Mengejar Cinta Si Kembar

Mengejar Cinta Si Kembar
Ayo Makan Bersama


__ADS_3

Kelas hari ini telah selesai, semuanya sudah mulai membereskan barang-barang mereka. Saat Erlita masih memasukkan beberapa barang ke dalam tasnya, dia mendongak ketika melihat sepasang sepatu yang berada di dekat mejanya.


"Ayo makan siang bersama"


Erlita tertawa kecil melihat Pendy yang langsung to the poin saat mengajaknya makan siang. "Oke, aku juga lapar. Mau makan siang dimana? Di luar kampus saja"


Pendy tersenyum, gadis ini memang selalu ceria dalam keadaan apapun. "Ayo, pakai motor aku"


Erlita menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sebenarnya dia takut naik motor, karena saking jarangnya naik motor membuat dia sedikit takut saat harus naik motor. Apalagi dia tahu jika motor Pendy adalah jenis motor sport yang pastinya tinggi.


"Naik mobil aku aja"


"Kenapa? Kan naik motor lebih cepat, kita bisa menghindari kemacetan juga"


"Iya si, tapi..." Erlita terlihat ragu mengatakannya. "...Aku takut jatuh kalau naik motor"


Dan tawa Pendy pun pecah mendengarnya, baru kali ini ada seorang gadis yang menolak dia ajak untuk naik motor bersamanya.


"Jangan ketawa ihh, malu tahu"


Pendy mencoba menghentikan tawanya,, meski dia semakin ingin tertawa melihat wajah memerah malu Erlita. "Yaudah kita naik mobil kamu saja, tapi aku yang nyetir"


"Emang kamu bisa nyetir?"


"Dih, jangan meremehkan aku. Aku bisa bawa mobil dan motor, aku jago menyetir"


Erlita mengambil kunci mobilnya dari dalam tas. "Yaudah, nih kamu yang bawa mobil"


Pendy menyambar kunci mobil Erlita. "Siap, ayo berangkat"


Erlita mengangguk.


Mereka pun berjalan berdampingan menuju parkiran. Sesekali Erlita tertawa atas lelucon yang di lontarkan oleh Pendy. Sampai di parkiran Pendy langsung membukakan pintu mobil untuk Erlita. Membuat Erlita merasa tersanjung, karena untuk pertama kalinya ada seorang pria yang membukakan pintu mobil untuknya. Karena biasanya dia sendiri membawa mobil dan tidak pernah ada adegan seperti ini. Karena dia tidak pernah menggunakan supir sejak sekolah menengah atas.


"Jadi, kita mau makan kemana?" Pendy sudah memegang kemudi dan menatap ke arah Erlita.


"Terserah"

__ADS_1


"Jangan bilang terserah, karena kata terserahnya perempuan itu selalu menjadi huru hara"


Erlita tertawa mendengarnya, memang kebanyakan kata terserah yang di ucapkan seorang wanita selalu mengandung arti tersendiri. Menjadikan huru hara seperti yang di ucapkan Pendy barusan.


"Beneran terserah, aku bebas mau makan dimana aja. Asal jangan restaurant seafood, aku alergi seafood soalnya"


"Oke"


Mereka pun pergi menuju tempat makan yang di tentukan oleh Pendy. Ternyata memang benar, jika Erlita bisa di ajak makan dimana saja. Karena sebenarnya Pendy tidak membawanya ke sebuah restaurant berbintang. Tapi malah mengajak Erlita makan di kedai mie goreng pinggir jalan. Pendy tidak menyangka jika Erlita mau di ajak ke tempat seperti ini. Padahal dia adalah anak dari keluarga yang terpandang.


"Kamu kok mau makan di tempat seperti ini?" Menghilangkan penasarannya, Pendy benar-benar menanyakannya pada Erlita.


"Memangnya kenapa? Mie goreng disini enak dan aku suka. Lagian harusnya yang nanya gitu, aku ke kamu. Kamu kenapa suka makan di tempat seperti ini?"


"Ya aku 'kan anak jalanan, jadi lebih nyaman makan di tempat seperti ini daripada di restaurant mahal yang pengunjungnya kebanyakan orang-orang yang berada. Sementara pedagang kecil seperti ini yang lebih membutuhkan uang dari kita dengan membeli makanannya"


Erlita tersenyum, entah kenapa dia merasa tersentuh dengan ucapan Pendy. Merasa jika pria itu adalah sosok pria yang dermawan. "Tapi, maksud kamu anak jalanan apa?"


Pendy tersenyum, dia memang seorang anak jalanan. Bahkan hampir semua pedangang pinggir jalan di kota ini dia kenal. Karena anggota geng motornya sering membantu mereka dari pereman jalanan yang kerjanya malak pedagang kecil seperti ini.


"Aku ketua geng motor"


Erlita begitu terkejut mendengarnya, jadi pria di depannya adalah seorang ketua geng motor. "Kamu beneran?"


"Ya, aku ketua geng motor" Pendy menyebutkan nama geng motornya.


Dan hal itu semakin membuat Erlita terkejut. "Bukankah itu nama geng motor yang sedang ramai di bicarakan ya. Jadi, kamu adalah ketuanya"


"Ya, apa kamu takut denganku?"


Erlita menggeleng, dia tahu jika geng motor yang di pimpin oleh Pendy berbeda dari geng motor kebanyakan orang yang bisanya hanya membuat keonaran. Apalagi geng motor ini juga teradaptasi dari geng motor luar negara yang memberikan banyak bantuan pada setiap orang-orang kecil yang tertindas.


"Aku tidak takut selama kamu tidak mencelakai orang lain. Tapi, kalau kamu mencelakai orang lain, aku pasti takut karena bisa saja kamu juga mencelakai aku"


Pendy tersenyum, dia tidak mungkin mencelakai wanita yang membuat dia tertarik. "Mana mungkin aku mencelakai seseorang. Lagian kamu sudah pernah lihat, bagaimana geng kami bekerja untuk membantu orang-orang kecil"


Erlita mengangguk, ya memang dia pernah mendengar tentang geng motor ini. "Yaudah, sekarang ayo kita pulang. Aku sudah kenyang. Makasih ya traktirannya"

__ADS_1


"Loh emangnya aku bilang mau traktir kamu?" Tanya Pendy dengan tatapan menggoda


"Ya iyalah, masa udah pake mobil aku gak traktir aku makan. Haha"


"Besok-besok pakai motor aku aja, biar giliran kamu yang traktir aku"


"Yaudah, kamu bawa motor kamu dan aku bawa mobil aku"


Keduanya tertawa dengan lelucon yang mereka ciptakan sendiri. Erlita menatap punggung tegap Pendy yang sedang melakukan pembayaran pada si penjual. Pria itu terlihat begitu akrab dengan pedagang itu. Erlita tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum, melihat kebaikan Pendy dan dia merasa kenyamanan saat bersama pria itu. Bahkan dia merasa asyik mengobrol dengannya. Tidak merasa canggung atau apapun itu.


Pendy berbalik dan tersenyum padanya.


Ya Tuhan, aku kenapa? Kenapa jantungku berdebar ketika melihat senyumannya.


...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...


"Kak, kenapa si? Dari tadi cemberut terus"


Adriana merangkul lengan Erland dan menyandarkan kepalanya di bahu pria itu. Mereka baru saja selesai makan siang dan sekarang sedang berada di perjalanan pulang.


"Aku memikirkan Erlita"


Adriana menghembuskan nafas kasar. "Kak, kenapa emangnya kalau Kak Erlita bersama Kak Pendy. Mereka sama-sama single 'kan. Gak papa kalo hanya jalan berdua atau makan bersama. Kamu jangan terlalu posesif sama Kak Erlita dong"


"Honey, kalau Erlita perginya bersama pria lain aku tidak masalah. Tapi kenapa harus pria itu? Aku tidak suka padanya"


"Ihh, Kakak ini gampang bilang tidak suka. Padahal Kakak belum mengenal Kak Pendy dengan baik. Dia itu baik tahu, Kak. Coba Kakak kenal lebih dekat dengannya"


Erland langsung melirik tajam pada Adriana. Sampai saat ini dia masih tidak suka mendengar Adriana memuji pria lain. Apalagi pria itu adalah Pendy.


"Berani sekali kau memuji pria lain di depanku!"


"Apasi Kak, aku tidak memujinya. Aku hanya mengatakan apa yang sebenarnya"


"Diam kau! Jangan berani memujinya lagi"


Hah..

__ADS_1


Adriana hanya menghembuskan nafas kasar. Dia diam dan tidak lagi membahas tentang Pendy. Karena Erland masih sangat sensitif ketika Adriana membahas tentang pria itu.


Bersambung


__ADS_2