Mengejar Cinta Si Kembar

Mengejar Cinta Si Kembar
Tidak Akan Membiarkanmu Teraskiti


__ADS_3

"Cukup!"


Sura bariton penuh penekanan itu membuat semua orang yang ada disana menoleh ke arah pintu lift yang terbuka. Erland keluar dari sana dengan Riki yang mendorong kursi rodanya. Menatap tajam pada semua orang yang berani menghina istrinya sampai sekarang, Adriana hanya diam menunduk dengan tubuh yang bergetar.


"Siapa kalian semua sampai berani menghina istriku?"


Semuanya langsung terkejut saat Erland mengakui jika Adriana adalah istrinya. Mereka semua ketakutan karena telah berani menghina istri dari bos besar di perusahaan ini.


"Aku tanya, siapa kalian sampai berani menghina istriku?!" Pertanyaan Erland yang semakin penuh penekanan.


Riki mendorong kursi roda Erland mendekati Adriana yang hanya berdiri diam di tempatnya. Gadis itu sedang sangat malu dengan semua orang. Ketika teman sekolahnya dulu, malah membongkar tentang kehidupan dirinya.


"Ayo pergi Ki, Sayang ikut aku"


Adriana hanya mengikuti, Erland menuju lift. Masuk ke dalam lift. "Ki, kau urus mereka semua"


"Baik"


Kini di dalam lift hanya ada Erland dan Adriana. Lift masih bergerak menuju lantai dimana ruangan Erland berada. Erland menatap istrinya yang hanya diam, terdengar sesekali helaan nafas panjang dari Adriana. Erland meraih tangan Adriana dan menggenggamnya, membuat gadis itu langsung menoleh ke arahnya.


"Honey, maaf ya. Aku terlambat datang. Tadi aku masih ada meeting, jadi aku tidak sempat mengangkat teleponmu"


Adriana mengangguk, dia tersenyum pada suaminya meski senyuman itu terlihat cukup di paksakan. "Tidak papa, aku baik-baik saja. Lagian wajar saja jika mereka tidak percaya kalau aku adalah istrimu"


"Aku akan mengurus semuanya. Kau tenang saja, siapa gadis yang tadi menghinamu itu? Aku juga baru melihatnya, sepertinya dia adalah karyawan yang di rekrut baru saat aku tidak masuk ke kantor?"


"Dia..."


"Katakan siapa dia? Kau jangan terus menutupi setiap orang yang meyakitimu. Kau tahu, aku tidak akan pernah rela istriku terluka, apapun alasannya!"


Adriana menghela nafas pelan. Dia menyimpan paper bag yang di bawanya di atas pangkuan Erland. "Aku membawa makan siang untukmu"


Pintu lift terbuka, dan Adriana segera mendorong kursi roda Erland keluar dari dalam lift. Di ujung sana dia sudah melihat tulisan ruangan Erland. Presdir perusahaan ini.


"Honey, cepat katakan siapa dia?"


Adriana menghela nafas, ternyata caranya mengalihkan pembicaraan, tetap tidak berhasil membuat Erland untuk tidak terus menanyakan tentang kejadian tadi.


"Sebenarnya dulu aku dan dia adalah teman dekat. Kita selalu bersama-sama kemana pun. Tapi, setelah orang tuaku bangkrut dan jatuh miskin. Dia menghilang entah kemana? Dan aku juga terkejut saat melihat dia yang ada disini. Di kantormu"

__ADS_1


"Ohh, jadi dia adalah teman disaat kamu senang. Tapi menjadi musuh di saat kamu susah"


Adriana tersenyum mendengarnya, dia membuka pintu ruangan Erland dan mendoorong masuk kursi roda yang di duduki Erland ke dalam ruangannya.


"Mungkin memang begitu"


Adriana menghentikan kursi roda Erland di depan sofa. Lalu dia duduk di atas sofa, menatap suaminya dengan senyuman. Mengambil paper bag yang berada diatas di pangkuan Erland.


"Sekarang ayo kita makan siang bersama"


Erland melengos kesal, dia tidak suka jika istrinya itu terlalu banyak mengalah pada orang-orang yang selalu menyakitinya.


"Aku tetap akan melakukan sesuatu pada gadis itu. Membuat dia jera dengan semua yang telah dia lakukan padamu"


"Sayang..." Adriana meraih tangan Erland dan menggenggamnya. Menatap mata pria itu dengan lekat. "...Jangan membalas apapun, biarkan saja mereka melakukan apa yang ingin mereka lakukan. Aku tidak bisa menghapuskan masa lalu dalam hidupku. Jadi biarkan saja mereka merasa puas dengan apa yang mereka lakukan padaku"


"Tidak Adriana! Aku tetap tidak akan membiarkan kamu tersakiti oleh siapapun. Tidak peduli siapa kamu di masa lalu, tapi mereka tidak berhak untuk menghakimi kamu yang sekarang telah benar-benar berubah.


Adriana menghela nafas, dia tidak bisa melarang apa yang Erland ucapkan barusan. Dia sudah tidak bisa membantahnya lagi. Adriana mengambil kotak makanan yang dia bawa dan satu sendok.


"Yaudah, sekarang kamu makan ya" Adriana menyuapi Erland dengan lembut. Sudah seperti seorang Ibu yang menyuapi anaknya saja.


Erland mengangguk. "Tentu saja, semua masakan istriku selalu enak. Terima kasih Sayang"


"Iya sama-sama"


Mereka makan siang dengan tenang tanpa memikirkan lagi hal yang terjadi pada Adriana tadi.


Riki masuk di waktu yang tidak tepat sepertinya. Melihat sepasang suami istri yang saling menyuapi makanan. Membuat jiwa jomblonya meronta.


"Ck. Bisa nanti saja mesra-mesraannya"


Erland mendelik tajam pada Riki yang baru saja masuk ke dalam ruangannya. "Mau apa kau kesini? Mengganggu saja!"


"Ck. Aku kesini untuk memberikan laporan, jika gadis yang tadi menghina Adriana sudah aku urus pemberhentian bekerjanya. Dia juga baru bekerja tiga bulan yang lalu disini, eh sudah membuat masalah saja"


"Sekalian blackist dia dari semua perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaan ini dan GE. Biarkan dia susah mencari pekerjaan"


"Baik"

__ADS_1


Riki merinding sendiri melihat ketegasan Erland pada orang yang berani mengganggu istrinya. Sebesar itu cinta Erland, hingga dia tidak akan rela jika ada yang menganggu istrinya.


"Yasudah, aku keluar dulu ya. Oh ya, senang melihat kamu kembali"


"Jaga matamu!"


Riki memutar bola mata malas, Riki hanya menatap Adriana dengan sewajarnya. Tidak ada niat apapun, tapi si suami posesif selalu menganggap semua pria yang menatap istrinya dengan hal lain.


"Terima kasih sudah menjaga Kak Erland selama ini Kak. Senang juga bisa bertemu kembali denganmu"


"Cepat keluar kau, kenapa masih disini?"


"Ya ampun, iya iya aku keluar sekarang"


Riki keluar dari ruangan Erland dengan menggelengkan kepala heran dengan sikap posesif Erland. Namun, setelah dia menutup pintu, Riki tersenyum. Ikut bahagia melihat Erland yang kembali bersama dengan wanita yang dicintainya.


"Sayang, kenapa sampai segitunya. Kamu tidak perlu sampai memecat dia"


Erland menatap istrinya dengan kesal, Adriana memang sudah berubah. Tapi tidak harus terus mengalah seperti itu pada setiap orang yang menindasnya.


"Aku akan memberikan pelajaran pada siapapun yang berani menganggu kamu"


Adriana tidak membantah lagi, dia membereskan bekas makan mereka dan memasukannya kembali ke dalam paper bag. "Sayang, aku pulang sekarang ya?"


"Tidak! Kau pulang nanti sore bersamaku"


"Terus aku ngapain dong disini? Hanya diam saja dan melihatmu bekerja?"


"Kau boleh istirahat di sana" Erland menunjuk sebuah pintu yang berada disana. Itu adalah ruang istirahat Erland selama bekerja.


"Tidak mau, aku menunggu kamu disini saja kalau kamu mau lanjut bekerja"


Erland mengelus kepala Adriana dan mengecup keningnya. "Yaudah aku bekerja dulu ya"


Erland melajukan kursi rodanya menuju meja kerja dia. Kembali bekerja dengan memeriksa beberapa berkas yang cukup banyak menumpuk di atas meja kerja.


Adriana hanya menatap suaminya yang terlihat semakin tampan dengan wajah serius itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2