Mengejar Cinta Si Kembar

Mengejar Cinta Si Kembar
Membencinya Bersama Pria Lain


__ADS_3

Pagi ini Adriana baru saja turun dari dalam angkutan umum. Berjalan masuk ke dalam kampus dengan hati yang senang. Dia selalu bahagia ketika berangkat ke kampus, karena sebentar lagi dirinya akan bertemu dengan Erland. Pria yang dia kagumi selama ini.


Berajalan menyursuri lorong kampus, dengan semangat yang mengumbara. Tersentak kaget saat ada sebuah tangan yang mencekal lengan kirinya dari arah lorong yang dia lewati.


Adriana menoleh dan menatap pria yang mencekal tangannya dengan bingung. Namun beberapa detik kemudian, Adriana tersenyum tipis, saat melihat pria yang selalu dia kagumi sampai saat ini. Meski pria itu tetap tidak bisa menatap dirinya sebagai seorang perempuan. Bukan hanya sebatas pembantunya saja.


"Ada apa Kak? Mau aku bawain tas Kakak lagi"


Erland tidak bergeming, dia tetap menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan. Entah kenapa Erland masih merasa kesal dengan kejadian semalam di mini market tempat Adriana bekerja. Seolah bayangan saat seorang pria yang menemui Adriana menjadi bayangan yang terus menghantui pikirannya.


"Semalam kau bersama siapa?"


"Sendiri, memangnya aku bersama siapa? Kan aku tidak mempunyai pacar, karena aku berharap Kakak yang menjadi pacarku" kekeh Adriana di akhir kalimatnya, dia memang mengharapkan itu. Tapi dia juga tidak seberani itu untuk memaksa Erland agar mau menjadi pacarnya.


"Saat di mini market?"


Pertanyaan Erland ini malah semakin membuat Adriana bingung. Memangnya apa yang terjadi saat dia bekerja di mini market. Rasanya tidak ada yang aneh.


"Memangnya apa yang terjadi di mini market? Aku memang bertemu banyak orang disana, kan pengunjung mini market banyak"


Erland mendengus, lalu berpaling dari tatapan Adriana padanya. "Sudahlah, aku ingin sarapan. Kau belikan aku sarapan"


"Oke, memangnya Kakak mau sarapan apa? Biar aku belikan"


"Apa saja, kau cari di kantin. 10 menit lagi aku tunggu di ruang musik. Jika kau terlambat, maka habis kau!"


Erland segera pergi dari sana, meninggalkan Adriana yang kebingungan dengan sikapnya. "Dia memang dingin, kenapa aku harus aneh dengan sikapnya ini"


Adriana berjalan cepat menuju kantin. Waktu 10 menit tidak akan cukup untuk dirinya membelikan sarapan untuk Erland. Tapi, Adriana tetap harus berusaha. Saat sampai di kantin kampus, Adriana harus menghela nafas berat saat suasana kantin yang penuh. Entah orang-orang memang tidak sarapan dari rumah, hingga harus mengantri untuk membeli sarapan yang mereka inginkan.


"Aduh.. Antri dong"


Adriana hanya menggaruk tengkuknya, lalu keluar kembali dari antrean. Adriana berniat menyalip antrean tapi malah kena semprot orang-orang yang sudah mengantre sejak tadi.

__ADS_1


"Sini Ri, ambil antrean aku saja"


Adriana menoleh pada sumber suara. Dia terbelalak kaget saat tahu siapa orang yang memanggilnya itu. Dia adalah Pendy, pria aneh yang meminta nomor ponselnya saat di mini market. Adriana langsung mendekat padanya, dia tidak menyangka jika benar-benar akan bertemu lagi dengan pria itu di kampusnya.


"Kamu ngapain disini?"


"Aku mahasiswa baru disini. Kenapa? Apa kau terkejut karena bertemu lagi denganku?"


"Tentu aku terkejut. Kau tidak sedang menguntit 'kan?"


Pendy tertawa mendengarnya. "Menguntit apanya? Jika memang kita sudah takdir untuk di pertemukan kembali"


Adriana hanya mendengus kesal mendengarnya. Ketika pelayan kantin memberikan satu kotak berisi salad dan satu minuman pada Pendy.


"Ini.." Pendy menyerahkan kotak makanan dan minuman di tangannya pada Adriana. "...Kau ambil saja punyaku, biar aku pesan yang lain"


Adriana menatap jam tangannya, dia sudah terlambat 3 menit. Jadi harus segera memberikan Erland sarapan. Namun saat dia ingin mengambil kotak makanan dan minuman itu. Pendy langsung menjauhkannya, membuat Adriana menatap pria itu dengan bingung.


"Katanya untuk aku"


"Kompensasi apa? Aku benar-benar buru-buru"


"Berikan nomor ponselmu, sebagai kompensasi untukku"


Adriana tidak bisa lagi menghindar, jika semalam dia masih berhasil untuk menahan nomor ponselnya. Tapi pagi ini sepertinya dia harus mengalah.


"Yaudah mana ponselmu"


Pendy tersenyum tipis, dia memberikan cup minuman pada Adriana lalu mengambil ponselnya dari saku jaket. Memberikannya pada Adriana. Gadis itu segera menuliskan nomor ponselnya di ponsel milik Pendy.


"Nih.. Cepat sinikan makanannya..." Adriana ingin mengambil kotak makanan di tangan Pendy, tapi langsung di jauhkan oleh pria itu. Seolah Adriana tidak boleh mengambil makanan di tangannnya. "...Apaan si? Kan aku sudah memberikan nomor ponselku. Kenapa masih tidak boleh ambil makanannya. Aku ganti kok uang kamu untuk bayar makanan ini"


"Aku harus memastikan dulu jika ini adalah nomor ponselmu yang asli" Pendy menelpon nomor ponsel yang baru saja Adriana save di ponselnya. Dan langsung terdengar dering ponsel di dalam tas Adriana.

__ADS_1


"Tuhkan, aku tidak mungkin membohongimu"


Pendy mengangguk, dia tersenyum menatap Adriana. Gadis itu memang benar-benar gadis jujur. "Yasudah, nih makanannya"


Adriana langsung mengambil kotak makanan dari tangan Pendy dengan senyuman. Akhirnya dia bisa mendapatkan sarapan untuk Erland tanpa harus mengantri terlalu lama.


"Terima kasih, aku akan bayar nanti ya"


Adriana berbalik dan terkejut saat melihat seseorang yang berdiri tegap tidak jauh darinya. "Kak, ini makanannya"


Prakk...


Adriana terkejut saat Erland menepis kasar makanan di tangan Adriana hingga terlempar dan jatuh terburai di atas lantai. Semua yang ada disana juga sangat terkejut dengan apa yang di lakukan Erland. Namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa, karena mereka tidak akan berani melawan Erland. Si ter-dingin di kampus ini.


Adriana menatap dua potong sandwicth itu dengan tatapan sedih. Perjuangannya benar-benar tidak di hargai oleh Erland.


"Kau sudah membuat aku menunggu, aku menyuruhmu membelikan aku sarapan. Bukan malah bercengkrama dengan orang lain" tatapan Erland tertuju pada Pendy..


"Tolong jangan kasar pada perempuan" Pendy langsung angkat bicara, dia berjalan mendekati Adriana. Berdiri di samping gadis itu dengan menatap Erland yang berdiri di depannya dengan tatapan santai. Pendy tidak merasa takut sama sekali dengan tatapan dingin pria di depannya ini.


"Kau jangan ikut campur pada urusanku!" Tekan Erland pada setiap kata yang terucap dari bibirnya.


Pendy tersenyum tipis, dia semakin berani menatap Erland. Tanpa takut sedikit pun. "Memangnya kenapa jika aku ikut campur? Apa yang kau lakukan sudah keterlaluan pada Adriana. Memangnya apa salah dia sampai kau mempermalukannya di depan banyak orang seperti ini?"


"Kau!"


Pendy menggandeng tangan Adriana dan membawa gadis itu pergi dari sana. Hal itu membuat Erland menatapnya dengan dingin, kedua tangannya mengepal erat di kedua sisi tubuhnya.


Sial. Aku hanya membenci melihatnya bersama pria lain. Aku tidak marah karena dia yang telat membelikan aku sarapan. Sial.. Pria itu benar-benar sedang memancing emosiku.


Bersambung


Ada cerita temanku lagi nih.. yuk mampir.. ceritanya sangat bagus. 

__ADS_1



__ADS_2