Mengejar Cinta Si Kembar

Mengejar Cinta Si Kembar
Apa Akan Terhalang Restu?


__ADS_3

"Kakak benar-benar tidak menyangka kalau kamu bisa juga menaklukan hati Erland, Ri"


Tyas begitu antusias ketika mendengar cerita adiknya tentang awal mula dirinya jatuh cinta pada Erland hingga rela menjadi seorang pembantunya di kampus. Semuanya menjadi cerita paling menyenangkan bagi Tyas. Perjuangan Adriana tidak seberat dirinya saat berjuang untuk bertahan dan mendapatkan hati suaminya.


Tyas mengelus kepala adiknya dengan sayang. "Kakak bahagian Dek, melihat kamu bahagia bersama pria yang kamu cintai"


Adriana memeluk Kakak perempuannya, hatinya selalu merasa hangat ketika bersama Tyas. Kakak yang pernah dia sakiti hatinya. Kakak yang selalu menjadi orang yang di kucilkan di keluarganya.


"Terima kasih Kak, karena menerima semua kesalahan aku. Memaafkannya, hingga sekarang Kakak memberikan kasih sayang begitu tulus untuk aku. Makasih untuk semuanya Kak"


Tyas mengelus kepala adiknya, dia sangat menyayanginya. Lagian Tyas tahu dan sadar jika Adriana hanya menjadi alat kebencian Ibunya pada Tyas. Sebenarnya adiknya hanya seorang gadis polos yang selalu percaya pada apa yang di katakan Ibunya, menjadi anak penurut hingga dia tidak bisa membedakan mana kenyataan yang benar dan salah.


"Kakak sayang sama kamu Dek, jadi kita lupakan saja apa yang telah terjadi di masa lalu. Sekarang saatnya kita membuka lembaran baru dalam hidup kita"


Adriana mengangguk, entah harus bagaimana dia mengucapkan rasa terima kasihnya pada Tyas. Sosok Kakak yang pernah dia sakiti, tapi selalu sabar menghadapi semua ujian dalam hidupnya.


Pintu kamar terbuka, Ganesh dan Erland masuk kesana. Melihat Kakak beradik itu yang sedang berpelukan hangat. Tyas menoleh dan langsung meminta Ganesh untuk mendekat dan memberikan Gweny yang berada dalam gendongannya padanya.


"Sayang, ayo kita pulang" ajak Ganesh


"Hai Gwen, cantik banget ya seperti Bunda. Cantiknya luar dan dalam"


"Apaan si kamu Dek, lagi nyoba ngerayu Kakak gitu"


Adriana menggeleng dengan sedikit terkekeh. "Enggak, kan itu memang kenyataannya. Kalau gak percaya tanya saja sama suami Kakak, iya kan Kak Ganesh?"


Ganesh mengangguk, memang istrinya bagaikan sosok malaikat yang hadir dalam hidupnya. Setelah berapa banyak luka yang dia ciptakan di hatinya, tapi Tyas tetap menerimanya kembali dan menyayanginya dengan begitu tulus.


"Dia lebih dari sosok bidadari dalam hidupku, dia itu malaikat tak bersayap dalam hidupku"


Adriana tertawa mendengarnya. "Wahh kakak ipar ternyata penggombal hebat ya"


"Dasar kamu ini Dek"


Adriana tersenyum melihat Kakaknya dan suaminya yang pergi keluar dari kamar. Melihat Kakaknya bahagia, sudah cukup bagi Adriana. Setidaknya Kakaknya tidak akan terus terluka seperti saat dulu.

__ADS_1


Adriana menghembuskan nafas, lalu dia berdiri dari duduknya. "Ayo kita keluar Kak, takutnya ada orang yang lihat kita berduaan di kamar. Kan bisa berabe"


Erland mengangguk, dia menggandeng tangan Adriana keluar dari kamar. Menemui keluarganya yang masih berkumpul di ruang keluarga rumahnya ini.


"Jadi kapan Land? Sepertinya Mami tidak terlalu setuju jika kamu terlalu lama berpacaran"


Hah? Apa maksudnya ini? Apa Maminya Kak Erland menginginkan kita untuk segera menikah? Ya ampun aku harus gimana sekarang?


"Kasih kami waktulah Mi, kan aku dan Adriana juga baru jadian. Harus punya waktu untuk saling mendalami sikap dan sifat masing-masing"


"Iya, tapi jangan kelamaan"


"Iya Mi, setidaknya sampai Erland lulus S2 tahun ini"


Adriana hanya diam menundukan wajahnya, dia tidak menyangka jika kehadirannya akan di terima dengan lapang oleh keluarga Erland. Bahkan orang tuanya langsung meminta Adriana dan Erland untuk segera menikah. Ternyata benar tentang berita yang beredar tentang keluarga Aditama. Mereka adalah sosok keluarga kaya yang sangat ramah dan sopan.  Tidak pernah memandang rendah seseorang dari status dan masa lalunya.


...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...


Saat ini Erland sedang mengantar pulang Adriana. Karena Papa sudah pulang lebih dulu di antar oleh Ganesh dan Tyas sekalian mereka pulang juga. Adriana merasa sangat bahagia saat ini, bisa bersama Erland. Pria yang dia cintai selama ini. Sampai Adriana merasa jika dirinya tengah bermimpi saat ini. Melihat tangan Erland yang menggenggam tangannya dan mengecupnya. Seolah hal yang tidak pernah dia bayangkan akan terjadi, apalagi dengan pernyataan cinta Erland padanya.


Adriana menggeleng pelan. "Tidak papa, aku hanya merasa tidak menyangka jika saat ini Kakak adalah pacarku. Kayak mimpi aja gitu"


Erland tersenyum, dia mengelus pipi kekasihnya itu. "Ini bukan mimpi Honey, ini nyata"


"Kakak beneran cinta sama aku 'kan? Gak cuma lagi ngerjain aku?" Bisa gawat kalau aku udah ke-geeran duluan.


Erland tertawa mendengarnya, mimik wajah cemas dan was-was Adriana benar-benar membuatnya gemas. "Memangnya kalau aku bohong gimana?"


"Ihh Kakak serius dong" Karena kesal dengan Erland yang seolah senang mengerjainya. Adriana berani sekali memukul lengan pria itu. Padahal dulu saja dia sangat ketakutan hanya dengan tatapan tajam yang diberikan Erland padanya.


"Kalau aku gak serius, ngapain aku sampe culik kamu pas di acara anniversarry Tante Syifa dan Om Erwin tadi? Aku benar-benar serius Honey, aku mencintaimu. Jadi, tolong untuk tidak mengkhianati cintaku ini. Karena aku benci bentuk penglihatan apapun"


"Aku khianatin kamu? Ya gak mungkinlah, dapetinnya aja susah banget. Masa udah dalam genggaman aku lepas begitu saja, tidak akan mungkin"


Mendengar itu Erland tersenyum, dia menghentika mobilnya di depan rumah Adriana. Menatap ke arah rumah sederhana itu, untuk pertama kalinya dia mengetahui rumah Adriana. Malah dia terkalahkan oleh Pendy yang sudah lebih dulu mengetahui rumah Adriana. Mengingat itu membuat Erland mendengus kesal.

__ADS_1


"Awas saja kalau kau masih meminta pria itu menjemputmu atau mengantarmu. Jika aku tidak bisa pun, jangan pergi bersamanya"


Lah dia kenapa tiba-tiba kesal begitu.


"Iya, lagian Kak Pendy dan aku itu hanya teman biasa Kak. Kenapa si Kakak benci banget sama dia"


"Aku tidak membencinya, hanya tidak suka karena dia selalu dekat-dekat denganmu"


Dasar aneh. Gumam Adriana, dia membuka pintu mobil.


"Aku turun ya, Kakak hati-hati di jalan. Bawa mobilnya jangan ngebut"


"Iya, kamu juga istirahat ya. Besok aku jemput kuliah"


"Siap, selamat malam Kak"


"Selamat malam Honey"


Adriana menunggu sampai mobil kekasihnya berlalu dari sana. Barulah dia masuk ke dalam rumah. Mendapati Ayahnya yang menunggunya di sofa usang ruang tengah. Adriana menyalami Papa dan duduk di sofa depannya.


"Papa kok belum tidur?"


"Menunggu kamu pulang"


Adriana mengangguk, dia berdiri untuk segera bersih-bersih dan istirahat. "Riana mandi dulu ya Pa"


"Ri, sebaiknya cari pria lain. Jangan dengan keluarga terpandang itu. Papa merasa kita tidak akan pernah pantas bersanding dengan mereka. Sadarlah posisi kita sekarang, Ri"


Deg..


Langkah Adriana langsung terhenti saat dia sudah sampai di  pintu kamarnya. Apa mungkin hubungannya dengan Erland akan terhalang restu?


Bersambung


Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5

__ADS_1


__ADS_2