Mengejar Cinta Si Kembar

Mengejar Cinta Si Kembar
Karena Aku Mencintainya?!


__ADS_3

Semakin hari selalu ada saja yang membuat Erlita bertemu dengan Pendy. Belum lagi karena Pendy yang sekarang sering masuk kelas yang sama dengan Erlita. Dan hampir setiap hari mereka selalu makan siang bersama. Entahlah... Tapi Erlita memang merasa nyaman saat dia bersama Pendy. Seolah tidak pernah habis obrolan di antara mereka. Erlita merasa telah menemukan teman yang sefrequensi dengannya.


"Udah, sekarang kamu harus coba naik motor. Masa setiap makan siang di luar kampus, harus selalu pakai mobil kamu. Tahu di jam makan siang jalanan macet parah"


Erlita masih berdiri mematung, menatap Pendy yang sudah naik ke atas motor sport miliknya. Erlita tidak yakin untuk naik ke atas motor sport milik Pendy. Sampai saat ini Erlita masih tidak yakin untuk naik motor. Karena dia sudah sangat lama naik motor.


"Cepat naik, kau mau aku berdiri terus disini sambil menahan motor. Cepat naik"


"Ck. Aku takut, kalau jatuh gimana?"


"Tidak akan jatuh Erlita, kamu hanya perlu naik dan pegangan padaku. Bukan harus membawa motor ini sendiri"


Dengan ragu, Erlita berjalan mendekat pada motor Pendy. Memegang jok motor dengan tangannya, dia masih takut untuk naik ke atas motor Pendy. Namun tangan Pendy yang terulur kepadanya membuat Erlita memberanikan diri untuk naik. Dia berpegangan pada tangan Pendy dan langsung naik  ke atas motor Pendy.


"Ya ampun, aku takut sekali" Erlita berpegangan erat pada pinggang Pendy. Dia sangat takut terjatuh, apalagi motor Pendy yang tinggi.


"Tenang, kau pegangan saja padaku. Aku akan mulai melajukan motornya"


Erlita benar-benar berpegangan dengan sangat erat pada Pendy. Saat motor melaju, dia mulai merasakan kenyamanan saat angin menerpa wajahnya. Erlita mulai mengendurkan pegangan tangannya di pinggang Pendy.


"Ternyata menyenangkan juga ya"


"Kan.. Aku bilang juga apa, memang menyenangkan naik motor. Kamu bisa melihat banyak aktifitas di jalanan dengan jelas"


Erlita mengangguk setuju dengan ucapan Pendy barusan. Dia melihat beberapa pedagang kaki lima dan kedai makanan yang cukup ramai di jam makan siang. Erlita mulai menikmati suasananya. Dia bahkan merentangkan sebelah tangannya untuk merasakan hembusan angin.


"Memangnya kapan terakhir kali kamu naik motor?"


"Hah? Apa?"


Selalu ada perbicangan seperti ini saat seseorang sedang naik motor di perjalanan yang ramai seperti ini. Erlita tidak terlalu mendengar ucapan Pendy karena dia juga memakai helm. Apalagi suara dari mesin kendaraan lainnya membuat suasana jalanan semakin bising.

__ADS_1


Pendy memarkirkan motornya di parkiran restaurant. Erlita segera turun dari atas motor Pendy. Dia membuka helmnya, tapi sedikit sulit karena Erlita yang tidak biasa memakai helm membuat dirinya juga tidak bisa membuka helm. Pendy yang melihat itu tersenyum dengan menggelengkan kepala. Rasanya dia selalu merasa gemas melihat wajah Erlita dengan beberapa ekspresi.


"Sini biar aku yang buka" Pendy meraih bagian bawah helm yang terpasang di kepala Erlita. Namun, sebelum tangan gadis itu turun. Jadi, dengan tidak sengaja Pendy memagang tangan Erlita. Dan hal itu membuat keduanya terdiam beberapa saat dengan mata yang saling berpandangan.


"Emm. Maaf"


Erlita mengangguk, dia segera menundukkan pandangannya karena tidak mau jantungnya terus berdebar ketika beradu pandang dengan Pendy. Selesai Pendy membukakan helm, suasana kembali seperti semula.


"Kenapa kamu membawa aku kesini?"


"Ya, karena kamu sudah berani naik motor bersamaku. Maka hari ini aku akan traktir kamu makan disini"


Erlita hanya terkekeh mendengarnya, karena menganggap dirinya yang mau di bonceng naik motor oleh Pendy adalah suatu keajaiban bagi pria itu. Keduanya berjalan berdampingan masuk ke dalam restaurant itu. Memilih meja di pojokan yang dekat dengan jendela, setelah memesan makanan. Mereka mulai mengobrol santai disana.


"Jadi, kapan terakhir kali kamu naik motor seperti itu?"


Erlita terlihat berfikir sejenak, dia mencoba mengingat-ngingat terakhir kali dirinya di bonceng naik motor seperti tadi. "Kayaknya pas aku masih SD, sama Pak Supir karena kita telat. Jadi harus naik motor Pak Supir agar tidak terjebak macet"


"Emang udah lama, makanya aku takut banget naik motor tadi"


Makanan pesanan mereka telah datang, keduanya makan dengan nyaman dan sesekali mengobrol dengan diiringi tawa.


...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...


Di kantin kampus, Adriana dan Erland juga baru saja selesai makan siang. Erland menatap Adriana yang sedang mengotak ngatik ponselnya dengan tatapan penuh cinta. Entahlah sampai saat ini, Erland tidak menyangka akan bisa merasakan perasaan ini pada Adriana. Perasaan cinta yang tidak bisa dia ungkapkan lagi dengan kata-kata.


"Land, tadi aku lihat Erlita boncengan pake motor sama si Pendy" Seorang wanita seangkatan dengan Erland datang menghampirinya dan melaporkan apa yang telah dia lihat di parkiran kampus tadi.


Erland terdiam, dia menatap gadis yang berdiri di samping meja tempat dia makan dengan tatapan yang tajam, membuat gadis itu ketakutan hingga dia segera pergi dari sana. Adriana yang awalnya sedang bermain ponsel pun langsung mendongak ketika mendengar ucapan gadis tadi. Dia menatap wajah kekasihnya yang sudah tidak bersahabat itu.


"Sayang, udah kamu jangan pikirin soal Kak Erlita. Lagian dia wajar kok kalau main atau pergi makan siang bersama temannya"

__ADS_1


"Pria itu bukan teman, dia hanya pria menyebalkan"


Adriana menghembuskan nafas kasar ketika dia mendengar ucapan kekasihnya yang begitu terdengar dingin. Akhirnya dia berdiri dan berjalan mendekati Erland yang masih duduk di kursinya. "Kita ke kelas yuk, masih ada jam pelajaran lagi 'kan setelah ini"


Erland menatap Adriana dengan kesal, dia merasa jika kekasihnya malah membela Pendy. "Kau sedang membela pria itu? Iya?"


"Apa si, aku gak ngebela siapa-siapa. Lagian menurut aku Kak Erlita gak salah kalau mau pergi makan siang bersama temannya. Emang dimana salahnya? Kamu ini selalu membesarkan masalah deh"


Erland berdiri, dia berjalan melewati Adriana tanpa berkata apapun. Adriana hanya menghela nafas melihat itu. Erland sedang kesal padanya dan membuat Adriana bingung harus melakukan apa sekarang. Jadi dia hanya mengikuti langkah pria itu tanpa berbicara apapun, karena Adriana takut akan salah bicara lagi dan malah membuat Erland semakin kesal.


Di sisi lain Erlita dan Pendy baru saja sampai di kampus. Masih ada jam pelajaran terakhir hari ini, membuat dia harus kembali ke kampus setelah selesai makan siang.


"Makasih ya, sudah mentraktir aku makan siang ini"


"Iya sama-sama"


Erlita dan Pendy berjalan masuk ke koridor kampus, namun baru saja beberapa langkah mereka berjalan. Erland sudah menghadang langkah mereka.


"Abis darimana kamu?" Tanya Erland pada Erlita dengan tatapan yang dingin.


Erlita berdecak kesal dan memutar bola mata malas. "Ada apalagi si, Land? Aku abis makan siang"


Erland beralih menatap Pendy yang berdiri di sampingnya dengan wajah datar. "Makan siang? Bersama pria ini?"


Erlita menoleh ke arah Pendy, sebelum dia kembali menatap Erland. "Iya, memangnya kenapa? Aku hanya makan siang saja dengan Pendy. Kamu jangan terlalu berlebihan deh"


"Aku tidak akan berlebihan kalau pria itu bukan dia, Erlita! Kau tahu, Adriana saja hampir celaka karena dia" tunjuk Erland pada Pendy.


Mendengar itu membuat Pendy menatap ke arah Erland. Keduanya saling menatap dengan tajam. "Itu hanya sebuah kecelakaan. Aku jamin aku tidak akan membuat Erlita celaka, karena aku mencintainya"


Deg..

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2