
"Terima kasih sudah menjadi Papa terbaik dalam hidupku"
Adriana mengelus batu nisan di depannya, meski sudah beberapa bulan berlalu. Namun kesedihan itu masih ada, dia mendongak dan tersenyum pada Kakaknya yang juga berjongkok di depan batu nisan Papa di sebrang sana.
"Papa tenang saja, Tyas pastikan Adriana akan baik-baik saja disini"
Kedua Kakak beradik ini harus merelakan kepergian Ayah mereka sejak beberapa bulan lalu. Setelah Papa dan Adriana pindah ke kota ini, kesehatan Papa mulai terganggu hingga baru beberapa bulan tinggal di kota ini, Papa jatuh sakit dan meninggal.
Adriana menghela nafas, dia berdiri dan mengulurkan tangannya pada Tyas. "Ayo Kak kita pulang. Kasihan Gweny menunggu dirumah bersama Papanya"
Tyas tersenyum, menerima uluran tangan adiknya. "Iya Dek"
Kedua Kakak beradik ini berjalan menjauh dari wilayah pemakaman. Meninggalkan tempat peristirahatan terakhir Ayah mereka. Semuanya sudah harus mereka ikhlaskan. Terutama bagi Adriana, di saat paling terberat dalam hidupnya. Orang yang paling dia jadikan sebagai sandaran, ternyata harus meninggalkan dia untuk selamanya. Namun saat Adriana hanya mencoba menerimanya dan memperlihatkan jika dirinya baik-baik saja.
Masuk ke dalam rumah kontrakan sederhana, mereka melihat Ganesh yang sedang memangku Gweny. Gadis kecil itu sudah berusia satu tahun lebih. Sudah bisa berjalan dan berceloteh. Sangat menggemaskan.
"Mas, jangan biasakan Gweny main hp dong ah"
Ganesh menoleh pada istrinya, tersenyum pada Tyas. "Maaf Sayang, abisnya dia rewel, jadi aku berikan hp saja biar diam. Cuma nonton kartun kok Sayang"
Tyas menghela nafas, memang begitulah jika suaminya mengasuh anak mereka. Selalu mengambil jalur cepat agar anaknya diam dan anteng.
"Sini Gwen, mimi dulu"
Gweny langsung merentangkan tangannya pada Ibunya yang duduk disamping Ayahnya itu. Tyas mengambil alih Gweny dari pangkuan suaminya dan segera memberinya asi dengan kain penutup yang dia pasangkan sebelumnya.
Suaminya tidak akan pernah membiarkan istrinya memberikan asi pada anaknya di depan orang lain. Meski disana hanya ada Adriana, dia juga perempuan. Tapi tetap saja, suami posesif ini tidak akan membiarkannya.
Adriana ikut duduk di sofa tunggal yang ada disana. Tersenyum melihat keharmonisan keluarga kecil Kakaknya ini. Adriana selalu merasa bersyukur karena Kakak yang dulu pernah dia sakiti, kini telah hidup bahagia bersama suaminya.
"Emm. Kak, apa masih tidak ada kabar?"
Ganesh menatap Adriana dengan rasa bersalah yang besar. Bahkan setiap Adriana bertanya seperti itu, maka tatapan matanya terlihat sayu dan penuh dengan kesedihan.
"Belum Dek, kalau sudah ada kabar mungkin Kakak Ipar kamu juga akan bicara pada Kakak. Bahkan keluarganya saja tidak mengatakan apapun saat kembali kesini. Saat acara pernikahan Erlita"
Ya, Erlita telah menikah dengan pria bernama Linux. Pria asal luar negara yang entah kenapa bisa tiba-tiba menikah dengannya.
Ganesh hanya terdiam mendengar ucapan istrinya. Dia tahu jika istrinya akan selalu percaya padanya. Tapi kali ini Ganesh benar-benar sedang menodai kepercayaan istrinya. Tapi semua ini juga dia lakukan karena terpaksa.
__ADS_1
Adriana terdiam, entah kenapa dia masih menanyakan hal yang sudah sering dia dengar jika jawabannya pasti sama. Satu tahun ini benar-benar tidak bisa membuat Adriana melupakannya. Sosok Erland yang pergi dan memutuskan hubungan dengannya tanpa alasan yang jelas.
...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...
"Jadi bagaimana? Apa kau tidak mau menemuinya?"
Erlita menatap saudara kembarnya dengan prihatin. Sangat tidak tega ketika dia melihat keadaannya yang sekarang. Sudah satu tahun berlalu. Namun dia masih seperti ini. Belum bisa menerima kondisinya.
"Kenapa kau menikah dengan Linux?"
Pertanyaan yang sebenarnya sangat Erlita hindari. "Ya, karena aku mencintainya"
"Jangan berbohong padaku Lit, aku tahu jika bukan dia yang kamu cintai"
Erlita menghembuskan nafas berat, dia berjalan ke arah tempat tidur. Menidurkan tubuhnya disana dengan menatap langit-langit kamar. "Jika kau tahu soal itu, maka aku mengaku Linux karena terpaksa"
"Karena apa?"
"Karena...."
"A-paa?"
"Menikah denganku, maka aku siap mendonorkan ginjalku untuk saudara kembarmu. Kau tahu sendiri diantar semua anggota keluarga tidak ada yang ginjalnya cocok dengan Erland, dan aku sudah periksa dan cocok untuknya. Jadi, kamu harus segera mengambil keputusan"
Rasanya Erlita benar-benar ingin menangis saat ini juga. Dimana saudara kembarnya baru saja mengalami kecelakaan beberapa bulan lalu, dan sekarang baru ditemui jika akibat kecelakaan itu membuat salah satu ginjalnya rusak parah. Bahkan sampai membuat Erland sempat tidak sadarkan diri karena kesehatannya yang semakin memburuk.
"Tapi aku tidak mencintaimu"
"Aku juga tidak mencintaimu, aku hanya ingin menunjukan pada Arga jika aku bisa memiliki apa yang dia inginkan"
Deg..
Arga? Siapa Arga?
Namanya adalah Arga Pendynan.
Dan Erlita mengingat satu nama yang menjadi sosok pria yang bisa membuat dirinya merasa nyaman di dekatnya.
"Memangnya ada urusan apa kau dengannya? Dan kenapa kau bisa tahu jika kita saling kenal?"
__ADS_1
"Karena aku selalu mengawasinya, wanita mana saja yang dekat dengannya aku tahu"
Mungkinkah jika kejadian Pendy dan Adriana waktu itu juga ulahnya.
"Ya, semua itu adalah ulahku"
Erlita bergetar, dia merasa berada di depan seorang pembunuh bayaran. Sangat kejam dan tak berperasaan.
"Jadi bagaimana? Kau sudah tidak punya banyak waktu"
Erland, ini emang demi dia. Aku tidak mau kehilangan saudaraku.
"Baiklah, aku akan menikah denganmu. Tapi dalam waktu yang aku tentukan"
"Baik"
"Satu tahun menikah, kita harus cerai. Karena aku tidak mencintaimu dan kau pun tidak mencintaiku"
"Oke, aku tidak peduli soal itu. Aku hanya ingin membuat Arga sakit hati dan terluka saja, ketika melihat kita menikah"
Dan itulah alasannya kenapa pernikahan Erlita dan Linux diadakan di tanah air. Pendy juga datang ke acara pernikahan itu.
...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...
"Hei, karena apa?"
Erlita mengerjap kaget, dia menatap Erland yang duduk di kursi roda. Merasa jika keadaannya saat ini telah merubah sosok Erland. "Karena dia tampan, jadi aku mau menikahinya. Masalah cinta bisa belakangan, yang penting dia Yang mengajak aku menikah untuk pertama kali"
Bukan! Pendy yang pertama kali mengajak aku menikah. Tuhan, nyatanya aku masih merindukan dia.
Erland menekan tombol di pegangan kursi rodanya untuk mendekat pada Erlita. "Semoga suatu saat nanti, kau akan bahagia bersama pria yang kamu cintai"
"Kamu juga Land, aku rasa Adriana masih menunggumu"
Erland menggeleng, sampai saat ini dia tidak berani menemui Adriana ataupun memberinya kabar. "Lihatlah kondisiku sekarang Lit, aku hanya akan menjadi beban untuknya"
Tak bisa berkata-kata lagi, keduanya hanya diam dengan pikiran masing-masing. Tentang masalah yang mereka hadapi saat ini. Sungguh tidak mudah.
Bersambung
__ADS_1