Siapa Ibu tadi?"


Adriana menoleh, dia tersenyum pada Ibu pemilik kedai ayam goreng ini. "Tidak papa Bu. Riana juga tidak tahu mereka siapa. Tidak jadi beli kok"


"Yaudah tidak papa"


Meski perasaannya sangat kacau setelah bertemu dengan Mama, namun Adriana tetap mencoba untuk fokus pada pekerjaan agar dia tidak mengecewakan Ibu yang begitu baik telah memberinya pekerjaan ini. Sampai jam kerjanya selesai, Adriana hanya banyak diam.


"Riana pulang dulu, Bu"


"Iya Ri, makasih ya atas kerja kerasnya hari ini"


Di saat hatinya sedang kacau, Adriana memilih untuk berjalan kaki menuju rumahnya. Padahal jaraknya lumayan jauh. Tapi dia hanya ingin menenangkan perasaannya yang sedang kacau ini dengan menghirup angin malam dan membiarkan dirinya kelelahan agar bisa melupakan semua yang telah terjadi tadi.


Ada rasa sesak yang tidak bisa dia luapkan, Adriana tetap menahan diri untuk tidak terlihat lemah di depan banyak orang. Di depan Papa dan Kakaknya pun, dia selalu menjadi sosok yang ceria. Padahal kenyataannya, hatinya terluka. Dirinya sangat rapuh. Namun dia hanya mencoba tegar di depan banyak orang. Adriana tidak mau di anggap lemah.

__ADS_1


Tuhan, kuatkan Riana agar bisa menghadapi semua ini.


Bersambung


__ADS_2