
Adriana merasa berada di ruang sidang sekarang. Ketika Papi, Mami, Erlita, Tyas dan Ganesh menatap ke arahnya dan Erland. Sebenarnya apa yang aku lakukan sampai membuat suasana mencekam seperti ini. Gumamnya.
"Ri, kamu beneran mau menikah dengan Erland?" Akhirnya setelah cukup lama saling diam, Erlita yang bertanya duluan pada Adriana.
"Iya, aku serius Kak. Aku ingin menikah dengan Kak Erland, agar aku bisa merawatnya tanpa ragu"
Erland yang duduk di kursi roda tepat di samping Adriana yang duduk di sofa, langsung menoleh dan menatap penuh haru pada Adriana. Betapa gadis itu begitu tulus padanya. Bahkan dia menerima keadaannya yang seperti ini.
Mami tersenyum mendengar itu, lalu dia menatap putranya. "Jadi, Erland apa kamu siap menikah Adriana?"
Erland menatap Adriana yang juga menatapnya dengan senyum tulus. Lalu beralih menatap Mami yang duduk di sebrangnya. "Iya Mi, aku akan menikahinya"
Adriana langsung tersenyum bahagia mendengar itu. Akhirnya dia bisa mewujudkan setiap impian yang selama ini telah banyak direncanakan bersama Erland. Namun keadaan dan kenyataan telah menghambat mereka. Tapi kali ini takdir kembali mempertemukan mereka dan menjadikan mimpi mereka menjadi nyata.
"Baiklah, maka acara pernikahan akan dilaksanakan secepat mungkin. Bisa minggu depan"
Adriana tidak masalah, dia ingin segera menikah dengan Erland. Agar dia bisa merawat Erland tanpa ragu lagi.
Setelah kesepakatan itu terjadi, Adriana membawa Erland ke taman belakang. Mendorong kursi roda Erlan dengan perasaan yang lega. Karena pada akhirnya Adriana bisa kembali dengan pria yang dia cintai ini.
"Kenapa kamu mau menikah denganku? Padahal keadaanku yang seperti ini"
Adriana menghentikan kursi roda Erland dan menguncinya. Dia beralih ke depan pria itu. Bersimpuh di atas rumput taman, dengan tangan berada di atas paha Erland. Mendongakan wajahnya untuk menatap mata Erland dengan lekat.
"Sayang, ternyata kamu lebih bodoh ya dari yang aku kira"
Adriana terkekeh ketika melihat tatapan tajam dari Erland padanya, ketika dia mengatainya bodoh.
"Berani sekali kau!"
"Loh 'kan emang bener, kalau kamu gak bodoh gak mungkin kamu memutuskan aku hanya karena alasan keadaan kamu yang sekarang. Ya, aku tahu jika Ibuku memang bukan wanita baik. Dia bahkan meninggalkan Papa ketika Papa jatuh bangkrut. Tapi, tolong jangan samakan aku dengan dia. Aku memang anaknya, tapi sifat aku berbeda dengannya. Aku mencintaimu dengan tulus, dalam keadaan apapun aku akan tetap mencintaimu"
__ADS_1
Erland benar-benar tidak menyangka akan mendapatkan cinta sebesar ini dari Adriana. Hatinya benar-benar tersentuh dengan segala ketulusan Adriana padanya.
"Bangunlah, kau tidak pantas berlutut di depanku seperti itu"
Adriana menggeleng, bukannya bangun dia malah meletakan kepalanya di atas pangkuan Erland. "Aku bahagia bisa bersamamu kembali. Jadi, tolong jangan berpikir untuk berpisah lagi denganku"
Tangan Erland mengelus kepala Adriana yang berada di pangkuannya. "Tidak akan. Aku tidak akan pernah melakukan kebodohan lagi. Aku tidak akan lagi melepaskan kamu"
Adriana tersenyum, dia merasa nyaman saat tangan Erland mengelus kepalanya. "Iyalah, kalau setelah ini kamu masih ingin melepaskan aku. Bisa saja aku menikah dengan pria lain, Kak Pendy misalnya"
Erland mencubit pipi Adriana saat mendengar ucapan gadis itu. Dia masih saja tidak suka ketika Adriana menyebutkan nama pria lain, apalagi saat dia menyebutkan nama Pendy. Nama pria yang sampai saat ini masih selalu membuat Erland cemburu.
"Jangan macam-macam kamu!"
Adriana tersenyum, rasanya dia begitu merindukan nada bicara Erland ketika dia merasa kesal dan cemburu. Semua tentang Erland sangat dia rindukan.
Adriana berdiri dan beralih ke belakang kursi roda Erland. "Kita kembali ke rumah ya, hari sudah mulai gelap"
Di depan pintu belakang menuju taman, Mami tersenyum bahagia ketika melihat putranya yang kembali mendapatkan kebahagiaannya. Rasanya sudah lama sekali dia tidak melihat Erland tertawa lepas seperti itu. Sejak kecelakaan itu, hidup Erland benar-benar redup dan tidak ada lagi cahaya dalam hidupnya. Hingga saat ini, cahaya hidupnya kembali hadir dalam hidupnya. Kehadiran Adriana adalah kebahagiaan untuk Erland.
Adriana tersenyum pada Mami yang menyambut mereka di ambang pintu. "Riana harus pergi dulu Tante"
"Loh kok masih panggil Tante, kamu itu sebentar lagi akan menjadi anak Mami. Jadi panggil Mami dong Sayang"
Adriana tersenyum, dia merasa bahagia karena begitu di terima oleh keluarga Erland. Terkejut saat tiba-tiba tangannya yang berada di pegangan kursi roda di raih oleh Erland. Pria itu menggenggam tangan Adriana, lalu mengecupnya dengan lembut.
"Iya Honey, kamu harus mulai terbiasa memanggil Mami"
"Iya Sayang"
Mami tersenyum melihat keduanya sudah tidak malu-malu lagi untuk menunjukan kemesraan mereka. Mami benar-benar merasa bahagia melihat kebahagiaan yang kembali terpancar di wajah putranya.
__ADS_1
"Oh ya, bukannya sekarang kamu tidak tinggal disini ya?"
Adriana mengangguk. "Iya Tan..Ehh, Mami. Riana tidak tinggal disini, tapi sekarang pulang ke rumah Kak Tyas dulu"
Erland langsung menoleh ke arah Adriana, kembali mengecup tangan gadis itu yang masih berada dalam genggamannya. "Segera urus keindahan kamu kesini lagi. Biar Papi bantu urus, atau Bang Ganesh saja"
Adriana tersenyum, nada tegas Erland dalam berbicara saat dia menginginkan hal yang tidak bisa di bantah oleh siapa pun.
"Iya, nanti aku urus pengunduran diri dulu di tempat kerja"
Selama ini Adriana bekerja di sebuah bank swasta. Hanya sebagai pekerja biasa karena dia yang gagal lulus sarjana.
Adriana membawa Erland ke kamarnya sebelum dia pulang. Dengan di bantu oleh perawat, Adriana memindahkan Erland dari kursi roda ke atas tempat tidur. Lalu dia duduk di pinggir tempat tidur dengan tangannya yang masih saja di genggam erat oleh Erland.
"Honey, maafkan aku karena aku tidak sempat datang saat Papamu meninggal"
Adriana tersenyum, dia mengelus punggung tangan Erland. "Tidak papa, semuanya sudah takdir"
"Maaf, karena sudah membuat hidupmu kacau"
"Jika aku tidak mencintaimu, mungkin aku akan sangat marah dan membencimu. Tapi, aku tidak bisa melakukan itu Kak. Nyatanya, kamu tetap pemilik hatiku"
Mendengar itu, Erland tersenyum. Meski hatinya tetap merasa bersalah karena merasa telah membohongi Adriana dan Papa. Setelah dia apa yang dia janjikan pada Papa untuk menikahi Adriana dan membuatnya bahagia.
Tapi keadaan telah membuat dirinya harus melakukan pilihan. Meski sekarang Erland sadar, jika keputusannya waktu itu sangatlah bodoh. Karena nyatanya Adriana sama sekali tidak merasa terbebani dengan keadaannya ini. Cintanya benar-benar tulus. Namun semuanya telah terjadi, dan menyesal pun tidak ada gunanya.
"Nanti kalau kamu sudah sembuh dan bisa berjalan lagi, kamu harus datang sendiri ke makam Papa dan minta restu padanya" kata Adriana, tersenyum pada Erland
"Iya Honey, aku akan lakukan itu"
Semangat sembuh dalam diri Erland mulai keluar. Dia ingin segera sembuh dan bisa menjadi pendamping yang sempurna untuk Adriana.
__ADS_1
Bersambung