
Saat Adriana telah pergi ke kamar mandi, tiba-tiba ada beberapa wanita yang menghampirinya. Erland hanya memasang wajah datar dan dinginnya.
"Em. Ini Tuan Erland ya? Erland Aditama?"
Sudah di duga jika para wanita ini memang mengetahui tentang Erland. Jika tidak, mana mungkin mereka mau menghampiri pria lumpuh yang duduk di atas kursi roda seperti Erland.
"Maaf, saya sedang menunggu istri saya. Kalian bisa pergi, karena sangat mengganggu saya"
Tiga orang wanita itu langsung mendengus kesal saat jelas sekali mendapat penolakan dari Erland. Mereka pun pergi tanpa mencoba untuk mendekati Erland lagi.
"Wanita-wanita murahan, tidak akan sebanding dengan istriku"
Erland sudah tidak akan tergoda dengan wanita mana pun, karena dia sudah memiliki Adriana yang lebih dari kata sempurna untuknya.
"Silahkan makanannya Tuan"
Seorang pelayan datang dan menata makanan di atas meja Erland. Setelahnya dia segera pergi.
"Kemana Adriana, kenapa lama sekali?"
Erland mulai mencemaskan istrinya yang tidak kunjung kembali dari toilet. Melihat arloji yang melingkar di tangannya, sudah hampir setengah jam Adriana berada di kamar mandi dan belum juga kembali sampai saat ini.
Sementara di toiler mall, Adriana sedang bersusah payah berdiri. Dia baru saja bertemu dengan teman sekolahnya dulu. Tepatnya gadis yang pernah dia bully saat sekolah dulu. Dan sekarang gadis itu bersama teman-temannya sedang membalasakan dendamnya di masa lalu.
Adriana kalah jumlah, dua orang yang memegangi kedua lengannya dan gadis yang pernah dia bully memukul wajahnya beberapa kali dan menjambak rambutnya hingga sekarang kondisi Adriana benar-benar berantakan. Adriana keluar dari toilet, mencuci wajahnya di wastaffel. Dan mulai merapikan rambutnya. Meski sudut bibirnya terasa sakit akibat tamparan keras gadis tadi.
Tes..
Air mata menetes begitu saja di pipinya, Adriana sadar jika ini adalah balasan kejahatannya di masa lalu. Seandainya dia tidak pernah membully gadis itu, mungkin hari ini tidak akan terjadi. Namun apa yang bisa di lakukan ketika semuanya hanya tinggal penyesalan. Waktu tidak akan bisa berputar kembali ke masa lalu.
"Ini salah kamu sendiri, jadi jangan menyalahkan mereka"
Adriana mengusap air matanya dengan kasar. Setelah di rasa penampilannya lebih baik, baru Adrian keluar dari toilet dan segera menemui suaminya yang pasti akan menunggunya.
__ADS_1
"Sayang maaf ya lama, di toilet antri"
Erland menatap wajah istrinya yang menunduk, seolah sengaja menutupi sesuatu dengan rambut panjangnya. "Honey, ada apa?"
"Tidak ada, ayo makan aku lapar sekali"
Adriana segera memakan makanannya, namun baru suapan pertama dia sudah meringis karena sudut bibirnya yang terasa sakit.
"Honey, kenapa?" Suara Erland sudah naik satu oktaf, dia tahu jika ada yang tidak beres dengan istrinya ini.
Adriana mendongak, dan tentu saja Erland terkejut melihat kedua pipi istrinya yang merah dengan sudut bibir yang terluka.
"Siapa yang melakukan ini?"
Adriana menggeleng pelan, dia mencoba tersenyum meski sedikit kaku karena sudut bibirnya yang terasa sakit. "Tidak papa, ini bukan apa-apa dan bukan kesalahan siapa-siapa"
"Honey, siapa yang melakukan itu padamu? Kau jangan menganggap enteng masalah seperti ini. Kamu sudah terluka seperti ini, semuanya sudah termasuk tindakan kriminal"
"Sudahlah ayo makan, setelah itu kita pulang"
Melihat itu membuat Adriana menghela nafas pelan, dia meraih tangan Erland dan menggenggamnya. "Sayang, sudah ya. Semuanya juga kesalahanku. Karena kejahatan aku di masa lalu, semuanya adalah balasan untuk aku"
Erland tidak menjawab, dia bahkan tidak jadi makan siang. Selera makannya langsung hilang saat melihat keadaan istrinya. Akhirnya Adriana memutuskan untuk membawa suaminya pulang, setelah dia selesai makan. Sudah dapat di pastikan jika mood pria itu berubah buruk sekarang.
Masuk ke dalam mobil dengan di bantu oleh supir. Erland masih mendiamkan Adriana, dia kesal pada Adriana karena tidak mengatakan apa yang sebenarnya terjadi sampai wajahnya memerah seperti itu. Namun, Erland lebih marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa melakukan apapun. Bahkan Erland merasa sangat tidak berguna sebagai suami Adriana.
"Sayang, sudah dong jangan cemberut terus" Adriana bersandar di dada Erland, memeluknya dengan nyaman. Mencoba meluluhkan suaminya yang sedang kesal itu.
"Siapa yang melakukannya? Lihat..." Erland mengelus pelan pipi Adriana yang masih ada bekas memerah disana. "...Pipi kamu sampai merah seperti ini"
"Tidak papa kok, aku dulu bahkan lebih dari ini melakukannya pada mereka"
"Mereka? Jadi lebih dari satu orang? Honey, siapa yang melakukannya?"
__ADS_1
Adriana menghela nafas, dia meraih tangan Erland dan menggenggamnya. Lalu mengecupnya dengan lembut.
"Mereka teman sekolah aku dulu, dan ya..." Adriana menghela nafas pelan. "Mereka adalah korban bully aku dulu, jadi yang terjadi saat ini adalah bentuk balasan mereka untuk apa yang aku lakukan dulu"
Erland menghela nafas pelan, dia mengelus kepala istrinya dan mengecupnya. Dia tahu jika Adriana memang berperilaku kurang baik di masa lalu. Tapi, sekarang dia benar-benar sudah berubah. Seharusnya orang-orang itu melihat perubahan Adriana yang sekarang, bukan selalu mengingat tentang keburukan Adriana di masa lalu.
"Sabar ya, aku yakin suatu saat nanti mereka akan melihat perubahanmu ini"
Adriana mendongak, menatap Erland dengan tersenyum meski sudut bibirnya terasa ngilu saat dia tersenyum seperti itu. "Iya Sayang, tidak papa kok. Karena kejadian hari ini membuat aku sadar, jika apa yang aku lakukan dulu, begini rasanya. Mereka juga pasti merasakan hal yang sama"
Erland mengecup kening istrinya, rasanya dia begitu merasa bangga pada istrinya. Adriana bisa berubah begitu drastis.
"Honey, aku tahu kamu telah berubah dan pasti semuanya akan ada hikmahnya"
"Iya Sayang"
...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...
Sampai di rumah Erland langsung meminta Adriana untuk membawa air hangat ke dalam wadah. Dia mengompres pelan pipi Adriana yang memerah itu. Sedikit meringis saat melihat sudut bibir istrinya yang terluka.
"Aww.." Adriana sedikit meringis saat Erland mengompres bagian sudut bibirnya.
"Maaf Honey, sakit ya. Sampai separah ini, memangnya mereka menampar kamu sampai berapa kali?"
Adriana menggeleng, dia tidak ingat berapa kali mereka menamparnya. Karena bukan hanya sekali saja.
Erland mendengus kesal, rasanya dia ingin memukul balik orang-orang yang berani menampar istrinya itu. "Siapa nama mereka, berani sekali melukai istriku. Aku bisa saja menghancurkan hidup mereka"
Adriana mengelus pipi suaminya, mengecup bibirnya dengan pelan. "Sayang, sudah ya. Jangan balas apapun pada mereka. Karena semua ini adalah sebuah balasan untuk aku"
Karena tidak ada balasan yang harus di balas.
Adriana sadar akan itu, tentang dirinya di masa lalu yang jauh dari kata baik. Adriana yang suka sekali membully orang-orang lemah, hingga mereka selalu ketakutan ketika melihat Adriana. Merasa dirinya paling kaya dan segalanya. Namun, sekarang Tuhan telah menjatuhkan hidupnya sejatuh-jatuhnya. Bersyukurnya karena dengan semua cobaan ini, telah membuat Adriana berubah menjadi sosok Adriana yang sekarang.
__ADS_1
Aku tidak pernah menyesal dengan semua yang telah terjadi. Karena semuanya adalah takdir Tuhan.
Bersambung