Mengejar Cinta Si Kembar

Mengejar Cinta Si Kembar
Belum Yakin Dengan Perasaannya?!


__ADS_3

Pagi ini Erland turun dari mobilnya, berjalan ke arah rumah Adriana. Erland menatap Papa yang sedang duduk di kursi yang ada di reras depan rumahnya. Entah kenapa hatinya tidak tenang saat untuk pertama kalinya dia bertemu dengan Eriawan setelah statusnya dengan Adriana berpacaran.


"Selamat pagi Pa" Erland mengulurkan tangannya untuk menyapa Papa.


Papa sedikit terkejut ketika mendengar Erland yang langsung memanggilnya dengan sebutan Papa. Dengan sedikit ragu dia menerima uluran tangan Erland. Saat pria muda itu mencium punggung tangannya, Papa sedikit merasa tidak enak mengingat siapa pria yang telah mencium tangannya ini. Cucu keempat keluarga Aditama.


"Menjemput Riana?"


Erland duduk di kursi samping Papa, terhalang meja bundar saja. "Iya Pa"


"Adriana, Ri ini sudah ada yang jemput..." Papa setengah berteriak untuk memanggil putrinya. "...Sepertinya dia masih bersiap, tunggulah sebentar"


"Iya Pa, tidak papa..." Erland menatap arloji di tangannya. "...Lagian masih pagi juga" .


Beberapa saat kemudian, Adriana keluar dengan wajah yang lesu. Semalam dia tidak bisa tidur, karena terus memikirkan tentang ucapan Papa. Sudah memberikan penjelasan jika Papa tidak merestui hubungan Adriana dan Erland. Alasannya jelas hanya satu, karena status mereka dengan Erland sangat jauh berbeda.


Adriana tahu jika Pala sedang menghindari hal yang tidak di inginkan terjadi. Papa pasti tidak mau jika putrinya akan tersakit karena cintanya pada Erland. Apalagi tentang latar belakang keluarga Adriana yang memang tidak bisa di bilang baik.


"Udah sampe ya Kak, ayo kita berangkat"


Erland menatap bingung pada kekasihnya dengan kening sedikit berkerut. "Iya ayo, Pa kami pamit berangkat kuliah dulu"


"Iya, hati-hati kalian di jalan"


Adriana dan Erland bergantian menyalami Papa sebelum pergi kuliah. Erland masih merasa bingung pada sikap kekasihnya pagi ini. Perasaan dia tidak melakukan hal apapun kemarin, hingga membuat Adriana kesal.


"Honey, kau kenapa?"


Adriana yang menyandarkan kepalanya ke pintu mobil, menatap pemandangan di luar jendela langsung menoleh ke arah kekasihnya. Dia menggeleng pelan. "Tidak papa, semalam gak bisa tidur"

__ADS_1


Erland menempelkan punggung tangannya di kening Adriana. Merasaka suhu tubuh kekasihnya, dia takut jika Adriana sakit. "Kamu gak sakit 'kan? Kenapa semalam gak bisa tidur? Apa ada yang kamu fikirkan?"


Ya, aku memikirkan tentang hubungan kita ke depannya akan seperti apa?


"Tidak, aku hanya susah tidur saja"


"Beneran? Kalau ada masalah bicaralah sama aku, nanti kita cari jalan keluarnya sama-sama"


Adriana mengangguk, tapi rasanya untuk masalahnya kali ini tidak mungkin dia berbicara pada Erland. Semuanya terlalu rumit untuk di ceritakan. Jika di ceritakan pun, apa yakin Erland bisa menemukan jalan keluarnya? Rasanya tidak. Hubungan terhalang restu, kebanyakan akan berakhir begitu saja.


Sampai di parkiran kampus, Adriana segera turun. Masih dengan wajah lesunya, dia menyelempangkan tas ransel di bahunya. Menoleh ke arah Erland yang menghampirinya, menggandeng tangan Adriana dan berjalan masuk ke kampus mereka.


"Kenapa kamu ikut kesini juga? Kan kelas kamu di gedung sebelah"


"Antar pacarku dulu sampai ke kelasnya, dan memastikan dia aman"


Adriana terkekeh mendengarnya, kenapa Erland jadi bucin begini. Gumamnya bingung.


Erland mengecup kening kekasihnya membuat Adriana terbelalak kaget. Dia langsung melirik ke sisi kiri dan kanannya. Ada beberapa mahasiswa di lorong itu, mereka sudah pasti akan melihat apa yang di lakukan Erland barusan. Tidak mungkin jika tidak melihatnya.


"Kak apaan si, malu tahu" Adriana memegang keningnya yang baru saja di cium oleh Erland. Masih terasa hangat bekas bibir pria itu disana.


"Kenapa malu, kita sepasang kekasih. Lagian beberapa bulan lagi kau akan menjadi istriku, tunggu sampai aku lulus"


Entah sengaja atau apa, tapi Erland benar-benar mengucapkan itu dengan suara keras. Membuat semua orang yang ada disana pasti mendengarnya. Entah harus bagaimana lagi Adriana menyembunyikan wajah malunya ini.


"Kak, sudah ahh kamu harus pergi sekarang. Nanti telat masuk kelas lagi" Adriana membalikan tubuh Erland dan sedikit mendorongnya agar dia segera pergi dari sana.


Setelah memastikan Erland pergi dari sana, Adriana tersenyum kaku pada orang-orang yang masih berada disana. Dia segera masuk untuk menyembunyikan dirinya dari pertanyaan banyak orang. Sudah pasti sebentar lagi semuanya akan di hebohkan tentang kabar ini. Dimana Erland mengatakan jika dirinya akan menikahi Adriana setelah lulus kuliahnya.

__ADS_1


Adriana menundukan wajahnya di atas meja dengan bertumpu pada kedua tangan yang di lipat di atas meja. Pikirannya sedang benar-benar kacau saat ini. Tentang ucapan Papa semalam dan tentang Erland yang kini telah benar-benar mempublish hubungan mereka. Sebenarnya ini memang harapan Adriana untuk bisa bersama pria yang dia cintai selama ini. Tapi, restu Papa juga yang terpenting baginya.


Entahlah, Adriana tidak akan terlalu memikirkannya untuk sekarang ini. Biarkan saja semuanya berjalan seperti air mengalir. Entah akan sampai mana mengalir dan membawa hubungan beda kasta ini.


...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...


Siang ini, Adriana menemui Erland di kelasnya. Namun pria itu tidak ada disana, Adriana menanyakan pada Beno  ternyata Erland sedang berada di rufftop kampus ini. Sudah pasti pria itu sedang merokok disana.


Saat Adriana hampir sampai di ruko, dia menghentikan langkahnya ketika mendengar obrolan Erland dengan seseorang.


"Apa kau masih memiliki perasaan padanya? Dia telah kembali sekarang"


"Entahlah, aku juga bingung dengan perasaanku. Itulah kenapa aku merasa ragu saat untuk menyatakan cinta pada Adriana. Karena aku masih meyakikan perasaan ini, apa benar aku mencintainya atau hanya sebuah pelampiasan saja setelah dia pergi"


Adriana mematung mendengar ucapan Erland barusan. Jelas dia mengetahui jika itu adalah suara Erland. Jadi selama ini dia masih belum yakin dengan perasaannya karena ada wanita lain yang dia cintai. Lalu, bagaimana sekarang? Apa yang harus Adriana lakukan? Seolah tidak siap mendengar perkataan Erland selanjutnya, Adriana memilih pergi darisana tanpa sempat menemui Erland seperti tujuan awalnya.


"Tapi Ki, sepertinya hatiku saat ini benar-benar telah milik Adriana. Aku sudah tidak peduli lagi padanya, dia sudah menciptakan luka yang dalam di hatiku. Saat aku benar-benar mencintainya, tapi dia malah pergi demi mimpinya itu. Padahal aku bisa mendampinginya mewujudkan mimpinya itu. Tidak perlu dengan pergi ke luar negara"


Riki menepuk bahu Erland, dia tersenyum mendengar jawaban sahabatnya itu. Sepertinya Erland memang sudah benar-benar jatuh cinta pada Adriana. "Baguslah, jangan sampai kau menyakiti Adriana hanya karena wanita yang pernah menciptakan luka di hatimu kembali lagi"


Erland mengangguk, dia sudah yakin dengan perasaannya kali ini. Jika Adriana memang pelabuhan terakhirnya. Tidak peduli dengan masa lalunya yang telah kembali. Hati Erland telah terpatri pada Adriana seutuhnya.


"Aku ke bawah dulu, Riana pasti sudah menunggu. Dia janji akan makan siang bersama" Erland membuang putung rokok yang tinggal setengah itu, dan menginjaknya hingga padam.


"Yaudah, sana pergi. Aku masih ingin merokok disun"


Erland mengangguk, dia menepuk bahu Riki lalu pergi darisana. Sudah tidak sabar untuk bertemu Adriana hari ini. Padahal tadi pagi dia sudah bertemu dengannya. Tapi entah kenapa, dia masih merasa kurang bertemu dengan kekasihnya itu. Selalu saja merasa rindu.


Bersambung

__ADS_1


Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5


__ADS_2