Mengejar Cinta Si Kembar

Mengejar Cinta Si Kembar
Rahasia Erlita Yang Baru Diketahui


__ADS_3

Erlita mengendarai mobilnya menuju butik milik sepupunya, Gezia. Adiknya Ganesh. Dia bekerja disana sebagai model busana muslimah. Dia mau saja karena sebagai mengisi waktu luang.


Namun saat di perjalanan, Erlita tidak sengaja melihat suaminya yang sedang berkelahi dengan seorang pria. Terlihat mereka yang saling melempar pukulan keras. Hal itu membuat Erlita langsung menghentikan mobilnya di pinggir jalan, dia berlari ke arah mereka yang berkelahi di sebuah halaman Restaurant.


"Ini ada apa?" Erlita terkejut saat dia melihat siapa pria yang sedang berkelahi dengan suaminya itu. "...Pe-Pendy?"


"Sudah, kalian ini apaan si pake berantem disini. Malu sama orang lain"


Erlita mencoba menghalau pertengkaran itu, namun malah dia yang terkena pukulan dari suaminya sampai terjatuh ke atas tanah. Erlita meringis kesakitan sambil memegangi pipinya.


"Makanya jangan ikut campur, jadi wanita lemah juga!" Bental Linux padanya.


Mendengar itu benar-benar membuat Pendy tidak bisa lagi menahan diri. Dia menendang tubuh Linux sampai di terjatuh di atas tanah. Pendy menindih tubunya, memukuli wajahnya dengan penuh emosi. Dia tidak akan pernah membiarkan siapapun melukai wanitanya.


"Lo berani bicara seperti itu pada istri lo sendiri, sialan. Bang*sat lo"


Dengan penuh emosi Pendy memukul wajah Linux sampai pria itu benar-benar tidak bisa lagi melawan. Dia terkapar di atas tanah. Erlita benar-benar tidak bisa melakukan apapun, dia ketakutan melihat bagaimana Pendy murka pada Linux. Emosi pria itu benar-benar tidak bisa ditahan lagi.


Pendy berdiri dan menatap Linux yang terkapar di atas tanah. Menendang perutnya sekali lagi sebagai ucapan perpisahan dari Pend. "Pergi lo, jangan berani melawan gue kalo lo belum benar-benar siap! Untung gue masih kasihan sama lo, gue gak sekalian bunuh lo"


Erlita beringsut ketakutan saat melihat Pendy berjalan mendekat ke arahnya. Dia sangat takut melihat emosi pria itu. Baru kali ini Erlita melihat sisi lain dari Pendy, pria itu benar-benar sangat menyeramkan saat benar-benar murka.


Hiks..Hiks..


Pendy berjongkok di depan Erlita dan memeluk gadis itu dengan erat. Tubuh Erlita begitu bergetar, pasti dia akan sangat ketakutan melihat sisi iblis dalam dirinya barusan.


"Jangan takut, aku tidak akan melukai wanita yang aku cintai"


Deg..


Erlita hanya diam dalam pelukan Pendy, isakan kecil masih terdengar. Sampai saat ini ternyata Pendy masih mencintainya. Masih menyimpan perasaannya untuk Erlita. Pendya menuntun Erlita untuk masuk ke dalam mobilnya. Dia tahu wanita itu masih merasa takut dengan apa yang baru saja dia lihat. Pendy membiarkan dulu dirinya tenang dan bisa di ajak bicara.


"Aku marah karena melihat suamimu bercumbu dengan wanita lain di restaurant itu..." Pendy mulai menceritakan awal mula perkelahian itu terjadi. "...Aku hanya ingin menanyakan satu hal padamu"


Erlita mengusap sisa air mata di pipinya, kedua tangannya memegang setir. "Menanyakan apa?"

__ADS_1


"Apa alasan kamu menikahi Linux? Benarkah atas dasar cinta?"


Erlita tidak langsung menjawab, dia menatap lurus ke depan dengan tatapan menerawang. Mengingat awal mula hidupnya benar-benar berada dalam pilihan sulit. Antara menyelamatkan saudara kembarnya atau pria yang dia cintai.


"Pernikahanku akan segera berakhir, genap satu tahun pernikahan ini akan berakhir"


"Apa maksudmu?"


Pendy menatap Erlita yang mulai kembali meneteskan air mata. Terlihat sekali jika wanita itu sangat tertekan dengan keadaannya saat ini. Hal itu membuat Pendy meraih tubuhnya dan memeluknya dengan erat. Mengecup puncak kepala Erlita.


"Ada apa? Ceritalah, aku yakin ada yang tidak beres diantara kamu dan Linux"


Erlita benar-benar sudah lelah, dia lelah memendam semuanya seorang diri selama ini. Akhirnya dia benar-benar menceritakan semuanya pada Pendy. Tentang alasan dia menikah dengan Linux.


Hiks..hiks...


"Selama menikah dia memang sering membawa wanita berebeda ke rumah. Menganggap aku hanya sebuah pajangan saa"


Tangan Pendy mengepal erat, dia tidak menyangka jika wanitanya begitu terluka selama ini. Nyatanya bukan Pendy yang lebih terluka, tapi Erlita jauh lebih terluka.


Erlita menggeleng pelan, dia menatap wajah Pendy dengan lekat. "Jangan! Biar saja Tuhan yang membalas semuanya. Aku memang sudah mengurus perecaraian, meski dia memang sudah tidak peduli dengan pernikahan ini"


Pendy mengelus pelan pipi Erlita yang terlihat membiru. "Ada kotak obat? Kita obati dulu ini, pasti sangat menyakitkan. Sialan! Pria sialan itu memang harus aku beri pelajaran lebih dari itu"


Erlita memegang tangan Pendy yang mengepal erat. "Sudah ya, jangan berkelahi lagi. Aku tidak mau sampai kamu terkena masalah dan kenapa-napa"


"Sekarang kau mau kemana?"


"Tadinya mau pergi ke butik Kak Zia, tapi dengan keadaan wajah aku kayak gini juga gak mungkin. Jadi mau pulang saja ke rumah"


"Jangan! Kita pergi ke rumah Mami kamu. Kalau kamu kembali ke rumah, sudah pasti pria sialan itu akan menemuimu lagi. Bisa saja dia melampiaskan kemarahannya padaku dengan melukaimu"


"Tapi..."


"Soal semua barang-barang kamu dan semuanya. Aku yang akan datang ke rumah kamu dan menemui pria sialan itu"

__ADS_1


"Pendy..." Erlita menggenggam erat tangan Pendy, menatapnya dengan lekat. "...Jangan sampai melukai dirimu sendiri karena emosi yang menguasai hatimu. Biarkan saja Linux mendapatkan balasannya sendiri"


"Kau tenang saja, aku tidak akan membunuhnya. Paling hanya membuatnya koma saja"


"Pendy"


Pendy terkekeh kecil, dia mengelus kepala Erlita. "Sudahlah, sekarang biar aku yang nyetir. Aku antar kamu ke rumah Mami kamu saja"


Erlita mengangguk.


Mereka bertukar tempat, lalu pergi meninggalkan tempat itu. Tidak lagi memperdulikan Linux yang mungkin sudah pingsan di tempat tadi. Sangat beruntung kalau dia ada yang menolong dan membawanya ke rumah sakit. Kalau tidak ada, mungkin memang sudah nasibnya.


Sampai di rumah Mami, semua penghuni rumah begitu terkejut melihat keadaan Erlita. Pipi yang membiru karena pukulan keras Linux padanya. Tidak bisa lagi berbohong apapun, akhirnya Erlita menceritakan semuanya. Mami, memang sudah tahu tentang alasan Erlita menikah dengan Linux. Namun, untuk Erland dan Papi memang tidak tahu. Dan sekarang Papi baru tahu tentang itu.


"Kita bisa laporkan dia ke polisi" kata Papi


"Ya Pi, jadikan luka di pipi Erlita saat ini sebagai bukti nyata. Dia sudah melakikan kekerasan dalam rumah tangga" Erland ikut merasa marah mendengar cerita saudara kembarnya itu. Apalagi saat dia tahu jika Erlita melakukan semua ini juga demi menyelamatkan dirinya.


"Lit, maafkan aku karena aku kamu harus seperti ini. Hidup dalam pernikahan yang penuh luka"


Erlita tersenyum, dia menggeleng pelan. Menyangkal ucapan saudara kembarnya itu. "Kita saudara Land, bahkan kita berada dalam satu kandungan yang sama. Lahir di hari dan waktu yang sama. Jadi, aku tidak bisa membiarkan kamu pergi begitu saja tanpa ada usaha sedikit pun dari aku sebagai saudaramu. Sudahlah, sekarang semuanya sudah tahu. Aku hanya ingin segera mengakhiri pernikahan ku dengan Linux"


"Dan aku akan segera menikahinya"


"Kak!"


Adriana langsung melotot ke arah Pendy yang terkadang suka seenaknya berbicara dalam situasi yang sebenarnya tidak tepat.


"Apasi Ri, jangan banyak bicara dengan aku. Nanti suami kamu marah lagi"


Adriana memutar bola mata malas, memang pernah berada di posisi yang sama. Di tinggalkan tanpa alasan oleh orang yang dicinta, membuat Adriana dan Pendy selalu bersama dan bercerita banyak hal. Membuat keduanya sangat dekat, hingga seperti Kakak beradik.


"Terserah kamu saja Kak, aku tidak mau ambil resikonya"


Pendy hanya terkekeh mendengar itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2