Mengejar Cinta Si Kembar

Mengejar Cinta Si Kembar
Malam Yang Indah Untuk Erland


__ADS_3

Setelah beberapa minggu berlalu, hari ini Erland benar-benar dinyatakan sembuh dan bisa melepas alat bantu berjalannya. Erland benar-benar sudah bisa berjalan dengan normal. Meski Erland masih dilarang untuk berjalan terlalu lama, karena akan terlalu beresiko untuk kakinya yang baru saja sembuh.


"Sayang, ingat ya kata Dokter kamu tidak boleh sampai terlalu kecapean dan berjalan terlalu lama"


Erland tersenyum melihat istrinya yang selalu overprotektive padanya. Erland meraih tangan istrinya dan menariknya agar jatuh diatas pangkuannya. Memeluk tubuh Adriana dengan erat.


"Aku tidak bisa menuruti ucapanmu sepertinya Sayang"


Adriana langsung menatap suaminya dengan tajam. "Apa maksudmu? Kau mulai tidak menurut ya sama aku, mentang-mentang sudah sembuh"


Erland terkekeh, dia selalu merasa gemas melihat istrinya yang mengomel seperti itu. Jadi, Erland menahan tengkuk leher Adriana dan mencium bibir istrinya dengan lembut. Tidak membiarkan Adriana menolaknya. Dia terus melu*mat pelan bibir istrinya itu. Sampai Adriana mulai kehabisan nafas, barulah Erland menghentikan ciuman itu.


"Sayang, apa kau lupa apa yang dikatakan oleh Dokter tadi siang?"


Adrina mencebikan bibirnya karena dia merasa kesal dengan apa yang di lakukan suaminya barusan. Tapi, di tetap memikirkan apa yang dikatakan Dokter tadi siang saat dia mengantar suaminya periksa.


Anda sudah bisa melakukannya dengan istri anda. Saya yakin kaki anda juga sudah kuat.


Adriana langsung membelalakan matanya ketika dia mengingat apa yang diucapkan Dokter pada mereka tadi siang. Sebenarnya Dokter tidak akan mengatakan itu jika Erland yang tidak sengaja bertanya soal itu padanya.


"Mau kemana Sayang?"


Erland langsung menahan kaki istrinya ketkka Adriana baru saja akan berdiri dari atas pangkuannya. Namun tidak bisa karena Erland yang langsung menahan kakinya.


Adriana menggaruk tengkuknya, menatap Erland dengan tatapan bingung dan juga gugup. "Emm. Sayang, aku mau ke kamar mandi dulu"


"Baiklah, aku berikan waktu 10 menit untuk kau mempersiapkan diri di kamar mandi. Kalau bisa ganti piyama tidurmu dengan gaun tidur yang seksi ya, Sayang"


Adriana segera berlari ke  ruang ganti dengan terburu-buru, membuat dia hampir saja terjatuh.


"Honey hati-hati, kau bisa terjatuh kalau seperti itu"

__ADS_1


Adriana tidak menjawab, dia langsung masuk ke dalam ruang ganti dan menutup pintu dengan sedikit kasar karena dia yang sedang terlalu gugup saat ini.


Adriana berdiri di depan wastaffel, menatap pantulan wajahnya yang basah di cermin wastaffel. Dia baru saja membasuh wajahnya. Lalu menyikat gigi dan berkumur dengan obat kumur. Adriana meniupkan nafasnya ke tangannya lalu mencium bau nafasnya sendiri. Segar dengan harum starawberry yang dia cium dari bau nafasnya.


"Sudah wangi, apa lagi ya? Ahh. Aku harus memakai parfum agar lebih wangi"


Adriana keluar dari kamar mandi dan mengambil parfumnya di lemari. Menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhnya. Adriana benar-benar merasa gugup, membuat dia melakukan semua ini. Selesai dengan memakai parfum, Adriana juga memakai lotion di tangannya.


"Honey.." Pintu ruang ganti terbuka dan Erland berdiri di ambang pintu. Menatap istrinya yang berdiri di depan lemari.


Adriana semakin merasa gugup ketika dia mendengar suara suaminya. Aduh. Bagaimana ini? Aku benar-benar gugup sekarang. Gumamnya.


"Honey cepatlah, kenapa kau masih berdiri disitu? Apa kau belum selesai bersiap?"


Adriana segera membalikan tubuhnya dan berjalan perlahan ke arah suaminya. "I-iya Sayang, aku sudah selesai"


Erland tersenyum lucu melihat wajah memerah istrinya. Pasti malam ini akan menjadi pengalaman yang indah untuknya setelah beberapa bulan menikah. Erland langsung memeluk tubuh istrinya ketika dia berada di depannya. Merangkul pinggang istrinya dan menarik tubuh istrinya hingga semakin merapat dengan tubuhnya.


"Tenanglah, aku akan melakukannya dengan lembut" bisik Erland ditelinga Adriana, membuat gadis itu semakin merasa gugup.


Erland mengangkat tubuh Adriana dan membawanya ke arah tempat tidur. Adriana mengalungkan tangannya di leher suaminya dengan kakinya yang juga melingkar di pinggang suaminya.


Cup..


Erland mengecup bibir istrinya, menatap Adriana dengan lekat dan tersenyum padanya. "Kau siap Sayang? Aku sangat mencintaimu"


Erland mulai merebahkan tubuh istrinya diatas tempat tidur. Mengukung tubuh istrinya di bawah tubuhnya itu. "Aku akan memulainya, apa kau mengizinkan?"


Adriana menatap lekat mata suaminya, tatapan mata yang benar-benar meluluhkan hatinya. Tatapan Erland seolah menghipnotis dirinya hingga Adriana langsung mengangguk begitu saja. Hal itu membuat Erland tersenyum senang, dia mengecup kening istrinya sebelum memulai semuanya.


Entahlah sejak kapan pakaian di tubuh keduanya sudah terlepas begitu saja dan tergeletak di atas lantai. Adriana mulai melenguh pelan ketika Erland begitu asyik bermain di dadanya dengan tangan pria itu yang memberikan pemanasan pada bagian sensitifnya.

__ADS_1


"Ahh.. Sa-sayang"


"Apa Sayang? Apa kau menikmatinya? Keluarkanlah, suaramu benar-benar membuat aku semakin bergairah"


Mendengar ucapan itu, Adriana benar-benar merasa malu. Wajahnya sudah memerah malu mendengar ucapan Erland itu. Hingga Adriana meremas seprei putih itu dengan erat.


Rintik hujan di luar sana menjadi saksi jika keduanya kini telah benar-benar bersatu. Tidak ada lagi yang menjadi penghalang diantara mereka. Erland dan Adriana telah dapat melewati semua rintangan dalam hubungan mereka selama ini untuk sampai di titik ini.


...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...


Erlita tersenyum melihat rintik hujan yang turun malam ini. Dia masih belum terlelap, tepatnya karena dia memikirkan tentang kejadian tadi siang saat Erlita dan Pendy makan siang bersama.


Hari itu, keduanya baru saja menyelesaikan makan siang bersama. Sejak perkataan Pendy waktu itu yang menyuruhnya untuk berhenti bekerja. Maka Erlita benar-benar hanya menjadi seorang pengangguran sekarang.


"Bunda apa sekarang sudah waktunya kita melanjutkan apa yang sedang kita mulai ini"


Erlita menatap Pendy dengan tatapan bingung. Dia juga sudah memikirkannya, setelah beberapa bulan berlalu. Rasanya memang sudah waktunya mereka melanjukan hubungan ini.


Tiba-tiba Pendy berlutut di depan Erlita, tangannya memegang sebuah kotak kecil berwarna merah. Erlita menatap itu dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ayah.." Entah memang sudah terbiasa atau mungkin Erlita hanya keceplosan saja.


"Semuanya telah kita lewati, aku sudah bersabar menunggu kamu sampai sejauh ini. Jadi, sekarang aku sudah tidak bisa menunggumu lagi. Aku ingin kau menjadi istriku dan ibu dari anak-anakku"


Erlita menatap Pendy dengan tatapan yang berkaca-kaca. Dia mengangguk seiring air matanya yang menetes.


Pendy tersenyum, dia meraih tangan kiri lalu membuka kotak cincin itu. Menunjukan sebuah cincin berlian yang indah. Mengambilnya dan segera menyematkannya di jari manis Erlita. Lalu Pendy mencium punggung tangan Erlita dengan lembut.


"Terima kasih karena sudah menerima aku sebagai suamimu. Aku mencintaimu Erlita"


Erlita mengangguk, dia mengusap air mata haru yang menetes di pipinya. "Aku juga mencintaimu"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2